Mantra dari Gunung: "Mak Susu Mak..."
(Kompas, Minggu 4 Juli 2004)
SPIRIT rakyat gunung yang kampungan, norak, ndesit,
urakan, di manakah bisa terekspresikan dan siapakah
bisa mengotak-atiknya ketika dia menemukan habitatnya
yang tepat? Ketika dedemit atau roh penjaga gunung
telah masuk merasuki para warok, para lelaki gagah itu
sontak menjadi jemawa, merokok tembakau yang dicampur
bubuk kemenyan, dan teman-teman sekelilingnya
berdatangan mengajak bersalaman untuk memperkenalkan
diri pada roh yang rawuh (datang). Ini adalah kesenian
roh, yang secara spiritual membebaskan rakyat gunung,
sementara secara sosial memperlihatkan problem aktual:
dunia kontemporer termasuk dinamika politik elite
sebenarnya selalu secara diam-diam direspons secara
sarkastik oleh rakyat yang banyak menyimpan
kekecewaan.
Tak kalah mistiknya dibandingkan dengan para warok
lelaki tadi, adalah para warok wadon (warok
perempuan), yang beraksi dengan menunggang kuda
kepang. Mereka melakukan gerakan sederhana yang
polanya terus berulang-ulang, sama sebangun dengan
musik yang mengiringi mereka yang bersifat ritmik
berupa pengulangan bunyi sederhana. Di situ terus
menggema suara seperti mantra, yang kalau didengar
dengan saksama ternyata bisa terasa "sarkastik" bagi
kuping orang kota. Kata- kata yang terus diucapkan
berulang-ulang itu bunyinya: "Mak, susu mak, mak susu
mak..."
Pada kesempatan lain muncul musik dari Yayat
Suhiryatna dengan kelompok Golden Water Gunung Slamet.
Jangan buru- buru mengasosiasikan kata "Golden Water"
dengan sesuatu yang elite. Kata "Golden Water" itu
bahasa Inggris dari Banyumas, karena kelompok ini
mengklaim berasal dari Banyumas, sebuah kabupaten di
Jawa Tengah di kaki Gunung Slamet. Suara mereka
sember, laras melodinya dibikin melenceng, dan semua
lagu (lagu ciptaan mereka sendiri) dibawakan oleh para
penyanyi atau vokalis mereka dengan gaya jungkir balik
tak keruan.
Emha Ainun Nadjib yang sore itu berkesempatan muncul
bersama kelompok Kyai Kanjeng-nya, akhirnya kepada
khalayak yang berjubel dari anak-anak sampai orang
tua, warga gunung, masyarakat desa, kota kabupaten
sampai kota besar, berpesan: "Kalian tahu abjad Jawa,
ha-na-ca-ra-ka, da-ta-sa-wa-la, pa-da-ja-ya- nya,
ma-ga-ba-ta-nga?" Khalayak berseru: "Tahu...." Lanjut
Emha, "Sekarang itu diganti, menjadi datasawala,
padakoploa, manggamodara..." Kata-kata budayawan itu,
kalau diterjemahkan secara bebas artinya kurang lebih:
beramai-ramai makin bodohlah kalian, dan silakan
mati....
Khalayak terdiri dari anak-anak tua muda
lelaki-perempuan tertawa. Entah apa yang mereka
tertawakan. Mungkin mereka menertawakan diri sendiri,
berikut kebodohan zaman ini. Bisa juga mereka tertawa
melihat berbagai ekspresi kesenian zaman ini, termasuk
produksi dan reproduksi citra di televisi, yang sesuai
sifatnya adalah sesuatu yang maya, tidak nyata,
instrumen efektif untuk "bohong-bohongan".
Siapa pun tidak dapat terbebas dari usaha dan strategi
pencitraan diri di zaman ini. Beberapa kelompok
kesenian rakyat di situ sebelum tampil juga menyerukan
orasi, menggugat kekuasaan dan mempertanyakan mengapa
rakyat seperti mereka tetap miskin. Meskipun ucapan
mereka sering "tidak nyambung", tetapi mereka bisa
berseru dengan kosa kata semacam "kekuasaan",
"penindasan", atau yang lebih canggih sedikit dengan
kosa kata "eksploitasi", "hegemoni", dan seterusnya.
Kelompok miskin perkotaan yang tampil di situ,
misalnya, memunculkan acara semacam folk song,
menyanyi beramai-ramai dengan iringan gitar,
melukiskan betapa sengsaranya orang seperti mereka
hidup di kota (besar). Para pendengarnya, orang-orang
desa, ada yang berbisik-bisik dan bersungut-sungut,
"Siapa suruh kalian ke kota...."
Khalayak desa dan gunung itu tertawa barangkali memang
menertawakan diri sendiri karena cara melihat problem
kehidupan (seperti soal kemiskinan tadi) secara kenes
sebenarnya sudah merata, dari kota sampai desa dan
gunung-gunung, dari kalangan elite sampai ke kalangan
yang menyebut diri kaum miskin perkotaan sampai para
petani.
Tak ada lagi manusia yang secara autentik merumuskan
persoalan hidupnya sendiri. Semuanya terbawa retorika
besar yang sedang trendyi. Oleh karena itu, mereka
tertawa, ketika Emha mengatakan, "...makin bodohlah
kalian, silakan mati (sekalian)."
PADUAN antara totalitas ekspresi kesenian rakyat
sampai tingkat kesurupan, kekhusyukan doa, kesablengan
musik-musik rakyat di desa-desa, hingga ke kekenesan
kalangan aktivis dengan pidato-pidatonya, itulah yang
terjadi pada Festival Gunung se-Jawa I yang
berlangsung sebulan penuh, dari tanggal 1 Juni sampai
30 Juni 2004 di Studio Mendut, Magelang, Jawa Tengah,
tempat kediaman seniman Sutanto dan istrinya, Mami
Kato, beserta tiga anak mereka Shiki, Shaka, Shuko.
Dalam catatan Sutanto dan teman-temannya yang
menyelenggarakan acara ini, tak kurang 600 seniman
ambil bagian dalam acara ini. Mereka terdiri dari para
seniman rakyat dari Gunung Merapi, Merbabu, Sumbing,
Slamet, jaringan Urban Poor Consortium (UPC),
kelompok-kelompok kesenian profesional, sampai ke
kalangan intelektual dan pejabat taruhlah nama-nama
seperti Prof Eko Budihardjo (Rektor Undip), Andy
Siswanto (arsitek, perencana urban), Darmanto Jatman
(seniman, dosen), Mardiyanto (Gubernur Jateng), juga
Emha Ainun Nadjib tadi. Sebagian besar acara
berlangsung di halaman belakang Studio Mendut, tanah
tak seberapa luas di tabir sungai. Selain itu, ada
pula acara yang berlangsung di Gejayan Merbabu dan
Krandegan Sumbing.
Mungkin inilah forum dan panggung paling kena bagi
kesenian rakyat. Kebanyakan, kesenian rakyat tampil di
panggung, di pendopo, di forum-forum di hadapan
pejabat, yang menghilangkan naluri dan spirit
kerakyatan kesenian tersebut. Kesenian rakyat menjadi
krida atau olah tubuh yang dangkal, tanpa gereget,
tanpa roh, membosankan.
Sebaliknya, di Studio Mendut tadi, sampai kesenian
rakyat yang telah mentransformasi menjadi kesenian
"adiluhung" seperti wayang kulit pun, di situ menjadi
"liar" lagi. Oleh Eko Budihardjo, festival ini
disebutnya sebagai fenomena "glokalisasi". Apa yang
terjadi di Mendut adalah arus balik go global menjadi
go local.
ORANG berbondong-bondong ke situ. Dari anak-anak
sampai orang tua menyatu. Penonton berbaur dengan
pemain, dengan para pengisi acara yang menanti giliran
tampil. Ada yang makan jagung bakar, singkong rebus,
merokok, dan lain-lain. Wanita-wanita ada yang
ber-jeans, ber-t-shirt, memakai baju "Shanghai Look"
cantik seperti perupa Arahmaiani, ada pula yang cuma
berdaster seperti ibu-ibu tetangganya Sutanto.
Di akhir acara, Rabu (30/6), festival ini mengeluarkan
pernyataan dan seruan gunung. Tiga ribu lebih warga
gunung ditambah tokoh masyarakat, dosen, mahasiswa,
wartawan, anak jalanan, dan pengamen menandatangani
pernyataan dan seruan itu.
Salah satu bunyi pernyataannya, kesenian rakyat adalah
fondasi kebudayaan sejati Indonesia. Sedangkan
festival kesenian rakyat adalah ekspresi artistik dan
reinterpretasi rakyat terhadap simbol-simbol, ide,
tradisi, dan globalisasi. Ia juga instrumen yang
efektif untuk membangun aset sosial, budaya, dan
ekonomi rakyat. Oleh karena itu, strategi kebudayaan
harus digeser dari gedung-gedung mewah ke pemukiman
masyarakat, dari hotel-hotel dan pendopo ke pantai dan
gunung-gunung, dari dominasi birokrasi ke otonomi
komunitas, dari pusat elite yang artifisial menuju
ragam hayati inter-lokal dan lingkungan yang esensial.
Seruan mereka, pertama mengajak kita bersama
mewaspadai gerak-gerik kekuasaan, keserakahan, dan
kemunafikan, agar tidak terjebak akibat kebodohan dan
kepasrahan yang fatal. Kedua, mengajak kita bersama
berhati-hati dari segala rekayasa ekonomi dan politik,
figur-figur publik yang tak satu pun memberikan bukti
sejarah peradaban, baik dalam konteks pemilu maupun
keseharian kita. Ketiga, mengajak kita bersama
bergerak dan menggerakkan kebudayaan atas nama
nilai-nilai yang otonom, agar tercapai kesejajaran
sebagai kesatuan holistik dari mana pun berasal dan di
mana pun berada. (BRE)
__________________________________
Do you Yahoo!?
New and Improved Yahoo! Mail - Send 10MB messages!
http://promotions.yahoo.com/new_mail
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/