CATATAN UNTUK EVA KUSUMA SUNDARI [4]
Selanjutnya, tanggapanbalik terhadap tulisan Eva [yang akan selalu saya lampirkan sebagai acuan], saya lakukan dengan menggunakan metode pencermatan alinea demi alinea. Pada alinea kedua, Eva menulis: "Pertama sekali saya ingin berkomentar soal ajakan untuk stop bule yang tidak memihak dayak tapi dengan memperluasnya termasuk untuk menstop Dayak dan pribumi Jawa yang juga berwatak menindas para marhaen yang dalam hal ini adalah indegenous people." Dari alinea ini saya mengangkat masalah-masalah berikut: [1]. "stop bule yang tidak memihak Dayak"; [2]. pribumi; [3]. marhaen; [4]. indegenous people; [5]. penindasan terhadap bangsa oleh bangsa sendiri. Bukankah dari alinea di atas terdapat masalah-masalah tersebut dan Eva memang ingin memperluas lingkup komentarnya ke soal-soal tersebut? ["..] saya ingin berkomentar ... tapi dengan memperluasnya termasuk untuk menstop Dayak dan pribumi Jawa yang juga berwatak menindas ..."], tulis Eva. Tolong dikoreksi jika saya melakukan kesalahan baca. [2]. Pribumi Jawa. Di alinea kedua tulisannya ini juga, Eva mengetengahkan istilah baru yaitu "pribumi Jawa". Dalam memahami istilah ini saya kembali merujuk "Kamus Besar Bahasa Indonesia" [hlm. 701] di mana kata "pribumi" diterangkan sebagai berikut: "penduduk asli" [warga negara penduduk asli suatu negara] . Jika menggunakan pengertian "Kamus Besar Bahasa Indonesia" itu maka "pribumi Jawa" berarti penduduk asli Jawa. Siapa gerangan yang dimaksudkan dengan "pribumi Jawa" itu? Eva sama sekali tidak memberikan penjelasan sedikitpun tentang isitilah ciptaannya ini. Persoalan lain dengan menggunakan istilah demikian, sesuai dengan pengertian "Kamus Besar Bahasa Indonesia" di atas maka dalam istilah "pribumi Jawa" menunjukkan bahwa Jawa sebagai negara tersendiri, hal yang secara hukum tidak terdapat di wilayah negara yang bernama Republik Indonesia sekarang ini. Entah kalau hal demikian terdapat dalam angan-angan si penulis komentar sambil di lain pihak mengucapkan tentang "masa depan RI". Ucapan begini sangat berwayuh makna. Oleh adanya wayuh makna begini, kiranya dari pemberi komentar diperlukan keterangan tentang konsep Indonesia dan keindonesiaan ditautkan dengan konsep kebhinnekaan. Dari segi lain, saya pun mempertanyakan: Mengapa dalam sebuah negara, katakanlah dengan mengikuti logika Eva "negara Jawa", ada warganegara yang "pribumi" dan tidak "pribumi"? Tidakkah dengan istilah ini, kesamaan warganegara di depan hukum disingkirkan? Jika diluaskan lagi, pandangan dan sikap ini dalam hubungan antar etnik dan kelompok, maka tidak heran jika ada kelompok atau etnik yang menganggap diri sebagai etnik atau kelompok supra atau lebih tinggi dari yang lain, memandang etnik lain sebagai "masyarakat jin" yang patut diperadabkan berdasarkan patokan kelompok atau etniknya. Sekali lagi , apa beda pandangan, sikap dan politik budaya begini dari politik budaya "ragi usang" dan "mengosongkan gelas" kolonialisme Belanda yang dulu diterapkan di Tanah Dayak? Apakah politik , pandangan dan sikap budaya begini bisa dikatakan sebagai anti penindasan, baik itu pendindasan terhadap yang bernama "marhaen" ataupun penindasan terhadap "indegenous people"?. Memandang suatu masyarakat tertentu sebagai "masyarakat jin" yang patut diperadabkan berdasarkan patokan kelompok tertentu, menghancurkan budaya lokal yang dipandang sebagai "jin", dilihat dari segi usaha pemberdayaan dan pembangunan untuk memanusiawikan manusia, kehidupan dan masyarakat, menjurus ke pemusnahan budaya etnik atau masyarakat tertentu. Pandangan dan sikap ini juga menganggap diri sebagai messias atau juruselamat tapi "menyelamatkan" dengan tangan berlumurandarah dan airmata. Orang-orang begini tidak memandang masyarakat lokal sebagai aktor pemberdayaan dan pembangunan yang mampu tumbuh bergulir membesar sendiri. Mayoritas masyarakat di mata mereka adalah masyarakat "jin" dan "bodoh", hanya obyek dan bukan subyek. Jika dipandang sebagai obyek dan bukan subyek maka obyek itu hanya setingkat dengan mata dadu di meja perjudian kepentingan, terutama kepentingan politik dan ekonomi. Obyek tidak usah memang diajak bicara apalagi berprakarsa. Dari segi ini, men"jin"kan suatu masyarakat tidak lain daripada konsep penindasan dan perampokan atas nama pemberdayaan dan pembangunan. Pemberdayaan dan pembangunan kepentingan siapa? Barangkali pertanyaan ini menjadi pertanyaan kunci dalam menilai sesuatu mulai titiktolaknya. Masyarakat Dayak Kalteng, saya kira patut mencengkam pertanyaan ini jika mereka ingin hidup secara manusiawi di kampung kelahiran mereka sendiri, jika mereka ingin menjadi aktor kehidupan, pemberdayaan dan pembangunan hidup mereka sendiri . Apakah pertanyaan begini juga keliru diajukan? [3]. Marhaen: Marhaen dalam pemahaman saya adalah lapisan mayoritas masyarakat yang terdiri dari para petani dan kaum buruh, gelandangan kota, pedagang kecil, tukang becak dan mereka yang hidup pas-pasan dari hari ke hari. Bicara tentang memanusiawikan manusia, kehidupan dan masyarakat, saya kira , pertama-tama kita berbicara tentang lapisan mayoritas ini. Mengapa tidak perbaikan dan peningkatan taraf kehidupan lapisan mayoritas ini yang dijadikan sebagai takaran berhasil tidaknya politik negara, organisasi dan lembaga-lembaga masyarakat di berbagai bidang? Agar lapisan mayoritas masyarakat ini bisa menjadi aktor pemberdayaan dan pembangunan kehidupan mereka sendiri, saya kira, pendidikan pembebasan memalui kegiatan pencerahan bisa dipandang sebagai menentukan. Pendidikan pembebasan kiranya dimungkinkan jika kita mempercayai kemampuan mereka, menyadarkan bahwa mereka mampu menjadi subyek, mampu keluar dari lingkaran setan keterbelakangan, kebodohan dan kemiskinan. Pendidikan pembebasan tidak mungkin dilakukan dengan memandang mereka sebagai "jin" dan segala kata sifat negatif yang berhakekatkan pendidikan penindasan dan perampokan. Marhaen sebagai lapisan mayoritas masyarakat adalah landasan piramida bangunan masyarakat. Kokohnya lapisan dasar piramida ini akan mendorong lapisan tengah dan lapisan piramida masyarakat lainnya untuk berpihak ke lapisan dasar, sehingga dengan demikian memperkuat daya tawar mereka ketika berhadapan dan berunding dengan siapapun. Kuatnya lapisan dasar piramida yang bersatu dengan lapisan-lapisan lainnya akan membuka gerbang keadaan hidup baru yang manusiawi. Demokratisasi, partisipasi, kontrol sosial, otonomi sejati barangkali banyak tergantung dari terkonsolidasinya lapisan dasar piramida ini. Dalam konteks ini Masyarakat Adat yang direvitalisasikan akan bisa mempunyai peranan. Jalan ini pulalah termasuk salahsatu jalan kongkret pemberdayaan dan pembangunan dari pinggir. Apa yang kita lakukan sejauh ini? Apa yang dilakukan oleh Subud di Kalteng? Lagi-lagi saya merasa mendesak perlunya Subud yang berkeputusan menjadikan Kalteng sebagai pusat mereka, menjelaskan politik pemberdayaan dan pembangunan mereka secara terbuka melalui koran-koran, tivi dan radio. Kelirukah permintaan ini? Lapisan dasar masyarakat perlu diajak serta dalam usaha pemberdayaan dan pembangunan yang memanusiawikan manusia, kehidupan dan masyarakat. [Bersambung....] Acuan ----- Original Message ----- From: eva kusuma To: Budhisatwati KUSNI ; Mailinglist Nasional Sent: Thursday, June 17, 2004 1:21 PM Subject: Re: [Nasional] DOKUMEN SUBUD -- UNTUK BAHAN DISKUSI [1] Kawan2 sekalian, Saya terdorong merespon diskusi soal Bule Subud dan dayaks berdasar pengetahuan saya sebagai orang yang sudah menjadi anggota Subud sejak 1991 dan pernah ke Tengkiling walau hampir 10 tahun lalu, tetapi insyallah masih update info soal proyek Subud di sana. Apalagi, kakak kandung saya tahun lalu memutuskan kembali ke dunia profan setelah terengah mengadakan pendampingan masyarakat di sana selama 10 tahun sebagai bagian proyek community developmentnya Subud. Pertama sekali saya ingin berkomentar soal ajakan untuk stop bule yang tidak memihak dayak tapi dengan memperluasnya termasuk untuk menstop Dayak dan pribumi Jawa yang juga berwatak menindas para marhaen yang dalam hal ini adalah indegenous people. Subud memilih Kalteng karena manut penerimaan kejiwaan YM Bp Subuh bahwa Kalteng adalah ibukota masa depan RI yang tahun 50an belum diketahui potensi alamnya. YM melalui teropong kejiwaan sudah mampu melihat potensi ini tetapi dunia pengetahuan belum menyebutkannya. Karena konstalasinya kejiwaan/ spiritual, maka keluarlah sebutan 'masyarakat jin' soalnya pada tahun 60an Kalteng masih gung lewang lewung, transmigrasi saja belum dimulai kan? Sehingga masih kuat getaran 'dunia lain' daripada hiruk pikuk material seperti konteks kita menganalisisnya saat ini. Jadi, sungguh bukan suatu penghinaan tetapi semata atas pengalaman spiritual yang diterima YM Bp Subuh yang antara lain beliau didatangi kepala jin beserta anak pinaknya yang tidak keberatan Subud mengembangkan proyek di sana. Istilah itu muncul dari YM Bapak. Sayangnya, istilah itu dibaca orang lain tanpa rujukan asal istilah tsb dan apalagi bukan orang Subud. Untuk konteks waktu dan komunitas yang berbeda sebutan itu memang potensial bikin retak masyarakat Dayak. Subud sendiri adalah persaudaraan kejiwaan (banyak sesepuh PNI seperti Ibu Trimurti, Bp-Ibu Nasir , dan Dr Widagdo Bandung yang baru lolos caleg DPR dari Bandung adalah anggota Subud) yang anggotanya adalah warga dunia asal percaya kepada Tuhan meski agamanya beda, nasionalitasnya, bangsa beda dst. Dari catatan yang saya tahu, saat ini setidaknya ada national committee Subud tersebar di 97 negara termasuk Poland, Checo, Nigeria, Zambia, Moscow, Japan (ini ekspor Indonesia paling berhasil kayaknya) Subud mempunyai mempunyai community center yang cukup besar di AS, Cilandak, Spanyol, Columbia dan yang paling berat untuk berkembang ya justru di Tengkiling-Kalteng itu walau YM Bapak merekomendasikan sejak awal untuk digarap. Mandatnya sederhana yaitu untuk mendorong integrasi manusia berdasar persaudaraan spritual yaitu sebagai umat yang percaya Tuhan. Subud, karena percaya bahwa ada relasi antara spiritual-material sehingga mengembangkan lembaga2 mulai yang sifatnya spiritual hingga enterprise yang berorientasi ke bisnis, dan community development yang di Tengkiling dikomandani Prof Sayogyo dari IPB. Di badan PBB, Subud juga mempunyai reputasi yang baik karena memperoleh ruang khusus di kantor Jenewa dengan fokus menjadi semacam task force urusan hak2 kelompok indegeneous. Saya melihat ketegangan antara bule Subud (kepanjangan dari Susila Budhi Dharma) dan kawan2 lokal adalah nggak nyambungnya ekspektasi kedua belah pihak. Jangan lupa pula ada ketegangan internal Subud coklat biasanya Jawa-Dayak dengan Subud bule. Antara Jawa dan dayak saja ada ketegangan kok. Biasa, benturan budaya dan termasuk menyangkut power atas resources. Ini manusiawi bukan? Upaya mengembangkan Kalteng (yang termotivasi fatwa YM Bapak) sungguh bagai kawah candradimuka. Yang berguguran juga banyak, yang sampai sekarang trauma juga banyak sehingga ganti orang yang berdampak ganti strategi, partner adalah cerita sehari-hari. Belum lagi gangguan lingkungan, misalkan ada anggota Subud Australia, Holland, Portugal yang sudah invest bermilyard-milyard US $ untuk bangun hotel, canopy proyek, perumahan untuk antisipasi World Subud Conggres 2001 menjadi stress karena pecah konflik Sambas yang merembet hingga perkampungan Subud. Untuk community development sendiri, setahu saya ada pendampingan untuk petani lokal, ada penambangan, ada juga yang mencoba pertanian organik yang sebagian sampai sekarang masih berjalan. Ini dikelola kombinasi antara bule (biasanya sbg donor dan konsultan) Jawa dan teman-teman Dayak. Untuk persisnya dan lebih detail saya akan kontak mereka untuk update info dan kalau masih dianggap perlu, unt bisa saya share ke mailist ini. Dengan perekonomian nasional yang lagi mengkerut sehingga pengangguran 40 juta, enclave 'mewah' bule Subud di Tengkiling memang bisa jadi sumber konflik. Perkampungan (pemukiman) itu yang bukan industrial estate bisa jadi tumpahan ketidakpuasan penduduk, tetapi tentu saja ini tidak adil. Perkampungan itu bukan MNC dan memang menyakitkan melihat para bule hidup berbeda standar. Tapi mau gimana, mereka tidak doyan ubi, naik angkot, tidak bisa ngomong dayak dst yang prinsipnya ukuran bajunya tidak sama dengan kita2. Bukan hanya itu, mereka juga membawa gaya hidup dari kampung mereka yang menyakitkan mata orang2 lokal. Sementara kita mencari duit mereka buang2 duit. Justru menurut saya, mereka agak eksentrik karena ke Kalteng lebih didorong alasan spiritual daripada motive profit. Artinya kalau toh ada yang berbisnis, itu lebih coba2 karena sifatnya masih individual investor. Meski terasa personal saya anggap Subud adalah manifestasi butir2 nilai asli Indonesia yang terbukti ampuh dan universal yaitu terbukti dan teruji (nyontek kampanye Mega) karena pluralisme tidak saja dijadikan prinsip2 retorika tetapi sudah diwujudkan. Istilah kami, Pancasila yang sudah maujud, tidak saja dalam konteks antar suku dan agama yang berbeda se Indonesia, tetapi mampu menjadi cross cutting warga dunia. jadi keingat bahwa Bung Karno juga terobsesi bikin Pancasila mendunia. Subud sbg bukti? Sayangnya, pendirian Subud lebih didorong karena alasan spritual, bukan perkumpulan kapital ekonomi sehingga Subud tidak dapat menjawab secara efektif tuntutan material. Secara teoritis, Subud percaya bahwa kesempurnaan spritual akan secara otomatis diikuti dengan kemajuan material. Bahkan material akan datang sendiri kepada jiwa yang spiritualitasnya sudah tinggi karena sang material ingin menyorgakan diri lewat jiwa tersebut. Sayangnya, kondisi ideal tersebut saat ini belum teraih para anggota Subud baik yang bule maupun yang coklat. Apalagi untuk memberikan kepada lingkungan di luar komunitas Subud, meski itu menjadi mandat organisasi. Sayang ya..... (semoga interpretasi menjadi lebih balance) Merdeka! Jakarta, June 17 Eva K Sundari Budhisatwati KUSNI <[EMAIL PROTECTED]> wrote: PENGANTAR: Sehubungan dengan diskusi tentang " Koloni Bule Di Kalteng" yang dibuka oleh tulisan Ronny Teguh dalam milis Dayaks [15 Juni 2004] , berjudul "Stop Kerajaan Bule di Kalteng", bersama ini saya sampaikan dokumen SUBUD yang dikeluarkan oleh SUBUD sendiri yang ada kaitannya dengan masyarakat Dayak. Penyalinan dan penyiaran kembali dokumen ini dimaksudkan agar kita mengenal apa-siapa SUBUD dan tujuannya beroperasi di Kalimantan Tengah melalui dokumen SUBUD sendiri. Melalui dokumen ini dan dokumen-dokumen SUBUD lainnya kita mendengar SUBUD berbicara tentang dirinya sendiri . Dengan kata lain kita membiarkan SUBUD berbicara tentang SUBUD dan bagaimana SUBUD memandang masyarakat Kalteng sebagai "masyarakat Jin". Dokumen ini saya salin sebagaimana adanya, tanpa mengobah titik-koma dan segala kesalahan cetak. Mudah-mudahan dokumen ini, yang akan disiarkan secara bersambung, bisa dijadikan materi diskusi dan dari diskusi ini masing-masing kita bisa mempunyai angka tentang SUBUD dan bagaimana langkah serta sikap nalar menghadapinya sesuai kepentingan Masyarakat Dayak sebagai bagian dari kepentingan kemanusiaan serta usaha memanusiawikan manusia. JJ.Kusni [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70 http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

