Perdana Menteri Timor Leste beragama Islam, bernama Marie Alkatiri,
keturunan Arab, Yemen.

Saya kira ini berita adalah untuk mengeruhkan situasi disana.


----- Original Message -----
From: "Rosewika Family" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Tuesday, May 25, 2004 5:48 PM
Subject: [ppiindia] Intimidasi Bagi Muslim Timor Leste


> Kenapa seperti ini, dimana muslim minoritas selalu sengsara.
> Kenyataan, banyak warga timor leste yg tinggal di indonesia bisa hidup
lebih aman.
>
>
>
> http://republika.co.id/ASP/koran_detail.asp?id=161725&kat_id=3
>
> Intimidasi Bagi Muslim Timor Leste
>
> Laporan : irf/dwo *republika 24 Mei 2004
>
>
> Selama tiga hari terakhir, umat Islam Timor Leste yang sekarang mendiami
Masjid An Nur, Kampung Alor, Dili, terus mengalami tekanan. Setiap hari,
mereka mendengar isu dan ancaman penyerangan. Taman yang menghiasi halaman
masjid tersebut, tiba-tiba juga ditabrak truk hingga berantakan. Secara
mendadak juga datang penduduk yang mencabuti pepohonan di taman itu. ''Kalau
tidak kuat-kuat, kami mungkin sudah menyingkir,'' kata H Arham, pemimpin
umat Islam di Masjid An Nur, kepada Republika Ahad (23/5) petang.
>
> Perasaan terintimidasi itu muncul sejak 8 April 2004 pemerintah Timor
Leste menggelar razia keimigrasian. Beberapa petugas imigrasi mendatangi
Masjid An Nur dan menyelidiki penghuninya satu per satu. Dalam proses
pemeriksaan, petugas meminta umat Islam yang menghuni masjid tersebut
menunjukkan paspor.
>
> Rupanya, petugas imigrasi menganggap mereka masih menjadi warga negara
Indonesia (WNI). ''Kami pun tidak ada yang bisa menunjukkan paspor,'' tutur
Arham. Mereka memang sudah tiba di Timor beberapa saat sebelum jajak
pendapat Agustus 1999. Karena waktu itu masih menjadi bagian dari Indonesia,
mereka yang juga pengikut Tarikat Mufarridiyah itu pun bisa masuk Timor
tanpa memerlukan paspor.
>
> Setelah jajak pendapat, mereka menyatakan keinginannya untuk bergabung
menjadi warga negara Timor Leste. Pernyataan seperti ini belum dianggap
memenuhi syarat oleh petugas imigrasi untuk menjadi warga negara setempat.
Akibatnya, sampai saat ini pihak imigrasi Timor Leste masih menganggap
mereka sebagai pendatang ilegal --alias imigran gelap.
>
> Boleh jadi, operasi imigrasi ini digelar terkait dengan pemberitaan di
surat kabar setempat Timor Post. Pada 7 April 2004, di koran tersebut, Arham
menyatakan bahwa dirinya tidak akan ikut pemilu legislatif pemerintah
Indonesia, sebagai wujud keseriusannya untuk menjadi warga Timor Leste.
>
> Begitu razia imigrasi berlalu, Masjid An Nur dikepung aparat kepolisian
setempat. Muslim yang jadi penghuninya dikenai wajib lapor setiap keluar
area masjid. Setiap hari, kata Arham, paling tidak terdapat tiga orang
polisi yang menunggu gerbang masjid tersebut. ''Tapi kondisi ini pun kami
jalani dengan sabar,'' ungkap pria yang sudah berada di Timor sejak 1989
itu.
>
> Pengurungan Masjid An Nur berlangsung sekitar sebulan. Selama menjalani
pengurungan, mereka tidak bebas berinteraksi dengan umat Islam yang tinggal
di luar masjid. Mereka juga sempat tidak diizinkan berdagang yang selama ini
menjadi mata pencaharian utama. Beberapa pihak juga sempat meminta dan
mengultimatum supaya mereka segera mengosongkan Masjid An Nur.
>
> Padahal, di masjid ini, juga terdapat sekolah bernama Timor Islamic School
Al Mufarridun. Sebagian besar murid sekolah ini adalah penduduk asli. Karena
dikepung, murid-murid sekolah menjadi takut untuk mengikuti kegiatan belajar
mengajar seperti biasa.
>
> Untuk mengurangi tekanan, mereka kemudian mengirim surat kepada Presiden
Timor Leste, Kay Rala Xanana Gusmao. Kepada Xanana, umat Islam di Masjid An
Nur menceritakan tekanan-tekanan yang dialaminya. Surat ini pun ditembuskan
kepada berbagai pihak. Tak lama setelah hasil jajak pendapat diumumkan,
sebenarnya Xanana pernah menulis pernyataan yang intinya meminta umat Islam
di Kampung Alor tetap tenang. Xanana berjanji untuk menjaga keamanan di
wilayah tersebut.
>
> Kondisi sulit yang terjadi selama pengepungan membuat suplai logistik
untuk penghuni Masjid An Nur menjadi terganggu. Jika dilihat per individu,
Arham yakin ada anggotanya yang sudah sama sekali tidak memiliki persediaan
makanan. Untunglah mereka terus menjaga kebersamaan. Akibatnya, pihak yang
kekurangan tidak sampai mengalami kelaparan.
>
> Sejak sebulan terakhir, penjagaan aparat mulai berkurang. Namun dalam
situasi seperti ini muncul ancaman penyerangan. ''Besok pagi (hari ini -red)
kami katanya akan diserang,'' ujarnya. Menghadapi ancaman itu, pihaknya pun
mengaku hanya bisa pasrah dan bersiap diri jika secara fisik umat Islam di
Masjid An Nur terancam.
>
> Sebenarnya, mereka kini sedang berusaha bangkit kembali setelah 4 Desember
2002 masjidnya dibakar. Dengan kemampuan seadanya, mereka berusaha membangun
kembali Masjid An Nur. Arham meyakini, tonggak umat Islam di Timor Leste
saat ini hanyalah masjid tersebut. Dirinya pun tidak mau tonggak itu hilang
begitu saja.
>
> Pjs Kepala Kantor Urusan Kepentingan Republik Indonesia (KUKRI) di Dili,
Fauzi Bustami, mengaku sudah mendapat laporan tersebut. Pihaknya juga sudah
mengajak dialog para penghuni Masjid An Nur. Namun tawarannya tak mendapat
sambutan. Kata Fauzi, juga diakui Arham, penghuni Masjid An Nur memang
mengambil jarak dengan KUKRI terkait dengan keinginan kuat untuk menjadi
warga Timor Leste. Kendati begitu, Fauzi mengaku sempat bertemu Menteri
Dalam Negeri Timor Leste, Rogerio Lobato, untuk membicarakan masalah
tersebut.
>
> Project Director International Crisis Group, Sydney Jones, juga mengaku
mengetahui ihwal adanya tekanan terhadap Muslim di Masjid An Nur ini.
Menurutnya, hal itu terjadi karena warga setempat masih memandang kelompok
tersebut sebagai warga negara Indonesia.
>
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
>
>
>
>
***************************************************************************
> Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia
yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
>
***************************************************************************
> __________________________________________________________________________
> Mohon Perhatian:
>
> 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
> 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
> 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
> 4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
> 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
> 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
> 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
>
> Yahoo! Groups Links
>
>
>
>
>



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70
http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke