http://www.suarapembaruan.com/News/2004/05/04/Utama/ut01.htm

SUARA PEMBARUAN DAILY 
--------------------------------------------------------------------------------

Ribuan Mahasiswa Tutup Jalan-jalan Utama 

Kota Makassar Lumpuh
MAKASSAR - Ribuan mahasiswa dari berbagai kampus perguruan tinggi di Kota Makassar, 
Selasa (4/5), melakukan aksi solidaritas terhadap rekan mereka yang menjadi korban 
tindakan brutal aparat kepolisian dengan menyerang Kampus Universitas Muslim Indonesia 
(UMI), Sabtu (1/5). 

Aksi para mahasiswa itu dilakukan dengan menutup jalan-jalan utama di Kota Makassar 
hingga kendaraan umum tak dapat beroperasi, dan aktivitas warga kota terhambat. 
Sejumlah ruas jalan macet total, Kota Makassar sepertinya lumpuh. 

Mahasiswa itu juga melakukan negosiasi dengan pihak kepolisian untuk membebaskan 
temannya yang menurut mereka masih ada yang ditahan di Kantor Polres setempat. 

Meskipun Kapolri telah memberhentikan Kapolda Sulsel, Irjen Pol Jusuf Manggabarani 
beserta Kapolwiltabes Makassar, Kombes Pol Yose Rizal dan Kapolresta Makassar Timur, 
AKBP Eko Sukrianto, namun mahasiswa menilai hal itu tidak cukup. Mereka menuntut 
Kapolri Jenderal Polisi Da'i Bachtiar mundur dari jabatannya. 

Aksi keprihatinan terhadap penyerangan Kampus UMI juga dilakukan oleh ribuan mahasiswa 
di Palu. Ribuan mahasiswa di Palu melakukan long march dari Lapangan GOR Palu melewati 
Jalan Hasanuddin hingga Jalan Jenderal Sudirman, persis di depan Markas Detasemen 
Polisi Militer (Denpom) Palu. 


Orasi 

Para pengunjuk rasa berhenti dan melakukan orasi yang intinya mengecam kekerasan yang 
dilakukan aparat terhadap para mahasiswa di Makassar. 

Hal yang sama juga dilakukan oleh ratusan mahasiswa di Kota Medan, Sumatera Utara. 
Mereka melakukan aksi unjuk rasa sebagai solidaritas dan keprihatinan atas penyerangan 
aparat kepolisian terhadap kampus UMI di Makassar. Dalam aksinya, para pengunjuk rasa 
yang tergabung dalam Forum Aliansi Mahasiswa UISU memblokir jalan. Aksi itu diramaikan 
dengan sejumlah spanduk dan poster yang terpampang di pinggiran jalan yang intinya 
mengecam tindakan aparat kepolisian di Makassar. 



Penyerangan Kampus UMI telah menyebabkan 65 mahasiswa luka berat, dua di antaranya 
luka tembak di bagian paha dan kepala, masing-masing Polopadang, Mahasiswa Teknik dan 
Abdul Rasinan alias Ulla, Mahasiswa Hukum yang kini masih menjalani perawatan di Rumah 
Sakit (RS) Ibnu Sina, depan kampus UMI. 

Bentrokan berdarah itu terjadi Sabtu (1/4) sekitar pukul 14.30 Wita, dipicu oleh 
panahanan 26 mahasiswa oleh aparat kepolisian dari Polresta Makassar Timur untuk 
dimintai keterangan seputar aksi penolakan militer di pentas politik. Para mahasiswa 
meminta agar rekan-rekan mereka dibebaskan. 

Pada saat yang bersamaan, sekitar 30 mahasiswa UMI Makassar berunjuk rasa mengecam 
penangkapan Ustadz Abu Bakar Baasyir. Sekitar satu kilometer sepanjang jalan Urip 
Sumohardjo depan kampus UMI ditutup oleh aparat kepolisian. Mahasiswa pengunjuk rasa 
yang semula mengusung tema soal penangkapan Abu Bakar Baasyir, setelah mendengar 
informasi tentang penahanan 26 mahasiswa itu, langsung mengalihkan isu aksinya. Mereka 
kemudian menyandera Briptu Sudirman, anggota dari Kepolisian Wilayah Kota Besar 
(Polwiltabes) Makassar yang melintas di tengah aksi mahasiswa di depan Kampus UMI 
dengan mengendarai sebuah sepeda motor. 

Mahasiswa menyandera anggota kepolisian itu sebagai tebusan 26 rekannya yang diamankan 
oleh aparat Polresta Makassar Timur. Berdasarkan kesepakatan mahasiswa sendiri, aparat 
yang disandera itu tidak akan disakit, hanya diamankan di salah satu markas kegiatan 
para mahasiswa itu, di dalam kampus UMI. 

Briptu Sudirman mengatakan, selama dalam penyanderaan dirinya dilindungi oleh 
mahasiswa dan diperlakukan dengan baik. "Mereka perlakukan saya dengan baik, cuma 
diminta untuk bersabar sambil menunggu kawan mereka dibebaskan oleh aparat," katanya. 

Hanya selang beberapa menit kemudian, puluhan aparat kepolisian tiba di pintu gerbang 
kampus UMI. Mereka tidak terima atas tindakan penyanderaan tersebut dan bermaksud 
menyelamatkan rekannya dari penyanderaan. Mahasiswa tidak tinggal diam, mereka membuat 
perlawanan dengan melempar batu ke arah polisi yang berada di luar pintu gerbang 
kampus. 

Aparat keamanan tampak emosi dan membalas lemparan batu itu dengan tembakan di udara 
juga dengan lemparan batu sehingga kaca mobil jenis Kijang yang terparkir di dekat 
pintu gerbang itu pecah. 

Pembantu Rektor (Purek) III UMI Makassar, Ir. H. Lambang Basri sempat bernegosiasi 
dengan aparat dan menjamin anggota polisi yang disandera itu segera dibebaskan. Namun 
Purek III UMI ini tidak bisa berkutik ketika antar mahasiswa dan aparat pun mulai 
saling lempar batu lagi. 

Kendati puluhan kali tembakan ke udara masih dimuntahkan aparat, mahasiswa tetap saja 
melakukan perlawanan yang membuat suasana makin tak terkendali, apalagi kemudian 
aparat keamanan membobol pintu gerbang dan merangsek masuk hingga ke ruang 
perkuliahan. 

Namun aparat terus mengejar mereka dan para mahasiswa yang bersembunyi di ruang 
kuliah, diciduk dan digebuki. Lantaran mahasiswa yang tertangkap itu tidak memberikan 
keterangan mengenai posisi Briptu Sudirman yang disandera itu, aparat pun kembali 
menyisir ruang-ruang perkulihan utamanya ruang kuliah Fakultas Ekonomi dan Fakultas 
Teknik yang berada agak jauh di belakang kampus sembari terus melepaskan tembakan. 

Suasana makin tegang ketika pasukan anti huru-hara tiba di Kampus UMI. Sejumlah 
mahasiswa diseret, digebuki dengan popor senjata dan pentungan kayu hingga berdarah. 
Ratusan mahasiswa yang tengah kuliah bahkan tengah mengikuti ujian pun panik. Pembantu 
Rektor III UMI, Ir. H. Lambang Basri kemudian melakukan negosiasi dengan Kapolres 
Makassar Timur, Ajun Komisaris Besar Polisi Eko Suprianto agar tidak melepaskan 
tembakan dulu sembari menunggu mahasiswa yang tengah kuliah itu dibiarkan meninggalkan 
kampus. 

Sekitar pukul 15.40 wita kemudian, Briptu Sudirman yang disandera itu ditemukan di 
sekretariat Forum Diskusi Isu-isu Strategis (Fosis) UMI bertepatan tibanya 
Kapolwiltabes Makassar, Kombes Pol Yose Rizal di lokasi kejadian. Aparat yang semula 
beringas itu pun perlahan-lahan menghentikan penyisirannya ketika mengetahui rekannya 
sudah lepas dengan selamat bersama sepeda motornya tanpa cedera sedikit pun. 


Minta Maaf 

Kapolri Jenderal (Pol) Da'i Bachtiar meminta maaf kepada mahasiswa dan masyarakat atas 
kejadian itu. "Atas nama institusi Polri, kami meminta maaf dan berjanji menindak 
tegas mereka yang terlibat dalam penganiayaan itu," jelas Da'i Bachtiar saat jumpa 
pers dengan wartawan di Bandara Hasanuddin, Makassar sebelum menuju Ambon, Senin (3/5) 
siang. 

Diharapkan mahasiswa juga jangan melakukan hal-hal yang merugikan kepentingan umum, 
seperti melakukan sweeping, memblokir jalan, hal itu akan merugikan kepentingan 
bersama. 

Peristiwa itu merupakan pelajaran yang sangat berharga dan mahal, kata Kapolri. 
Peristiwa yang menyebabkan citra polisi terpuruk itu harus dijadikan referensi bagi 
jajaran kepolisian. 

"Saya akan minta rekaman peristiwa untuk dijadikan bahan informasi kepada seluruh 
lembaga pendidikan Polri, bahwa cara-cara yang dilakukan petugas itu tidak sesuai 
dengan prosedur dan ketentuan yang berlaku, termasuk petunjuk pelaksanaan dan petunjuk 
teknis," jelasnya. 

Kepala Divisi Humas Mabes Pollri, Irjen Pol Paiman, kepada Pembaruan, Selasa, 
mengatakan, sedikitnya sembilan anggota gabungan jajaran Polda Ujungpandang Sulawesi 
Selatan masih menjalani pemeriksaan intensif oleh Divisi Profesi dan Pengamanan 
(Divpropam) Polda setempat sebagai tersangka terkait kasus penyerbuan dan penganiayaan 
terhadap mahasiswa 

Juru bicara Mabes Polri yang baru dilantik pekan lalu menggantikan Irjen Pol Basyir 
Ahmad Barmawi kini menjabat Gubernur Akademi Kepolisian (Akpol) itu belum bersedia 
menyebutkan nama anggota Polri yang diperiksa sebagai tersangka itu, namun mereka 
terdiri dari dua perwira dan lainnya bintara. Petugas yang diperiksa oleh Divpropam 
semula kurang lebih 15 orang, setelah didalami akhirnya ditetapkan sembilan anggota 
sebagai tersangka. Sehubungan pemeriksaan masih berlangsung maka tidak 
menutupkemungkinan jumlah tersangka bisa bertambah tergantung pengembangan bukti di 
lapangan. 


Peluru di Kampus 

Ketua Komisi II DPR RI, Teras Narang mengatakan, kebrutalan aparat yang terjadi di 
Kampus UMI adalah pelanggaran berat yang tidak hanya bisa ditebus dengan penghentian 
perwira yang diduga terlibat, melainkan juga perlu diusut tuntas kasus pelanggaran Hak 
Azasi Manusia (HAM) nya. 

"Saya melihat sendiri sisa-sisa darah yang berceceran di lantai akibat kekejaman 
aparat saat menganiaya mahasiswa, bahkan kami menemukan peluru tajam yang akan 
dijadikan bukti bagi pelanggaran aparat Polri," jelas Teras Narang dalam kunjungannya 
ke Makassar, Senin (3/5) 

Saat bertemu dengan mahasiswa dan pimpinan UMI di Aula Al Jibra Kampus UMI, rombongan 
Komisi II yang terdiri dari Logan Sianipar, Fery Mursidan Baldan, Teras Narang, Idrus 
Marham dan H Mutammimul 'Ula, menerima masukan sehubungan kasus tersebut serta melihat 
langsung lokasi kejadian. 

Menurut Teras Narang, pihaknya sudah melihat sendiri beberapa bukti kekejaman aparat 
menganiaya mahasiswa, di lantai-lantai gedung nampak ceceran darah mahasiswa yang 
terluka akibat kena tembak dan pukulan, bekas peluru juga nampak menembus dinding dan 
pintu. Bahkan anggota dewan menemukan peluru tajam dari senjata laras panjang di 
kampus itu. Rombongan Komisi II juga menengok dua mahasiswa yang tertembak dan dirawat 
di Rumah Sakit Ibnu Sina, mereka adalah Polopadang dan Abdul Rasinan atau Ulla 

Mahasiswa juga melaporkan kepada dewan bahwa akibat penyerbuan brutal, lima mahasiswa 
dinyatakan hilang. Mereka dijemput paksa aparat, bahkan satu dari lima yang hilang itu 
terkena tembakan pada bagian dadanya. Setelah tak sadarkan diri diangkut olehpetugas 
dan hingga kini tidak ketahuan. 

Kapolda Jusuf Manggabarani yang dikonfirmasikan hal itu membantah adanya mahasiswa 
yang tertembak di dadanya. 

"Kalau itu benar, tolong berikan saya bukti, saya akan usut tuntas itu sebab 
menyangkut pelanggaran HAM berat," kata Jusuf Manggabarani yang berjanji menindak 
tegas aparat yang bertindak di luar koordinasi. 

Menyangkut mahasiswa yang hilang, Dewan meminta kepada Rektor UMI untuk 
menginventarisir nama kelima mahasiswa itu dan menyerahkan ke Komisi II DPR RI untuk 
dijadikan pembahasan pada pertemuan dengan Kapolri. (148/128/G-5/151) 



--------------------------------------------------------------------------------
Last modified: 4/5/04 

[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke