http://www.kompas.com/kompas-cetak/0405/25/opini/1041218.htm
Selasa, 25 Mei 2004

Pengkhianatan Cendekiawan
Oleh M Fadjroel Rachman

MUSIM semi melahirkan warna- warni bunga, Pemilu 2004 melahirkan warna-warni
kepentingan politik. Parpol, capres-cawapres, dan pemilih (juga pemilih
golput pemenang Pemilu 2004) adalah representasi kompleksitas kepentingan
kelompok, agama, pribadi, dan kelas sosial.
Jangan lupa, ada juga cendekiawan! Setiap hari, mata publik membaca tulisan
dan mendengar mereka di media cetak dan elektronik, atau dalam diskusi,
seminar, dan demonstrasi. Hasil kerja mereka beragam, dari esai analisis
politik, ekonomi, sosial dan budaya, polling, juga selebaran demonstrasi.
Latar pendidikan dan profesi beragam, umumnya mengaku "membicarakan nasib
dan masa depan publik" atau "memerangi korupsi, melindungi si lemah,
menentang otoritas yang menyimpang dan zalim".

Fenomena cendekiawan mutakhir

Bila mengikuti media, cetak dan elektronik, pada pemilu legislatif lalu dan
menjelang pemilu presiden sekarang sukar untuk menghindari kesimpulan bahwa
bagi yang kerap mengikuti diskusi politik para peneliti sejumlah lembaga
yang "mengaku netral", kesimpulan mereka tampak condong mendukung
capres-cawapres atau parpol tertentu atas dasar persepsi mayoritas responden
nasional. Bahkan, kadang mereka mengakui disewa capres-cawapres maupun
parpol tersebut, tetapi tetap bersikeras tidak memiliki kepentingan apa pun
terhadap capres maupun parpol tersebut.
Lembaga maupun organisasi cendekiawan lainnya kadang bertindak lebih jauh,
melakukan kampanye terselubung sembari membersihkan rekam jejak (track
record) pada capres-cawapres tertentu. Mungkin tak terbayangkan oleh publik,
para cendekiawan di masa reformasi menjadi mesin politik untuk membuat
interpretasi baru terhadap "fakta sejarah" yang sudah menjadi memori
kolektif publik. Sayangnya bukan untuk "kebenaran" sejarah ataupun sumbangan
baru perkembangan ilmu pengetahuan, tetapi hanya bertujuan memenangkan
pemilu, kekuasaan, dan komersial belaka. Di bawah kediktatoran fasis Orde
Baru, juga Hitler dan Stalin, sejarah dan ilmu pengetahuan dipakai untuk
melayani kekuasaan semata
Siapakah sebenarnya cendekiawan, apa fungsinya di masyarakat?
Bila-setidaknya-salah satu fungsi cendekiawan adalah membuat interpretasi
karena keyakinan seperti Nietzsche bahwa , "there are no facts, only
interpretations". Maka bagi publik, tumbuh pertanyaan, apakah tujuan
interpretasi? Susan Sontag dalam Against Interpretation and other Essays
(Picador USA, 2001) menyebutkan, "Interpretation is a liberating act. It is
a means of revising, of transvaluing, of escaping the dead past".

Cendekiawan, siapakah mereka?

Perdebatan tentang cendekiawan dan apa fungsi mereka bergerak dari kategori
cendekiawan sejati hingga ke cendekiawan organik. Dari Julien Benda, Karl
Mannheim, Edward W Said, Bung Hatta, hingga A Gramsci, kita periksa satu
persatu pemahaman mereka.
Julien Benda, penulis La Trahison des Clercs (1927), menunjuk cendekiawan
sejati, ".semua orang yang kegiatannya pada intinya bukanlah mengejar tujuan
praktis, tetapi yang mencari kegembiraan dalam mengolah seni atau ilmu atau
renungan metafisik. Mereka menolak gairah politik dan komersialisasi". (J
Benda, Pengkhianatan Kaum Cendekiawan, 1997)
Karl Mannheim, menegaskan "free-floating intelligentsia", .lapisan sosial
yang relatif bebas dari kepentingan kelas ekonomi dan mampu bertindak
sebagai kekuatan politik kreatif dalam masyarakat modern. Memiliki tugas
sejarah, memberi cermin kepada publik agar dapat merefleksi diri sehingga
dapat memilih jalan dan cara yang tepat bagi tindakannya .netral namun tidak
terasing. (R Eyerman, Cendekiawan: Antara Budaya dan Politik dalam
Masyarakat Modern, 1996)
Edward W Said dalam Peran Cendekiawan (YOI,1998) mengungkapkan, "Secara
ideal cendekiawan mewakili emansipasi dan pencerahan, .peran cendekiawan
senantiasa terikat pada dan harus tetap jadi bagian organik dari pengalaman
masyarakat., dan menolak bekerja sama dengan kekuatan yang masih saya
pandang sebagai biang penderitaan rakyat.. Dosa paling besar cendekiawan
adalah apabila ia tahu apa yang seharusnya dikatakan tetapi menghindari
mengatakannya".
Antonio Gramsci memberi istilah organik kepada cendekiawan yang
mengartikulasikan pandangan dunia, kepentingan, tujuan, dan potensi yang
ditentukan secara historis dari suatu kelas. Hasil artikulasi ini ideologi.
Peran dan fungsi cendekiawan adalah produksi ideologi kelas dimana mereka
berada. [atau] Para cendekiawan dapat mengambil kelompok masyarakat sebagai
obyek kepentingan politiknya, merekonstruksi kelas itu sesuai dengan
kebutuhan, agar memperoleh pengakuan dan identitas. (R Eyerman, lihat juga
The Gramsci Reader, 2000)
Bung Hatta menyebutkan, ".kaum inteleensia Indonesia mempunyai tanggung
jawab moril terhadap perkembangan masyarakat. Apakah ia duduk di dalam
pimpinan negara dan masyarakat atau tidak, ia tidak akan terlepas dari
tanggung jawab itu. Sekalipun berdiri di luar pimpinan, sebagai
rakyat-demokrat ia harus menegur dan menentang perbuatan yang salah, dengan
menunjukkan perbaikan menurut keyakinannya". (Mohammad Hatta, Bung Hatta
Berpidato, Bung Hatta Menulis, 1979)

Pengkhianat atau pengabdi?

Benda tanpa kompromi, walaupun hanya berupa gairah politik, baginya
pengkhianatan, apalagi keberpihakan terbuka dan komersialisasi. Cendekiawan
sejati berseru, "Kerajaanku bukan di dunia ini!"
Mannheim, Said, Bung Hatta, Sutan Sjahrir, dan Sudjatmoko mengakui adanya
"rasionalitas universal dan obyektif" serta "moralitas kemanusiaan
universal" dalam ketegangannya dengan "realitas sosial obyektif". Namun,
mereka tegas berpihak, Said menolak bekerja sama dengan kekuasaan biang
penderitaan rakyat. Hatta, Sutan Sjahrir, dan Sudjatmoko berkorban di masa
kolonial Belanda dan Jepang, juga di bawah kediktatoran Soekarno dan
Soeharto. Sutan Sjahrir bahkan meninggal sebagai tahanan politik Soekarno,
partainya-Partai Sosialis Indonesia-dilarang hingga sekarang.
Gramsci mengatakan, cendekiawan berpihak pada kelasnya atau memilih dan
merekonstruksi kelas yang menjadi obyek kepentingan politiknya. Marx,
Engels, Lenin, Trotsky, juga Gramsci memihak kelas proletar, walaupun mereka
kelas menengah terdidik, bahkan Engels kapitalis.
Kompleksitas masyarakat tidak bisa lagi dilihat sekadar pertarungan dua
kelas (kapitalis vs proletar), melahirkan pandangan yang mendukung beragam
gerakan sosial (sipil, politik, ekonomi, budaya, jender, dan lainnya).
Beragam gerakan sosial-melahirkan oposisi sosial-ini menjadi sumber
sekaligus subjek baru keberpihakan cendekiawan. Kata Foucoult, ".wherever
there is power, there is relation of subordination, there is resistence". (E
Laclau dan C Mouffe, Hegemony and Socialist Strategy, 2001)

"Quo vadis" cendekiawan Indonesia?

Wahai cendekiawan Indonesia, bukankah keliru dan berdosa bila mengelabui dan
memanipulasi publik atas keberpihakan, kepentingan, dan gairah politik kita,
di balik setiap analisis yang ditulis dan dibicarakan? Bagi Benda, pengakuan
keberpihakan memang berarti pengkhianatan, tetapi bagi Said, Hatta, Sutan
Sjahrir, Sudjatmoko, apalagi Gramsci, pengakuan itu berarti kejujuran pada
pilihan kita dalam praksis sosial.
Ilmu pengetahuan bukanlah tempat bersembunyi bagi pengecut dan oportunistis.
Kita memilih dan bertanggung jawab terhadap pilihan. Kita berbohong kalau
berkata, "isi tulisan, pikiran, dan pembicaraan saya netral, di luar
tanggung jawab, gairah politik, dan kepentingan saya". Berarti juga
pengkhianatan terhadap integritas moral dan ilmu pengetahuan.
Edward W Said mengatakan, "kaum cendekiawan yang mengklaim hanya menulis
untuk dirinya sendiri, atau hanya untuk belajar semata, tidaklah dipercaya
dan harus tidak dipercaya,. Jean Genet mengatakan, pada saat Anda
memublikasikan esai kepada masyarakat, Anda telah memasuki kehidupan
politik. Jadi, jika tak ingin politis, janganlah menulis esai atau
berbicara".

M Fadjroel Rachman Ketua Lembaga Pengkajian Demokrasi dan Negara Kesatuan
(Pedoman Indonesia)



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
---------------------------------------------------------------------~->

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke