Jangan Main-Main [dengan] Kekuasaan

*Aguk Irawan Mn



Catatan buat: KH. Hasyim Muzadi



Bapak Hasyim yang baik dan tegar. Dulu sempat kami terkesima menyaksikan
ketegaran Bapak. Tegar seperti karang yang berada di dasar lautan. Tak
perduli akan ombak, dan gelombang yang pasang surut. Bahkan Bapak nampak
begitu tenang setenang air laut, meskti setiap saat harus menggulung-gulung
ombak di tubuh sendiri. Namun sepertinya kini loncatan air laut yang
mengalir deras di tubuh Bapak, kami lihat airnya mulai keruh dan hitam
bercampur dengan kekuasaan. Hitam Bapak. Ah, betapa kagetnya kami, melihat
kenyataan ini. Kenapa Bapak tak lagi bisa merawat permukaan air laut yang
deras itu.



Dulu saat Bapak masih tenang. Air itu masih cemerlang, kemilau, dan jernih
sebening embun, dan kebeningan itulah yang mengingatkan kami pada ketegaran
Bapak. Tentunya, hal ini terlepas dari kekeruhan sampah-sampah pedagang
asongan yang mengambang di permukaan. Tentu, saat itu Bapak juga berperan
sebagai penyuling kotoran kekuasaan yang tertera di tubuh kita, rumah kita
dan dalam kehidupan kita yang nampak tak terperih ini, hidup di tengah
kehidupan yang benar-benar runyam ini.



Meski begitu kami juga tak mampu menyalahkan Bapak begitu saja, bahkan
sekedar protespun berat. Meski air sudah sedemikian keruh. Berloncatan di
permukaan rumah kita, bahkan dalam tubuh kita yang senyap. Mungkin yang bisa
kami lakukan saat ini hanya sekedar menerima, menerima saja, menerima
kekeruhan yang Bapak mainkan, Bapak campur-adukan air lautan itu dengan peta
kekuasaan. Ah bapak, lagi-lagi kami hanya bisa mengeluh saja, mengeluh
karena kami kira Bapak telah terjebak dalam lingkaran yang penuh pseudo.
Terjebak pada jaringan bibir manis wanita yang telah lelah menggoda. Merayu
Bapak seperti topan yang menggoda lautan untuk dijadikan hujan di tubuhnya.
Aku benar-benar tak mengerti.



Kami kira, kita tak bisa terus berpura-pura rela begitu saja atas keruhnya
air dalam tubuh kita, tetapi dalam hati kita munafik, ngedumel dan
marah-marah. Toh semuanya memang sudah terlanjur keruh begitu saja. Seperti
dalam sejarah Eropa, Gereja Katolik telah melaknat kekuasaan, namun akhirnya
kembali mecintai kekuasaan. Ia tak kuat menahan godaan kekuasaan. Rindu pada
beningannya air, dan kesejukan nafas laut tak terwujud, antipati dengan
badai politikpun tak sanggup dilakukan. Dalam kenyataan, Paus selalu saja
basah kuyup dengan politik. Dan disana kita temukan seribu janji hanya
bualan, hanya gombalan yang berperan sebagai gincu dan bahan basah pelumat
bibir saja. Bukankah ini mirip dengan khittah kita tahun 1926 yang kini
terseret dalam godaan kekuasaan. O Bapak engkau benar-benar talah menyeret
khittah itu ke dalam air laut yang paling keruh.



Namun, kisah di tengah abad XVII dalam perang agama Kristen dalam kemelut
gereja yang berhadapan dengan kaum nasionalisme modern, itu telah
membangkitkan filsafat modern yang rasional yang disebut aufklaerung itu.
Nah, dalam tubuh kita, dalam khittah kita yang ada hanya  kekeruhan Bapak,
kebingungan. Ah, betapa kecewanya hati kami. Dalam kekecewaan kami berharap:
siapa lagi yang mampu membeningkan air laut yang begitu luas dengan jarak
antara jama'ah dan jam'iyah yang hampir tak bertepi, Bapak?



Mungkin, dan memang hanya mungkin, Bapak sedang terlena, sedang mabuk
terbuai saat perempuan cantik itu menggodamu, merayamu sebagai figur yang
berani menelanjangi tubuhnya sendiri. Terlebih-lebih dalam tubuh Bapak
adalah air laut, yang luas. Itulah kenyataan, yang membangkitkan gairah
perempuan cantik itu mecintaimu. Mungkin diri Bapak ditakdirkan sebagai
ujung tombak cintanya, yang mampu mengoyak seluruh rumah kita,
menggoncangkan tubuh kita yang paling sunyi, dan tenang. Bisik-bisik apa
yang telah menterlenakan engkau Bapak. Dalam kemelut cinta yang membara itu
engkau terima juga cintanya, engkau terima bahkan dengan belahan hati yang
hangat, tangan yang mesra.



Saat itu mungkin, lagi-lagi mungin, Bapak terlena atau tidak sedang terjaga
dan berpikir bahwa dalam tubuh Bapak berjumlah titik air limah puluh juta
jiwa yang menetes di belahan nusantara. Ah ya, bapak lupa dengan tubuhnya
sendiri, lupa dengan ombak, lupa dengan kebeningan air yang lama telah
mengalir dengan jernih. Dan kami ini adalah bagian tetesan air yang
tersimpan di tubuh Bapak itu. Terang saja kami merasakan sakit, dan luka,
bahkan tak sekedar sakit dan luka, tapi merasa cemas dengan rasa yang paling
kecewa.



Dari rasa yang tak sepenuh kami mengerti, kami mencoba menghayati air keruh
dalam tubuh kita, dengan tiba-tiba membayang membentuk semacam cahaya yang
menyebut-nyebut nama Bapak, dalam kebisingan media di mana antara mengharap
dan keluh. Ah, Bapak benarkah akan engkau simpan air keruh itu dalam lipatan
cahaya yang terang. Tapi ini kata Bapak, kata Bapak yang menurut kami hanya
sebagai alasan setelah berani mempermainkan tetes air lima puluh juta jiwa
itu. Maka ketika kami membaca satu persatu alasan itu, kami membayangkan
Bapak sedang membuka tirai dibalik lebatnya air yang curam. Satu persatu
pula Bapak mencoba menyibak embun yang masih bersih dan telanjang. Tapi
Bapak, sungguh kami sulit percaya. Sebab bagi kami dalam kekeruhan tak ada
kebersihan. Ibarat kebiningan embun akan melawan keruhnya awan, pikiran
siapa yang menerima itu.

Kembali pada kekuasaan. Barangkali perlu kita menyimak kisah Jawa purba;
kisah Brahmana yang mirip seperti peran Bapak. Brahmana adalah pemuka agama
yang memahami batin dan kemelut rakyat dan bangsanya. Tapi Brahmana, sampai
akhir hidup adalah satria yang rajin berperang melawan penindasan dan tetap
berpengaruh dalam siasat bernegara. Keberhasilan Brahamana dalam
membeningkan air, tidak melalui jalur kekuasaan yang penuh dengan roti, tapi
ia berjuang dengan tulus atas nama pengabdian ummat. Ia berhasil membangun
Dinasti Sriwijaya, Syailendra, mengalir sampai Majapahit, Demak, Pajang,
Mataram sampai Palihan Nagari, yang membelah Mataram. Brahmana memang
menjadi pengembara, yang tak pernah memuja arah angin kekuasaan. Ia berkasih
dengan ummat tanpa mengenal lesu dan demam.

Bapak, tapi dalam catatan sejarah juga ada yang seperti Yudas. Yudas yang
culas juga membela negera dari kesewenangan. Yudas juga pemimpin yang bisa
mempengaruhi rakyat untuk melawan penindasan, tapi perjuangan Yudas demi
sebuah kekayaan dan kekuasaan. Yudas memang pandai mengenakan topeng cinta
dan berbuat sok suci di hadapan rakyatnya. Orang-orang seperti Yudas ini
dalam atmosphere politik kini begitu melimpah. Ia berani menjual tanah-rumah
untuk menjadi anggota parlemen. Ya, dengan begitu air yang tertumpah dalam
tubuh Bapak memang sesuatu yang lumrah, lumrah sekali.
Bapak yang baik, namamu jadi mengingatkan kami pada satu suku yang begitu
mulia dan disegani pada masa Nabi. Namun ada satu keganjilan dikemudian
hari, saat terjadi tragedi Karbala, tepatnya pada malam pertengahan asyura.
Hazrat Zainab mengisahkan; bahwa Bani Hasyim telah meminta pertolongan suku
lain demi mementingkan kehidupan mereka sendiri ketimbang keselamatan
jumhur"

Ah, Bapak, semoga saja engkau anggap kata-kata ini hanyalah mainan. Iya,
hanya mainan belaka, seperti orang memepermainkan asap rokoknya yang
mengepul di udara membentuk lingakaran kosong. Dan itu bagi kami tak
mengapa, sebab kami hanya bermain dengan kata-kata, bagi kami asal jangan
bermain [dengan] kekuasan, itu masih biasa-biasas saja. Berbeda jika memang
kekuasan perlu kita permainkan?



Kairo, 18 Mei 2004.



*Penulis adalah Budayawan lokal, yang malas membaca buku.







------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
---------------------------------------------------------------------~->

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke