Dear friends,

Menarik ucapan Syafii Maarif ttg godaan politik bagi para cendekiawan. soalnya skrg 
ini banyak kalangan intelektual muda yg lagi naik daun pada jadi "mucikari" para 
politisi: ada yg jadi tim sukses capres tertentu; ada juga yg jadi tukang buatin 
artikel tokoh2 tertentu yg namanya ingin tampil di kolom2 opini media tanah air, dll.

ttg kalangan intelektual muda tukang buatin artikel bapak2 pejabat/politisi ini saya 
baru tau dari bisikan seorang diplomat kbri new delhi. bapak ini menyebut mereka 
sebagai "pelacur intelektual".

anyway, selamat menikmati hari yg panas ini (di india). di indo lagi hujan nggak ya?
(razi, riau)


Cendekiawan, Godaan dan Pilihannya

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0406/22/opini/1098294.htm

KEMBALI terdengar peringatan yang bisa ditafsirkan sebagai melawan arus. Peringatan 
itu dilontarkan oleh Prof Achmad Syafii Maarif, Ketua Umum PP Muhammadiyah, di depan 
Rapat Koordinasi Nasional Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia di Semarang.

Dia menegaskan, seorang cendekiawan hendaknya tidak menjadi mesin politik tertentu, 
karena jika sudah demikian, ia akan sulit menjaga independensinya. Politik itu 
cenderung memecah masyarakat atau kelompok dan perpecahan merupakan pemusnahan 
nilai-nilai persaudaraan. Karena itu, cendekiawan juga bertindak sebagai pendakwah 
karena dakwah akan merekatkan bangsa.

Karena prinsip itulah, sebagai institusi Muhammadiyah tidak akan mendukung capres mana 
pun termasuk Amien Rais. Yang didukung oleh Muhammadiyah adalah komitmennya untuk 
menuntaskan reformasi. Pernyataan itu mudah ditafsirkan sebagai rancu. Tetapi disertai 
ketulusan dan sikap prinsipiil pengagum Bung Hatta itu, kiranya orang dapat 
menafsirkan secara benar dan membuat distingsi secara kritis.

Sebab adalah benar, cendekiawan yang independen bukannya lantas tidak mempunyai 
prinsip dan tidak pula tiada membedakan mana yang benar, adil, pantas, seharusnya 
dengan ukuran pokok kesejahteraan rakyat. Seorang cendekiawan tidak memihak orang, 
melainkan memihak prinsip.

KITA menangkap apa yang merupakan latar belakang, pertimbangan, dan casus belli 
peringatan Prof Syafii Maarif. Dalam waktu belakangan, terutama menjelang Pemilu 2004 
untuk caleg dan kemudian untuk capres dan cawapres, tampil sejumlah kasus yang 
dikhawatirkan berkembang sebagai fenomena. Yakni fenomena atau gejala berasosiasinya 
sejumlah cendekiawan ke dalam politik praktis.

Beberapa terlibat aktif membangun parpol. Beberapa lagi kemudian juga bergabung dalam 
tim sukses pasangan capres dan cawapres secara resmi maupun secara tidak resmi. 
Beberapa memberikan kesan menyediakan diri disertakan dalam kekuasaan hasil pemilihan 
presiden.

Semua itu tidak begitu salah, bahkan juga tidak begitu aib atau mendegradasi, apalagi 
dilihat dari konteks Indonesia dewasa ini. Namun, suatu isyarat dan peringatan yang 
bermaksud baik toh memang patut dan perlu dilontarkan. Sekaligus untuk memperkokoh 
posisi kaum cendekiawan dalam masyarakat bangsa dan negaranya.

ZAMAN kita adalah masa perubahan. Bagi Indonesia secara khusus kecuali perubahan umum 
yang menimpa semua negara dan bangsa, sekaligus juga suatu perubahan yang berlangsung 
dalam kerangka reformasi. Bukan saja masa transisi, tetapi juga masa transformasi. 
Bahkan sesungguhnya kemampuan dan kemauan melakukan transformasi itulah yang 
menentukan, reformasi itu akan berhasil atau tidak.

Tidaklah selalu beritikad negatif atau netral ketika cendekiawan di negara sedang 
berkembang terjun pula dalam gelanggang politik praktis. Misalnya kenapa mendirikan 
parpol? Mungkin karena berpendapat akan lebih cepat mewujudkan cita-citanya sebagai 
cendekiawan lewat jalur politik, bahkan dengan mendirikan parpol.

BAHKAN bukankah proses itu yang pernah terjadi dalam sejarah bangsa kita, yakni semasa 
zaman pergerakan dan semasa zaman perjuangan kemerdekaan. Para pendiri dan bapak 
bangsa dan kemudian juga pendiri dan bapak negara kita adalah sejumlah cendekiawan 
kelas dunia dalam pengetahuan, sikap, serta perilakunya. Sebagai kelanjutan komitmen 
dan perjuangannya, mereka juga terjun dalam politik. Politik kebangsaan dan kenegaraan 
dan kemauan juga terjun dalam politik kepartaian.

Lantas apa bedanya dengan keadaan kita dewasa ini? Perbedaan itu memang ada dan 
perbedaan itu pula yang merupakan latar belakang serta motivasi dari isyarat dan 
peringatan di atas, yakni janganlah cendekiawan ramai-ramai, begitu saja, masuk 
sebagai mesin politik pasangan capres. Apakah perubahan itu?

PERTAMA, meskipun belum setara dengan negara industri maju, kita di Indonesia juga 
telah menghasilkan perubahan. Jumlah kaum terdidik semakin besar. Berlangsung pula 
perkembangan pembagian pekerjaan dan profesi. Jumlahnya juga secara relatif cukup 
besar. Cukup besar sehingga terbuka pilihan dan jalan yang bisa ditempuh oleh warga 
yang berpendidikan bagi dirinya. Terbuka proses diferensiasi dan itulah pertanda 
perkembangan yang maju dan tercerahkan.

Di antaranya terbuka pilihan posisi dan fungsi bagi kaum terdidik di negeri kita. Di 
antaranya yang di mana-mana dicermati karena besar pengaruh dan peranannya adalah 
pilihan bagi kaum terdidik untuk memilih jalur kecendekiawanan, jalur intelektual.

Asosiasi posisi dan peranan kaum cendekiawan adalah akal sehat yang cerdas serta suara 
hati yang tulus dan komitmen untuk sejujurnya dan seoptimal mungkin menapaki jalur 
serta panggilan sebagai pengisyarat, pendakwah, pengingat.

ADA sebab kedua, mengapa isyarat dan peringatan bagi kaum cendekiawan itu relevan dan 
aktual dewasa ini. Persoalan pokok berkisar sekitar kekuasaan. Kekuasaan kemarin 
bersalah guna. Kekuasaan kemarin ber-KKN. Kekuasaan kemarin bersekongkol, di antaranya 
dengan pengusaha hitam dan marjinal.

Reformasi selama enam tahun terakhir bukan saja belum berhasil menghentikan dan minta 
pertanggungjawaban, melainkan dirasakan dan dilihat tanda-tandanya serta faktanya 
sebagai berlanjut dan menyebar.

Lewat Pemilu 2004 inilah, titik balik disepakati untuk dilaksanakan. Titik balik 
kekuasaan itu demokratis, artinya bersama rakyat, bertanggung jawab, bersih, tidak 
korup, bersendikan hukum, membangun kebijakan publik serta sikap memihak kepentingan 
rakyat.

Diperlukan kekuatan arus balik untuk mengawal dan menjaganya. Diperlukan contoh nyata 
berupa pilihan di antaranya oleh para cendekiawan untuk tidak ikut arus dalam arus 
kekuasaan, tetapi bersitegak dalam posisi cendekiawan sebagai pengisyarat, pengingat, 
pengontrol. Juga teladan bahwa meskipun berpendidikan, mereka memilih jalur serta 
peranan yang kaya oleh kontribusi intelektual dan nuraninya, meski relatif miskin 
dalam kesempatan materiil. Luar biasa godaannya karena kita hidup dalam zaman 
konsumerisme yang dahsyat.



Khairurrazi
Aligarh Muslim University
Uttar Pradesh, India

-- 
India.com free e-mail - www.india.com. 
Check out our value-added Premium features, such as an extra 20MB for mail storage, 
POP3, e-mail forwarding, and ads-free mailboxes!

Powered by Outblaze


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke