Salam, Kemaren (13/5) mulai dari pukul 6.00 am sampai 12.15 pm saya duduk terpaku di depan TV mengikuti jalannya perhitungan suara pemilu India. Seru memang, apalagi pada saat detik-detik terakhir itu.
Yang membuat saya puas adalah bahwa partai Kongres menang dengan mengalahkan Partai Bharatia Janata (219 berbanding 198). Sehabis Maghrib, PM AB Vajpayee langsung mengundurkan diri dari jabatan perdana menterinya. Satu hal yang menarik dari kata terakhir dr ucapan PM yang akan segera berakhir itu adalah bahwa Partai Bharatia Janata boleh kalah, tapi demokrasi tak boleh patah. Adapun kalah dan menang suatu partai dalam negara demokrasi adalah lumrah. Jhai Hind. Dengan turunnya AB vajpayee, peluang posisi PM kemungkinan besar akan diisi oleh Ms. Sonia Ghandi, presiden partai Kongres yang merupakan partai oposisi selama ini. Bila Sonia Ghandi direstui menjadi PM, maka Madam inilah yang merupakan "org asing pertaman" yang menjabat sebagai PM di negara yang paling demokrasi di dunia ini. Dalam konteks Indonesia saat ini, memang terasa adanya praktek jual beli figur seseorg. Tapi sayangnya masyarkat kita, jgnkan mengenal orgnya, membaca nama orgnya saja tak bisa. Benar-benarlah pendidikan Indonesia ini jauh di bawah standar. Karena itu jgn pernah tinggal di pedesaan an perkampungan, ntar anda tak berkembang baik pergaulan, cara pandang maupun ilmu pengetahuan. Demikian dan wasalam, IzaM. --- In [EMAIL PROTECTED], "Ambon" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Kompas > Jumat, 14 Mei 2004 > > > > > "Friendly Dictatorship" > > > Oleh Effendi Gazali > > BANYAK SMS dikirim rekan-rekan, mendukung Gerakan Anti Politisi Busuk. Kabarnya mereka mendapat kritik, "Dulu ente aktif teriak-teriak, kini melihat nama-nama bakal calon presiden dan wakil presiden kok diam saja!" > > Terus terang, saya tidak tahu bagaimana membalas layanan pesan singkat (SMS) itu. Tambahan lagi, keterangan pengamat politik militer Hasnan Habib (Kompas, 27/4) memperhebat kebingungan itu! Katanya, militer tidak demokratis, sementara sipil tidak ada yang tangguh! > > Mengenai calon berlatar belakang militer, Hasnan khawatir insting dasar militer mereka, yang cenderung komando, perintah, pengambilan keputusan secara cepat, dan tidak melibatkan orang lain, suatu saat bisa keluar. Ini pertama-tama karena institusinya, yakni militer, memang bukan lembaga demokrasi. > > Meski pribadi bersangkutan bisa jadi seorang demokrat, usia demokrasi kita baru seumur jagung. Jadi tidak bisa dibandingkan dengan Dwight D Eisenhower atau Colin Powell di Amerika Serikat, yang relatif sejak lahir sudah menghirup alam demokrasi. > > Masalah kedua, yang dikemukakan Hasnan, lebih terkait keraguan mereka yang aktif mendorong para politisi bersih memimpin negara, yakni bagaimana citra para calon itu di zaman Soeharto? Hasnan juga terasa pas saat menyebutkan, seorang sipil belum tentu langsung seorang demokrat. Sipil kadang jauh lebih tidak toleran. > > MELIHAT kemungkinan kombinasi pasangan calon presiden dan wakil presiden yang ramai dibicarakan dengan hitungan statistik yang kuat, serta upaya berkoalisi yang nyaris tidak dibangun atas dasar tegaknya platform, namun lebih pada tujuan lolos untuk berkuasa, saya membayangkan hasil pemilu presiden 5 Juli atau 20 September akan mengantarkan bangsa kita dipimpin sebuah friendly dictatorship. > > Istilah ini sebetulnya ditujukan Jeffrey Simpson (2001) untuk Perdana Menteri Kanada Jean Chretien yang memerintah sejak 4 November 1993 sampai 12 Desember 2003. Pada sampul buku Simpson, ia digambarkan sebagai seorang sipil yang memakai kostum ala militer dengan senyum yang sangat friendly. > > Harus dicatat, beberapa nuansa pokok sistem politik Kanada berbeda dengan kita. Mereka memiliki perdana menteri, dan militernya relatif kecil untuk dapat menjadi sebuah kekuatan sentripetal. Namun justru di situlah uniknya. > > Mario de Santis (2001) sangat kesal melihat Jean Chretien bersama teman- temannya menggunakan berbagai iklan dan marketing gimmicks untuk mempromosikan reputasi mereka yang mendunia sebagai champions of democracy kepada publik Kanada. Padahal kenyataannya, seperti ditulis Simpson, pemerintahan Chretien tak beda dengan sebuah kediktatoran, terutama karena terpusatnya kekuasaan secara besar- besaran di tangan orang ini. Ia juga diizinkan menunjuk sendiri berbagai posisi penting seperti hakim, senator, sampai pada para anggota (komisioner) untuk Canadian Radio, Television, Telecommunication Commission (CRTC). Dalam pandangan Simpson, Jean Chretien sama dengan Louis XIV dari Perancis, yang mengatakan, L'etat c'est moi (saya adalah negara!). > > Lepas dari beberapa perbedaan itu, begitulah salah satu kemungkinan yang akan kita miliki seusai pemilihan presiden nanti. Barangkali presiden kita nanti adalah berlatar belakang militer, yang dalam komunikasi politiknya, melalui iklan-iklan di media serta trik- trik marketing menjelang hari pemilihan, memunculkan dirinya sebagai tokoh yang jauh dari figur diktator! Ia harus terlihat sudah meninggalkan semua ciri militernya. Dan upaya pemasaran citranya harus membuat publik lupa akan apa saja yang pernah dilakukan di masa kelam pemerintahan Soeharto atau pemerintahan lain. > > Begitu pula orang-orang yang pernah memerintah sesudah era Soeharto akan membeli ruang-ruang marketing di berbagai media untuk menampilkan citra barunya meski kenyataannya selama memerintah mereka tidak kalah kediktatorannya. Entah itu dalam memaksakan kehendak pusat terhadap pilihan rakyat tentang siapa yang selayaknya menjadi pemimpin lokal, atau dengan cara-cara terkesan wajar (menurut prosedur hukum) sengaja membebaskan tokoh-tokoh tertentu dari tuntutan kasus berdarah seperti Insiden 27 Juli. > > MEMANG kediktatoran mereka mungkin terhambat di parlemen apabila petanya di sana tidak mutlak dikuasai partai tertentu atau gabungan koalisinya. Hal ini juga merupakan catatan Bryan K Ritchie tentang apa yang bisa diharapkan dari pemilu Indonesia 2004 dalam aspek pembangunan ekonomi (pada Association for Asian Studies Annual Meeting, San Diego, 2004; Indonesia's Elections: what should we expect?). > > Ia menyatakan rangkaian pemilu kita mungkin tidak akan mengubah apa pun dalam konteks ekonomi jika langkah- langkah untuk merestruktur institusi-institusi politik tidak dilakukan bersamaan, seperti kemampuan parlemen untuk membentuk strong policy majorities. > > Namun, di sini pula hebatnya Jean Chretien! Bersama tokoh- tokoh Partai Liberal-nya, ia mampu menjalin koalisi kerja sama dengan lawan-lawan politiknya sehingga terbentuk apa yang oleh De Santis (2001) disebut private contract! > > Ia mengatakan, keinginan para pemilih sudah tidak dihitung lagi. Pemerintahan seakan tidak punya kewajiban apa-apa lagi terhadap kontrak sosialnya dengan pemilih! Fenomena seperti ini sudah sering terjadi di parlemen kita. Lihat Kasus Trisakti atau Semanggi, parlemen kita tidak menganggapnya sebagai pelanggaran hak asasi manusia serius! Sudah lazim didengar rumor, untuk meluluskan undang- undang atau keputusan tertentu diperlukan pembagian uang merata. > > Kembali ke Chretien, ia berbeda dari Brian Mulroney, Joe Clark, dan Pierre Trudeau yang semuanya relatif merupakan tokoh-tokoh political outsiders sebelum menduduki pos perdana menteri. Chretien memiliki pengalaman lebih dari 30 tahun dalam pemerintahan. > > Justru pengalaman seperti ini, menurut para pengamat, memberi Chretien kemampuan menguasai sistem parlementer Kanada, untuk kemudian membangun sebuah friendly dictatorship! Intinya, klaim bahwa partai atau tokoh yang sudah punya pengalaman memerintah yang panjang akan memberi masa depan yang baik belum tentu pula benar! > > Akhirnya, sekali lagi, ternyata Pemilu 2004 mengantar kita pada pilihan-pilihan lanjutan yang sulit. Tetapi, paling tidak dari segi komunikasi politik, siapkanlah diri kita untuk tidak terlena dibuai strategi marketing yang akan menjual citra seorang tokoh (entah sipil atau militer) yang ramah, demokrat, bersih (betul) dari sisi-sisi kelam masa lalu. Padahal, yang terbentang di depan kita adalah sebuah friendly dictatorship! > > > Effendi Gazali Staf Pengajar Pascasarjana Komunikasi UI; Research Associate di Universitas Nijmegen, Belanda ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~--> Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70 http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM ---------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

