KEMENANGAN IBU MEGAWATI

Oleh: Ir. Luhur pambudi, MM.  Angt Tim Mega Presiden DPD PDIP Jateng (TKMH
Provinsi Jateng) - Asal Purworejo

Ibu Megawati kini berada di barisan paling depan menghadapi harapan-harapan
rakyat yang menggunung. Gus Dur sudah tidak ada lagi untuk bisa menjadi
penangkal petirnya Ibu Megawati. Bahkan kini dapat dikatakan telah siap
untuk menjadi penangkal petir baru diantaranya Pak Hasyim Muzadi dan Pak
Hamzah Haz, maka terlihat kemenangan semakin nyata. 

Kemenangan2 itu, bukankah sudah dimulai ketika pada tahun 1997 anggota
kabinet mereka kompak "nurunin" MHS dengan rame2 mundur dari jabatan
menteri2 nya.
Lepas dari argumen orang bhw mereka mundur karena membaca situasi yang
mengharuskan demikian, kita tetap tidak pernah tahu apa yang mungkin terjadi
saat itu, kalau MHS masih merasa bisa meneruskan pemerintahannya .��

Lalu dilanjutkan dengan naiknya HBB. "Kemenangan2" itu sempat tertunda
dengan mulainya Gus Dur berimprovisasi dengan pemerintahannya, dan mulai
meninggalkan mereka2 yang mengangkat" nya jadi presiden. Memecat si ini si
itu. Tapi tetap saja, kemenangan 2x itu berlanjut dengan sukses meng -
in-efisiensi - kan pemerintahan nya GD, didukung GD nya sendiri kebetulan
memang ... .bla bla �.. Lalu sekarang. Koalisi mereka dengan  partai
pemenang pemilu....

Kita boleh bilang Pimpinan NU sukses mengangkat Ibu Mega hingga bisa
diterima semua pihak, menyatukan nasionalis dan hijau, dengan menjadikan NU
menjadi "mitra",  saya lebih suka bilang : Selamat tinggal kembali orba. 
Benci melihat kalian Orba yang harus membereskan masalah2 yang kalian
timbulkan sendiri.
Untuk kemarin beberapa orang Orba terlibat dalam pemerintahan karena Sayang
sekali tidak ada pilihan lain. Karena kalian orba tidak akan membiarkan
orang lain membereskannya. Atas alasan apapun. Saudara2, kita harus
realistis, negara ini, sudah dianggap milik mereka... orba, untuk itu kita
harus berjuang sekuat tenaga dan pikiran dan daya untuk kemenangan Ibu
Megawati atau kita akan habis.

Mereka ..orba�..menganggap dan menciptakan "Di dunia yang meterialistis, 
kita cuma perlu material untuk menang...." karena mereka menciptakan image
seperti itu�.untuk mendapatkannya sesuai engan kekuatannya. Kita harus
hentikan mereka orba dan ciptakan ...........Menuju Indonesia yang
Demokratis dan Berkeadilan............ melalui tangan ibu Megawatidan Kyai
Hasyim Muzadi.

Para Ulama pesantren yang berkumpul di Jateng sudah tegas mengatakan, bahwa
isu gender yang dikaitkan dengan agama itu adalah lebih pada memakai agama
untuk kepentingan politik. Berarti, memakai isu tersebut belum bias
dikatakan "sesuai dengan ajaran agamanya". Dan yang sangat jelas: isu itu
bertentangan dengan demokrasi. Dan sekarang dalam perkembangannya melalui
media mereka semakin kebablasan. Kalau pakai isu agama boleh tapi kalau
bikin jap jempol tidak boleh. Bagi saya, keduanya tidak boleh dilakukan.
Biarkan saja demokrasi bekerja. Sebab bila demokrasi bekerja, kita tidak
mempolitisasi agama dan karena itu, tak perlu juga bikin jap jempol.

Masuk akal, Terus terang argument saya diatas sangat bagus dan bisa diterima
kan?. Dalam Konteks demokrasi di Indonesia, tentunya apa yang terjadi di
Negeri sono nggak akan bisa di telan bulat-bulat oleh bangsa Indonesia.
Ingat, mau-tidak mau Indonesia masih dalam proses demokrasi. Demokrasi,
Semua orang bebas punya pendapat sendiri-sendiri asal sesuai aturan
demokrasi itu sendiri dan UU yang berlaku. Amerika telah memulai proses
demokratisasi lebih lama dan dikenal sebagai salah satu kiblat demokrasi.
Namun demikian, masih ingat kasus Carter ketika naik menjadi Presiden. Ia
yang dijuluki sebagai petani kacang dan lemah dalam berhadapan dengan blok
Timur pada saat itu toh dipilih oleh rakyat Amerika. Pemilihan presiden
bukan akan menjadikan negeri ini kiamat. Ia bukan seorang figur yang bisa
malang melintang seenaknya, namun harus memimpin sebuah koalisi intern
organisasi pemerintahan yang terkendali. 

Penolakan terhadap Ibu Mega oleh PKB dengan alasan GENDER (Karena
perempuan), jelas bertentangan dengan aturan demokrasi dan UU yang berlaku,
tapi sebagai negara yang menghormati dan melindungi agama orang yang
memunculkan isu gender tidak bisa disalahkan karena itu sesuai dengan ajaran
agama walau diplintir-plintir, karena itu membutuhkan kecerdikan kita dalam
menyikapinya.
Terhadap dukungan mengerikan terhadap Ibu Mega, Cap Jempol Pake Darah,
tentunya sangat bertentangan dengan prinsip demokrasi, Intimidasi namanya.
Bayangkan kalau pendukung Wiranto melakukan hal yang sama, jadinya PERANG
barangkali, untuk itu kita harus tahu posisi kita.

Gelombang dukungan terhadap Ibu Mega semakin mengental,
bahkan seolah
merupakan gelombang balik yang menderas berseberangan dengan gelombang yang
baru saja dihempaskan, yang menggunakan sejumlah isu untuk menghantam Ibu
Mega sebagai calon Presiden. Mari Jika kita bangun pagi, sempatkan untuk
mendengar sejumlah kuliah subuh yang dipancarkan melalui stasiun teve, maka
penerimaan sosok Mega sebagai calon presiden seolah 180 derajad dibanding
yang beredar di interen PKB dengan mengangkat issue Gendernya, dengan isu
agamanya itu. Selain itu, sejumlah suara di kalangan politikus pun sudah
mulai menunjukkan sikap apa yang akan mereka ambil untuk mendukung  saat
berada di DPR/MPR nanti.

Secara umum mereka para politikus, Kaum agamawan, dan tentunya masyarakat
bawah Indonesia bisa menerima Ibu Megawati. Bahkan Hampir bisa dipastikan
sepertiga lebih anggota Golkar akan menyerahkan suaranya kepada
PDI-Perjuangan.
Juga para anggota PPP. Mereka pasti lebih memilih untuk lebih bersiap diri
menghadapi tantangan pelpres depan, dibanding harus mengorbankan waktu dan
citranya untuk sebuah pelpres yang sudah ketahuan hasilnya seperti saat ini..
Terlalu memperpanjang ribut tak bisa merubah urutan pemenang dan menghalangi
capres pihak lawan untuk hadir di majelis. Seperti pernah saya sampaikan
sebelumnya, bahwa bagaimanapun, yang namanya bola sudah dilempar. Seharusnya
Semua sudah sepakat untuk melaksanakan pilpres, tanpa ada prasyarat apa-apa,
seperti soal gender, serta strata pendidikan.

Ingat Presiden2 Indonesia terdahulu tanpa issue gender dan starata
pendidikan, yang penting apa yang dilakuan: Presiden Pertama (Soekarno) :
Menyiapkan dan memasak masakan-masakan bagi rakyat Indonesia. Presiden Kedua
(Soeharto): Menikmati masakan-masakan tersebut dengan lahapnya untuk dirinya
sendiri beserta keluarga dan kroninya. Presiden Ketiga (B.J. Habibie) dan
keempat (Abdurahman Wahid): Begitu ditinggalkan Soeharto cs, dianya sendiri
tidak tapi temen2nya dan badal2nya mencoba menghabisi sisa-sisa makanan yang
ditinggal.
Presiden Kelima (Ibu Megawati): Mulai membersihkan sisa-sisa makanan yang
ditinggalkan. Mengumpulkan piring2 kotor dan mulai membersihkannya. Banyak
orang yang takut ketahuan siapa saja yang membuat piring2 itu kotor,
berupaya membuat Presiden Kelima ini tidak bisa melanjutkan pekerjaannya.
Maka piring2 yg masih kotor itu pun tetap harus dibersihkannya dengan segala
keterbatasan yang ada. Presiden Keenam nanti (Ibu Megawati): Sudah teruji
dan terbukti  kemampuanya untuk melanjutkan pekerjaan membersihkan piring2
kotor yang belum selesai, karena kalau yang akan menjadi Presiden nanti
Wiranto atau Susilo 
pasti justru pelindungi pelaku-pelakunya, kolaborasi
dengan mereka, atau menambah jumlah piring kotornya, ingat kasus BNI atau
Tomi Winata mereka menjadi cukong untuk siapa?.
kiriman [EMAIL PROTECTED]



__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70
http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke