DARI SEBUAH PERCAKAPAN:
SOLIDARITAS KEMANUSIAAN KORBAN AIDS

Oleh Tangkisan Letug

Seorang teman dari US pagi ini menemaniku makan pagi.
Ia baru saja mengikuti konferensi tentang AIDS di
Thailand. Dalam kesempatan itu, hadir pula orang-orang
ternama tingkat dunia seperti Nelson Mandela dan Sonia
Gandhi. 

Aku bertanya kepadanya, "Adakah pemimpin Indonesia di
sana?"

Jawabnya, "Sayang, tak satupun yang aku kenal dari
Indonesia dalam konferensi itu. Tentu ada juga, hanya
aku yang tak kenal saja."

Ada kekecewaan dalam hati. Dalam sebuah pertemuan yang
membahas problem kemanusiaan global sebesar itu kok
sepertinya "suara" Indonesia seperti tidak berarti.
Apalagi, tiada "orang" Indonesia pun tampak dikenal di
konteks global semacam ini. Aku lalu hanya bisa
bertanya dalam hati, "Mungkinkah sebenarnya Indonesia
sedang berada dalam kekosongan pemerhati kemanusiaan?"
Mungkin bukan dalam arti tingkat individual, tetapi
tingkat kepemimpinan nasional. 

Aku sering iri pada para pemimpin negeri tetangga yang
begitu peduli pada warga yang bekerja di perantauan.
Aku iri pada Gloria Macapagal Arroyo yang tunduk pada
aksi solidaritas warga Filipina perantauan sehingga
mau mengambil tindakan untuk membebaskan seorang
sandera di Irak dengan menarik tentaranya. 

Sementara itu, arus pengungsi para pekerja ilegal dari
Indonesia yang diusir dari Malaysia masih menumpuk di
Nunukan. Siapa peduli di negeri Indonesia ini pada
para pengungsi yang masih terlantar kini? Dari camat,
bupati, gubernur sampai presiden seperti terjerat
dalam pusaran kursi kekuasaan. Ritual memilih pemimpin
seakan jauh lebih penting daripada "menyelamatkan"
anak-anak negeri yang terlantar di negeri sendiri. 

Tidaklah mengherankan, gema konferensi AIDS pun tak
lebih daripada angin lalu di negeri ini. Padahal,
menurut kawan di meja makan pagi ini, korban AIDS di
seluruh dunia sudah mencapai 40 juta! Dan jumlah
korban di Indonesia terus bertambah, kata kawan itu.
Tambahnya lagi, "Aids sudah menjadi wabah global."
Tetapi, mungkin bagi pemimpin negeri ini, jumlah itu
tak berarti apa-apa. Apalagi hanya sekedar hilangnya
nyawa seorang pendeta di Palu, ah tak perlu itu kecil
sungguh! Begitu barangkali pikiran para pemimpin di
Indonesia. 

Kawanku menyelesaikan kopinya dengan meninggalkan
pertanyaan bagiku. Adakah solidaritas sungguh di
negeriku terhadap masalah kemanusiaan, bila yang
tumbuh hanyalah aksi persekongkolan? 

22 Juli 2004


        
                
__________________________________
Do you Yahoo!?
Vote for the stars of Yahoo!'s next ad campaign!
http://advision.webevents.yahoo.com/yahoo/votelifeengine/


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70
http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke