--- rehat : mengakrabi "rasa".

Manusia bukan hewan. Sebagai manusia, kita bukan sekadar memburu 
pangan-sandang-papan saja, tetapi niscaya mengembangkan talenta 
menuju "Ngesti Gusti", bahasa asingnya taqwa. Manusia telah 
dianugerahi kemampuan untuk itu.
Kita menyadari kita ini manusia sosial, warga bebrayan. Ini pangkal 
perjalanan ziarah Kautaman. Menuju keutamaan hidup bermasyarakat. 
Jadi di dunia, berpangkal dari kebutuhan si aku. Disini ada ruang-
gerak untuk mengembangkan diri, sebelum beranjak kedalam upaya 
bersama 'pembangunan materi'. Jadi bermasyarakat menjadi penerapan 
ilmu atau kawruh, materi dan rohani.
Jadi Kautaman tak serupa Kanoragan, karena kanoragan yang diindahkan 
cuma larangan ilmunya sesuai gurunya. Kautaman bertujuan hidup 
berbudi tanpa cela di masyarakat. Jadi bukan dengan menutupi cacat 
noda dan kebanditan, namun memang meraut manusia utama.
Tetapi Kautaman belum menilik hal kekal. Kesadaran dan menghidupi 
kekekalan bukan berpangkal dari kemampuan manusia, namun kurnia Tuhan 
semata. Kekekalan, kelanggengan, tak terbatasi matra ruang waktu 
ketakkekalan. Kosa kata para pendahulu : "Suwung Hamengku Hana". 
Penghayatan akan kekekalan bukan prestasi manusia, namun rahmat 
ilahi. 
Langkah pertamanya : Kasukman.
Ruang geraknya masih ada segi niat tekad dan hidup bebrayan. Jadi 
walau tujuannya makin menghayati kekekalan, namun dalam kenyataan 
rohani sesehari belum terlalu terpisahkan. Tata hidup bermasyarakat 
masih berlaku, pepacuhing Tuhan juga jelas dijauhi, tetapi tiada 
larangan khusus guru-murid. Yang ada Tuhan dan insan. Manusia 
merohani bila ia mesra dengan Tuhan, menjauhi laranganNya, mematuhi 
perintahNya, lahirbatin tanpa harus diawasi dan di-audit orang. Dia 
sanggup menghayati "Siting Gusti", kehadiran Tuhan dimanapun 
kapanpun, tujuannya semata ke arah lukar/lepas dari 'busana Jalmi' 
menuju 'busana Jati'. Budi manusia membimbingnya terus kearah 
kemurnian jiwa, kebaikan, keluhuran. Kemampuan budi itulah kurnia 
Tuhan bagi manusia. Tanpa budi maka lenyaplah akhlak. Bergaya hidup 
rohani tanpa budi ibarat mau suci tanpa mengindahkan negara, 
masyarakat, sesama ('liyan', Others). 
Manusia itu sejatinya mampu menggunakan akal (misal pemahaman eksak), 
rasa-hati ('abstrak') dan budi (hal kekekalan). Di alam 'kadriyan' 
fana ini, bila manusia mengabaikan budi, maka akan terjerembab 
kedalam nafsu angkara "hangga"-nya. Tanpa budi, mustahil kita 
memahami kemurnian dan keluhuran, dan itu salah satu keindahan 
kehidupan. Lantaran berbudi, manusia dapat 'Ngesti Gusti' yang 
merupakan tujuan mulia hidupnya. (bersambung 3)













------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70
http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke