SURAT DARI PARIS:
"HARI DEPAN IRAN BERADA DI TANGAN PEMUDA , PEREMPUAN DAN CENDEKIAWAN YANG BERPIHAK".
"Hari depan Iran berada di tangan pemuda dan perempuan", juga "di tangan para
cendekiawan yang berpihak pada rakyat", adalah pernyataan yang diberikan oleh Marjane
Satrapi, seorang penulis cerita bergambar [cergam] Iran yang sekarang tinggal di Paris
kepada saya ketika baru-baru ini menjumpainya.Kesimpulan ini bertolak dari kenyataan
bahwa dewasa 63 persen mahasiswa Iran sekarang perempuan dan perempuan merupakan 15
persen dari penduduk aktif dewasa ini. Berdasarkan kenyataan demikian pula maka pada
masa mendatang, kedudukan perempuan yang mayoritas penduduknya beragama Islam akan
mengalami perobahan, perobahan yang dilahirkan oleh keadaan obyektif masyarakat.Apakah
dengan ini Satrapi mau mengatakan bahwa Islam dan agama apapun akan berkembang sesuai
dengan tingkat pendidikan dan keluasan cakrawala para penganutnya? Keterbatasan waktu
membuat saya membatasinpertanyaan-pertanyaan dan membiarkan pertanyaan-pertanyaan
sejenis mengambang dalam khayalan.
Menurut Undang-undang Dasar Iran dewasa ini, kedudukan perempuan masih rendah sejajar
dengan corak masyarakat Iran yang sangat paternatilistik dan ditopang oleh UUDnya.
Menurut UUD yang sekarang berlaku, perempuan Iran masih dalam kedudukan rendah alias
kelas dua di segala bidang seperti dalam perkawinan, memelihara anak, warisan bahkan
dalam soal sederhana saja, untuk menjadi saksi di pengadilan. Dilihat dari segi status
perempuan dalam masyarakat, maka bisa dikatakan bahwa Iran, masih merupakan negeri
terbelakang. Karena bagi saya, ujar Satrapi, kedudukan perempuan dalam masyarakat
merupakan salah satu ukuran dalam menetapkan maju tidaknya sebuah negeri, modern dan
terbelakangnya suatu bangsa", ujar sastrawan-pelukis cergam, Marjane Satrapi. "Tanpa
ragu saya mengatakan hari ini, Iran termasuk bangsa dan negeri terbelakang", tambah
Satrapi yang saya temui dengan kepala terbuka rambut terurai tanpa mengenakan jilbab
apapun. "Negeri manapun yang tidak memberikan hak setara dengan lelaki tidak bisa
dikatakan maju" ulang Satrapi seakan khawatir saya tidak menangkap alur pikirannya.
Ketika ditanya apa arti penting Hadiah Nobel Perdamaian kepada Shirin Ebadi [56
tahun], seorang pengacara perempuan yang menggeluti masalah HAM dan hal anak-anak,
bagi Iran dan hak-hak perempuan di negerinya, Satrapi mengatakan: "Apa yang
didapatkan oleh Shirin Abadi sebenarnya bukanlah sesuatu yang jatuh dari langit.
Shirin telah berjuang selama dua puluh tahun lebih untuk HAM, hak anak-anak dan
hak-hak perempuan di Iran. Untuk hal-hak tersebut Shirin sama sekali tidak m�enggubris
segala risiko bahkan oleh karenanya, ia pernah meringkuk di dalam penjara dan diancam
untuk dibunuh. Nobel bagi Shirin adalah buah pekerjaan berpuluh tahun dari semua orang
yang memperjuangkan demokrasi. Hadiah Nobel Perdamaian bagi Shirin menunjukkan kepada
para pejuang demokrasi dan kemanusiaan Iran, bahwa pekerjaan mereka tidaklah sia-sia".
Hadiah Nobel Perdamaian bagi Shirin Ebadi dipandang penting oleh Satrapi, yang pada
September lalu telah menerbitkan jilid keempat serie karyanya "Pers�polis" pada
Editions l'Association, Paris, "karena hampir sejarah kebudayaan Iran yang berusia
lebih dari 4000 tahun tidak bisa diikhtisarkan oleh 23 tahun kediktaturan. Sejarah
Iran jangan hanya dilihat dari Revolusi Islam 1979 yang berhasil menggulingkan rezim
represif di mana saban yang disebut pemilihan hanya menyodorkan dua calon. Yang satu
calon yang paling reformatif dan yang lain paling konservatif. Tapi kedua-duanya
mengenakan turban. Melalui calon-calon tersebut citra Iran tetap sebagai negeri
fundamentalis, fanatik dan teroris. Dengan adanya Hadiah Nobel kepada Shirin Ebadi,
telah diperlihat kepada dunia bahwa di Iran ada Iran yang lain. Iran yang berjuang
untuk perdamaian, demokrasi dan HAM [Hak-hak Asasi Manusia", jelas Marjane Satrapi.
Bagaimana rakyat Iran menyambut pemberian Hadiah Nobel Perdamaian ini kepada Shirin
Ebadi?
Terhadap pernyataan ini, Satrapi menunjukkan kenyataan bahwa ketika Shirin kembali
dari Oslo, di bandara telah menunggu 10.000 sampai 12000 orang untuk menyambutnya.
"Saya hanya bisa memahami jumlah orang yang menyambut Shirin ini sebagai pertanda
kegembiraan rakyat Iran. Seperti diketahui umum bahwa sekarang rakyat Iran jauh lebih
sadar politik dibandingkan dengan masa kapanpun. Mereka berbicara secara terbuka dan
terus-terang. Sementara itu pihak kekuasaan politik mencoba meredam keberanian dan
kesadaran ini, tetapi tekanan demik tekanan tidak mencegah 80 persen rakyat Iran
untuk memilih kandidat reformatris. Pihak konservatif menohok kenyataan ini sebagai
buah rekayasa kaum imperialis. Hal yang sama sekali tidak mengherankan", jawab
Sapatri.
Apakah hal yang nyata bisa disumbangkan selanjutnya oleh Shirin Ebadi kepada rakyat
Iran dengan perolehan Hadiah Nobel Perdamaian ini?
Sapatri yang nampak dekat dengan Shirin dan ide-ide Shirin Ebadi menjelaskan bahwa
Shirin sendiri kurang bisa memastikannya kecuali bahwa Hadiah Nobel tersebut telah
memberikan kredibilitas pada gerakan demokratis di Iran. Shirin Ebadi adalah seorang
tokoh cendekiawan terkemuka Iran kekinian. Adanya barisan cendekiawan model Shirin
sangat penting. Negeri yang mempunyai barisan cendekiawan seperti Shirin Ebadi ,
negeri yang mempunyai jajaran cendekiawan yang punya keberpihakan dengan kadar tinggi
merupakan suatu harapan bagi negeri dan bangsa terkait", tandas Sapatri.
Sehubungan dengan arti penting barisan cendekiawan yang mempunyai rasa keberpihakan
pada rakyat dan berkadar tinggi ini, menjadi tidak mustahil jika kaum militeris
Jepang pertama-tama memasakre kaum cendekiawan Kalimantan Barat, dan dari segi serupa
pula Tragedi Nasional September 1965 telah menimbulkan kehilangan besar dengan
membasmi secara fisik dan membatasi kebebasan para cendekiawan bangsa dan negeri.
Kerugian ini pulalah yang diderita oleh Republik Rakyat Tiongkok pada Revolusi Besar
Kebudayaan Proletar dengan mengkategorikan kaum cendekiawan sebagai salah satu unsur
dari "sembilan elemen busuk masyarakat".
Bagaimana Anda melihat hubungan antara Islam dan HAM?
"Saya pribadi sepakat dengan Shirin Ebadi bahwasanya Islam semestinya tidak
bertentangan dengan HAM. Malah sepatutnya Islam dilakukan untuk mewujudkan HAM.
Dengan penafsiran-penafsiran lain, Islam bisa tidak berkontradiksi dengan demokrasi.
Bahkan memang telah tidak sedikit karya-karya yang ditulis oleh para ayatollah
reformator yang sejajar dengan arah ini. Hanya patut dicatat benar, bahwa untuk
melaksanan HAM di sebuah negeri pertama-tama rakyatnya benar-benar mau mewujudkannya.
Demokrasi tidak lain dari suatu evolusi sosial dan kebudayaan yang muncul dari dalam.
Demokrasi bukanlah kertas dinding yang ditempelkan dan diberi tulisan "demokrasi".
Untuk terwujudnya demokraasi dari dalam diperlukan waktu. Dalam hal ini jika
demokrasi belum terujud maka yang pertama-tama dan paling utama memikul bebannya tidak
lain dari kaum perempuan juga adanya.Tapi betapapun dilihat dari kondisi sekarang,
apalagi dilihat dari segi demografi mahasiswa Iran sekarang, saya cukup optimis akan
haridepan Iran". Jika membayangkan bahwa 65 persen mahasiswa Iran sekarang adalah
perempuan, agaknya optimise Marjane Sapatri mempunyai ndasar riel. "Haridepan Iran ada
di tangan kaum muda sekarang dan kaum perempuan", tandas Sapatri menakhiri
pembicaraannya.
Kalau Sapatri sekarang untuk sementara tinggal di Paris, hal ini tidaklah aneh karena
sejak lama Perancis menjadi tempat berhimpun dan tujuan para pembangkang Iran mulai
dari Ayatollah Khomeiny, melalui mantan Presiden Bani Sadr, sampai kepada komandan
Modjahidin Rajawi, yang istrinya masih memimpin gerakan secara terselubung dari Paris.
Paris merupakan salah satu pusat kegiatan orang Iran dan mahasiswa-mahasiswa yang
sedang menyelesaikan pelajaranya di berbagai disiplin ilmu.
Paris, Mei 2004.
----------------
JJ.Kusni
Catatan:
Foto terlampir adalah wajah Marjane Satrapi, sastrawan-pelukis cergam Iran yang
sekarang tinggal di Paris.
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/