saya gak kasih komentar berat2 dulu...Tapi percaya deh, pemuda2 indo 
yg diluar pada jenius. Tapi jgn lupa yang cewe2 juga oke, loh?!!

Mudah2an janjinya bukan pepesan kosong. Kalau kosong maka saya dan 
senior saya (mbak Listy) akan buat pepesan yg uenak sekali. 
he..he..he..

salam
--- In [EMAIL PROTECTED], Mario Gagho <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> rekan2 tersayang.. :)
> 
> kalau dilihat dari janji2 muluk para capres kita,
> tampaknya dunia pendidikan kita yg akan datang bakalan
> cerah, secerah mentari dan pemuda2 potensial harapan
> bangsa akan menjadi pemuda2 gemilang dg rata2
> berpendidikan tinggi dan yg agak jenius akan
> berkompetisi dg para pemuda jenius lain dari
> mancanegara di sekolah2 paling favorit di dunia.
> pokoknya, pemuda2 potensial indonesia akan bertarung
> melawan mahasiswa asal Cina, India, dll yg lagi studi
> di Amerika dan kampus2 ternama lain.
> 
> DAn itu hanya bisa terjadi kalau capres yg jadi nanti
> dapat memenuhi janjinya (silahkan baca janji2 mereka
> di tulisan di bawah). 
> 
> Sekarang, bagaimana kalau umpama janji2 itu cuma
> pepesan kosong? Apa bisa kita menuntut secara legal?
> Apa bisa kita menurunkan mereka setelah janji itu
> ternyata tidak mereka penuhi dg berbagai alasan?
> 
> Saya tunggu pendapat rekan2 sekalian.(mario)
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> Sabtu, 19 Juni 2004,
> Menagih Utang Janji Pendidikan
> http://www.jawapos.com/index.php?act=detail_c&id=113208
> 
> Oleh Iba Ismail *
> Sejak masa kampanye dimulai pada 1 Juni 2004, para
> capres dan tim suksesnya mengumbar berbagai janji
> muluk untuk memikat serta membuai masyarakat. Masalah
> pendidikan pun tak luput menjadi sarana "jual jamu"
> demi menarik simpati rakyat agar memberikan suaranya
> saat pemilu presiden 5 Juli nanti.
> 
> Janji pendidikan murah disuarakan lantang di
> mana-mana. Di berbagai kesempatan diskusi atau debat
> terbuka antarcapres yang disiarkan di TV, janji
> menyediakan pendidikan semurah-murahnya adalah menu
> yang sering disuguhkan. Dan, hampir setiap saat kita
> bisa menyaksikan iklan kelima pasangan capres-cawapres
> untuk meningkatkan mutu serta pemerataan pendidikan
> yang menghiasi layar televisi. 
> 
> Bahkan, ada beberapa capres yang lantang menawarkan
> program pendidikan yang sangat ekstrem. Misalnya,
> dalam rekomendasi limanya, Mega menyebutkan bahwa
> dirinya akan mengangkat 100 ribu guru dan menyediakan
> beasiswa untuk lebih dari delapan juta pelajar. Hamzah
> Haz dan Agum Gumelar dalam iklannya berteriak, "Kami
> akan membebaskan biaya pendidikan mulai SD sampai SMU,
> bahkan ada beasiswa untuk sekolah ke luar negeri." 
> 
> Semua tawaran tersebut sungguh mengesankan, tapi juga
> menyilaukan. Menyikapi "nyanyian" para capres mengenai
> pendidikan selama masa kampanye sekarang itu, kita
> sebagai rakyat harus memiliki sikap dan pendirian yang
> tegas, arif, serta cerdas.
> 
> Setidaknya, ada tiga hal yang perlu kita pegang
> terkait janji pendidikan murah yang ditawarkan para
> capres tersebut. Pertama, kita patut bangga bahwa
> semua pasangan capres memiliki program yang populis
> untuk meningkatkan mutu dan memeratakan pendidikan.
> Janji untuk membebaskan biaya pendidikan, meningkatkan
> kesejahteraan guru, serta menambah sarana dan
> prasarana pendidikan memang sangat kita harapkan. Kita
> cukup senang dengan program tersebut. Sebab, itu
> adalah impian bertahun-tahun yang tidak pernah
> benar-benar dirasakan, terutama oleh kalangan menengah
> ke bawah.
> 
> Jelas, kita tidak mengharapkan -dan mungkin akan
> sangat mengecam- jika ada capres yang mengampanyekan
> bahwa dirinya tidak akan berusaha apa-apa untuk lima
> tahun ke depan di bidang pendidikan. Masyarakat
> tentunya mendesak agar para capres secara gamblang
> memberikan rencana-rencana revolusionernya dalam
> mendobrak keterpurukan dunia pendidikan bangsa ini.
> Karena itu, kita cukup bersyukur bahwa kelima capres
> yang akan maju pada pilpres 5 Juli nanti memiliki
> program yang manis-manis tentang pendidikan, khususnya
> pendidikan dengan biaya terjangkau oleh semua lapisan
> masyarakat.
> 
> Kedua, perlu diingat, kampanye adalah arena untuk
> menarik simpati pemilih. Artinya, semua janji atau
> program yang ditawarkan akan terasa manis bak madu.
> Namun, sebagai rakyat yang cerdas dan melek politik,
> kita harus mampu membedakan antara manisnya madu asli
> dan madu aspal.
> 
> Ada capres yang berjanji membebaskan semua biaya
> pendidikan sampai tingkat perguruan tinggi,
> pengangkatan ratusan ribu guru dengan melipatgandakan
> gajinya, serta janji segera membangun ribuan sekolah.
> Namun, benarkah itu janji yang realistis bagi rakyat
> untuk menaruh simpati kepada sang capres? Tidakkah
> janji semacam itu sekadar bualan kosong yang tak masuk
> akal? Sebab, sejak dulu pemerintah tidak pernah
> menganggarkan pendidikan dalam APBN lebih dari 5%.
> 
> Logika semacam itu bukan berarti tidak suka dan
> menolak pendidikan murah. Hanya, kita perlu berpikir
> ulang bahwa ada batasan-batasan logis dalam menawarkan
> suatu program yang populis. Sebab, jika program yang
> ditawarkan terlalu mengada-ada, alih-alih mendapatkan
> simpati, sebaliknya, masyrakat hanya akan merasa geli
> mendengarkan semua omong kosong tersebut.
> 
> Melalui tulisan ini, penulis mengharapkan para capres
> tidak terlalu muluk menawarkan program pendidikan.
> Silakan berbicara tentang pendidikan secara realistis,
> namun cara mewujudkannya harus dijelaskan secara
> konkret. Tidak sekadar konsep tanpa rencana teknis
> yang terperinci. Selain itu, masyarakat jangan silau
> terhadap program dan janji puitis yang tidak
> realistis, sehingga terbuai impian kosong yang tidak
> akan pernah terwujud. Lebih baik memberikan apresiasi
> pada program yang tidak terlalu muluk, namun logis dan
> sangat mungkin terealisasi karena ditopang perencanaan
> yang matang dan jelas.
> 
> Ketiga, konsistensi para capres merupakan hal yang
> paling penting untuk merealisasikan semua program yang
> telah dijanjikan. Siapa pun yang akan terpilih sebagai
> presiden harus dimintai pertanggungjawaban dan tidak
> boleh melupakan semua janji manis yang diteriakkan
> saat kampanye untuk menarik simpati pemilih.
> 
> Agama mengajarkan bahwa janji adalah utang yang harus
> ditunaikan. Artinya, semua capres harus berani
> melakukan kontrak politik dengan para konstituen yang
> mendukungnya. Sebuah kontrak yang menyatakan, jika
> tidak mampu meningkatkan mutu pendidikan dengan biaya
> murah, konsekuensi kegagalannya harus diterima. 
> 
> Dalam kode etik seorang pemimpin, program yang
> dijanjikan adalah amanah. Artinya, jika presiden
> terpilih tidak mampu (baca: tidak mau) menjalankan
> amanah yang diembannya, selayaknya dia rela secara
> terhormat meletakkan jabatannya sebagai presiden.
> Selanjutnya, secara demokratis dan konstitusional,
> kesempatan tersebut diberikan kepada putra bangsa yang
> lebih layak bisa memenuhi pendidikan murah yang
> diimpikan rakyat.
> * Iba Ismail, mahasiswa FT UI, ketua Dewan Redaksi
> Dialektika Pers, dan peneliti di KSM Eka Prasetya UI,
> Depok
> 
> 
> 
> 
> =====
> Mario Gagho
> Political Science,
> Agra University, India
> 
> 
>               
> __________________________________
> Do you Yahoo!?
> Yahoo! Mail is new and improved - Check it out!
> http://promotions.yahoo.com/new_mail



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke