http://www.indomedia.com/bpost/052004/21/opini/opini1.htm Jumat, 21 Mei 2004 03:28
Pagi Kafir Sore Beriman Oleh Ahmad Barjie B * Umum diketahui, bahwa Sejarah Mesir Kuno ditandai adanya sejumlah penguasa yang digelari Fir'aun atau Pharao. Banyak sekali fir'aun yang pernah duduk di singgasana Mesir saat itu. Di antaranya bernama Aahmes, Amenhotep, Tehutimes I, II dan IV, Ratu Hathespshut, Tehutimes III, Amenhotep II, III dan IV, Saanekht, Tut Ankh Amen, Ai Amen dan Horemheb. Mereka memerintah pada dinasti ke-18, antara 1635 - 1365 Sebelum Masehi (SM). Kemudian Ramses I, Seti I, Ramses II, Maneptah dan Seti II, memerintah pada dinasti ke-19, antara 1365 - 1235 SM. Di masa Fir'aun Ramses II itulah, diperkirakan diutusnya Nabi Musa AS dan saudaranya Harun AS. Kekuasaannya sangat besar, kerajaannya luas dan diperkirakan di masa itu puncak kejayaan Mesir Kuno. Namun karena terlanjur berkuasa, fir'aun yang satu ini kebablasan, mengakui dirinya sebagai Tuhan yang harus disembah oleh Bangsa Mesir dan Bani Israil kaumnya Musa. Walau Musa dan Harun sudah berusaha mendakwahi fir'aun dengan lemah lembut, namun hasilnya nol besar. Fir'aun tetap pada pendiriannya, bahwa tidak ada tuhan lain selain dirinya. Bahkan ia menantang Musa, sekiranya punya mukjizat akan dipertaruhkan di depan tukang sihir kerajaan yang sengaja direkrut dan dibayar untuk mengalahkan Musa. Sampai hari 'H' yang ditentukan, tukang sihir fir'aun langsung melemparkan tali temali mereka yang kemudian menjelma menjadi ular-ular kecil. Allah memerintahkan kepada Musa untuk melemparkan tongkatnya yang langsung menjadi ular besar dan memangsa ular-ular kecil produk penyihir kerajaan. Penyihir itu langsung bersujud sembari menyatakan beriman kepada Allah. Fir' aun sangat marah. Semua penyihir itu dibunuh dengan disalib dan dicincang. Musa, Harun dan kaumnya diburu dan dikejar hingga melewati Laut Merah. Akhirnya fir'aun tewas ditelan laut, walaupun saat maut menjelang, ia mengakui adanya Allah. Sementara Musa dan kaumnya diselamatkan. Dari peristiwa ini kemudian dikenal, bahwa ahli sihir itu pagi masih kafir. Namun dengan hidayah Allah, sorenya mereka beriman dan dengan kesabaran mereka rela mati syahid dibunuh tentara fir'aun. Mereka dipuji dalam sejumlah ayat Alquran. Tidak Berburuk Sangka Kisah di atas ingin menekankan, kita tidak boleh berburuk sangka terhadap orang yang tenggelam dalam kemaksiatan. Misalnya, menuduh pelaku maksiat sebagai calon penghuni neraka. Bisa saja suatu saat atau di akhir hayatnya mereka beroleh petunjuk, lalu bertobat dari kesalahannya. Dikisahkan, ada seorang penjahat besar yang sudah membunuh 99 orang, bertanya kepada seorang rahib; apakah ia masih bisa bertaubat. Si rahib menjawab; tidak bisa, karena dosanya terlalu besar. Karena kesal, akhirnya si rahib pun dibunuhnya sehingga korbannya genap 100 orang. Ia kembali mencari orang untuk bertanya dan mengadukan nasibnya. Ia bertemu orang alim dan setelah dikisahkan hal sama, orang alim memberitahu, taubatnya mungkin masih diterima, sambil menyuruh orang itu menuju satu tempat yang ada pondok tempat orang-orang belajar agama. Tetapi tidak sampai ke tempat tujuan, orang itu meninggal karena kelelahan. Malaikat pun bersengketa. Ada yang mau membawanya ke surga dan satunya ingin menyeret ke neraka. Akhirnya diputuskan untuk mengukur perjalanan orang tersebut. Ternyata jaraknya lebih dekat dengan pondok dari tempat awal semula, maka diputuskan orang itu berada dalam ampunan Allah dan berhak mendapatkan surga karena dosanya telah terampuni. Kita tidak boleh terlalu optimis, dengan kealiman dan ibadah yang dilakukan pasti masuk surga. Suatu ketika ada seorang pemuda yang penasaran mencari Tuhan. Di tengah jalan ia bertemu seorang ibu yang rajin beribadah. Ibu itu minta tolong, agar nanti kalau ketemu Tuhan ditanyakan surga apa dan kamar nomor berapa ia ditempatkan. Di tempat lain pemuda itu bertemu seorang pelacur yang juga menitip pesan, agar nanti kalau bertemu Tuhan menanyakan di neraka apa ia akan ditempatkan. Lama berjalan, akhirnya si pemuda ketemu malaikat yang menyamar sebagai manusia. Si pemuda pun menyampaikan pertanyaan titipan dua perempuan tersebut. Malaikat menerangkan, si ibu itu akan ditempatkan di neraka. Sebab meski rajin beribadah, nilainya bangkrut karena ia rajin menggunjing orang, kikir dan pernah mengurung kucing sampai mati tanpa diberi makan. Sedangkan si pelacur itu akan menghuni surga, karena dosanya diampuni sebab pernah menolong anjing yang hampir mati kehausan. Di masa sahabat terkenal kisah Tsa'labah al-Anshari. Saking miskinnya, setiap usai shalat berjamaah ia tidak sempat berzikir, karena kain yang dipakainya harus berganti dengan istrinya di rumah. Akhirnya ia mohon kepada Nabi diberi kekayaan, supaya lebih rajin, khusyu serta tidak khawatir beribadah dan berderma. Nabi mulanya enggan, tapi Tsa'labah memaksa. Setelah doanya dikabulkan, ternyata Tsa'labah lupa kepada Allah. Ia tidak sempat lagi shalat berjamaah, bahkan shalat sendirian juga tidak ada waktu karena sibuk mengurus harta. Zakat pun enggan ia bayar, saking takut hartanya berkurang. Akhirnya kekayaannya binasa dan tinggallah ia hidup dalam penyesalan karena terisolasi dari pergaulan komunitas muslim. Nasib serupa juga dialami Rahib Barshisa di zaman Israil Kuno. Walau puluhan tahun beribadah, akhirnya ia tergoda kecantikan perempuan yang diobatinya, lalu disetubuhi, hamil, terus dibunuh agar jejaknya tidak ketahuan. Semua itu atas permainan setan. Akhirnya ia dihukum mati dan di akhir hayatnya ia mati dalam kekafiran, na'uzu billahi min zalik. Boleh dikata, Tsa'labah dan Barshisa kebalikan dari yang di atas. Mereka pagi beriman dan sorenya kafir atau tersesat jalan. Selalu Berdoa Inti kisah di atas ialah, kita tidak boleh over estimate atau sebaliknya under estimate. Bagi yang alim dan rajin beribadah, tidak boleh merasa pasti masuk surga, sehingga merasa aman dari godaan. Bagi yang bergelimang dosa, tidak boleh merasa terlanjur basah di kubangan, kemudian berputus asa dan tak ingin memperbaiki diri. Sepanjang hayat masih di badan, pintu taubat tetap terbuka asal diusahakan dan ada kemauan. Tapi ini tidak berarti, kita boleh lalai dan menunda taubat saat tua saja, sebab batas usia bukan di tangan kita. Kita harus selalu merasa harap-harap cemas, semoga amal ibadah kita diterima dan di akhir hidup mendapatkan husnul khatimah, dijauhkan dari yang sebaliknya. Kita dianjurkan banyak berdoa: allahumma inna nas-aluka husnal khatimah, wa na'uzu bika min su-il khatimah. Pengamat sosial dan kemasyarakatan Copyright � 2003 Banjarmasin Post ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~--> Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar. Now with Pop-Up Blocker. Get it for free! http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM ---------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

