Rekan2 milis,

Ada sesuatu yg agak sedikit mengganjal di hati saya. Yaitu ttg 
cendekiawan yg bersikap partisan: mendukung partai tertentu atau 
terjun ke dunia politik.

Konvensi umum selama ini, cendekiawan itu harus netral. Dia harus 
jadi bapak bangsa, jadi mentor dunia nurani. Tapi di sisi lain, 
mereka juga need to make a living. Yg dalam konteks indonesia agak 
sulit kalau sekedar jadi dosen (dosen umumnya cuma bergaji AS$ 
100/bulan). Ini berbeda dg mereka yg di negara maju, misalnya.

Menurut Anda2 di milis ini, apakah konvensi umum agar intelektual 
harus tetap netral/non partisan itu masih realistik pada era sekarang?
Saya tunggu komentarnya.

salam,




Rabu, 30 Juni 2004,
Cendekiawan di Balik Capres-Cawapres
http://www.jawapos.com/index.php?act=detail_c&id=115603

Oleh Imam Cahyono *
Pemilu 2004 diramaikan oleh maraknya kaum cendekiawan di balik capres-
cawapres. Ada yang secara terang-terangan mendukung capres tertentu 
dan ada pula yang malu-malu kucing, alias sembunyi-sembunyi. Mereka 
juga ramai menghiasi media massa dengan berbagai tulisan, analisis, 
dan ulasan politik. Tentu saja isinya untuk kepentingan politik 
tertentu.

Sejumlah nama cendekiawan tercantum sebagai tim kampanye capres 
(Kompas, 10/6/2004). Di kubu Megawati-Hasyim Muzadi, ada Sonny Keraf, 
mantan menteri lingkungan hidup dan pengajar di Universitas Atmajaya. 
Di kubu Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla dicantumkan nama Marwan 
Mas (dosen Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin), S. Budhisantosa 
(dosen UI), Irzan Tandjung, Musa Asy'arie, dan Astrid Susanto. 

Di kubu Wiranto-Salahuddin Wahid tercantum nama Happy Bone 
Zulkarnaen, Mahfud M.D., atau Umar Juoro. Di kubu Hamzah Haz-Agum 
Gumelar terdapat nama Qomari Anwar dan Laode M. Kamaluddin. 

Di kubu Amien Rais-Siswono Judo Husodo, cendekiawan yang menjadi tim 
kampanye pasangan ini adalah Abdul Munir Mulkhan, Ahmad Watik 
Pratiknya, Dawam Raharjo, Muhammad Surya, Muslimin Nasution, Yahya 
Muhaimin, Bambang Sudibyo, Rizal Sukma (CSIS), Didiek J. Rachbini, 
dan Drajad Wibowo (Indef). 

Sejumlah cendekiawan terang-terangan mendukung capres tertentu dan 
ada juga yang membantahnya sembari berdalih, namanya telah "dicatut". 
Selain mereka yang secara terang-terangan namanya tercantum, di 
sekeliling capres-cawapres juga bertebaran cendekiawan yang menjadi 
tim sukses. Nama mereka cenderung disembunyikan, tapi toh akhirnya 
ketahuan juga. Publik tidak mudah dibohongi. 

Sejumlah institusi juga "diduga" menjadi think-thank, pendukung 
sekaligus tim sukses capres tertentu. Freedom Institute yang dipimpin 
Rizal Mallarangeng, diisukan santer berdiri di belakang Megawati. 
Denny J.A. dengan Lembaga Survei Indonesia (LSI) dikaitkan erat 
dengan SBY lantaran lembaga ini selalu mengunggulkan SBY dalam setiap 
hasil surveinya. Masih banyak lagi yang lain. 

Bagi yang mendukung dan memilih masuk politik praktis alasannya tak 
lain untuk melakukan dan mewujudkan perubahan, ingin membangun kultur 
politik yang lebih baik. Mereka mengaku merasa lelah mengkritik, 
tetapi tidak pernah didengar pemerintah sehingga memutuskan masuk ke 
dalam sistem. Ada juga yang beralasan, akan lebih cepat mewujudkan 
cita-citanya sebagai cendekiawan melalui jalur politik, bahkan dengan 
mendirikan partai politik. 


Pengkhianatan 

Sebaliknya, sebagian kaum cendekiawan -yang menganut mazhab Julien 
Benda- menuduh kelompok cendekiawan yang menjadi mesin politik 
kekuasaan telah melakukan pengkhianatan. Mereka tidak hanya 
berkhianat atas kecendekiaan dan komitmen kecendekiawanannya, tetapi 
juga telah melacurkan diri demi kepentingan kekuasaan. 

Hal itu terjadi terutama tatkala mereka menggunakan ilmu pengetahuan 
dalam setiap analisis dan komentar politiknya, untuk kepentingan 
politik tertentu. Sulit dipungkiri, mereka kerap menggunakan kerangka-
kerangka ilmiah untuk memberikan justifikasi terhadap kepentingan-
kepentingan politik dan tujuan-tujuan politik tertentu. 

Padahal, seorang cendekiawan semestinya -meminjam istilah Azyumardi 
Azra- menjadi moral oracle (orang bijaksana penjaga moral) sekaligus 
menjadi penyambung lidah rakyat untuk menyampaikan prinsip-prinsip 
moral. Bukannya mereka malah mengemukakan sebuah analisis tetapi di 
balik analisisnya tersebut tersembunyi kepentingan-kepentingan 
politis tertentu. Seharusnya kaum cendekiawan mampu mengambil jarak 
dari proses-proses politik yang ada. 

Seorang cendekiawan maupun lembaga pendidikan tidak sepantasnya 
menjadi mesin politik dan terlibat dalam dukung-mendukung capres. 
Cendekiawan harus berdiri di tengah, tidak partisan. Dia seharusnya 
menjadi suara moral bagi masyarakat, bukan justru terlibat dalam 
politik kekuasaan. 

Alasan sebagian cendekiawan yang hendak melakukan perubahan di dalam 
kinerja sistem (baca: penguasa) tentu bukan hal yang mudah. Sangat 
mungkin para cendekiawan akan mengalami kegagalan jika masuk ke 
pusaran politik kekuasaan. Lazim diketahui, gagasan kaum cendekiawan 
sering terlalu abstrak sehingga sulit dipahami publik. Kemampuan 
cendekiawan dalam hal manajemen politik juga sangat lemah. Mereka 
tidak terlatih dalam manajemen politik yang kerap terlalu kompleks, 
rumit, dan cenderung manipulatif. 

Dalam proses-proses manipulatif itu, cendekiawan kerap kehilangan 
integritas kecendekiaannya. Alih-alih ingin menjadi motor perubahan, 
tapi sebaliknya, kaum cendekiawan dapat terjerembab dalam politik 
kekuasaan, bersekutu dengan kekuasaan, dan akhirnya menjadi budak-
budak kekuasaan (servant of power). 

Maka, kaum cendekiawan hendaknya tidak menjadi mesin politik 
tertentu. Sebab, jika sudah demikian, dia akan sulit menjaga 
independensinya. Semua orang tahu, politik itu cenderung memecah 
masyarakat atau kelompok dan perpecahan merupakan pemusnahan nilai-
nilai persaudaraan. Cendekiawan tidak memihak orang per orang, 
melainkan memihak prinsip-prinsip kemanusiaan. 
* Imam Cahyono, aktivis Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah 
(JIMM), peneliti al Maun Foundation, Jakarta.







------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70
http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke