http://www.suarapembaruan.com/News/2004/05/04/index.html
SUARA PEMBARUAN DAILY
--------------------------------------------------------------------------------
Skandal Keilmuan, "Never Again!"
Oleh JK Prihatanto
UATU sore -di perpustakaan yang asri- tidak sengaja, saya menemukan seonggok kata
Yunani paidea, yang berarti pemuda (dari sana pula muncul kata pedagogis). Orang
Yunani memandang pemuda sebagai pemasok negara. Dulu, paidea berarti pendidikan. Maka,
tak heran kalau orang muda sangat erat terkait-paut dengan pendidikan. De facto saat
ini, di sekitar kita ada sekelompok oknum -bisa jadi juga orang muda, bukan kelompok
sosial yang besar namun membuat suatu aksi 'pembasmian tradisi keilmuan' yang besar.
Mereka hendak memandulkan semangat berpikir lewat buku. Padahal lewat pelbagai buku
kita sebagai animal rationale bisa berpikir, dan berpikir adalah berpikir apa saja dan
tentang siapa saja. Buku bisa memacu opini, membangun wacana, mengolah
diskursus-konsensus dan berani berpendapat. Buku bisa mengembangkan beberapa aktivitas
berpikir yang khas dimiliki manusia. Seperti kata PK Ojong (Pendiri Kompas-Gramedia),
buku juga menunjukkan kualitas budaya suatu bangsa. Buku adalah ungkapan pemikiran
manusia atau medium pemikiran, maka haru s dihargai.
Sepakat dengan Freire (Pedagogy of Hope) bahwa impian sangat penting dalam usaha
mewujudkan diri sebagai manusia. Di sini, buku menjadi salah satu sarana penting untuk
membuat manusia terus belajar. Jelaslah bahwa buku membantu mewujudkan impian, dimana
kita belajar untuk belajar (learn to learn).
Maka, tindakan mencuri buku, tentulah tidak etis. Bukankah isi buku yang ada di
perpustakaan itu kerap berupa pikiran yang berguna bagi banyak orang, bukan melulu
sekadar suatu fisik material? Kalaupun kita membutuhkan pemikiran yang ada dalam buku
itu, tidak berarti bahwa kita mesti menjadi utilitarian-membawa buku-buku tersebut
secara ilegal. Karena bagaimana kita bisa meningkatkan budaya membaca, kalau banyak
perpustakaan merasa merugi melulu-dengan tingginya pencurian buku setiap waktunya?
Di tengah semaraknya kebebasan pers, tindakan 'pencurian buku-buku' apa pun alasannya,
jelas semakin memalukan bangsa Indonesia di muka dunia. Paling tidak, dengan mencuri
buku, berarti kita menolak orang lain tahu dan menolak tradisi membaca. Dan menolak
membaca berarti menolak budaya berpikir. Apakah kita sudi kalau dikatakan sebagai
bangsa tak berbudaya? Ataukah budaya kita memang budaya ketidakjujuran melulu?
Jelasnya, selain bertentangan dengan ajaran agama dan moral-etis, tindakan pencurian
buku merupakan tindakan pembodohan, dan bertentangan dengan Pembukaan UUD 1945, yang
mengamanatkan untuk ikut mencerdaskan kehidupan bangsa.
Masalah yang lebih dalam lagi: Bila perilaku kita yang biadab ini merupakan cermin
peradaban kita sebagai bangsa, apa yang sedang menggejala dengan meretasnya pelbagai
pencurian buku tersebut? Mengapa pula di tengah semaraknya demokrasi-reformasi, masih
kerap terjadi suatu skandal intelektual yang melulu merugikan orang lain?
Hannah Arendt (Besuch in Deutschland) mengatakan bahwa massa cepat lupa, karena dalam
peristiwa massa, rasa tanggung jawab itu menjadi tumpul. Tetapi betulkah massa itu
pelupa? Martin Heidegger memiliki istilah yang tepat, yaitu Gedankenlosigkeit,
ketidakberpikiran (Discourse on Thinking): Sebetulnya kita tidak pelupa, melainkan
tidak berpikir.
Kolektif
Dari fenomen pencurian buku ini, kita bisa mencandra ternyata apa yang menyangkut
individu itu juga dapat dikenakan untuk kolektif. Prasangka, kepalsuan, kedangkalan
berpikir, dan skandal keilmuan adalah kegaduhan kesadaran yang dimaksud di atas. Imbas
mentalitas, ekonomi pasar, jargon, kultur global dan teknologi informasi menambah
kegaduhan itu. Manusia -bukan sebagai person, melainkan sebagai elemen massa - adalah
korban kegaduhan ini.
Padahal, Dick Hartoko (Memanusiakan Manusia Muda), menulis bahwa pada jaman klasik,
gambaran manusia ideal dirumuskan dengan "kalos kagatos" (indah dan berbudi luhur).
Dikatakan juga, "nilai pokok pendidikan ialah kemanusiaan paripurna, yang secara
seimbang mengembangkan cipta, rasa dan karsa." Kita dapat melukiskan lembaga
pendidikan yang mengembangkan nilai-nilai kemanusiaan seperti itu, dengan apa yang
dikatakan Stanley M. Grabowski, "School function as socializing agency..are not
utopian but realistic." Dalam pengertian John Dewey, 1966, lembaga pendidikan dapat
menjadi masyarakat mini, dimana nilai dan hidup masyarakat dilaksanakan dalam lembaga
tersebut.
Tapi mengapa di tengah semaraknya demokrasi-reformasi dan pendidikan, masih kerap
terjadi suatu skandal intelektual yang melulu merugikan orang lain? Bila perilaku kita
yang biadab ini merupakan cermin peradaban kita sebagai bangsa, apa yang sedang
menggejala dengan meretasnya pelbagai pencurian buku tersebut?
Kehendak
Di sini kritik tajam Nietszche, mengenai will to truth (kehendak mencari kebenaran)
yang de facto sudah menjadi will to power (kehendak untuk menguasai) dalam suatu
pemahaman realitas bisa dipahami. Mengapa? Sebab pada awalnya will to truth adalah
proses kita menuju kebenaran yang 'kreatif dan alamiah'. Namun begitu will to truth
dikolaborasi dengan kekuasaan untuk melegitimasikan truth itu, maka di sana perisai
kebohonganlah yang siap memancung pencarian kebenaran-kebenaran lain, dan salah
satunya tampak lugas lewat maraknya pencurian buku-buku ini.
Kini, pertanyaan kritis yang muncul adalah: "Bagaimana skandal keilmuan ini bisa
diatasi?" Yang pasti, mendidik manusia tidak sama dengan memperbaiki mesin. Dalam
matra filsafat: manusia adalah multidimensional. Dalam masyarakat yang maju, disitu
kerap muncul masyarakat yang tidak sehat. Marcuse mengkritik pola hidup masyarakat
modern sebagai masyarakat berdimensi satu, karena segala segi kehidupan hanya
diarahkan untuk dan demi berlangsungnya pasar. Kritik Marcuse dalam bukunya One
Dimensional Man sebenarnya mengkritik kita juga yang kerap mendangkalkan nilai
integral kemanusiaan.
Maka, sebetulnya pendidikan kita harus mendorong pada proses pendewasaan, yakni
kemampuan mendengarkan suara hati. Mendengarkan suara hati mengandaikan pemahaman
(Heidegger, Sein und Zeit, paragraf 34). Latihan untuk kita semua adalah: belajar
memahami pengalaman, yakni melawan kelupaan dan penglupaan pengalaman. Itulah
pengumpulan diri kita yang perlu untuk mengokohkan bonum commune.
Sebuah cerita: Tidak jauh dari kota Munich di Bavaria Jerman terletak kota kecil
Dachau. Di kota itu terdapat kamp konsentrasi pertama Hitler. Pada monumen utama yang
didirikan Pasca-perang Dunia II tertulis "Never again". Apa yang jangan terulang lagi?
Holocaust -pembasmian manusia oleh manusia lain. Saya mau mengajak Anda memikirkan
makna kata-kata itu.
Kata-kata itu memang ditulis dalam situasi normal, yaitu setelah tragedi kemanusiaan
yang luar biasa. Namun kata-kata itu bukan lah sebuah deskripsi atas normalitas
faktual, melainkan sebuah ekspektasi tentang masa de- pan. Maka marilah kita juga
berharap sambil berkata "Never again" juga terhadap maraknya fenomen pencurian
buku-buku ini.*
Penulis adalah alumnus STF Driyarkara Jakarta dan Mahasiswa FT Wedabhakti, Yogyakarta.
--------------------------------------------------------------------------------
Last modified: 4/5/04
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/