SOEHARTO DALANG SEGALA BENCANA
Sebuah gedung di jalan Mampang Prapatan Jaksel sudah
sejak 1 tahun terakhir ini kerap di kunjungi Wiranto.
Biasanya setiap berkunjung ke situ Wiranto selalu
ditemani "sang guru ngaji", seseorang yang begitu
powerfull di pengurus elite parpol yang berkantor di
jalan itu. Sebelum membahas lebih lanjut misteri jalan
Mampang Prapatan itu, lebih baik pelajari dulu
kronologi di bawah ini.
Siasat Jitu Seharto
Selepas dicopot dari jabatan Menhankam/Pangab, Wiranto
secara khusus dipanggil Soeharto untuk membicarakan
"keselamatan dan keamanan" keluarga besar Cendana.
Lewat berbagai pertemuan dan konsolidasi internal,
akhirnya Soeharto memutuskan memakai 3 skenario.
- Mencari jalan merebut kembali Golkar.
- Membuat partai baru sebagai test case kesiapan
publik memaafkan Soeharto.
- Menciptakan "pemimpin" baru
Skenario tersebut kemudian dijalankan secara
sistematis dan penuh perhitungan matang. Cendana
menyediakan dana 2 T untuk memuluskan langkah ini..
Agar Golkar terkesan "baru", Soeharto memerintahkan R
Hartono untuk membuat parpol baru yang "identik"
dengan Golkar lama. Bahkan agar makin menegaskan
kepada publik bahwa Golkar sekarang sudah benar-benar
"baru", R Hartono sampai rela menjadikan dirinya bahan
caci maki publik karena menyebut partainya sebagai
"antek Soeharto". Strategi ini berjalan mulus, karena
kegeraman publik terhadap Soeharto mendapat tempat
baru, PKPB. Sementara Golkar "baru" mendapat simpati
dan kepercayaan publik, apalagi ditambah dengan
perfoma pemerintahan Mega yang sarat KKN. Hasilnya,
hanya butuh waktu 5 tahun, Golkar kembali menang di
negeri ini. Kemenangan Golkar makin memperkuat
keyakinan Soeharto bahkan Cendana akan selamat,
survive, dan kembali jaya! Lewat Rizal Malarangeng
Golkar terbujuk untuk melakukan Konvensi. (Skenario
Konvensi adalah cara jitu Soeharto mengkudeta Golkar.
Dengan dana ratusan milyar, bukan hal yang sulit bagi
Soeharto untuk meloloskan bekas ajudannya paling setia
memenangi Konvensi.)
Usaha Wiranto
Selepas pertemuan dengan Soeharto itu, Wiranto segera
aktif menyiapkan diri. Langkah pertama, mendekati
"kalangan Islam". Langkah seperti ini gampang
dilakukan Wiranto karena sudah mempunyai jaringan ke
sana. Sejak adanya demo "anti Sidang Istimewa" pada
masa Habibie dulu, Wiranto sudah menggalang hubungan
dengan pihak Islam (walau dengan perbedaan
kepentingan, mereka disatukan oleh "musuh bersama",
yakni kelompok-kelompok anti SI yang waktu itu kental
bernuansa "nasionalis" atau "nonmuslim", seperti
Forkot, Famred, Barisan Nasional, dan kampus-kampus
Kristen). Wiranto bahkan menjadi sangat akrab dengan
ketua KAMMI Fahry Hamzah, Ketua Senat UI Rama Pratama.
Bahkan aksi-aksi mahasiswa pro SI ketika itu banyak
sekali mendapat sokongan dana dari Wiranto. Wiranto
(mendapat mandat khusus dari Soeharto, untuk pro SI,
karena dengan itu keselamatan dan keamanan Cendana
terjamin) juga mengumpulkan banyak massa dari
pesantren-pesantren yang diwadahi dalam PAM SWAKARSA.
Ketika kedekatannya makin intensif dengan kaum Islam
ini, lagi-lagi Soeharto memerintahkan Wiranto untuk
mulai "menampakkan" diri sebagai "muslim" beneran.
Istrinya dan anaknya disuruh memakai jilbab. Keduanya
juga disuruh aktif di Tarbiyah PKS. Padahal, kalau mau
berpikir panjang, di mana-mana militer sangat "alergi"
terhadap identitas-identitas muslim seperti ini.
Seorang Jendral mencontohkan keluarganya berjilbab dan
ikut tarbiyah segala ke lingkungan militer, sudah
pasti akan ditentang habis-habisan (karena di militer
yang diunggul-unggulkan adalah "nasionalisme"), tapi
nyatanya tidak ada satu pun yang meributkan hal
tersebut. Ini terjadi karena semua jenderal pernah
dikumpulkan di Mabes TNI untuk menjelaskan "fenomena"
jilbab keluarga Wiranto. Bahwa ini semata-mata taktik
dari Jenderal Besar.
"Strategi" Soeharto lewat Wiranto ini ditelan
habis-habisan oleh sebagian elite PKS. Mereka bahkan
yakin, karena mereka yang "mengajari ngaji" keluarga
Wiranto, mereka bakal dengan mudah "mengendalikan"
Wiranto. Jalan pikir seperti ini adalah hal lumrah di
lingkungan tarbiyah, bahwa setiap "kader" pasti
"tunduk" kepada murobi-nya!
Sedikit Soal SBY
Coba pikirkan dulu barang sebentar. Kenapa SBY memakai
kendaraan PD yang penuh kontroversial? Kenapa tidak
membuat partai yang "aman-aman" saja. Bukankah yang
dijual popularitas SBY, bukan platform partai?
Jawabannya ada di sini. Pertama, SBY pun termasuk
dalam strategi Soeharto, dengan jalan "menciptakan"
pemimpin boneka. Perlu diingat, 5 stasiun TV di
Indonesia adalah milik Cendana. Dan TV-lah media
paling efektif untuk "menghitamputihkan" seseorang.
SBY yang "nyaris tidak terdengar" tiba-tiba "melejit"
bak bintang film. Soeharto tentu saja lebih percaya
kepada militer, bukankah semua jenderal Soeharto yang
melantiknya? Bukankah semua jenderal, didoktrin lewat
lemhanas dan sesko-sesko betapa "mulianya" Soeharto!
Tapi soeharto juga tidak bodoh, meskipun populer, SBY
diletakkan di "tempat yang salah", di PD yang penuh
nonmuslim. Seharto tidak ingin memelihara anak macan,
yang bisa mengganggu karir ajudan setianya Wiranto ke
kursi presiden.
Kedua, sebenarnya SBY sudah disediakan P Demokratnya
Bambang W Soeharto yang lebih kental warna Islamnya.
Tapi, istri SBY terlalu gampang diperalat Soeharto.
Dengan alasan lebih at home di PD-nya S. Budisantoso,
Ny Kristina yang nonmuslim (beragama Kristen seperti
halnya Sarwo Edi Wibowo ayahnya) memilih menjadi
pengurus PD. Hitungan Soeharto ternyata jitu, meskipun
populer, SBY terpenjara dalam stigma yang terlanjur
melekat kepada kehidupan pribadi dan parpol yang
mengusungnya, lingkungan nonmuslim. SBY terlambat
mengetahui hal ini. Sehingga membuat keputusan yang
membingungkan. Khawatir ditinggalkan suara muslim,
Maret 2004 lalu memaksa istrinya menjadi muallaf.
Terus disusul dengan keputusan "mengusung Syariat
Islam" versi Yusril Ihza Mahendra. Tapi ditentang oleh
banyak pihak, terutama donatur dan penumpang gelap
gerbong PD yang bergabung karena "hitungan dagangnya"
menguntungkan memback up SBY. Upaya SBY untuk
"membersihkan diri" ini selalu dimentahkan oleh
Soeharto lewat selebaran-selebaran, dan isu-isu sisi
gelap SBY. Soeharto bisa meluncurkan isu itu karena
Soeharto tahu betul siapa Sarwo Edi, siapa SBY, dan
siapa PD. Apalagi Soeharto masih memiliki jaringan
inteljen yang bisa dengan gampang masuk ke arsip
paling rahasia TNI. Tidak aneh, hampir semua isu soal
SBY selalu diikuti bukti-bukti yang sulit
terbantahkan.
Jasa Lain Soeharto
Kerikil dan hadangan tentu saja banyak ditemui Wiranto
untuk ke RI 1. Tapi selama ada dukungan Soeharto,
rintangan apa pun bisa dihadapi dengan tersenyum.
Kasus BNI yang jelas-jelas menyeret dirinya, apalagi
dengan keteledoran tim suksesnya memakai uang hasil
membobol BNI untuk transaksi pembelian rumah, mustinya
mimpi Wiranto sudah harus berakhir di LP Cipinang.
Kasus BNI yang begitu kasat mata pun menjadi tampak
rumit dan pelik karena campur tangan Soeharto.
Tokoh-tokoh sentral kasus ini, yang sulit dijangkau
polisi, terbukti beberapa kali menemui wartawan.
Lucunya lagi, polisi meminta tersangka kasus ini untuk
menyerahkan diri secara sukarela. Himbauan polisi ini
jadi teramat menggelikan dari dagelan BNI. Padahal
uang yang dibobol, trilyunan rupiah. Bandingkan dengan
upaya polisi memenjarakan Abu Bakar Baasyir misalnya.
Meskipun sakit keras di RS, polisi beramai-ramai
menggelandang paksa dan menyeret Baasyir ke penjara!
Kasus-kasus pelanggaran HAM-nya pun nyaris tak
tersentuh. Cuma prajurit rendahan yang diuber-uber
bertanggung jawab.
Dalam memenangkan Konvensi kemarin, suara DPD dati II
dihargai 400 juta, dan uangnya dibayar tunai! Dan juga
ada 1 kata kunci yang dijanjikan Wiranto, dia sanggup
membawa suara PKB dan PKS ke Golkar! Janji yang semula
ditertawakan, karena seperti mimpi di siang bolong.
Tapi kini terbukti, Wiranto menepati janjinya. PKB dan
PKS meski dengan "malu-malu" dan seribu dalih
akhirnya mendukungnya. Sekali lagi, "uang yang
berbicara!" Cendana memang lihai mencuci uang haram.
Dengan seabrek usahanya, uang-uang haram dari mana
saja bisa dicuci kinclong menjadi uang "halal",
sehingga keluarga besar Cendana tidak pusing
menggelontorkan berapa pun rupiah yang diminta untuk
mengamankan dinasti Cendana.
Upaya Mengganti Hidayat Nur Wahid
Tidak pernah dalam sejarah Syuro PKS mengalami
deadlock seperti saat ini. Pangkal soalnya hanya satu:
WIRANTO! Kenapa dengan Wiranto? Ya Wiranto-lah
sesungguhnya king maker di elite PKS. Lambang PKS yang
baru, yang menambahkan gambar padi dan kata sejahtera
misalnya, adalah ide Wiranto untuk "mengurangi"
keradikalan gambar "ka'bah" dan mendekatkan PKS ke
Pancasila. Wiranto juga yang banyak bermain dalam
memutuskan nomor urut caleg PKS. Kalau mau dicermati,
ada kecenderungan untuk menjadikan "orang-orangnya"
sang guru ngaji di nomor jadi. Coba amati, bukankah
caleg PKS lebih banyak yang "cuma" lulusan SMA tapi
aktivis tarbiyah atau mereka yg bergelar Lc? Paska
pemilu legislative kemarin pun, Wiranto bermain lagi
dengan mengusung Forum Penyelamat Bangsa. Orang
Wiranto memakai PKS untuk menjadi motor gerakan ini,
dengan strategi "demi ukhuwah islamiyah" parpol Islam
musti memunculkan 1 saja paket capres/cawapres. Ini
yang tidak pernah dimunculkan di Koran, bahwa dengan
alasan suara PKB dan PKS di atas PAN (sementara PPP
dan PBB menolak ikut FPB), mereka memaksakan agar
capresnya Wiranto sedangkan cawapresnya Amien Rais!
Dengan argumen, GD tidak bisa maju karena alasan
kesehatan, PKS sudah berjanji tidak mengajukan capres.
Jadi kalau sekarang Syuro PKS molor itu tidak aneh,
karena sebetulnya keinginan mengusung Wiranto sudah
disepakati jauh-jauh hari.
Dan misteri jalan Mampang Prapatan makin menyengat.
Ketika desakan agar Syuro PKS segera mengeluarkan
rekomendasi makin menguat dari massa akar rumput PKS,
Wiranto lewat "caleg-caleg"-nya mulai
mengkonsolidasikan diri. Dengan dalih pembekalan
caleg, Wiranto berhasil mendoktrin caleg-caleg itu
untuk mengkampanyekan Wiranto di forum-forum apa pun.
Entah itu pengajian, entah itu khutbah Jumat.
Sementara kader-kader PKS militan lainnya,
diskenariokan untuk terus menerus mengkampanyekan
perlunya "tsiqoh" dan menunggu rekomendasi. Tentu
dengan dalil dan alasan yang sudah disiapkan matang.
Keadaan ini membuat friksi di tubuh elite PKS makin
menajam, bahkan kini mulai pada tahap "berbahaya".
Dengan alasan akan mendorong HNW sebagai ketua DPR
(apakah mungkin dengan suara PKS yang hanya 47), elite
PKS ingin mengganti HNW sebagai Presiden Partai dengan
Anis Matta. Alasannya biar tidak rangkap jabatan
nantinya, di samping itu Anis Matta dipandang sebagai
figur paling kuat di PKS. Padahal alasan sebenarnya,
sebagian elite PKS yang dimotori Annis Matta sudah
gerah melihat kegigihan HNW menolak Wiranto.
Terlebih-lebih HNW masih tercatat sebagai pengurus
pusat Muhammadiyah! Dengan mengganti HNW, 2 agenda
akan berjalan sekaligus. Memuluskan rekomendasi ke
Wiranto dan mengurangi pengaruh Muhammadiyah di PKS.
Kesimpulan
Soeharto ingin menyelamatkan dinasti dan ajarannya
terpenting: GOLKAR, ia memilih Wiranto. Wiranto
memakai siasat "merangkul kawan lama" untuk misi itu.
Dengan merangkul PKB dan PKS, cita-cita Soeharto lewat
Wiranto boleh dikatakan hampir tercapai!
kiriman [EMAIL PROTECTED]
---------------------------------
Do you Yahoo!?
Yahoo! Mail Address AutoComplete - You start. We finish.
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/