Republika
Senin, 10 Mei 2004

Memilih Calon 'Raja' 

Oleh : Airlangga Pribadi 
Staf Peneliti Soegeng Sarjadi Syndicated,
Staf Pengajar Ilmu Politik FISIP Universitas Airlangga, Surabaya



Hiruk-pikuknya lalu lintas politik dan padatnya negosiasi koalisi antar- partai 
menjelang Pemilu Presiden dan Wakil Presiden 5 Juli 2004, menjebak kita untuk meyakini 
bahwa Pemilu itu memang untuk memilih pasangan Presiden-Wakil Presiden. Padahal 
perhelatan politik akbar itu tak lebih hanya sekadar memilih calon "raja". Hal itu 
bukan saja bias di identifikasi dari arus opini publik yang lebih terfokus pada 
pilihan-pilihan kandidat Presiden-Wakil Presiden, tetapi juga keterbatasan mekanisme 
tata pemerintahan yang kita adopsi (sistem presidensial). Dengan real politik yang 
demikian, siapapun yang menjadi Presiden baik Megawati, Wiranto, Soesilo Bambang 
Yudhoyono, Amien Rais tidak serta merta berkorelasi positif terhadap perkembangan 
demokrasi di Indonesia.

Pernyataan di atas mungkin akan terasa terlalu skeptis di tengah proses perhelatan 
demokrasi yang tengah berlangsung dan diharapkan akan membawa perubahan substansial 
dalam perjalanan demokrasi kita. Apalagi optimisme ini juga didukung oleh keyakinan 
bahwa pemilihan Presiden secara langsung yang terpisah dengan pemilihan legislatif 
dipercaya akan menciptakan pemerintahan yang kuat dan stabil. 

Keyakinan akan bergulirnya demokrasi dalam sistem presidensial, selain disebabkan 
dalam sistem ini rakyat memiliki hak secara penuh untuk menyerahkan mandatnya kepada 
pemerintah eksekutif yang ia pilih. Optimisme ini juga disebabkan karena masing-masing 
institusi, baik lembaga legislatif maupun eksekutif memiliki basis kekuasaan yang 
terpisah dalam sistem demokrasi presidensial yang diasumsikan akan membuat 
pemerintahan berjalan stabil. Alasan stabilitas pemerintahan ini jugalah yang 
menjadikan Indonesia tetap berkukuh untuk mengadopsi pemerintahan presidensial dengan 
penguatan pada model pemilihan Presiden secara langsung. Apalagi secara historis 
pengalaman Indonesia di bawah tatanan demokrasi parlementer pada tahun 1950-an 
menciptakan tatanan pemerintahan yang rapuh dan tidak stabil.

Namun demikian skeptisisme terhadap mekanisme demokrasi presidensial dalam tulisan ini 
bukanlah tanpa alasan kuat. Sistem demokrasi presidensial dapat berpotensi menjadi 
penghalang bagi bergulirnya demokrasi di negara-negara yang mengalami proses transisi 
demokrasi. Pengalaman negara-negara Amerika Latin, Eropa Timur, dan Afrika yang baru 
mengalami fase transisi menuju demokrasi, sistem presidensial cenderung mengarah pada 
executive heavy yang dapat menghalangi proses perkembangan demokrasi.

Walaupun sistem kelembagaan politik bukan satu-satunya faktor yang mempengaruhi proses 
konsolidasi demokrasi, namun menarik apabila melihat temuan Alfred Stepan (2001) 
menunjukkan bahwa sebagian besar negara yang menganut sistem presidensial gagal 
mengkonsolidasikan demokrasi. Tesis ini diperkuat oleh data negara-negara non-OECD 
yang menunjukkan bahwa dari 25 negara yang mengadopsi sistem presidensial demokrasi 
pada kurun waktu 1973-1989, ternyata hanya 5 negara (20 persen) yang secara konsisten 
menjaga keberlangsungan proses demokrasi. Porsi terbesar kembali menganut sistem 
otoritarianisme. Hal tersebut mengindikasikan bahwa bentuk hubungan institusional 
antara lembaga eksekutif dan legislatif memiliki peran signifikan dalam proses 
konsolidasi demokrasi.

Terseok-seoknya jalan dari pemerintahan transisional yang mengadopsi sistem 
presidensial untuk menuju demokrasi seperti diutarakan oleh Juan J Linz (1992) karena 
sistem pemerintahan Presidensial beroperasi di atas prinsip pemenang mendapatkan 
keseluruhan (zero sum game) yang dapat memancing konflik antar-lembaga dalam periode 
pemerintahan pasca-pemilihan umum atau kecenderungan despotisme lembaga kepresidenan 
di atas lembaga-lembaga politik lainnya. 

Limbo demokrasi
Kondisi limbo demokrasi atau terjebaknya kondisi demokrasi suatu negara dalam titik 
ekstrem akibat atmosfer politik yang tidak menentu seringkali menjadi persoalan dalam 
kabinet presidensial demokrasi. Hal ini terjadi, karena sistem presidensial memiliki 
karakteristik yang ambigu. Pada satu sisi secara normatif sistem presidensial 
mencita-citakan pencapaian pemerintahan yang berjalan stabil dan kuat. Sementara pada 
kenyataannya mekanisme sistem presidensial pada realitasnya seringkali mengarahkan 
suatu negara pada kondisi-kondisi yang ekstrem dan kontraproduktif bagi demokrasi. 

Pada satu sisi, keistimewaan posisi yang dimiliki oleh Presiden dalam sistem tersebut 
seringkali menjadikan Presiden berusaha untuk menempatkan diri di atas wacana dan 
posisi parlemen maupun civil society. Seringkali kegagalan konsolidasi demokrasi 
seperti yang berlangsung di Amerika Latin, Afrika, dan negara-negara Eropa Timur -- 
karena kuatnya Presiden untuk memerintah dalam sistem demokrasi presidensial -- 
memungkinkan mereka memarjinalisasi peran masyarakat sipil maupun institusi parlemen, 
sehingga menghancurkan proses demokrasi yang tengah berlangsung.

Sementara pada kondisi yang bersebrangan ketika posisi tawar lembaga legislatif kuat, 
penggunaan mekanisme politik untuk mengimbangi kekuatan lembaga kepresidenan -- 
konsultasi Presiden-Parlemen, peninjauan oleh lembaga yudikatif, mekanisme impeachment 
-- seringkali menjadikan proses demokrasi terjebak pada konflik yang amat keras dan 
krisis politik yang dapat menggoncangkan tatanan politik secara keseluruhan. 

Masih belum lepas dari memori kita, bagaimana beberapa tahun yang lalu, akibat 
lemahnya profesionalitas pengelolaan negara dan tarik menarik konflik elite politik 
antara eksekutif-legislatif di Indonesia pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman 
Wahid, mengakibatkan ketegangan politik tidak hanya terjadi di dalam parlemen, namun 
mekanisme impeachment politik terhadap eksekutif telah memancing konflik keras di 
kalangan civil society maupun ancaman akan keterlibatan tentara dalam konflik politik 
yang tengah berlangsung. Bahkan akibatnya sangat terasa sampai saat ini, luka-luka 
politik terhadap kekuatan politik yang dijatuhkan masih dirasakan dan mempengaruhi 
situasi politik aktual.

Karakter capres
Keterbatasan sistem politik presidensial ini juga semakin diperparah oleh karakter 
kandidat Presiden yang saat ini berlaga. Melihat karakter keempat kandidat Presiden 
yang saat ini muncul baik Wiranto, Soesilo Bambang Yudhoyono, Megawati, dan Amien 
Rais, sepertinya kita memang hanya akan sekadar memilih calon "Raja". Karakter 
"priyayi" kelihatannya melekat erat dalam sifat dan tindak-tanduk mereka. Dua mantan 
jenderal yang saat ini tengah bersaing, yaitu Soesilo Bambang Yudhoyono dan Wiranto 
adalah figur yang ditempa dalam kultur ksatria. Mereka bukan saja mempunyai karakter 
kepemimpinan terpusat tetapi juga mengidentifikasi diri sebagai warga kelas satu.

Sementara Megawati sangat jelas memperlihatkan kultur priyayi yang kental, tidak lama 
setelah ia terpilih menjadi presiden. Nama panggilannya berubah dari "Mbak Mega" 
menjadi "Ibu Mega". Seiring dengan perubahan tersebut, pemerintahan Megawati menjelma 
menjadi pemerintahan yang abai terhadap kepentingan "wong cilik" sebagai bagian 
terbesar dari konstituennya. Untuk Amien Rais, watak priyayi terlihat jelas dari tidak 
risihnya dia ketika ada konstituen yang mencium tangannya.

Setelah mempertimbangkan keterbatasan sistem politik presidensial yang kita adopsi dan 
karakter capres yang seperti calon "mriyayi", sudah saatnya bagi kita untuk meninjau 
ulang penerapan sistem presidensial dan mempersiapkan kepemimpinan kaum muda yang 
lebih demokratik dan egaliter. Adalah arif untuk menimbang kembali alternatif 
model-model lain sistem kelembagaan politik di luar sistem demokrasi presidensial, 
apakah itu sistem parlementer maupun kombinasi parlementer-presidensial seperti model 
Republik Prancis adalah bagian dari alternatif yang patut dipertimbangkan. Yang pasti 
kita tidak ingin, bahwa ke depan kenduri demokrasi di negeri ini tidak lain hanyalah 
untuk memilih "Sang Raja" yang akan memerintah Republik ini. 




[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70
http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
---------------------------------------------------------------------~->

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke