http://www.republika.co.id/ASP/kolom_detail.asp?id=159379&kat_id=16

Republika
Selasa, 27 April 2004

Jenderal-jenderal Mengepung Istana
Oleh :
Amich Alhumami
Peneliti di Research Institute for Culture and Development, Jakarta

"An armed, disciplined body is, in essence, dangerous to liberty;
undisciplined, it is runious to society." Edmund Burke (1729-1797).
Dalam literatur politik Indonesia, ada aksioma lama yang tetap berlaku
sampai sekarang: the nature of the Indonesian army is to be involved in
politics! Terlibat dalam politik mungkin sudah menjadi sifat dasar militer
Indonesia. Militer dan politik sangat sulit dipisahkan, karena politik telah
mendarah-daging dalam kehidupan tentara. Militer pernah tampil sebagai
kekuatan politik tunggal yang sangat dominan dan hegemonik. Dominasi militer
di panggung politik nasional itu sangat kuat berakar, hampir tak ada satu
pun kekuatan tandingan yang mampu menjadi penyeimbang. Sedemikian kuatnya
daya cengkeram militer dalam politik, kita bahkan tak membayangkan bila pada
suatu masa dominasi itu dapat diakhiri. Kita semua menjadi saksi, pada tahun
1998 gerakan massa-rakyat yang dimotori oleh mahasiswa dan kaum terpelajar
kota secara fenomenal berhasil meruntuhkan kedigdayaan militer.
Masih segar dalam memori kolektif kita, bersamaan dengan kejatuhan rezim
Orde Baru, militer menjadi sasaran kemarahan massa-rakyat. Selama dua tahun
lebih, militer dicerca dan dihujat habis-habisan sebagai sumber malapetaka
dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Publik menuntut agar tentara tidak
lagi berpolitik, karena militer telah membelenggu kebebasan dan mematikan
demokrasi. Akibat tekanan yang sangat dahsyat, akhirnya militer melakukan
reposisi dan reformasi internal. Hasilnya, hanya ada satu pilihan bagi
militer yakni menjadi tentara profesional. Maka, pada Pemilu 1999 militer
resmi mundur dari dunia politik dan berkonsentrasi ke peran konvesional
sebagai kekuatan pertahanan keamanan semata.
Lima tahun berselang, ketika Pemilu 2004 dengan sistem multipartai digelar,
banyak sekali bekas tentara berbondong-bondong masuk partai politik atau
mendirikan partai sendiri, untuk berkompetisi baik dalam pemilu legislatif
maupun pemilu presiden. Tak terhitung berapa jumlah pensiunan jenderal yang
tersebar di banyak partai terpilih menjadi anggota parlemen. Yang membuat
kita tersentak tentu saja tampilnya dua orang mantan petinggi militer
menjadi calon presiden: Wiranto dan Susilo B Yudhoyono. Bayangkan, dari
empat kandidat yang resmi menjadi capres, dua orang bekas tentara. Di
belakang Wiranto dan SBY berdiri sederetan jenderal, yang siap menjadi tiang
penopang bagi keduanya. Saksikan, barisan jenderal telah mengepung istana
guna memperebutkan jabatan prestisius sebagai presiden.
Bagi para penganut paham supremasi sipil atas militer, perkembangan politik
mutakhir ini jelas sangat merisaukan. Ada kekhawatiran bila mantan militer
memegang kendali kekuasaan politik tertinggi, sekalipun diperoleh melalui
proses yang demokratis, maka otoritarianisme ala Orde Baru akan terulang
kembali. Sungguh, tidak ada yang meragukan sikap demokratis Wiranto dan SBY,
bahkan SBY dikenal mempunyai pengetahuan dan wawasan yang luas mengenai
prinsip-prinsip demokrasi modern. Namun, publik belum meyakini sepenuhnya
bila keikutsertaan kedua jenderal tersebut dalam kompetisi presidensial
tidak membawa aspirasi institusi militer. Kekhawatiran akan kebangkitan
rezim represif-otoriter di bawah pensiunan jenderal itu sangat beralasan,
sebab sejarah militer Indonesia adalah sejarah kekerasan dan penindasan.
Riwayat politik tentara adalah riwayat politik opresif-tiranik yang
mengekang keterbukaan, memasung kebebasan, dan mengingkari ide-ide
demokrasi. Perilaku demikian sulit dihindari, sebab karakter dasar tentara
itu memang cenderung menindas dan antikebebasan. Maka, tak berlebihan bila
Edmund Burke, seperti dikutip di atas, mengatakan: "An armed, disciplined
body is, in essence, dangerous to liberty; undisciplined, it is runious to
society."
Tetapi harus diakui, kebangkitan politik militer yang diwakili oleh dua
pensiunan jenderal itu sejatinya menunjukkan kegagalan politisi sipil. Kita
semua menyesalkan, selama lima tahun terakhir politisi sipil telah mendapat
kesempatan emas mengelola negara. Namun, di bawah kepemimpinan sipil tidak
ada perubahan signifikan yang mengarah ke perbaikan dalam kehidupan
sosial-politik-ekonomi. Transisi menuju konsolidasi demokrasi juga bergerak
sangat lamban, untuk tak menyebut berjalan di tempat. Kekuatan-kekuatan
politisi sipil mengalami fragmentasi yang demikian akut, sehingga upaya
memantapkan kepemimpinan sipil tak membuahkan hasil yang memuaskan.
Kekecewaan terhadap kinerja politisi sipil terus berakumulasi, sehingga
beberapa pihak menginginkan kembalinya figur pemimpin yang kuat. Sosok
pemimpin kuat itu dengan mudah diasosiasikan ke figur militer, yang dianggap
mampu menjamin stabilitas dan keamanan. Keduanya merupakan prasyarat utama
bagi upaya pemulihan ekonomi, yang ditandai oleh geliat aktivitas bisnis dan
investasi. Namun, keliru besar bila kerinduan masyarakat pada pemimpin kuat
itu ditafsirkan sebagai kerinduan tampilnya militer menjadi pemimpin
nasional. Pemimpin kuat tak berarti harus berlatar-belakang militer. Yang
kita perlukan sekarang memang sosok pemimpin tangguh yang desisif, namun
kita bisa mencarinya di kalangan sipil. Bila serius berikhtiar, kita pasti
bisa menemukan sosok pemimpin sipil setangguh Mahathir Mohammad, Lee Kuan
Yew, atau Zhu Rong-ji di antara 216 juta penduduk Indonesia.
Sungguh, tampilnya bekas militer di puncak kepemimpinan nasional merupakan
langkah mundur, yang potensial mengganggu proses demokratisasi yang sedang
berlangsung. Wiranto dan SBY mungkin saja punya komitmen kuat untuk
membangun demokrasi dan memiliki pemikiran-pemikiran yang mencerahkan
tentang kebebasan politik. Namun militer, yang menjadi latar belakang
keduanya, sebagai kekuatan kolektif belum tentu punya komitmen dan gagasan
yang serupa. Sebab, ini menyangkut state of mind di kalangan militer secara
umum, yang cenderung berpikiran hirarkis-linier sehingga kurang menghargai
pluralitas, kurang toleran terhadap perbedaan, dan sulit menerima
keterbukaan. Padahal ketiganya merupakan prasyarat dasar bagi kebebasan
politik dan demokrasi.
Seperti militer di negara berkembang, militer Indonesia memiliki sejarah
khas yang berbeda sama sekali dengan militer di negara maju. Dapat dimaklumi
bila kita sulit menemukan figur seperti George Washington atau Dwight
Eisenhower, yang sekalipun pensiunan jenderal, namun mempunyai pandangan dan
wawasan demokrasi modern yang canggih. Ketika George Washington menjadi
presiden pertama Amerika, ia berhasil meletakkan dasar-dasar demokrasi
secara mantap, yang menjadi rujukan bagi presiden-presiden penerusnya.
Sementara Dwight Eisenhower dianggap sebagai presiden yang berhasil
mengembangkan ide-ide demokrasi modern, yang memberi inspirasi dalam
kehidupan politik bagi bangsa Amerika sejak pertengahan abad ke-20.
Jika gerakan reformasi yang bermula dari kampus, yang menelan banyak korban
jiwa baik di kalangan mahasiswa maupun massa-rakyat, pada ujungnya hanya
melahirkan pemimpin nasional dari kalangan militer, maka jelas ini merupakan
kenyataan politik yang sangat absurd. Di sini kita menemukan sebuah ironi
yang tak terperikan, sebab mahasiswa yang tewas dan menjadi martir bagi
gerakan reformasi itu justru tertembus oleh timah panas, yang dimuntahkan
dari senapan-senapan canggih para tentara. Pertanyaan moral yang layak
diajukan adalah: moral politik apa gerangan yang mendasari para pensiunan
jenderal itu dalam berkompetisi meraih jabatan presiden, sementara mereka
adalah pemegang komando atas pasukan yang menembak mati para mahasiswa
ketika terjadi huru-hara politik tahun 1998? "Berkompetisi atas nama
demokrasi dan kebebasan politik!", argumen sang jenderal dengan penuh
percaya diri. Tiba-tiba saja para jenderal itu sangat fasih berkhotbah
tentang demokrasi dan kebebasan politik, namun mereka tetap saja tak mampu
menjawab pertanyaan sederhana: tanggung jawab siapakah serangkaian peristiwa
mengerikan yang menandai akhir riwayat rezim Orde Baru itu? Akan lebih baik
bila para aktivis mahasiswa memberi respons atas gejala politik yang absurd
ini. Respons para aktivis mahasiswa ini penting sebagai bentuk kesaksian
mengenai cita-cita gerakan reformasi yang mereka perjuangkan lima tahun
lalu.







 . Mantan Panglima Laskar Jihad Siap Bela NKRI ke Ambon


 . Tentara Spanyo Tinggalkan Najaf


 . Diknas Keluarkan Kebijakan Ujian Ulangan Peserta UAN


 . Pemerintah Harus Bertindak Tegas Terhadap RMS


 . RUU Agraria Ditolak Tak Berpihak pada Rakyat


 . DPR Kirim Tim ke Ambon


 . Komisi I DPR Kecam Keras Kebijakan Israel


 . Lelang SIMBUK tidak Transparan


 . Tokoh Agama Desak Pemerintah Tindak Provokator Ambon


 . Cina Minta AS dan Inggeris Tidak Campuri Urusan Hongkong



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
Buy Ink Cartridges or Refill Kits for your HP, Epson, Canon or Lexmark
Printer at MyInks.com.  Free s/h on orders $50 or more to the US & Canada.
http://www.c1tracking.com/l.asp?cid=5511
http://us.click.yahoo.com/mOAaAA/3exGAA/qnsNAA/BRUplB/TM
---------------------------------------------------------------------~->

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke