Republika Rabu, 12 Mei 2004 Umat Islam dan Pemilu Presiden Oleh : Amich Alhumami Peneliti di Research Institute for Culture and Development, Jakarta
"Twenty years of Islamic resurgence have not created a Muslim political consensus. Nor have those years united Muslims around a common leader". (Robert Hefner 1999) Berdasarkan pengamatan Pemilu 1999, Robert W Hefner dengan jitu melukiskan bahwa kebangkitan Islam di Indonesia selama dua dekade terakhir ternyata belum mampu melahirkan suatu konsensus politik di kalangan umat Islam. Dalam kurun waktu yang relatif lama itu, mereka juga tidak bisa mencapai kesepakatan mengenai seorang pemimpin Islam yang menjadi panutan bersama. Di sini Hefner mungkin luput mengamati fakta sosial bahwa umat Islam itu sangat majemuk, yang tidak memiliki satu faksi tunggal yang menjadi arus-utama. Kita semua paham betapa varian dan pengelompokan sosial politik umat Islam itu berspektrum sangat luas. Mungkin sudah menjadi takdir sejarah, dari dulu hingga sekarang, umat Islam Indonesia mengalami fragmentasi politik yang demikian tajam, yang sangat sulit disatu-padukan. Seperti mengulang sejarah, dalam Pemilu 2004 kekuatan umat Islam tersebar ke berbagai partai politik, sehingga menyebabkan terpecahnya suara konstituen Islam. Partai-partai Islam, sekali lagi, hanya mampu mengumpulkan suara dalam bilangan yang sangat kecil, sehingga tidak signifikan untuk dijadikan modal dalam kompetisi pemilu presiden. Yang lebih menyedihkan lagi, fragmentasi di kalangan umat Islam itu telah melemahkan daya tawar terhadap kekuatan-kekuatan politik lain, yang justru mampu mendulang suara dalam jumlah besar. Hasil Pemilu 2004 telah membentuk suatu konfigurasi politik, yang menempatkan partai Islam hanya pada posisi marginal belaka. Pemilu 2004 memang tidak melahirkan satu partai politik mayoritas-dominan, namun yang berhasil memperoleh suara signifikan tetap saja partai sekuler: Partai Golkar dan PDIP. Dominasi dua partai sekuler di pentas nasional, di satu pihak, dan ketidakmampuan partai-partai Islam melakukan konsolidasi politik internal, di pihak lain, telah menyebabkan umat Islam berada dalam posisi sulit dan dilematis. Situasi dilematis itu terasa lebih berat lagi terutama dalam konteks pemilu presiden, dengan alternatif pilihan capres yang terbatas. Realitas politik mengharuskan umat Islam memilih di antara empat capres, yang secara resmi telah mengumumkan pencalonan mereka: Megawati, Wiranto, Susilo B Yudhoyono, dan Amien Rais. Megawati Soekarnoputri Bermodal suara PDIP sebesar 19,4 persen dan ditopang oleh mesin politik yang relatif solid serta dukungan massa-rakyat yang fanatik di kalangan nasionalis, Megawati sangat potensial memenangi kompetisi presidensial, apalagi ia berhasil meminang Hasyim Muzadi untuk dijadikan cawapres. Pasangan Megawati-Muzadi akan menjadi kekuatan tangguh, yang membuat capres-capres lain terpaksa harus mengeluarkan energi tambahan dan bekerja ekstra keras agar dapat mengalahkannya. Namun, rakyat pemilih di luar golongan nasionalis belum tentu memberikan apresiasi positif pada Megawati, karena ia dianggap tidak berhasil dalam menjalankan pemerintahan. Alih-alih mencapai prestasi gemilang, banyak kebijakan pemerintahan Megawati di bidang ekonomi dan politik yang dinilai tidak memihak kepentingan rakyat. Isu privatisasi dengan cara menjual aset-aset ekonomi negara ke pihak asing telah memicu kontroversi panjang, karena dianggap merugikan kepentingan nasional. Dalam hal kebijakan politik yang menyangkut umat Islam, Megawati juga dinilai tidak sensitif. Mengenai isu perang global melawan terorisme yang disponsori Amerika, misalnya, Megawati terlihat sama sekali tak berdaya. Pemerintahan Megawati cenderung menjadi "pelayan setia" demi menyenangkan hati sang "tuan besar," sehingga apa pun yang diminta Amerika selalu dituruti sekalipun harus mengorbankan kepentingan umat Islam. Kasus Abu Bakar Ba'asyir adalah contoh aktual yang sangat terang-benderang. Sudah menjadi pengetahuan umum, Amerika telah melakukan intervensi secara telanjang atas kasus tersebut. Demikian pula dalam konteks isu-isu keislaman di kawasan Timur Tengah, Megawati tidak menunjukkan sensitivitasnya. Ketika masyarakat internasional dan negara-negara di dunia mencela PM Israel Ariel Sharon dan mengutuk keras pembunuhan kejam pemimpin spiritual rakyat Palestina, Syekh Ahmad Yassin, Megawati sama sekali tak memberikan reaksi keprihatinan atau menunjukkan simpati. Megawati mungkin tak menyadari, kasus Abu Bakar Ba'asyir serta rendahnya daya sensitivitas dan rasa simpati atas derita panjang yang dialami umat Islam di Palestina, secara politis, dapat menjadi penghalang utama baginya terpilih kembali menjadi presiden. Wiranto dan Susilo B Yudhoyono Kedua capres mantan petinggi militer ini mempunyai keunggulan komparatif, yang tidak dipunyai oleh capres sipil terutama menyangkut isu penting yakni stabilitas dan keamanan, yang selama lima tahun terakhir absen di pemerintahan sipil. Kesan umum yang berkembang di masyarakat adalah stabilitas dan keamanan itu hanya bisa diciptakan oleh penguasa yang berlatar-belakang militer. Di luar keunggulan komparatif itu, baik Wiranto maupun SBY sama-sama punya peluang untuk meraih kemenangan dalam pemilu presiden. Wiranto adalah calon dari Partai Golkar, yang memenangi pemilu legislatif dengan perolehan suara sebesar 21,2 persen. Partai Golkar yang telah teruji sebagai mesin politik paling canggih, jelas sangat efektif sebagai kendaraan politik yang dapat mengantarkan Wiranto menuju kursi kepresidenan. Apalagi dengan posisi sebagai pemenang pertama pemilu legislatif, Partai Golkar relatif mudah memfasilitasi Wiranto untuk membangun aliansi strategis dan koalisi politik lintas partai guna mendukungnya memenangi kompetisi. Sedangkan SBY, sekalipun hanya dicalonkan oleh Partai Demokrat yang cuma memporeh suara 7,5 persen, namun citra individual SBY ternyata jauh lebih kuat dibandingkan partainya. Dengan postur presidensial yang meyakinkan, SBY mempunyai daya pesona yang mampu mempengaruhi masyarakat untuk memilihnya menjadi presiden. Apalagi hasil-hasil survei yang diselenggarakan oleh berbagai lembaga riset selalu menempatkan SBY pada posisi paling unggul, sehingga ia mempunyai optimisme yang sangat kuat untuk memenangi pemilu presiden. Namun, kedua pensiunan jenderal itu kini dihadapkan pada tantangan serius yakni resistensi publik terhadap kebangkitan politik militer, yang cenderung makin menguat. Bahkan para aktivis mahasiswa se-Indonesia kini sedang merancang gerakan massa kolosal yang mereka namai: "Gerakan Mei 2004," untuk menentang militer terjun kembali ke politik. Bermula dari Makassar, gerakan ini akan berlangsung simultan berskala nasional, terutama di kota-kota yang menjadi basis utama tradisi pergerakan mahasiswa. Perlawanan terhadap militer yang berupaya mendominasi kembali politik nasional sulit dicegah, karena bayang-bayang otoritarianisme Orde Baru yang bertumpu pada kekuatan militer kini benar-benar berada di depan mata. Para aktivis mahasiswa akan menggugat Wiranto dan SBY, yang pernah menjadi tokoh kunci dan memainkan peranan sentral sebagai pengawal setia rezim despotik Orde Baru. Bagi sebagian umat Islam, pencalonan kedua mantan petinggi militer itu juga menimbulkan kekhawatiran dan kegalauan, terutama mengenai cara keduanya merespons isu terorisme yang secara sengaja diarahkan kepada umat Islam. Bila Wiranto digugat melalui isu pelanggaran HAM, maka SBY bisa saja digugat melalui isu "operasi intelijen gelap" Umar al-Farouq di Indonesia. Dalam kapasitas sebagai Menko Polkam, SBY dipastikan mengetahui informasi detail mengenai "aktivitas terorisme" Umar al-Farouq. Di sini ada mata rantai informasi yang terputus dan tidak terungkap ke publik tentang "agen misterius dan kontroversial" itu. Kita tahu, kasus Umar al-Farouq telah mencederai umat Islam dan memakan korban seorang ustadz: Abu Bakar Ba'asyir. Amien Rais Amien Rais adalah simbol utama gerakan reformasi di Indonesia, yang sekaligus menjadi ikon bagi proses liberasi politik dari Orde Baru ke Orde Reformasi. Meskipun perolehan suara PAN dalam pemilu legislatif sangat minim, hanya 6,5 persen saja, namun Amien Rais tetap menjadi figur alternatif di antara politisi sipil, yang diharapkan mampu memobilisasi dukungan politik dalam kompetisi pemilu presiden. Cendekiawan-politisi yang menghabiskan hampir sepanjang usianya di dunia pergerakan Islam itu akan kembali diuji ketajaman insting politik dan kecanggihannya merumuskan strategi dalam kompetisi presidensial yang sangat ketat ini. Dengan asumsi Gus Dur batal mencalonkan diri karena terhalang masalah kesehatan, maka Amien Rais akan menjadi satu-satunya tumpuan partai-partai berbasis massa Islam. Andai ia berhasil menggalang dukungan dari partai-partai Islam, terutama PPP, PKS, dan PBR, maka peluangnya lolos ke putaran kedua sangat terbuka lebar. Siapa pun yang menghendaki Islam dapat memainkan peranan politik sentral di negara yang berpenduduk mayoritas Muslim ini harus mempertimbangkan Amien Rais sebagai alternatif pilihan yang prospektif. Sebab, ia adalah salah satu representasi terbaik dan simbol gerakan Islam par excellence. Namun, ada hal penting dan urgen yang harus diupayakan Amien Rais yakni melakukan transformasi identitas dari "tokoh kebangsaan bercitra Islam" ke "figur nasionalis berjiwa pluralis." Dengan cara demikian, maka ia akan mampu membuat lompatan politik yang melintas-batas dan menembus sekat agama, etnis, dan kepentingan eksklusif-parokial. Dalam hal ini, pilihan Amien Rais yang jatuh ke Siswono Yudo Husodo sebagai cawapres merupakan strategi jitu, yang berdampak positif ganda: (i) membantu proses transformasi identitas politik, dan (ii) membuka saluran dan agregasi politik guna mengakomodasi aspirasi golongan nasionalis non-PDIP, yang kekuatannya cukup siginfikan. Demikianlah, Pemilu presiden 2004 merupakan barometer untuk menguji kehesi umat Islam dan mengukur kekuatan nyata politik Islam. Momentum ini sekaligus merupakan kesempatan emas untuk mematahkan tesis klasik, yang pernah dikemukakan sosiolog Belanda, WF Wertheim, bahwa umat Islam Indonesia itu mengindap sindrom inferiority complex yakni "mayoritas dalam angka, namun minoritas dalam politik." [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~--> Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70 http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM ---------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

