NU Jatim dan Pengkhianatan Khittah 1926

Oleh Aguk Irawan Mn





Pada tanggal 19 Mei 2004 tempo hari, sebanyak 39 dari 42 pengurus cabang NU
se-Jatim dalam rapat koordinasi di Surabaya, telah mendukung pasangan
capres-cawapres Megawati-Hasyim Muzadi. Dukungan kepada Hasyim Muzadi itu
terbaca dari lima cabang NU se-Jatim yang diberi kesempatan menyampaikan
pandangan atas penjelasan KH Hasyim Muzadi tentang keputusannya menjadi
cawapres dan keputusannya memilih Megawati. Kelima cabang NU adalah
Probolinggo, Madiun, Tulungagung, Sampang, dan Kabupaten Mojokerto.



Agenda dalam pertemuan itu di antaranya adalah warga NU diharapkan
menyalurkan aspirasi dalam pilpres terhadap mereka yang memiliki komitmen
kerakyatan, dan tokoh NU yang dipilih adalah kader terbaik NU yang memiliki
komitmen ke-NU-an. Kader yang dimaksud itu adalah KH Hasyim Muzadi, sebab
menurutnya Hasyim dinilai lebih dapat dipercaya dalam membawa aspirasi NU.
[19/6/Media Indonesia].



Begitulah dukungan politis kepada Hasyim Muzadi secara terang-terangan telah
dideklarasikan oleh PC NU Jatim. Dengan demikian pernyataan KH Sahal Mahfud
sebagai Rais Syuriah dan KH Masdar Farid sebagai PLH Ketua Umum PBNU yang
me"warning" semua struktur NU untuk tidak terlibat dalam dukung mendukung
pilpres dengan sendirinya telah dipatahkan oleh pengurus wilayah NU Jatim
yang menjadi basis terbesar NU ini.



Namun permasalahannya, tidak sekedar intruksi KH Sahal dan KH Masdar yang
tak digubris. Tapi ada yang lebih penting dan substansial dari itu.
Yakni-pertemuan itu telah berani mengusik amanah Khittah 1926 di mana NU
merupakan gerakan sosial keagamaan yang tidak terlibat secara organisatoris
dengan partai politik. Pertemuan itu juga [barangkali] telah menghianati
ketetapan kembali ke Khittah NU 1926 yang dihormati seluruh warga NU hampir
20 tahun kebelakang semenjak musyawarah Sitobondo 1984. Bahkan
mengkhawatirkan terulangnya sejarah NU [sekitar tahun 1950-an, 70-an hingga
awal 1980an], dimana politik aliran begitu dominan, dan akibatnya NU
tenggelam dalam politik praktis, serta terpuruk sampai pada titik terendah.



Keceroboan sikap PC NU Jatim di atas, apabila ditinjau dari "nalar Khittah",
tentu saja lebih "berdosa" [baca: dalam pandangan Khittah] dari pada
pencalonan Hasyim Muzadi sendiri sebagai wakil presiden dari PDI Perjuangan
dan untuk mencoba bertahan tidak mengundurkan diri dari ketua umum PBNU.
Keceroboan yang paling nampak adalah mempertaruhkan kredibilitas NU di
masyarakat. Sebab betapa sangat ironis dan tidak pantas membawa NU sebagai
modal ke meja pertaruhan politik. Bukankah untuk menyalurkan aspirasi
politik warga Nahdliyin telah ada PKB dalam memainkan peran strategisnya di
dunia politik. Meskipun aspirasi politik warga NU yang sangat plural tidak
cukup terwakili oleh satu partai politik saja [baca; PKB]. Namun dalam
kenyataan yang lebih praktis warga Nahdliyin telah mempunyai wadah
tersendiri dalam partai. Dan bukannya menjadikan organisai NU sebagai
saluran aspirasi warga NU, sebab sikap seperti ini justru akan mendorong
warga NU terperosok dalam lingkaran politik praktis.

Sebab terperosoknya warga Nahdliyin dalam politik praktis sangat
membahayakan kredibiltas NU itu sendiri. Dan hal ini telah terbukti pada
akhir tahun 1970-an dan pertengahan 1980-an, bahwa dalam periode itu NU
telah mengalami krisis yang sangat parah. Krisis dalam tubuh NU menyebabkan
merosotnya jumlah anggota NU baik secara struktural maupun kultural. Dalam
struktural; Muslimat, misalnya, organisasi otonom NU yang paling sehat
administrasinya, menunjukkan penyusutan jumlah anggotanya dari 3,5 juta
orang menjadi 1,2 juta orang. Sekitar tigapuluh cabang Ansor tidak aktif.
Sementaara secara kultural, Masjid dan pesantren yang pernah bangga akan
ikatannya dengan organisasi induk membiarkan afiliasi mereka terputus. NU
pada masa itu tidak hanya dipinggirkan dalam kancah politik nasional, lebih
dari itu struktur kelembagaannya pun di ambang keruntuhan. (Andree Feillard,
NU Islam et Armee Dans l'Indonesie Contemporaine Le Pionniers de la
Tradition, 1955).



Meski dalam realitas politik praktis elit Nahdliyin tak bisa terhindarkan
dari putaran politik yang mengitarinya, akan tetapi wacana "kembali ke
Khittah" merupakan wacana yang sudah pakem, walaupun arti dari "Khittah" itu
selama ini masih terus diperdebatkan [baca; wacana klasik yang sekaligus
kontemporer]. Karena sebagai wacana sejak 1984, ia sampai sekarang belum
menemukan definisinya secara jelas dan sepakat. Dan bagaimanapun kembalinya
NU pada Khittah berarti terungkapnya aspirasi warga Nahdliyin yang
menghendaki upaya repositioning agar NU lebih berkonsentrasi pada pengayoman
akhlak umat dan lebih berhati-hati dalam melewati jalan politik praktis.
Selain sebagai teguran kepada elit Nahdliyin yang hendak terjun ke dunia
politik praktis dengan cara yang ceroboh.



Andree Feillard pernah bercerita tentang bagaimana dulu KH. Ahmad Shiddiq,
Kyai As'ad dan Abdurrahman Wahid sendiri berbeda dalam memahami jargon
"kembali ke Khittah". Namun,  terlepas dari perbedaan itu, satu titik
terpenting yang barangkali diyakini bersama adalah, bahwa jargon yang
menjadi keputusan musyawarah NU itu dikumandangkan sebagai suatu sikap untuk
menyelamatkan kredibilitas NU sebagai ormas yang menjaga netralitas politik.
Ia ingin mendidik dan menuntun aktivis, fungsionaris dan kyai NU untuk tidak
menjerumuskan NU secara organisatoris ke dalam kubangan politik praktis atau
bahkan pragmatisme politik yang kadang "memalukan", termasuk sikap yang
ditunjukkan oleh PC NU Jatim baru-baru itu.



Mungkin PC NU Jatim khilaf, bahwa mereka sangat ceroboh dengan membawa-bawa
NU untuk mendukung parpol dan pilpres tertentu, mereka bahkan mungkin tidak
menyadari bahwa sikapnya itu telah mempertaruhkan NU di masa yang akan
datang. Sebab NU yang selama ini berusaha menghormati netralitas politik
tidak dihargai sama sekali. Netralitas politik yang mempunyai tujuan jangka
panjang yang positif.



Barangkali mereka juga tidak menyadarinya bahwa partai politik tertentu akan
terus "memecah belah" suara warga Nahdliyin. Sebab tak dipungkiri NU adalah
suatu lahan yang paling empuk untuk diperalat memperbesarkan dukungan
partai. Hal ini sangat wajar sebab di dalam tubuh NU menyimpan sekitar 50
juta jiwa, dan ini adalah  sebuah konsekwensi akan "dogma " "kembali ke
Khittah". Untuk itu apabila NU secara organisatoris digunakan oleh para
fungsionarisnya untuk menggiring warganya kepada suatu pilihan partai
politik tertentu, adalah jelas suatu penghianatan kepada Khittah 1926.



Padahal dengan komitmen kembali ke "Khittah 1926" itu, lebih berperan besar
kepada Nahdliyin khususnya dan ummat umumnya, untuk bergerak melalui jalur
kultural. NU dapat leluasa dan eksis mengatasi sekat golongan, partai,
ideologi, dan agama, serta mampu memimpin di tengah masyarakat. Di mana
fleksibilitas itu pernah dicontohkan oleh Gus Dur dalam kapasitasnya sebagai
"pendekar demokrasi", baik sebelum menjadi presiden dan lebih-lebih ketika
tidak lagi mendiami Istana Negara. Dengan sikap moderat sebagai ciri khas
NU, ia bisa dijadikan sebagai sebuah senjata untuk selalu berdialektika dan
berdialog dengan kondisi sosial politik yang ada.



Melihat selera partai warga NU yang plural, maka membiarkan warga NU
mengedar di berbagai partai politik adalah sebuah alternatif sikap yang jauh
lebih aslam dari pada sikap mengatasnamakannya untuk memobilisir massa NU ke
dalam satu partai politik tertentu, karena konflik kepentingan politis di
sini pasti akan terjadi. Begitupun karena kebebasan warga NU dalam
menggunakan hak politiknya inilah yang justru menurut penulis akan
memberikan suatu landasan yang kuat untuk menambah bobot NU di panggung
politik.



Oleh karena itu, menurut hemat penulis dalam konteks hubungan politik
kekuasaan, NU sebagai organisasi Ormas perlu mimasahkan antara urusan
muamalah dan urusan siyasah [baca; specialization dan differentiation] maka
sebagai langkah  yang  konkrit ada hal yang harus diperhatikan warga
Nahdliyin. Pertama, tetaplah NU sebagai organisasi sosial keagamaan, dan
tidak terlibat sama sekali dengan percaturan politik, serta memotivisir
pengurus NU untuk memposisikan NU sebagai ormas keagamaan, mengupayakan
ukhuwah islamiyah agar tidak ada benturan antar warga NU yang berbeda
aspirasi. Kedua, menegakkan disiplin berorganisasi melalui konsolidasi dan
koordinasi, agar tidak terjebak dan tergoda pada urusan politik praktis
'kekuasan'. Ketiga,  NU harus menjaga hubungan baik dengan semua kelompok
sebagai kontrol terhadap kebijakan pemerintah. Keempat, mengupayakan
pembelajaran politik pada warga Nahdliyin yang berbasis di pedesaan yang
masih terbelakang secara pendidikan, agar dalam mengambil keputusan politik
tidak hanya menunggu komando tokoh sentral NU.



Keempat poin diatas inilah barangkali yang dimaksudkan 'upaya pemulihan'
kembali ke Khittah 1926 itu, agar sikap sebagaimana yang sudah terlanjur
dilakukan PC NU Jatim takkan terulang dimasa yang akan datang, dan NU
sebagai organisasi terbesar takkan dibiarkan menyerah terhadap segala
pengaruh politik pemerintah.



Kairo, 21 Mei 2004.



*Penulis adalah anggota Lembaga Kajian Islam dan  Sosial (LKiS) Yogyakarta,
kini sedang belajar di Universitas Al Azhar Kairo, jurusan Aqidah dan
Filsafat.







------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
---------------------------------------------------------------------~->

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke