KEPADA BUNG ZAMHASARI JAMIL

Tabik Bung,
Pertama-tama saya ucapkan terimakasih atas tanggapannya sekaligus 
juga sharing pengalaman Bung. Gambaran yang saya tangkap dalam cerita 
Bung telah menarik perhatian saya untuk lebih lanjut menanggapinya.

Apa yang saya tulis dalam baris-baris "Paspor dan Keindonesiaan Kita" 
sebetulnya bermula dari kejadian di sebuah kedutaan asing di Jakarta. 
Ketika seorang teman sedang meminta visa untuk berkunjung ke negara 
itu, seorang petugas di sana dengan arogannya membuang paspornya. 
Alasannya, paspor itu masih baru dan belum pernah pergi ke luar 
negeri. Apalagi cara menginterogasi pegawai kedutaan itu sangat tidak 
sopan. Pengalaman yang demikian bisa jadi tidak hanya terjadi satu 
dua kali. Cara orang itu mengembalikan paspor pada pemiliknya 
dengan "hanya membuang ke tempat lain" dan tidak diberikan secara 
layak pada pemilikinya, bagi saya tidak hanya merendahkan pribadi 
orang ybs., tetapi sudah menginjak-injak martabat bangsa. Apakah 
mentang-mentang sebuah negara adidaya lalu bisa berlaku seenaknya 
terhadap negeri terkorup di dunia ini? Apakah memang negeri ini sudah 
tidak pantas dihormati oleh negeri asing? 

Pertanyaan-pertanyaan itu bagi saya merupakan gugatan terhadap 
keindonesiaan kita. Lalu, pertanyaan itu sebetulnya juga mengena pada 
bagaimana para birokrat kita sendiri memberi penghargaan terhadap 
martabat bangsa. 

Saya bergembira, bahwa di kedutaan RI di India terdapat iklim yang 
seperti Bung ceritakan. Penghargaan terhadap keindonesiaan itu 
sesuatu yang perlu diiklimkan, bukan hanya sekedar keteladanan. 
Martabat bangsa Indonesia itu sesuatu yang perlu dicintai, tidak 
hanya dipidatokan. Hanya kalau kita sendiri mencintai dan menghargai 
martabat bangsa, terlebih di lapisan birokrasi dalam dan luar negeri, 
maka negara lain pun tentu akan memberikan respek pada keindonesiaan 
kita. 

Tetapi, bagaimana orang asing bisa respek bila mengenal KBRI justru 
bukan lewat aksi-aksi diplomasinya, malahan lewat bagaimana para 
diplomat itu sembunyi-sembunyi mengoleksi "isteri"? Bahkan sopir-
sopir taksi pun mengenal "selera" para orang-orang berdasi dari 
sebuah kantor KBRI. Ada sebuah KBRI yang malah seperti tempat pameran 
mobil-mobil mewah, seakan Indonesia itu memang negara yang "kaya-
raya" sebagai dunia nirwana, seakan-akan korupsi dan kemiskinan 
rakyat di negerinya sudah tiada. Ada lagi, sebuah KBRI kita yang 
tampak megah dan indah dengan hiasan patung-patung. Pintu gerbang 
dijaga oleh Patu Gupolo yang gagah, namun nyatanya hanya terbuat 
dari "gabus" yang dicat. 

Bung Zamhasari yang baik, memanglah proses menjunjung martabat bangsa 
tidak cukup dituliskan, tapi butuh dicintai. Karena mencintai bangsa, 
kita perlu menjadi saksi, juga atas kebobrokan negeri. Kita perlu 
menuliskannya, agar kesadaran dicipta bahwa kita tidak seperti yang 
dipuja. 

Bumg Zamhasari, semakin negeri kita masuk ke dunia global ini, 
semakin segala sesuatu menjadi transparan, terlebih kebobrokannya. 
Dalam transpranasi global ini, kebobrokan kecil saja bisa menghapus 
kebaikan yang kita bangun bertahun-tahun lamanya. Bila kebobrokan 
kecil begitu kuat daya perusaknya, bayangkan kebobrokan mental yang 
telah begitu menggurita di lapisan birokrasi dan diplomasi kita. 
Justru dalam menghadapi transparansi global, mencintai martabat 
bangsa perlu menjadi basis bagi transformasi kita dalam segala 
lapisan. Atas dasar itu pula, perlu dimulai lagi pemberantasan 
korupsi di birokrasi. Ingat, korupsi telah menjadi sumber kebobrokan 
negeri dan penistaan diri sendiri. 

Nasionalisme baru kita tampaknya sangat perlu dipandang sebagai sikap 
anti-korupsi. Hanya dengan begitu, kita perlahan bisa mengobati borok-
borok mental lainnya. Sekecil apapun, korupsi itu adalah 
penggerogotan martabat bangsa sendiri. 

Marilah Bung, dalam lingkungan kita yang paling kecil, kita mulai 
membangun cinta pada bangsa sendiri lewat langkah kecil. Kita bangun 
semangat mental anti-korupsi, agar makin transparan pula dalam dunia 
global bahwa kita pantas disebut bangsa yang bermartabat dan pantas 
dihormati.

Akhirnya, saya ucapkan selamat berkarya di tempat Anda.


Tangkisan Letug


--- In [EMAIL PROTECTED], "Zamhasari Jamil" <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
> Salam,
> 
> Bang Letug,
> 
> Kemaren malam (17/7), di KBRI New Delhi diadakan pertandingan 
Catur, 
> salah satu cabang pertandingan yang diadakan di KBRI New Delhi 
dalam 
> rangka menyambut HUTRI ke-59. Pd malam itu, hampir semua warga 
> Indonesia (mulai dari Bpk Dubes, staf KBRI, ibu-ibu Dharma Wanita 
> Persatuan, mahasiswa/i, pelajar hingga anak-anaknya pada staff 
KBRI) 
> di New Delhi dan sekitarnya ikut berkumpul di Wisma Duta KBRI New 
> Delhi tersebut. Pertandingan Catur yang diiringi oleh musik yang 
> dimainkan oleh segerombolan anggota "Band Tanpa Nama" tersebut ikut 
> pula menyemarakkan kegiatan di malam itu hingga tanpa terasa Dubes 
> pun ikut bertahan di ruangan Wisma Duta hingga pukul 11 malam.
> 
> Karena memang acara kumpul seperti ini adalah informal, maka Bapak 
> Dubes pun memilih untuk duduk di kursi bagian belakang saja. 
Apalagi, 
> sepertinya Bpk. Dubes mencari tempat duduk yang lebih strategis 
untuk 
> menyaksikan pertandingan Catur dan pemain-pemain musik "Band Tanpa 
> Nama" tersebut. Saya yang melihat Bpk Dubes duduk asyik itu, seraya 
> bertanya menawarkan minuman, "Apakah Bpk ingin teh atau kopi"? 
Beliau 
> seperti biasa menjawab, "Air Putih aja, Zam." Maka sayapun 
> membawakannya segelas air putih. Kembali ia bertanya, "Nggak ikutan 
> nyanyi, Zam." Saya katakan, "Saya akan membawakan lagu Melayu aja 
> ntar Pak, tapi nanti aja setelah jam 11. Soalnya kalo sekarang saya 
> yang nyanyi, bisa tidur semua pemain." Bapak Dubes pun nyengir. 
> 
> Saya yang sempat cerita panjang lebar dengan Dubes malam itu, hanya 
> berkisah seputar rencana Musyawarah Tahunan Anggota (MTA) PPI India 
> dan rencana Diskusi seputar "Diplomasi" dan "Pendidikan" yang akan 
> menghadirkan Bpk Dubes sendiri sebagai pembicara tentang 
> masalah "Diplomasi" dan seorg tokoh pendidikan India pula yang akan 
> menjadi pengupas masalah "Pendidikan" tersebut. Dan Bpk Dubes 
sendiri 
> menyambut baik rencana ini. 
> 
> Ada satu hal yang saya ingin katakan yaitu bila para pejabat 
> Indonesia itu bisa memperlihatkan dirinya sebagaimana yang 
> ditunjukkan oleh Dubes India ini, maka besar harapan kita Indonesia 
> akan menjadi negara yang terhormat. Disini, bukan berarti saya 
ingin 
> memuji Duta Besar untuk India, Tidak. Tapi, memang Dubes India kali 
> ini benar-benar orang yang bisa memposisikan dirinya. Kapan ia 
> sebagai Dubes dan kapan pula ia bersikap sebagai rakyat biasa. Nah, 
> dalam cara yang informal semacam inilah saya dan rekan-rekan yang 
> lain, biasanya banyak berbagi cerita dengan Bapak Duta Besar. 
> 
> Berbeda dengan Dubes sebelumnya, ia baru merakyat menjelang ia akan 
> mengangkat kopernya untuk kembali ke Indonesia karena memang 
masanya 
> untuk menjabat sebagai Dubes di India sudah tak ada lagi. 
> 
> Saking asyiknya bercerita di malam itu, akhirnya Bpk Dubes baru 
> meninggalkan ruangan pada jam 11.00. Setelah itu, barulah saya 
> memegang microphone untuk membawakan lagu "Cinta Hampa" dan "Bunga 
> Seroja". Eh, ternyata benar, baru saya menyebutkan judul lagu yang 
> akan saya bawakan, para hadirin serempak 
> bersuara, "Uuuuuuuuu ....... ." Pertanda mereka belum siap untuk 
> tidur...hehehehe. Akhirnya, saya memutuskan bahwa saya tak akan 
> bernyanyi di malam itu. Hanya lagu "Cindai" Siti Nurhaliza saja 
yang 
> dibawakan. Itupun dibawakan oleh seorg gadis kecil yang katanya 
nanti 
> akan memilih menjadi seorg penyanyi handal. ***
> 
> Bang Letug..., bila di negara anda saat ini, sikap Bpk Dubesnya 
sama 
> seperti sikap Bpk Dubes RI utk India, maka saya yakin bahwa ia akan 
> mengajarkan bagaimana ttg tingginya nilai sebuah Paspor. (apa 
> hubungannya dgn lagu "Cinta Hampa" ya? hehehe...) 
> 
> Wassalam,
> 
> IzaM -
> 
> 
> --- In [EMAIL PROTECTED], Tangkisan Letug <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
> > PASPOR DAN KEINDONESIAAN KITA
> > 
> > Oleh Tangkisan Letug
> > 
> > Paspor katanya milik negara
> > tapi ketika warganya terlunta
> > para pejabat lebih suka
> > main golf dan dansa.
> > 
> > Adakah harga keindonesiaan di sana
> > ketika paspor warga Indonesia
> > dibuang begitu saja
> > di sebuah kantor kedutaan negeri
> > ternama dan super-kuasa?
> > Sebegitu rendahkah Indonesia
> > sehingga di ibukotanya sendiri
> > di sebuah kantor kedutaan asing
> > paspor itu bagai barang pesing
> > dibuang seperti sampah?
> > Katanya demi "screening"
> > agar tidak sembarang orang mengunjungi
> > negeri yang katanya anti diskriminasi.
> > 
> > Kalau paspor di negerinya sendiri
> > dianggap barang tak berarti
> > hanya dihargai dengan laku korupsi
> > tak mengherankan orang asing pun
> > tak kan lebih tinggi menghargai.
> > 
> > Paspor kita ternista
> > ketika pemimpin dan elit kita pun
> > masih berlaku durjana.
> > Negeri kita ternista
> > ketika rakyat kita tak pernah nyata
> > dianggap berharga bagi pemegang kuasa.
> > Keindonesiaan kita terluka
> > ketika para calon pemimpin kita
> > masih suka mengumbar dusta
> > menginjak-injak rakyat miskin papa.
> > 
> > Tapi saatnya akan tiba
> > rakyat menghukum pemimpinnya
> > dengan caranya yang tak terduga.
> > 
> > 17 Juli 2004
> >



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70
http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke