Salam, Bang Letug,
Terima kasih kembali atas pencerahannya. Dan saya merasa bahwa interakasi semacam ini akan menambah sekaligus membuka wawasan kita dalam rangka mewarnai kehidupan kita dalam berbangsa dan bernegara. Ada satu dari tulisan bang Letug yang kembali mengingatkan saya tentang kisah-kisah lama saya ketika berhadapan dengan KBRI New Delhi. Tulisan bang Letug tersebut adalah: "Ada sebuah KBRI yang malah seperti tempat pameran mobil-mobil mewah, seakan Indonesia itu memang negara yang "kaya-raya" sebagai dunia nirwana, seakan-akan korupsi dan kemiskinan rakyat di negerinya sudah tiada." Kala itu, saya masih menjabat sebagai "Tetua" PPI India. Dan PPI sebagai Perhimpunan Pelajar yang tak lain dan tak bukan juga merupakan warga masyarakat Indonesia di LN (India). Manakala saya "menodong" KBRI dengan mengajukan proposal permohonan bantuan dana, di sana ada satu kata dari salah seorang diplomat yang masih segar dalam ingatan saya, ia mengatakan bahwa: "Ya udah, kalian jual aja mobil-mobil di KBRI ini." Diplomat ini adalah berasal dari tanah Medan, sehingga ia berbicara tanpa basa-basi lagi dan yang menjabat sebagai Dubes kala itu adalah "dia yang baru bermasyarakat ketika ia akan kembali ke tanah air saja." Sekali lagi bukan Dubes RI saat ini. Bila ditilik secara kasat mata, benar, bahwa Indonesia bukanlah suatu negara yang miskin. Saya sepakat dengan pandangan bang Letug yang menyatakan bahwa ada KBRI yang mirip dengan sebuah arena pameran mobil mewah. Sebab pemandangan yang semacam ini juga masih bisa dilihat di KBRI New Delhi. Dan saya melihat ada sesuatu yang tidak wajar bagi seorg diplomat di KBRI, yaitu antara besarnya gaji dengan besarnya kontribusi mereka terhadap bangsa ini. Boleh dikata, para diplomat hanyalah bekerja sebagai "penggunting koran" yang kemudian dikliping dan selanjutnya ditulis ulang untuk dilaporkan kepada Deplu. Begitulah nuansa lahir yang tampak dipermukaan. Kerja tak seberapa, tapi upah yang diterima tiada taranya. Saya tak akan mengkritik, bila diplomat atau pejabat KBRI yang bersangkutan juga memiliki kontribusi yang besar dalam mengangkat citra positif Indonesia ditempat negara ia ditugaskan. Tapi, bila hanya sebatas menggunting dan mengkliping koran saja, mengapa tak dilakukan dari Indonesia saja, bukankah media-media negara setempat tersebut juga sudah dapat diakses melalui internet? Begitulah pandapangan saya untuk sementara. Akhirnya, saya juga menerima imbauan bang Letug untuk memulai membangun semangat mental anti-korupsi dari lingkungan kita yang paling kecil. Saya barangkali bisa memulai dari lingkungan saya di asrama, di kampus dan bahkan di lingkungan PPI India. Dan Bpk Dubes pun ikut memulainya dari lingkungan KBRI. Serta bang Letug pun memulainya dari lingkungan di sekitar bang Letug pula. Bila nuansa yang semacam ini bisa ditunjukkan oleh Presiden Indonesia mendatang, maka kelak, lima tahun kedepan, kita sudah tak merasa malu lagi untuk berkata "I AM INDONESIAN." Sekali lagi, terima kasih buat bang Letugdan salam hangat untuk keluarga..... Wassalam, IzaM - --- In [EMAIL PROTECTED], "tletug" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > KEPADA BUNG ZAMHASARI JAMIL > > Tabik Bung, > Pertama-tama saya ucapkan terimakasih atas tanggapannya sekaligus > juga sharing pengalaman Bung. Gambaran yang saya tangkap dalam cerita > Bung telah menarik perhatian saya untuk lebih lanjut menanggapinya. > > Apa yang saya tulis dalam baris-baris "Paspor dan Keindonesiaan Kita" > sebetulnya bermula dari kejadian di sebuah kedutaan asing di Jakarta. > Ketika seorang teman sedang meminta visa untuk berkunjung ke negara > itu, seorang petugas di sana dengan arogannya membuang paspornya. > Alasannya, paspor itu masih baru dan belum pernah pergi ke luar > negeri. Apalagi cara menginterogasi pegawai kedutaan itu sangat tidak > sopan. Pengalaman yang demikian bisa jadi tidak hanya terjadi satu > dua kali. Cara orang itu mengembalikan paspor pada pemiliknya > dengan "hanya membuang ke tempat lain" dan tidak diberikan secara > layak pada pemilikinya, bagi saya tidak hanya merendahkan pribadi > orang ybs., tetapi sudah menginjak-injak martabat bangsa. Apakah > mentang-mentang sebuah negara adidaya lalu bisa berlaku seenaknya > terhadap negeri terkorup di dunia ini? Apakah memang negeri ini sudah > tidak pantas dihormati oleh negeri asing? > > Pertanyaan-pertanyaan itu bagi saya merupakan gugatan terhadap > keindonesiaan kita. Lalu, pertanyaan itu sebetulnya juga mengena pada > bagaimana para birokrat kita sendiri memberi penghargaan terhadap > martabat bangsa. > > Saya bergembira, bahwa di kedutaan RI di India terdapat iklim yang > seperti Bung ceritakan. Penghargaan terhadap keindonesiaan itu > sesuatu yang perlu diiklimkan, bukan hanya sekedar keteladanan. > Martabat bangsa Indonesia itu sesuatu yang perlu dicintai, tidak > hanya dipidatokan. Hanya kalau kita sendiri mencintai dan menghargai > martabat bangsa, terlebih di lapisan birokrasi dalam dan luar negeri, > maka negara lain pun tentu akan memberikan respek pada keindonesiaan > kita. > > Tetapi, bagaimana orang asing bisa respek bila mengenal KBRI justru > bukan lewat aksi-aksi diplomasinya, malahan lewat bagaimana para > diplomat itu sembunyi-sembunyi mengoleksi "isteri"? Bahkan sopir- > sopir taksi pun mengenal "selera" para orang-orang berdasi dari > sebuah kantor KBRI. Ada sebuah KBRI yang malah seperti tempat pameran > mobil-mobil mewah, seakan Indonesia itu memang negara yang "kaya- > raya" sebagai dunia nirwana, seakan-akan korupsi dan kemiskinan > rakyat di negerinya sudah tiada. Ada lagi, sebuah KBRI kita yang > tampak megah dan indah dengan hiasan patung-patung. Pintu gerbang > dijaga oleh Patu Gupolo yang gagah, namun nyatanya hanya terbuat > dari "gabus" yang dicat. > > Bung Zamhasari yang baik, memanglah proses menjunjung martabat bangsa > tidak cukup dituliskan, tapi butuh dicintai. Karena mencintai bangsa, > kita perlu menjadi saksi, juga atas kebobrokan negeri. Kita perlu > menuliskannya, agar kesadaran dicipta bahwa kita tidak seperti yang > dipuja. > > Bumg Zamhasari, semakin negeri kita masuk ke dunia global ini, > semakin segala sesuatu menjadi transparan, terlebih kebobrokannya. > Dalam transpranasi global ini, kebobrokan kecil saja bisa menghapus > kebaikan yang kita bangun bertahun-tahun lamanya. Bila kebobrokan > kecil begitu kuat daya perusaknya, bayangkan kebobrokan mental yang > telah begitu menggurita di lapisan birokrasi dan diplomasi kita. > Justru dalam menghadapi transparansi global, mencintai martabat > bangsa perlu menjadi basis bagi transformasi kita dalam segala > lapisan. Atas dasar itu pula, perlu dimulai lagi pemberantasan > korupsi di birokrasi. Ingat, korupsi telah menjadi sumber kebobrokan > negeri dan penistaan diri sendiri. > > Nasionalisme baru kita tampaknya sangat perlu dipandang sebagai sikap > anti-korupsi. Hanya dengan begitu, kita perlahan bisa mengobati borok- > borok mental lainnya. Sekecil apapun, korupsi itu adalah > penggerogotan martabat bangsa sendiri. > > Marilah Bung, dalam lingkungan kita yang paling kecil, kita mulai > membangun cinta pada bangsa sendiri lewat langkah kecil. Kita bangun > semangat mental anti-korupsi, agar makin transparan pula dalam dunia > global bahwa kita pantas disebut bangsa yang bermartabat dan pantas > dihormati. > > Akhirnya, saya ucapkan selamat berkarya di tempat Anda. > > > Tangkisan Letug ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar. Now with Pop-Up Blocker. Get it for free! http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

