** Milis Nasional Indonesia ppi-india **

Kadang2 orang2 LN aneh-aneh dan mau bikin sensasi serta mau menangnya 
saja dan sok pinter serta sok bersih saja.
 Benar, tragedi 1965 cukup memprihatinkan, Tapi itu kan ada sebab dan 
akibatnya - sebabnya yang terang PKI mau berontak dan telah membunuhi 
orang2 beragama, terutama Islam, lalu membunuhi tentara. Dan mereka 
dilwan - laklu ada korban disana sini. Wajarlah. Bila ada ekses,ya 
bagaimana lagi, orang namanya "to kill or be killed" - Kalau umpama 
yang menang mereka (PKI = komunis) maka akan lebih banyak lagi 
korbannya - orang2 sipil Muslim - kiyai2 NU Muhammadiyah serta juga 
dari Agama lain - katolik dan protestan yang tak setuju PKI. Mdreka 
pasti akan dibabat habis.
Lha untungnya yang menang golongan Agama dgn tentara. Eksesd ya ada. 
Orang tentara USA dan Inggris di Iraq juga membunuhi warga sipil kok. 
Ayo, silahkan wawancara warga sipil Iraq dan Afghanistan sana - yang 
dibantai oleh serdadu yang mengaku orang kampiun HAM - AMrik dan 
Inggris.
Hai BBC jika perlu, wawancarai itu korban Tanjung Priok, orang2 islam 
yang jadi korban tentara dibawah rezim Suharto....
Kalau soal 1965 sebaiknya sudahlah - biarlah mereka damai, toh anak2 
orang penting dari kedua belah pihak sudah pada damai....
 Well, Americans and Britons have no right to claim being the 
champions of human rights - you yourselves are mockering human 
rights  in both Iraq and Afghanistan.... Look what the Americans do 
to the priosoners in Quantanamo Bay -- you are no better than the 
Naziz, or the Vietcongs.....
   Dan jangan jadi anteknya Inggeris danAmrik hanya karena dapat 
pound sterling atau dollar saja ya .... Harga diri kita jaga... itu 
kalau masih punya...

Don't be hypocrates...


--- In [EMAIL PROTECTED], "herilatief" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> FYI.
> 
> (jutaan arwah penasaran melayang diatas kehidupan ketidakadilan di
> indonesia...).
> 
> --- In [EMAIL PROTECTED], Mira Wijaya Kusuma
> <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 
> From: heru atmodjo <[EMAIL PROTECTED]>
> Subject: BBC Interview Korban Massacre '65
> Date: Sat, 27 Mar 2004 08:13:16 -0800 (PST)
> 
> BBC Interview Korban Massacre '65
>  
> Linda Pressly, journalist, Word Current Affairs dari BBC, hari ini
> bersama Christoffer, rekannya, dan seorang interpreter, Nabiha, BBC
> local, minta bantuan PEC untuk  pergi menemui korban '65 korban
> pembunuhan massal 65, suami misteri di Tangerang. 
>  
> Semula seorang yang relatif mapan, bapaknya hilang dalam peristiwa 
65,
> ketika diminta untuk interview  menolak, tak bersedia menjadi obyek
> studi, katanya. Telah diusahakan untuk interview isteri dan anak 
Bung
> Nyoto. Tapi mencari alamatnya, sulit didapat.
>  
> Kedatangan rombongan ini  ke Tangerang tepat waktu, jam 08:30 sudah
> siap. Baik obyek interview maupun team penginterview sudah lengkap.
> Yang diinterview ditanya apakah namanya boleh dibuka atau dengan
> anonim? Sang suami tidak keberatan namanya disebut lengkap, tapi
> isteryna keberatan. Keluarga ini suami isteri,  adalah pasangan 
korban
> '65. Sang suami tahun 1965 tinggal di Pemalang, baru berumur 17 
tahun.
> Memang ia waktu itu adalah anggota Ikatan Persatuan Pelajar 
Indonesia
> (IPPI) ketika itu. Ayahnya diambil, diculik dari rumahnya, tepatnya
> tanggal 5 Oktober 1965, tidak tahu dibawa kemana. Pamannya yang 
pemuka
> masyarakat di desa itu, hilang tak kembali hingga sekarang. Ayahnya,
> akhirnya kembali dari pembuangan Pulau Buru. Tentu ini meruipakan
> suatu hal yang luar biasa. Orang hilang sekian tahun dapat pulang 
kembali.
>  
> Sebagai pelajar, sebenarnya ia tak ingin meninggalkan kampung
> halamannya. Tapi ibunya mendesak agar meninggalkan daerah itu. 
Suasana
> di desanya sangat mencekam, banyak orang diculik, dibawa tidak
> kembali. Akhirnya keluarga sipa melawan dengan menyiapkan segala
> sesuatu alat perlawanan. Serbuan penculikan tidak terjadi. Hanya
> banyak rumah dibakari. Karena itu ia lari dengan menyamar, menuju
> Jakarta. 
>  
> Di Jakarta, sempat bekerja sebagai jurutulis di toko serba ada
> Sarinah. Tapi kemudian, tokh ada orang yang menunjukkan, bahwa ia
> adalah anggota keluarga PKI. Ia ditangkap Satgas Intel "Kalong" yang
> terkenal kejamnya. Disiksa, disetrum  Kedua jarinya dimasukkan ke
> dalam cincin listrik. Batterai diputar. Strum mengalir, bukan main
> sakitnya, katanya. Luar biasa, mengenai otak, kejutan luar biasa
> sakitnya. Ia digebuki, dihajar oleh orang yang badannya kekar, yang
> dipanggil BOB, dan Kapten Suroso komandan "Kalong". Mereka ini 
adalah
> algojonya. Terhadap dia, nampaknya karena dianggap anak kecil, muda,
> diperlakukan tidak terlalu ditekan, kecuali seperti disebut tadi. 
>  
> Dan pada akhirnya ia dipindahkan ke Salemba dari Satgas Kalong itu.
> Disini tidak terlalu banyak penyiksaan di depan mata. Kemudian
> dipindahkan ke Tangerang. Di Tangerang mengalami pembebasan paling
> akhir. Masalahnya, Kodam masih menginginkan agar lahannya yang 
terdiri
> dari persawahan, agar tetap dapat dipertahankan, tidak dikembalikan 
ke
> Penjara (Lembaga Pemasyarakatan).
>  
> Isterinya, baru umur delapan tahun pada 1965. Ketika ia pulang dari
> sekolah, ayahnya diambil oleh tentara yang bersenjata. Memang sudah
> banyak yang ditangkap dan diculik. Ayahnya termasuk mendapat 
giliran.
> Sebagai seorang sekretaris Kabupaten, termasuk yang disegani dan
> dihormati. Bersama orang lain dikumpulkan di sebuah tempat tahanan. 
>  
> Kemudian ada pemberitahuan bahwa orang-orang PKI akan dibunuh semua.
> Benar, akhirnya suatu ketika, bapaknya terakhir masih sempat bertemu
> dengan anak dan keluarganya. Ia dielus-elus oleh ayah tercinta, dan
> diminta agar tidak menangis. Bapak tidak apa-apa, katanya. Beberapa
> hari kemudian ada berita  bahwa Bapaknya telah dibunuh. Dikubur 
dalam
> satu lubang bersama dua orang lain. Lobang itu sempat diberi tanda
> oleh orang yang diperintah menggali lubang. Lubang itu berisi si
> Bapak,  Bupati Boyolali dan seorang lagi. Baru dua tahun lalu, 2002
> keluarga ini boleh nyekar ke tempat kuburan ayahnya. Tak dapat
> diceriterakan kesedihan, tangis dan jerit ketika berita itu 
diterima.
>  
> Linda, BBC, menanyakan bagaimana persaannya. Yang diinterview terus
> menangis, ketika ditanya mengenai hal-ikhwal Bapaknya. Malah kakak
> perempuannya menganjurkan, agar sudahlah tidak usah dibicarakan 
lagi,
> katanya. Trauma masih mengahantui keluarga itu sampai hari ini. 
Ketika
> Linda, BBC, menanyakan tentang pembunuhan, dijelaskan bahwa di
> desanya, Boyolali, 90% penduduknya adalah simpatisan dan anggota PKI
> sebelum1965. Jumlah penduduk di desa itu kira-kira  300.000 orang.
> Yang dibunuh dan hilang 250 000 orang. Pembunuhan dilakukan ,  
dengan
> terlebih dahulu korbannya diculik, dipaksa ikut. Esok harinya
> kepalanya sudah dipenggal, ditusuk dengan bambu, dan dipancang di
> jalan-jalan. Katanya supaya rakyat tahu PKI itu harus dibegitukan.
>  
> Ketika sang suami, pernah berkunjung, ke temapat tahanan, pernah
> melihat ratusan orang di sebuah ladang duduk dengan tangan di 
belakang
> kepalanya. Suasana sepi, nyenyak. Di antara mereka ada yang 
tangannya
> luka-luka, ada yang kepala dan mukanya berlumuran darah.. Mereka
> menunggu eksekusi yang biasanya dilaksanakan pada  malam hari.
>  
> Linda, BBC, tanya pada yang hadir dalam interview itu, apakah ada 
yang
> anggota PKI. di antara yang hadir. Tidak ada yang bersedia mengaku.
> Dalam interv iew, menurut Linda,  pengalamannya tidak menemukan yang
> mengaku PKI. Padalah PKI itu katanya dalam 1965 itu anggotanya 3 
juta
> orang. Untuk itu ada yang menjawab, memang, tapi itu kan angka-angka
> statistik. Dan praktek keanggotaannya hanyalah dengan menandatangani
> surat pendaftaran saja, katanya, dan itu dianggap anggota.
>  
> Suasana interview memang mencekam ketika korban menceritakan
> pengalamannya. Air mata Korban tak dapat dibendung, ingatannya
> melayang ke  kejadian sekian puluh tahun yang telah silam, masih
> terbayang. Suasana hening, menunggu reda isak tangis yang 
diinterview.
> Sang suami mengatakan, bahwa hal ini tak banyak orang, tetangga yang
> tahu, karena memang tetap disembunyikan, tidak diceriterakan kepada
> siapa-siapa. Kali ini BBC berhasil, tentu karena suasana secara 
umum 
> memungkinkan.
> Christoffer, rekan Linda, bertanya, mengapa pemerintah Indonesia 
tidak
> berusaha menghilangkan trauma rakyatnya. Tentu hal ini mendapat
> jawaban dari yang hadir, justeru inilah yang kita harapkan, 
perjuangan
> kita dengan mengirim delegasi ke Geneva segala dapat tercapai. Tapi
> hasilnya masih sangat kecil sekali.
>  
> Linda berusaha menutup interv iew itu dengan mengajak menyanyi lagu
> apa yang dulu paling disukai. Korban usul menyanyikan "Genjer-
Genjer"
> (HeA)



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke