Salam, Bang Letug,
Kemaren malam (17/7), di KBRI New Delhi diadakan pertandingan Catur, salah satu cabang pertandingan yang diadakan di KBRI New Delhi dalam rangka menyambut HUTRI ke-59. Pd malam itu, hampir semua warga Indonesia (mulai dari Bpk Dubes, staf KBRI, ibu-ibu Dharma Wanita Persatuan, mahasiswa/i, pelajar hingga anak-anaknya pada staff KBRI) di New Delhi dan sekitarnya ikut berkumpul di Wisma Duta KBRI New Delhi tersebut. Pertandingan Catur yang diiringi oleh musik yang dimainkan oleh segerombolan anggota "Band Tanpa Nama" tersebut ikut pula menyemarakkan kegiatan di malam itu hingga tanpa terasa Dubes pun ikut bertahan di ruangan Wisma Duta hingga pukul 11 malam. Karena memang acara kumpul seperti ini adalah informal, maka Bapak Dubes pun memilih untuk duduk di kursi bagian belakang saja. Apalagi, sepertinya Bpk. Dubes mencari tempat duduk yang lebih strategis untuk menyaksikan pertandingan Catur dan pemain-pemain musik "Band Tanpa Nama" tersebut. Saya yang melihat Bpk Dubes duduk asyik itu, seraya bertanya menawarkan minuman, "Apakah Bpk ingin teh atau kopi"? Beliau seperti biasa menjawab, "Air Putih aja, Zam." Maka sayapun membawakannya segelas air putih. Kembali ia bertanya, "Nggak ikutan nyanyi, Zam." Saya katakan, "Saya akan membawakan lagu Melayu aja ntar Pak, tapi nanti aja setelah jam 11. Soalnya kalo sekarang saya yang nyanyi, bisa tidur semua pemain." Bapak Dubes pun nyengir. Saya yang sempat cerita panjang lebar dengan Dubes malam itu, hanya berkisah seputar rencana Musyawarah Tahunan Anggota (MTA) PPI India dan rencana Diskusi seputar "Diplomasi" dan "Pendidikan" yang akan menghadirkan Bpk Dubes sendiri sebagai pembicara tentang masalah "Diplomasi" dan seorg tokoh pendidikan India pula yang akan menjadi pengupas masalah "Pendidikan" tersebut. Dan Bpk Dubes sendiri menyambut baik rencana ini. Ada satu hal yang saya ingin katakan yaitu bila para pejabat Indonesia itu bisa memperlihatkan dirinya sebagaimana yang ditunjukkan oleh Dubes India ini, maka besar harapan kita Indonesia akan menjadi negara yang terhormat. Disini, bukan berarti saya ingin memuji Duta Besar untuk India, Tidak. Tapi, memang Dubes India kali ini benar-benar orang yang bisa memposisikan dirinya. Kapan ia sebagai Dubes dan kapan pula ia bersikap sebagai rakyat biasa. Nah, dalam cara yang informal semacam inilah saya dan rekan-rekan yang lain, biasanya banyak berbagi cerita dengan Bapak Duta Besar. Berbeda dengan Dubes sebelumnya, ia baru merakyat menjelang ia akan mengangkat kopernya untuk kembali ke Indonesia karena memang masanya untuk menjabat sebagai Dubes di India sudah tak ada lagi. Saking asyiknya bercerita di malam itu, akhirnya Bpk Dubes baru meninggalkan ruangan pada jam 11.00. Setelah itu, barulah saya memegang microphone untuk membawakan lagu "Cinta Hampa" dan "Bunga Seroja". Eh, ternyata benar, baru saya menyebutkan judul lagu yang akan saya bawakan, para hadirin serempak bersuara, "Uuuuuuuuu ....... ." Pertanda mereka belum siap untuk tidur...hehehehe. Akhirnya, saya memutuskan bahwa saya tak akan bernyanyi di malam itu. Hanya lagu "Cindai" Siti Nurhaliza saja yang dibawakan. Itupun dibawakan oleh seorg gadis kecil yang katanya nanti akan memilih menjadi seorg penyanyi handal. *** Bang Letug..., bila di negara anda saat ini, sikap Bpk Dubesnya sama seperti sikap Bpk Dubes RI utk India, maka saya yakin bahwa ia akan mengajarkan bagaimana ttg tingginya nilai sebuah Paspor. (apa hubungannya dgn lagu "Cinta Hampa" ya? hehehe...) Wassalam, IzaM - --- In [EMAIL PROTECTED], Tangkisan Letug <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > PASPOR DAN KEINDONESIAAN KITA > > Oleh Tangkisan Letug > > Paspor katanya milik negara > tapi ketika warganya terlunta > para pejabat lebih suka > main golf dan dansa. > > Adakah harga keindonesiaan di sana > ketika paspor warga Indonesia > dibuang begitu saja > di sebuah kantor kedutaan negeri > ternama dan super-kuasa? > Sebegitu rendahkah Indonesia > sehingga di ibukotanya sendiri > di sebuah kantor kedutaan asing > paspor itu bagai barang pesing > dibuang seperti sampah? > Katanya demi "screening" > agar tidak sembarang orang mengunjungi > negeri yang katanya anti diskriminasi. > > Kalau paspor di negerinya sendiri > dianggap barang tak berarti > hanya dihargai dengan laku korupsi > tak mengherankan orang asing pun > tak kan lebih tinggi menghargai. > > Paspor kita ternista > ketika pemimpin dan elit kita pun > masih berlaku durjana. > Negeri kita ternista > ketika rakyat kita tak pernah nyata > dianggap berharga bagi pemegang kuasa. > Keindonesiaan kita terluka > ketika para calon pemimpin kita > masih suka mengumbar dusta > menginjak-injak rakyat miskin papa. > > Tapi saatnya akan tiba > rakyat menghukum pemimpinnya > dengan caranya yang tak terduga. > > 17 Juli 2004 > ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar. Now with Pop-Up Blocker. Get it for free! http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

