Debat Capres, Bukan Basa-basi http://www.kompas.com/kompas-cetak/0406/28/opini/1111864.htm
Oleh Yudi Latif MEMINJAM iklan sebuah perusahaan rokok, acara debat antarcalon presiden dan wakil presiden "bukanlah basa-basi". Di masa yang akan datang, tidak ada lagi GBHN yang disusun MPR. Menjadi presiden dan wakil presiden tidak lagi sekadar impian yang berbekal manipulasi dan "omong besar", tetapi kesiapan yang tercermin dalam visi yang terang dan konsep matang. Visi dan konsep mereka menentukan arah perjalanan bangsa untuk lima tahun ke depan. Itu sebabnya mengapa hal itu perlu diuji dalam perdebatan publik. DEBAT publik antarcapres dan cawapres memiliki makna strategis. Acara ini merupakan suatu institusi vital bagi proses pengujian agenda-agenda kepresidenan di masa datang. Bagi para kandidat, acara ini menyediakan wahana untuk mempertajam visi dan konsepnya. Keseriusan mereka merumuskan visi dan programnya dalam rangka menghadapi perdebatan akan memberi mereka kesiapan dan kerangka kerja jika kelak terpilih. Bagi publik pemilih, acara ini membantu mengenali kapasitas para kandidat, yang pada gilirannya akan memengaruhi perilaku pemilihan. Ada teori yang mengatakan, publik "terdidik" (well-informed) akan lebih menekankan aspek-aspek substansi (issues) yang diusung capres-cawapres, sedangkan publik "kurang terdidik" (less informed) akan lebih menekankan aspek- aspek personalitas (Martel, 1983). Perdebatan publik memberi kesempatan kepada kalangan less-informed untuk mengenali aspek kualitatif dari para kandidat sehingga membantu menciptakan perilaku pemilih yang lebih rasional. Semua itu mengandaikan, acara perdebatan itu dirancang dan dijalankan secara baik. Profesor J Jeffrey Auer (1982) menekankan, acara debat kandidat yang benar harus memiliki setidaknya empat komponen esensial: adanya konfrontasi antarkandidat, proposisi yang dinyatakan secara jelas, keterlibatan pemirsa, dan kesederajatan antarkandidat. Berdasarkan kerangka ini, kita pergoki acara-acara debat kandidat yang digelar televisi dan institusi-institusi lain selama ini tidak memenuhi persyaratan. Di kebanyakan acara yang digelar, pemandu acara tidak mendorong konfrontasi antarkandidat. Mereka dihadirkan bersama, tetapi tetap berbicara sendiri-sendiri (monolog) menurut keinginan sendiri-sendiri. Tidak ada adu argumentasi dan perdebatan tajam mengenai suatu isu yang dilontarkan. Dengan begitu, tidak ada proses pengujian dan pendalaman. Publik pemilih tidak diberi kesempatan untuk mengetahui seberapa serius dan seberapa kokoh penguasaan suatu kandidat mengenai masalah tertentu yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Kecenderungan pemandu acara untuk memelihara harmoni melanggengkan budaya politik lama yang melihat perdebatan sebagai konflik. Hal demikian tidak memberi katalis bagi proses pendewasaan dan rasionalitas politik. Perdebatan juga tidak memunculkan proposisi tertentu yang menjadi fokus kontroversi. Perdebatan dibiarkan melebar, menyajikan isu-isu umum yang menjadi klise. Tidak ada proses pengujian secara intens, bagaimana program dan strategi tiap kandidat untuk mengatasi masalah tertentu yang bersifat kritis. Tanpa fokus kontroversi, tak ada proses pendalaman. Ada iklan politik semacam ini, "Jika ingin mudah mencari kerja, pilih pasangan A" atau "Jika ingin sekolah gratis dan beasiswa sampai ke luar negeri, pilih pasangan B". Sejauh perdebatan bersifat umum, janji-janji seperti ini tidak bisa dikuliti, dipertanyakan, dan diperdebatkan. Bagi para kandidat, hal ini memberi celah untuk manipulasi atau mengumbar janji tanpa keseriusan pemikiran. Bagi publik pemilih, hal ini menyulitkan untuk mengukur kualitas dan kesungguhan masing-masing kandidat. DALAM perdebatan selama ini, pemirsa nyaris tak dilibatkan. Keterlibatan pemirsa, baik lewat suara panelis atau tanya-jawab secara langsung, tak lebih dari sekadar pelengkap penderita. Pertanyaan dilontarkan sekali tanpa ada kesempatan ulang untuk mengejar jawaban para kandidat mengenai isu yang dipersoalkan. Alih-alih melakukan pengujian terhadap kapasitas para kandidat, pertanyaan seperti ini lebih sering membantu para kandidat untuk mengelak dari kritik publik atau menjernihkan isu negatif yang melanda dirinya. Dengan begitu, panelis tidak menjadi penyambung lidah publik, tetapi pemberi legitimasi bagi janji-janji kandidat. Isu kesetaraan antarkandidat juga menjadi masalah besar. Tidak semua kandidat dihadirkan dalam perdebatan. Ada kandidat tertentu yang tidak pernah hadir dalam perdebatan. Hal ini bukan saja mengingkari hak publik untuk tahu, tetapi juga memberi privilese bagi kandidat-kandidat tertentu untuk mengelak dari pertanggungjawaban. Kandidat yang tidak mau tampil dalam perdebatan publik telah mengambil jarak dari publik, pengecut terhadap kritik publik, dan akhirnya tak memiliki kesiapan kokoh untuk menjalankan mandat perubahan. Dengan tidak dipenuhinya komponen-komponen esensial dari debat yang baik, acara-acara perdebatan selama ini tak lebih dari sekadar seremoni politik. Suatu seremoni yang menghadirkan kandidat-kandidat ahistoris, pengamat- pengamat salon, dan isu-isu klise. Seperti acara-acara sinetron picisan yang mendangkalkan, acara debat capres tak menjadi wahana yang fungsional bagi proses pencerdasan dan pendewasaan politik. Jika ada yang menggembirakan dari acara debat capres-cawapres, itu adalah fakta, acara itu mulai ditayangkan dalam jam siar utama (prime time) dengan pemasang iklan yang (relatif) banyak. Hal itu menandakan besarnya animo publik. Publik yang bersemangat sudah sepantasnya diberi suguhan yang cerdas dan pendidikan politik yang baik. MEDIA memainkan peran penting dalam pemilihan presiden langsung. Perilaku pemilih dalam pemilihan presiden akan mengalami banyak pergeseran dari kesetiaan dan partisipasi pemilih melalui partai menuju kontak langsung dengan kandidat. Lembaga-lembaga semacam infomercial, jajak pendapat, dan talk show berperan sebagai katalis antara kandidat dan pemilih. Lembaga-lembaga semacam ini memberi panduan kepada publik tentang agenda dan pilihan politik. Untuk itu, kredibilitas, keterpercayaan, dan akurasinya menjadi taruhan bagi penyehatan politik. Penjaga gawang dari institusi-institusi itu seharusnya tidak sekadar bertanggung jawab kepada perutnya sendiri, tetapi juga pada profesionalisme dan fungsinya sebagai artikulator aspirasi publik. Publik memiliki hak tahu atas kualitas para kandidat. Meluasnya publik yang tahu, membantu menciptakan rasionalitas pemilih. Tanpa rasionalitas pemilih, seperti kata Adolf Hitler, "massa rakyat yang banyak akan mudah jatuh ke tangan para pembohong besar". Yudi Latif Peneliti LIPI dan Chief Editor Majalah Kandidat Khairurrazi Aligarh Muslim University Uttar Pradesh, India -- India.com free e-mail - www.india.com. Check out our value-added Premium features, such as an extra 20MB for mail storage, POP3, e-mail forwarding, and ads-free mailboxes! Powered by Outblaze ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar. Now with Pop-Up Blocker. Get it for free! http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

