Kenapa seperti ini, dimana muslim minoritas selalu sengsara.
Kenyataan, banyak warga timor leste yg tinggal di indonesia bisa hidup lebih aman.



http://republika.co.id/ASP/koran_detail.asp?id=161725&kat_id=3

Intimidasi Bagi Muslim Timor Leste 

Laporan : irf/dwo *republika 24 Mei 2004 


Selama tiga hari terakhir, umat Islam Timor Leste yang sekarang mendiami Masjid An 
Nur, Kampung Alor, Dili, terus mengalami tekanan. Setiap hari, mereka mendengar isu 
dan ancaman penyerangan. Taman yang menghiasi halaman masjid tersebut, tiba-tiba juga 
ditabrak truk hingga berantakan. Secara mendadak juga datang penduduk yang mencabuti 
pepohonan di taman itu. ''Kalau tidak kuat-kuat, kami mungkin sudah menyingkir,'' kata 
H Arham, pemimpin umat Islam di Masjid An Nur, kepada Republika Ahad (23/5) petang.

Perasaan terintimidasi itu muncul sejak 8 April 2004 pemerintah Timor Leste menggelar 
razia keimigrasian. Beberapa petugas imigrasi mendatangi Masjid An Nur dan menyelidiki 
penghuninya satu per satu. Dalam proses pemeriksaan, petugas meminta umat Islam yang 
menghuni masjid tersebut menunjukkan paspor.

Rupanya, petugas imigrasi menganggap mereka masih menjadi warga negara Indonesia 
(WNI). ''Kami pun tidak ada yang bisa menunjukkan paspor,'' tutur Arham. Mereka memang 
sudah tiba di Timor beberapa saat sebelum jajak pendapat Agustus 1999. Karena waktu 
itu masih menjadi bagian dari Indonesia, mereka yang juga pengikut Tarikat 
Mufarridiyah itu pun bisa masuk Timor tanpa memerlukan paspor.

Setelah jajak pendapat, mereka menyatakan keinginannya untuk bergabung menjadi warga 
negara Timor Leste. Pernyataan seperti ini belum dianggap memenuhi syarat oleh petugas 
imigrasi untuk menjadi warga negara setempat. Akibatnya, sampai saat ini pihak 
imigrasi Timor Leste masih menganggap mereka sebagai pendatang ilegal --alias imigran 
gelap.

Boleh jadi, operasi imigrasi ini digelar terkait dengan pemberitaan di surat kabar 
setempat Timor Post. Pada 7 April 2004, di koran tersebut, Arham menyatakan bahwa 
dirinya tidak akan ikut pemilu legislatif pemerintah Indonesia, sebagai wujud 
keseriusannya untuk menjadi warga Timor Leste.

Begitu razia imigrasi berlalu, Masjid An Nur dikepung aparat kepolisian setempat. 
Muslim yang jadi penghuninya dikenai wajib lapor setiap keluar area masjid. Setiap 
hari, kata Arham, paling tidak terdapat tiga orang polisi yang menunggu gerbang masjid 
tersebut. ''Tapi kondisi ini pun kami jalani dengan sabar,'' ungkap pria yang sudah 
berada di Timor sejak 1989 itu.

Pengurungan Masjid An Nur berlangsung sekitar sebulan. Selama menjalani pengurungan, 
mereka tidak bebas berinteraksi dengan umat Islam yang tinggal di luar masjid. Mereka 
juga sempat tidak diizinkan berdagang yang selama ini menjadi mata pencaharian utama. 
Beberapa pihak juga sempat meminta dan mengultimatum supaya mereka segera mengosongkan 
Masjid An Nur.

Padahal, di masjid ini, juga terdapat sekolah bernama Timor Islamic School Al 
Mufarridun. Sebagian besar murid sekolah ini adalah penduduk asli. Karena dikepung, 
murid-murid sekolah menjadi takut untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar seperti 
biasa.

Untuk mengurangi tekanan, mereka kemudian mengirim surat kepada Presiden Timor Leste, 
Kay Rala Xanana Gusmao. Kepada Xanana, umat Islam di Masjid An Nur menceritakan 
tekanan-tekanan yang dialaminya. Surat ini pun ditembuskan kepada berbagai pihak. Tak 
lama setelah hasil jajak pendapat diumumkan, sebenarnya Xanana pernah menulis 
pernyataan yang intinya meminta umat Islam di Kampung Alor tetap tenang. Xanana 
berjanji untuk menjaga keamanan di wilayah tersebut.

Kondisi sulit yang terjadi selama pengepungan membuat suplai logistik untuk penghuni 
Masjid An Nur menjadi terganggu. Jika dilihat per individu, Arham yakin ada anggotanya 
yang sudah sama sekali tidak memiliki persediaan makanan. Untunglah mereka terus 
menjaga kebersamaan. Akibatnya, pihak yang kekurangan tidak sampai mengalami kelaparan.

Sejak sebulan terakhir, penjagaan aparat mulai berkurang. Namun dalam situasi seperti 
ini muncul ancaman penyerangan. ''Besok pagi (hari ini -red) kami katanya akan 
diserang,'' ujarnya. Menghadapi ancaman itu, pihaknya pun mengaku hanya bisa pasrah 
dan bersiap diri jika secara fisik umat Islam di Masjid An Nur terancam.

Sebenarnya, mereka kini sedang berusaha bangkit kembali setelah 4 Desember 2002 
masjidnya dibakar. Dengan kemampuan seadanya, mereka berusaha membangun kembali Masjid 
An Nur. Arham meyakini, tonggak umat Islam di Timor Leste saat ini hanyalah masjid 
tersebut. Dirinya pun tidak mau tonggak itu hilang begitu saja.

Pjs Kepala Kantor Urusan Kepentingan Republik Indonesia (KUKRI) di Dili, Fauzi 
Bustami, mengaku sudah mendapat laporan tersebut. Pihaknya juga sudah mengajak dialog 
para penghuni Masjid An Nur. Namun tawarannya tak mendapat sambutan. Kata Fauzi, juga 
diakui Arham, penghuni Masjid An Nur memang mengambil jarak dengan KUKRI terkait 
dengan keinginan kuat untuk menjadi warga Timor Leste. Kendati begitu, Fauzi mengaku 
sempat bertemu Menteri Dalam Negeri Timor Leste, Rogerio Lobato, untuk membicarakan 
masalah tersebut.

Project Director International Crisis Group, Sydney Jones, juga mengaku mengetahui 
ihwal adanya tekanan terhadap Muslim di Masjid An Nur ini. Menurutnya, hal itu terjadi 
karena warga setempat masih memandang kelompok tersebut sebagai warga negara Indonesia.


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70
http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
---------------------------------------------------------------------~->

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke