SUMBER: "Andrinof Chaniago" <[EMAIL PROTECTED]>
�: <[EMAIL PROTECTED]>
Objet: [politik-indonesia] Pelajaran Relevan dan Urgent dari Taiwan
Date: vendredi 7 mai 2004 14:41

Pelajaran dari Taiwan
Untuk Negeri Kita yang Masih Dalam Kebangkrutan


Pengantar

Dari pertengahan Maret hingga pertengahan April lalu
saya merasa menjadi orang yang sangat beruntung
bersama 21 orang lainnya dari 22 negara, karena
mendapat kesempatan mengikuti "National Development
Courses" di Fu Hsing Kang College, Taipei, Republic Of
China (ROC), Taiwan. Kuliah-kuliah pada program ini
diberikan oleh para professor dari
universitas-universitas terkemuka di Taiwan dan
beberapa oleh pejabat senior pemerintah. Selain
mengikuti kuliah kelas sebanyak 16 topik dan tiap
topik diberikan selama empat jam, peserta juga dibawa
berkunjung ke hampir semua pelosok negeri Taiwan.

Rasanya saya sangat berhutang jika tidak membagikan
apa yang saya dapat dari kursus tersebut saat ini,
mengingat suasana perebutan kekuasaan Presiden-Wakil
Presiden yang sedang berlangsung saat ini makin
terperosok pada kepentingan politik sempit daripada
keseriusan menawarkan kebijakan pembangunan nasional
yang menjanjikan. Agar saya tidak terlalu berhutang,
saya kemukakan dulu beberapa materi di bawah ini atas
pertimbangan, maslahnya sangat strategis bagi
perubahan nasib rakyat. Semoga berguna.

(Andrinof A. Chaniago)


KESUKSESAN PEMBANGUNAN 
YANG TIDAK DATANG DENGAN SENDIRINYA

Dalam banyak hal, antara negara Taiwan dan Indonesia
memang tidak bisa dibandingkan. Di dalam dunia politik
internasional, Taiwan yang secara de facto berfungsi
sebagai negara karena antara lain bisa memilih
pemerintahan sendiri dan memiliki mata uang yang
diterima di dalam transaksi global, masih terkucil
dalam percaturan politik global karena kuatnya
pengaruh RRC. Sementara Indonesia tentu saja tidak
memiliki masalah pengakuan kedaulatan oleh
negara-negara lain. Lalu, dari segi luas wilayah dan
jumlah penduduk, Taiwan boleh dikatakan terlalu kecil
dibandingkan dengan Indonesia. Penduduknya hanya lebih
sedikit dari sepersepuluh penduduk Indonesia.
Sementara luas wilayahnya tidak sampai separuh luas
Pulau Jawa.

Namun ukurannya yang jauh lebih kecil tadi tidak boleh
kita kecilkan sebagai tempat belajar. Kalau
akhir-akhir ini kita mulai melirik ke Malaysia untuk
bidang pendidikan, Taiwan pantas dilirik bukan saja
karena kemajuan pendidikannya tetapi untuk banyak yang
relevan sebagai pelajaran bagi Indonesia saat ini.
Kalau kita makin sering melirik ke Malaysia, toh
jumlah penduduk Taiwan yang 24 juta jiwa tadi sama
dengan penduduk Malaysia. Apalagi jika dibandingkan
dengan persoalan internal dan eksternal yang harus
dihadapi, Taiwan memiliki tantangan lebih berat selama
negara ini berjuang menuju negara seperti sekarang.

Dengan jumlah penduduk sekitar 24 juta jiwa yang
tinggal di atas pulau dengan luas 36.000 km2, tekanan
permintaan terhadap berbagai masalah pelayanan publik
di Taiwan sangatlah sebanding dengan yang terjadi di
Pulau Jawa. Pulau Jawa yang memiliki luas sekitar
132.000 km2 dengan penduduk 118 juta jiwa (tahun
2000), berarti memiliki kepadatan penduduk yang hampir
sama dengan Taiwan yang menamakan dirinya Republik of
China (R.O.C).

Tahun 2003 lalu, pendapatan perkapita Taiwan sudah
mencapai US$ 13,000. Tahun ini angka itu diperkirakan
naik menjadi US$ 13.400. Hasil ini jelas merupakan
kemajuan pesat. Tahun 1960, pendapatan perkapita
mereka hanya US$ 80. Anak-anak sekolah pergi ke
sekolah tanpa sepatu. Suatu kondisi yang tidak berbeda
dengan di Indonesia.

Untuk menyebut beberapa saja, Taiwan saat ini bisa
membanggakan diri sebagai: Penguasa nomor satu pasar
sepeda motor di dunia; Lebih dari 60% dari penduduknya
pengguna internet; Pada bulan Juni tahun 2003 lalu,
perusahaan komputer Taiwan, Quanta, tercatat sebagai
penghasil komputer notebook tebesar di dunia; Taiwan
kini memiliki tidak kurang dari 70 universitas negeri
dan 90 universitas swasta yang 20% dananya didukung
dana pemerintah. Tidak banyak juga yang tahu, jika di
salah satu universitas di Taiwan terdapat program MBA
yang sederajat dengan program MBA top di AS. 

Di bidang ekonomi, jelas terlalu banyak yang harus
diakui sebagai keunggulan negara ini. Tetapi jika kita
pilih saja yang paling relevan dan paling urgent
sebagai pelajaran bagi Indonesia dari kinerja ekonomi
Taiwan selama ini, salah satu model yang patut
dijadikan acuan adalah soal kecilnya gap antara sektor
pertanian dan sektor industri dan jasa. Walaupun
sebagian besar rumah petani di Taiwan memiliki lahan
kurang dari 1 hektar (46,9% dari total petani
tergolong pemilik lahan kurang dari 0,5 hektar, dan 28
% tergolong pemilik lahan kurang dari 1 hektar),
petani Taiwan tidak merasa berada pada posisi social
yang rendah dalam struktur sosial-ekonomi Taiwan.
Mereka tidak perlu merasa terpaksa menjadi petani.
Sebabnya, antara lain, adalah, karena mereka sangat
berkesempatan mengoptimalkan penggunaan jam kerja
untuk mendapatkan penghasilan yang tinggi dengan tidak
bergantung seratus persen pada kegiatan usaha tani
tersebut. Seperti petani di negeri manapun, mereka
masih punya waktu luang yang cukup banyak di luar
kegiatan bertani. Bedanya, sistem ekonomi Taiwan
memberi lapangan kerja nonpertanian yang  cukup luas
karena dari segi lokasi usaha pertanian, industri,
jasa dan sebagainya tumbuh berdampingan di berbagai
wilayah. Di dalam kota Taipei sekalipun, kecuali di
kawasan inti pusat bisnis, kita akan melihat orang
Taiwan menggunakan lahan sekecil apapun untuk menanam
tanaman produktif. 

Mengapa keserasian social-ekonomi ini bisa terwujud?
Pertama, sejak tahun 1950-an para pemimpin pendahulu
mereka sudah merancang dan terus menyempurnakan
adminsitrasi pertanahan yang efesien untuk menampung
semua fungsi. Kedua, kebijakan pendidikan terhadap
anak-anak petani mendapat perhatian lewat visi yang
komprehensif. Anak-anak keluarga petani mendapat
perhatian khusus untuk mendapatkan pendidikan agar
tidak terjadi ketimpangan social di kemudian hari..
Hasil dari kebijakan ini tidak terbantahkan manfaatnya
untuk berbagai aspek pembangunan. Jumlah masyarakat
kelas menengah membesar dan kelas bawah terus menciut.
Banyak pengusaha nasional dan tokoh politik nasional
Taiwan berlatar belakang keluarga miskin. Chen
Sui-bian, Presiden Taiwan yang baru-baru ini terpilih
kembali untuk masa jabatan kedua berasal dari keluarga
petani yang sangat miskin. Dr. Wang pemilik perusahaan
komputer terbesar di Taiwan sebelum perusahaannya
kolaps akibat krisis manajemen, juga berasal dari
keluarga miskin. Bahkan, sejumlah CEO
perusahaan-perusahaan IT terkemuka di AS berasal dari
putera Taiwan dengan latar belakang keluarga miskin
tadi.

Pentingnya Peran Pemerintah dalam Pembangunan
Perumahan
Harap diingat dulu, di jaman Orde Baru pembangunan
perumahan di Indonesia lebih merupakan urusan bisnis
daripada urusan publik yang mestinya diurus dengan
serius oleh pemerintah. (Tolong dibaca, kalau
berkenan, salah satu Bab tentang bisnis perumahan dari
buku saya yang berjudul Gagalnya Pembangunan terbitan
LP3ES, 2001). Lalu, sejak era reformasi di Indonesia
Kementerian Perumahan justeru dihapus dan hanya
menjadi urusan sebuah Direktorat Jenderal di bawah
Departemen Pekerjaan Umum. Jelas terlihat, di mata
para pemimpin Indonesia setelah repormasi urusan
perumahan lebih merupakan urusan pembangunan fisik.
Jadi ada perubahan dari Orde Baru ke Orde Reformasi,
dari urusan bisnis ke urusan fisik.

Apa yang dilakukan oleh pemerintah Taiwan di bidang
pembangunan perumahan sehingga disadari atau tidak,
memberi kontribusi penting dalam menghasilkan
pembangunan sosial yang sangat berkualitas dan memberi
efek yang luas bagi kesejahteraan penduduknya, adalah
suatu kebijakan dengan pembagian peran antara negara
dan swasta secara tepat. 

Dengan mengambil peran sebagai pemegang kendali
pembangunan perumahan, Departemen Perumahan Umum tidak
saja mampu menjawab kebutuhan warga akan rumah, tetapi
juga membuat rakyat Taiwan bisa hidup dengan tenang
dan memiliki waktu yang lapang untuk mengisi berbagai
kegiatan. Sebabnya adalah, dengan peran perencanaan
dan pengendalian bangunan fisik perumahan yang efektif
di tangan pemerintah, bukan di tangan para pengusaha
property, rakyat Taiwan terhindar dari masalah
kemacetan lalu lintas dan tidak tersingkir jauh dari
lokasi-lokasi kerja dan fasilitas-fasilitas umum. Jika
di Jakarta orang-orang yang tinggal di pinggiran harus
mengeluarkan sekitar Rp 100 ribu untuk membayar ongkos
taksi bisa ingin naik kendaraan umum yang nyaman, di
Taiwan dengan kenyamanan yang setara dengan kenyamanan
naik taksi di Jakarta, orang cukup mengeluarkan uang
sekitar Rp 50 ribu saja dengan menaiki kereta MRT atau
bis kota. Pengguna kendaraan umum ini tidak perlu
mepepas jas atau dasi atau bleser yang sudah
diseterika dengan licin. 

Harap dibandingkan juga, harga satuan unit barang dan
jasa di Taiwan rata-rata sama dengan tiga kali lipat
dari harga di Jakarta. Misalnya, bila argo taksi per
km atau per menit perjalanan di Jakarta adalah Rp
3000, di Taiwan harganya mungkin sekitar Rp 9000.
Tetapi di Taiwan, jika tidak ada keperluan yang sangat
khusus, orang berdasi atau berjas pun tidak perlu naik
taksi. Lagi pula, ketika ada keperluan naik taksi di
kota-kota Taiwan pun, jarak tempuh atau lama waktu
yang diperlukan untuk ke tujuan seperti tujuan orang
naik taksi di Jakarta tidaklah sama dengan jarak atau
waktu yang diperlukan kalau kita naik taksi di
Jakarta. Dengan kata lain, meskipun harga satuan jasa
transportasi tiga kali lipat dari harga di Jakarta,
kebutuhan rata-rata biaya transportasi di Taiwan
justeru lebih murah. Nilai biaya transportasi di
Taiwan itu tentu akan lebih murah lagi jika kita juga
membandingkan pengeluaran untuk biaya transportasi
tersebut dengan daya beli antara penduduk Taiwan dan
Jakarta.

Dari sisi inilah kita bisa melihat bahwa secara tidak
langsung Departemen Perumahan Umum telah melakukan
pencegahan dini terhadap munculnya masalah-masalah 
pelayanan publik, ketegangan-ketegangan sosial, beban
hidup warga kota, dan penyekit-penyakit sosial seperti
kriminalitas, kaum miskin kota, dan sebagainya. 

Kalau kita bandingkan, mengapa biaya kebutuhan
transportasi rakyat Taiwan yang jauh lebih kaya itu
menjadi jauh lebih murah dibanding dengan biaya
transportasi penduduk Indonesia yang tinggal di
kota-kota besar seperti Jakarta dan sekitarnya?
Jawabannya, pertama, selain pemerintah Taiwan
menyediakan transportasi umum yang nyaman dan
manusiawi, adalah juga dikarenakan peran pemerintah
dalam merencanakan dan mengendalikan pembangunan
perumahan. Peranan tersebut mencakup pula akuisisi dan
perencanaan lahan, perancangan dan pembangunan
perumahan, penjualan dan dan sewa perumahan, fasiltias
pembiayaan pembelian rumah bagi penduduk, penyediaan
informasi perumahan, dan perawatan bangunan. 

Kedua, dukungan riset dan infrastruktur dari
pemerintah sejak awal tahun 1980-an juga berhasil
membuat harga semen murah, berkualitas tergolong
terbaik di dunia dan beredar di pasar yang sempurna.
Harga dan kualitas bahan bangunan utama ini jelas
memberi kesempatan luas dan merata bagi penduduk
Taiwan untuk tinggal di apartemen yang layak.

Pelajaran pembanding apa yang dapat kita ambil dari
kebijakan perumahan di Taiwan ini? Bentuk pembagian
peran antara pemerintah dan swasta dalam pembangunan
perumahan di Taiwan ini jelas kontras dengan pembagian
peran yang terjadi di Indonesia. Peran pihak swasta
dalam pembangunan perumahan memang dibatasi hanya pada
kegiatan konstruksi. Para pebisnis property di Taiwan
tidak dibiarkan menjadi kaya mendadak - dan juga
ambruk mendadak - karena menjadi spekulan tanah dan
lokasi seperti yang terjadi di Indonesia. Dengan
kebijakan seperti ini, ekonomi Taiwan sekaligus
terhindar dari bubble economy seperti yang dialami
Indonesia hingga terjadinya krisis hebat tahun 1998.

Banyak lagi keunggulan tersembunyi negeri ini yang
tidak banyak diketahui masyarakat dunia.  Tetapi, yang
penting bagi kita adalah, bagaimana cara Taiwan
mencapai semuanya itu? Jawabannya adalah, strategi
makro yang dipakai oleh para pemimpinnya di masa lalu,
 dan konsistensi mereka menjalankan scenario-skenario
itu, adalah kunci sukses yang pantas dinikmati oleh
rakyat Taiwan saat ini.






 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
---------------------------------------------------------------------~->

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke