http://www.mediaindo.co.id/cetak/berita.asp?id=2004051101201815

Selasa, 11 Mei 2004


Geger di 'Republik Santri'
Zuly Qodir, Aktivis Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah

HASYIM Muzadi resmi menjadi calon wakil presiden mendampingi calon presiden
Megawati Soekarnoputri, Ketua Umum PDI Perjuangan, setelah dideklarasikan di
depan halaman gedung Proklamasi Jakarta, 6 Mei lalu. Menarik untuk
diperhatikan keputusan Hasyim Muzadi menerima lamaran Megawati untuk
berpasangan pada pemilu 5 Juli mendatang.
Selang sehari Hasyim Muzadi menerima lamaran tersebut, gelombang protes
terjadi secara bersahutan. Tidak kurang-kurangnya cendekiawan muslim
Nurcholish Madjid seperti diberitakan sebuah stasiun televisi dan harian
media cetak 7 Mei juga mengeluarkan pernyataan agar Kiai Hasyim mundur dari
jabatan Ketua Umum PBNU, sebab jika tidak mundur Kiai Hasyim telah
mengkhianati Khitah 1926.
Selain Cak Nur, demikian sapaan akrab Rektor Universitas Paramadina Mulya
itu, GP Anshor, PMII, PWNU DIY juga menyatakan agar Kiai Hasyim mundur dari
jabatan Ketua Umum PBNU yang tengah dipegangnya. Bahkan, Sekretaris PBNU
Masdar F Mas'udi juga menyarankan Kiai Hasyim untuk mundur dari jabatan
Ketua Umum PBNU, sebagaimana diberitakan Media Indonesia (8/5) dalam sebuah
acara diskusi di Jakarta.
Pertarungan santri
Apa yang dapat dibaca dari pelbagai saran agar Kiai Hasyim Muzadi mundur
dari jabatan Ketua Umum PBNU itu, tidak lain adalah adanya sebuah
pertarungan di 'republik santri'. Atau dengan bahasa lain sekarang ini
tengah terjadi geger di 'republik santri'. 'Republik kaum santri' berada
dalam dilema yang sangat kuat, sehingga antara PBNU dengan jemaah di
bawahnya kerap kali tidak sejalan.
KH Hasyim Muzadi sebagai figur utama di PBNU tampaknya tidak sekuat ketika
Abdurrahman Wahid memimpinnya. Pada saat Abdurrahman Wahid menjadi Ketua
Umum PBNU, hampir-hampir tidak ada protes dari jajaran jemaah nahdiyin.
Protes justru datang dari pihak negara, dalam hal ini rezim Orde Baru yang
sejak awal memang tidak setuju dengan Abdurrahman Wahid.
Abdurrahman Wahid di mata rezim Orde Baru adalah musuh bebuyutan yang sangat
berbahaya, sehingga perlu diwaspadai seluruh sepak terjangnya. Muktamar NU
di Cipasung adalah bukti konkret betapa negara hendak turut campur tangan
dalam urusan internal NU, terutama menjegal dan 'membantai' Abdurrahman
Wahid.
Tetapi lain ceritanya ketika PBNU dipimpin KH Hasyim Muzadi, konflik
internal NU malah semakin kencang, sehingga dengan segala retorika apa pun
orang di dalam NU dan di luar NU mengerti jika Kiai Hasyim tidak 'direstui'
oleh internal NU di bawah komando Abdurrahman Wahid dan kiai khos (baca:
Kiai Langitan).
Kiai Hasyim tampak sekali diterima oleh rezim kekuasaan, dalam hal ini
Megawati sehingga Megawati bersama Taufiq Kiemas berkali-kali mengunjungi
Pesantren Al-Hikam milik Kiai Hasyim di Malang. Bahkan, setelah secara resmi
Kiai Hasyim menerima pinangan Megawati, secara terang-terangan dikatakan
bahwa 'jalinan kerja sama' telah dilakukan kira-kira enam bulan sebelumnya.
PDI Perjuangan dan Kiai Hasyim telah menjalin 'bulan madu' saling pandang
sebelum deklarasi dilakukan.
Berbeda dengan Abdurrahman Wahid, tokoh NU yang sangat disegani di
lingkungan jemaah nahdiyin dan para oposan dengan rezim, termasuk dengan
Megawati, terutama pascakejatuhannya yang kemudian digantikan Megawati
sebagai presiden. Sebelumnya, antara Abdurrahman Wahid dengan Megawati
adalah ibarat 'sejoli' yang tengah asyik berbulan madu, sebab pernah pada
saat Pemilu 1999 Abdurrahman Wahid menyatakan, mencoblos PDI Perjuangan sama
artinya dengan mencoblos PKB dan seruan ini sangat mujarab, PDI Perjuangan
mampu mendulang suara terbanyak di basis-basis NU, termasuk di Jawa Timur.
Dari sana jelaslah bagi kita, pertarungan yang sesungguhnya tengah terjadi
di 'republik santri'. Pertarungan terjadi antara Ketua PB NU Hasyim Muzadi
versus Ketua Dewan Syuro PKB yang sama-sama berdarah santri-kiai. KH Hasyim
Muzadi adalah pengganti KH Abdurrahman Wahid sebagai Ketua Umum PBNU.
Dukungan Hasyim
Dengan melihat fakta-fakta seperti itu, bagaimana dukungan warga NU terhadap
Kiai Hasyim pada pemilu 5 Juli mendatang? Ini jelas menjadi pertanyaan
besar. Harapan Megawati mendulang suara dari warga nahdiyin agaknya akan
tergantung pada 'suara sakti' Abdurrahman Wahid. Memang ada pandangan bahwa
Abdurrahman Wahid saat ini tidak lagi seperti ketika memimpin PBNU.
'Kesaktian' Abdurrahman Wahid telah memudar berbarengan dengan turunnya dia
dari kursi kepresidenan, dan kemudian digantikan Megawati.
Sampai sekarang Abdurrahman Wahid memang belum 'berfatwa' untuk jemaah
nahdiyin, khususnya pada pendukungnya di PKB. Tetapi dari
pernyataan-pernyataan yang dilontarkannya sangatlah jelas bahwa Abdurrahman
Wahid tidak setuju, atau tidak merestui Kiai Hasyim menjadi calon wakil
presiden. Ini yang sesungguhnya menjadi taruhan Kiai Hasyim dan Megawati
sendiri untuk berharap dukungan dari warga nahdiyin.
Benar bahwa tidak seluruh warga nahdiyin mendukung Abdurrahman Wahid. Tetapi
suara PBNU jika diperbandingkan dengan 'fatwa sakti' Abdurrahman Wahid masih
kalah mujarabnya. Kita tahu sendiri, Masdar F Mas'udi saja yang khatib PBNU
menyarankan Kiai Hasyim mundur dari ketua PBNU, apalagi suara-suara kiai
lainnya yang memang secara politik berseberangan dengan garis politiknya
Kiai Hasyim.
Kiai Hasyim, hemat saya, akan mendapatkan dukungan dari warga nahdiyin yang
berada di luar PBNU dan PKB, seperti di PPP, PBR, dan PPNUI. Hal ini jika,
Hamzah Haz, Zaenuddin MZ, dan Syukron Makmun tidak berkoalisi sendiri dengan
partai politik lainnya, dengan alasan yang lebih pragmatis sekaligus
realistis.
Tetapi jika intensitas Hamzah Haz, Zaenuddin MZ, dan Syukron Makmun pada
akhirnya terus mengerucut, misalnya hingga bulat untuk mendukung Hamzah
menjadi cawapres partai lainnya atau bergabung dengan partai lainnya, maka
praktis dukungan atas Kiai Hasyim hanya dari orang-orang dekatnya di PBNU
dan limpahan-limpahan suara dari partai non-NU.
Dengan begitu, sebenarnya dukungan atas Hasyim Muzadi menjadi semakin kecil.
Artinya, peluang Kiai Hasyim untuk terus melaju pada putaran kedua pemilihan
presiden dan wakil presiden menjadi semakin kecil. Pendek kata, Kiai Hasyim
boleh menjadi cawapres mendampingi calon presiden Megawati, tetapi basis
dukungan tidak akan datang dari kalangan warga nahdiyin yang loyal pada
Abdurrahman Wahid, PPP, PBR, dan PPNUI, bahkan PBNU itu sendiri.
Itulah pertarungan riil yang tengah terjadi di 'republik kaum santri'. Kaum
santri tengah berupaya berebut suara untuk pemilu 5 Juli mendatang, siapakah
pemenang dari pertarungan yang terlahir dari rahim yang sama akan ditentukan
pada putaran pertama pemilu presiden. ***
 Cetak Berita   Email Berita



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke