Salam, Seperti kebiasaan-kebiasaan lama yang pernah dipraktekkan pada zaman kakekku Suharto berkuasa bahwa pada saat menjelang pemilu maka para penjahat-penjahat negara eh... pejabat-pejabat negara ramai-ramai mengunjungi kuburan para wali (berziarah) untuk "mendo'a" terus -- meiminjam istlah GD -- "Amien-Amien" dan mengunjungi pondok pesantren.
Yang menjadi tanda tanya saya mengapa praktek-praktek yang semacam ini hanya terjadi pada saat mejelang pemilihan umum dan sekarang ditambah lagipada saat menjelang pemilihan presiden. Berbagai alasan yang dibuat oleh para pengunjung, mulai hanya minta do'a restu para kiyai hingga ingin meningkatkan silaturrahmi saja. Padahal kalao mereka bersedia berterus terang bahwa tujuan utamanya adalah untuk menarik perhatian massa dan sekaligus ingin minta suara dari setiap "jamaah" yang mereka kunjungi. Disinilah letak sikap para pejabat-pejabat negara yang mau berkuasa itu yang sungguh sangat menyebalkan sekali. Sehingga setiap ada pemilu, para kiyai dan santri selalu dilirik dan setelah pemilu berlalu pesantren yang berisikan kiyai dan santri itu hanya berlinang air mata saja. Mungkin, sekali lagi mungkin, karena para kiyai itusudah sering berlinang air mata, maka kini kiyai itu yang terjun langsung untuk memberlinangkan air mata para santrinya. Hal ang semacam ini bisa saja terjadi bila para kiyai juga suka mengumbar janji-janji palsunya dihadapan para santrinya dan juga masyarakat umum yang notabene juga telah terperangkap menjadi santrinya, maka lengkaplah penderitaan santri-santri-santri-santri (masyarakat) INDONESIA itu. Bila majunya kiyai-kiyai ini juga tak mampu membawa perubahan pada bangsa INDONESIA, maka Indonesia yang menganut ideologi Pancasila itu tidaklagi Berketuhanan Yang Maha Esa, tapi berubah menjadi Berketuhan Kekuasaan dan Harta Yang Berbicara. Bila demikian yang terjadi, maka harapan INDONESIA menuju negara MAJU itu pupuslah sudah, sebaliknya yang ada hanyalah Bersiap-siaplah menuju INDONESIA LAYU. Selamat berlaga para KIYAI..... IzaM. Midnite musim panas New Delhi. --- In [EMAIL PROTECTED], "Ambon" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > http://www.mediaindo.co.id/cetak/berita.asp?id=2004051101201815 > > Selasa, 11 Mei 2004 > > > Geger di 'Republik Santri' > Zuly Qodir, Aktivis Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah > > HASYIM Muzadi resmi menjadi calon wakil presiden mendampingi calon presiden > Megawati Soekarnoputri, Ketua Umum PDI Perjuangan, setelah dideklarasikan di > depan halaman gedung Proklamasi Jakarta, 6 Mei lalu. Menarik untuk > diperhatikan keputusan Hasyim Muzadi menerima lamaran Megawati untuk > berpasangan pada pemilu 5 Juli mendatang. > Selang sehari Hasyim Muzadi menerima lamaran tersebut, gelombang protes > terjadi secara bersahutan. Tidak kurang-kurangnya cendekiawan muslim > Nurcholish Madjid seperti diberitakan sebuah stasiun televisi dan harian > media cetak 7 Mei juga mengeluarkan pernyataan agar Kiai Hasyim mundur dari > jabatan Ketua Umum PBNU, sebab jika tidak mundur Kiai Hasyim telah > mengkhianati Khitah 1926. > Selain Cak Nur, demikian sapaan akrab Rektor Universitas Paramadina Mulya > itu, GP Anshor, PMII, PWNU DIY juga menyatakan agar Kiai Hasyim mundur dari > jabatan Ketua Umum PBNU yang tengah dipegangnya. Bahkan, Sekretaris PBNU > Masdar F Mas'udi juga menyarankan Kiai Hasyim untuk mundur dari jabatan > Ketua Umum PBNU, sebagaimana diberitakan Media Indonesia (8/5) dalam sebuah > acara diskusi di Jakarta. > Pertarungan santri > Apa yang dapat dibaca dari pelbagai saran agar Kiai Hasyim Muzadi mundur > dari jabatan Ketua Umum PBNU itu, tidak lain adalah adanya sebuah > pertarungan di 'republik santri'. Atau dengan bahasa lain sekarang ini > tengah terjadi geger di 'republik santri'. 'Republik kaum santri' berada > dalam dilema yang sangat kuat, sehingga antara PBNU dengan jemaah di > bawahnya kerap kali tidak sejalan. > KH Hasyim Muzadi sebagai figur utama di PBNU tampaknya tidak sekuat ketika > Abdurrahman Wahid memimpinnya. Pada saat Abdurrahman Wahid menjadi Ketua > Umum PBNU, hampir-hampir tidak ada protes dari jajaran jemaah nahdiyin. > Protes justru datang dari pihak negara, dalam hal ini rezim Orde Baru yang > sejak awal memang tidak setuju dengan Abdurrahman Wahid. > Abdurrahman Wahid di mata rezim Orde Baru adalah musuh bebuyutan yang sangat > berbahaya, sehingga perlu diwaspadai seluruh sepak terjangnya. Muktamar NU > di Cipasung adalah bukti konkret betapa negara hendak turut campur tangan > dalam urusan internal NU, terutama menjegal dan 'membantai' Abdurrahman > Wahid. > Tetapi lain ceritanya ketika PBNU dipimpin KH Hasyim Muzadi, konflik > internal NU malah semakin kencang, sehingga dengan segala retorika apa pun > orang di dalam NU dan di luar NU mengerti jika Kiai Hasyim tidak 'direstui' > oleh internal NU di bawah komando Abdurrahman Wahid dan kiai khos (baca: > Kiai Langitan). > Kiai Hasyim tampak sekali diterima oleh rezim kekuasaan, dalam hal ini > Megawati sehingga Megawati bersama Taufiq Kiemas berkali-kali mengunjungi > Pesantren Al-Hikam milik Kiai Hasyim di Malang. Bahkan, setelah secara resmi > Kiai Hasyim menerima pinangan Megawati, secara terang-terangan dikatakan > bahwa 'jalinan kerja sama' telah dilakukan kira-kira enam bulan sebelumnya. > PDI Perjuangan dan Kiai Hasyim telah menjalin 'bulan madu' saling pandang > sebelum deklarasi dilakukan. > Berbeda dengan Abdurrahman Wahid, tokoh NU yang sangat disegani di > lingkungan jemaah nahdiyin dan para oposan dengan rezim, termasuk dengan > Megawati, terutama pascakejatuhannya yang kemudian digantikan Megawati > sebagai presiden. Sebelumnya, antara Abdurrahman Wahid dengan Megawati > adalah ibarat 'sejoli' yang tengah asyik berbulan madu, sebab pernah pada > saat Pemilu 1999 Abdurrahman Wahid menyatakan, mencoblos PDI Perjuangan sama > artinya dengan mencoblos PKB dan seruan ini sangat mujarab, PDI Perjuangan > mampu mendulang suara terbanyak di basis-basis NU, termasuk di Jawa Timur. > Dari sana jelaslah bagi kita, pertarungan yang sesungguhnya tengah terjadi > di 'republik santri'. Pertarungan terjadi antara Ketua PB NU Hasyim Muzadi > versus Ketua Dewan Syuro PKB yang sama-sama berdarah santri-kiai. KH Hasyim > Muzadi adalah pengganti KH Abdurrahman Wahid sebagai Ketua Umum PBNU. > Dukungan Hasyim > Dengan melihat fakta-fakta seperti itu, bagaimana dukungan warga NU terhadap > Kiai Hasyim pada pemilu 5 Juli mendatang? Ini jelas menjadi pertanyaan > besar. Harapan Megawati mendulang suara dari warga nahdiyin agaknya akan > tergantung pada 'suara sakti' Abdurrahman Wahid. Memang ada pandangan bahwa > Abdurrahman Wahid saat ini tidak lagi seperti ketika memimpin PBNU. > 'Kesaktian' Abdurrahman Wahid telah memudar berbarengan dengan turunnya dia > dari kursi kepresidenan, dan kemudian digantikan Megawati. > Sampai sekarang Abdurrahman Wahid memang belum 'berfatwa' untuk jemaah > nahdiyin, khususnya pada pendukungnya di PKB. Tetapi dari > pernyataan-pernyataan yang dilontarkannya sangatlah jelas bahwa Abdurrahman > Wahid tidak setuju, atau tidak merestui Kiai Hasyim menjadi calon wakil > presiden. Ini yang sesungguhnya menjadi taruhan Kiai Hasyim dan Megawati > sendiri untuk berharap dukungan dari warga nahdiyin. > Benar bahwa tidak seluruh warga nahdiyin mendukung Abdurrahman Wahid. Tetapi > suara PBNU jika diperbandingkan dengan 'fatwa sakti' Abdurrahman Wahid masih > kalah mujarabnya. Kita tahu sendiri, Masdar F Mas'udi saja yang khatib PBNU > menyarankan Kiai Hasyim mundur dari ketua PBNU, apalagi suara-suara kiai > lainnya yang memang secara politik berseberangan dengan garis politiknya > Kiai Hasyim. > Kiai Hasyim, hemat saya, akan mendapatkan dukungan dari warga nahdiyin yang > berada di luar PBNU dan PKB, seperti di PPP, PBR, dan PPNUI. Hal ini jika, > Hamzah Haz, Zaenuddin MZ, dan Syukron Makmun tidak berkoalisi sendiri dengan > partai politik lainnya, dengan alasan yang lebih pragmatis sekaligus > realistis. > Tetapi jika intensitas Hamzah Haz, Zaenuddin MZ, dan Syukron Makmun pada > akhirnya terus mengerucut, misalnya hingga bulat untuk mendukung Hamzah > menjadi cawapres partai lainnya atau bergabung dengan partai lainnya, maka > praktis dukungan atas Kiai Hasyim hanya dari orang-orang dekatnya di PBNU > dan limpahan-limpahan suara dari partai non-NU. > Dengan begitu, sebenarnya dukungan atas Hasyim Muzadi menjadi semakin kecil. > Artinya, peluang Kiai Hasyim untuk terus melaju pada putaran kedua pemilihan > presiden dan wakil presiden menjadi semakin kecil. Pendek kata, Kiai Hasyim > boleh menjadi cawapres mendampingi calon presiden Megawati, tetapi basis > dukungan tidak akan datang dari kalangan warga nahdiyin yang loyal pada > Abdurrahman Wahid, PPP, PBR, dan PPNUI, bahkan PBNU itu sendiri. > Itulah pertarungan riil yang tengah terjadi di 'republik kaum santri'. Kaum > santri tengah berupaya berebut suara untuk pemilu 5 Juli mendatang, siapakah > pemenang dari pertarungan yang terlahir dari rahim yang sama akan ditentukan > pada putaran pertama pemilu presiden. *** ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~--> Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar. Now with Pop-Up Blocker. Get it for free! http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM ---------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

