Rabu, 05 Mei 2004,
Hanya 7 Lolos Electoral Threshold
http://www.jawapos.com/index.php?act=detail&id=3085
Hasil Perhitungan Manual Diumumkan Hari Ini
JAKARTA - Setelah diwarnai tarik ulur, Komisi Pemilihan Umum (KPU)
berhasil menuntaskan penghitungan suara secara manual. Meski sempat
terganjal dalam penghitungan di empat daerah pemilihan (dapil),
kemarin KPU menuntaskan penetapan suara bagi masing-masing parpol.
Hasil penghitungan suara manual itu hari ini diumumkan ke publik dan
perwakilan masing-masing parpol. Agenda tersebut bakal digelar mulai
pukul 10.00 di gedung KPU pusat, Jalan Imam Bonjol, Jakarta.
Penetapan totol suara perolehan suara sah setiap parpol, penetapan
perolehan jumlah kursi DPR, dan para calon terpilihnya dilakukan pada
pukul 14.00.
Wakil Ketua KPU Ramlan Surbakti mengungkapkan, berbagai kegiatan itu
akan dihadiri perwakilan Panwaslu, lembaga pemantau, delegasi parpol
kontestan pemilu, dan kalangan media massa cetak dan elektronik, baik
nasional maupun internasional.
Dia menegaskan, dengan adanya penetapan hasil pemilu, pihaknya tidak
bersedia lagi mengakomodasi protes soal perolehan suara dari para
kontestan, baik parpol, caleg, maupun kandidat DPD (dewan perwakilan
daerah).
"Semuanya sudah disahkan dan ditandatangani dalam Rapat Pleno KPU
yang berlangsung secara maraton beberapa hari ini. Tidak ada lagi
kesempatan untuk membanding-bandingkan data atau koreksi. Kalau masih
belum puas, sengketakan saja ke Mahkamah Konstitusi. Biar
diselesaikan secara hukum," ujarnya di gedung KPU kemarin.
Sebelumnya, pengesahan hasil pemilu di empat dapil, yaitu Jatim X,
Sumut II, Papua, dan Kepri, berkali-kali ditunda karena diprotes dan
ditolak sejumlah saksi parpol. Meskipun parpol sudah mengajukan bukti
pembanding, KPU tetap ngotot menetapkan hasil pemilu sesuai dengan
data dalam sertifikat penghitungan suara yang dikumpulkan dari
berbagai KPUD kabupaten/kota.
Hasil olah data koran ini atas berkas rekapitulasi suara di 69 daerah
pemilihan (dapil) DPR menunjukkan, suara sah yang terkumpul mencapai
113,4 juta. Partai Golkar menduduki posisi puncak dengan meraih 24,4
juta suara. Membayangi di bawahnya adalah PDIP (20, 9 juta suara),
PPP (9,2 juta suara), Partai Demokrat (8,5 juta suara), PKB (11,9
juta suara), PAN (7,3 juta suara), dan PKS (8,3 juta suara). Ketujuh
parpol itu lolos electoral threshold (ambang batas) tiga persen
sesuai ketentuan pasal 9 UU Pemilu.
Mereka menyabet lebih dari 17 kursi di DPR di antara 550 kursi yang
tersedia. Parpol-parpol itu pun otomatis berhak menjadi kontestan
Pemilu 2009 tanpa perlu bergabung, berganti nama, atau menjalani
verifikasi lagi.
Dengan sistem daerah pemilihan (dapil) dan pendistribusian kursi
berdasarkan sistem BPP (bilangan pembagi pemilih) yang berlaku saat
ini, banyak parpol yang jumlah suara nasionalnya tinggi, namun
perolehan kursi DPR mereka lebih rendah dibanding parpol yang
mendapat suara lebih rendah. Seperti yang dialami PKB. Meskipun
meraup 11,9 juta suara, parpol besutan Gus Dur itu hanya bisa
mengoleksi 52 kursi DPR. Sedangkan Partai Demokrat yang hanya
mengumpulkan 8,4 juta suara, menyabet 57 kursi DPR.
PAN pimpinan Amien Rais juga menggaet 52 kursi meskipun hanya
mendapat 7,3 juta suara. PKS yang perolehan suaranya lebih besar
daripada PAN, yakni 8,3 juta, juga harus puas hanya meraih 45 kursi.
Kasus yang sama terjadi juga pada PBB (2,9 juta suara/11 kursi) dan
PDS ((2,4 juta suara/12 kursi), PKPB (2,3 juta suara/2 kursi) dan
Partai PDK (1,3 juta suara/5 kursi), serta PKPI (1,4 juta suara/1
kursi) dan Partai Pelopor (897 ribu suara/2 kursi). Yang tragis
adalah yang dialami Partai Patriot Pancasila pimpinan Yapto
Soerjosoemarno. Perolehan suara mereka mencapai 1,07 juta, namun
gagal mendapat kursi di DPR. Sedangkan PNI Marhaenisme yang hanya
mendapat 922 ribu suara justru mengoleksi satu kursi dari dapil Papua.
Angka BPP merupakan hasil pembagian antara jumlah suara sah yang
diraup seluruh parpol kontestan pemilu di suatu dapil dengan jumlah
kursi yang tersedia di sana. Semuanya bergantung pada padat tidaknya
jumlah pemilih.
Secara keseluruhan, ada tujuh parpol kontestan Pemilu 2004 yang gagal
menanamkan kukunya di Senayan. Selain Partai Patriot Pancasila, ada
juga PPNUI pimpinan Syukron Makmun, Partai Merdeka pimpinan Adi
Sasono, PSI pimpinan Rahardjo Tjakraningrat, PPD pimpinan Oesman
Sapta Odang, Partai PIB pimpinan Dr Sjahrir, dan PBSD pimpinan
Mokhtar Pakpahan. PBSD sekaligus menjadi juru kunci (posisi ke-24)
perolehan suara Pemilu 2004 dengan 635 ribu suara.
Setelah hasil pemilu ditetapkan, mulai 6 Mei besok hingga 12 Mei
2004, KPU akan membuka masa pendaftaran untuk pasangan
capres/cawapres. Pasangan capres/cawapres diajukan oleh
parpol/koalisi parpol yang meraih minimal tiga kursi di DPR atau lima
persen suara sah pemilu DPR secara nasional.
Apa arti politik perbedaan suara sah nasional dan perolehan kursi
tersebut? Peneliti LIPI Dr Indria Samego menjelaskan, kursi PKB yang
kalah jauh dari PPP dan Partai Demokrat (PD) merupakan konsekuensi
dari tidak meratanya jumlah penduduk dan wilayah kepulauan.
Dengan demikian, harga satu kursi di tiap daerah jadi beragam. Di
Jawa yang penduduknya padat, harga satu kursi anggota DPR rata-rata
di atas 200 ribu.
Sementara di luar Jawa, cukup separonya. "Jadinya, kursi PKB sangat
mahal," jelas Indria kepada koran ini tadi malam.
PKB berada pada peringkat ketiga perolehan suara nasional di bawah
Partai Golkar dan PDIP. Tapi, dalam perolehan kursi, PKB berada di
bawah PPP dan Partai Demokrat.
Bahkan, kursi PKB sama dengan PAN, yakni 52. Padahal, suara sah
nasional PAN terpaut sekitar 5 juta dari PKB.
"Ini bukan soal adil atau tidak adil. Tapi, memang begitulah sistem
pemilu yang kita anut sekarang," jelas pengamat Cides itu. PKB,
lanjutnya, hanya terkonsentrasi di Jawa, khususnya di Jatim dan
Jateng.
Sementara perolehan suara PPP, PD, dan PAN hampir merata di seluruh
Indonesia. PKB juga "dirugikan" karena harga kursinya rata-rata
mencapai BPP (bilangan pembagi pemilih).
Lain dengan PPP, PD, dan PAN. Ketiga partai itu sebagian besar meraih
kursi dari sisa suara. Artinya, cukup 60-80 persen dari BPP, suara
ketiga partai itu bisa jadi kursi karena bisa "menelan" suara parpol-
parpol lain. "Saya berpandangan, sistem kursi dibagi habis di daerah
pemilihan ini jauh lebih baik dibanding pemilu sebelumnya," kata
Indria. (arm/adb)
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/