From: "KI DYOTI" <[EMAIL PROTECTED]> Date: Fri Jul 23, 2004 3:06 pm Subject: Re: #sastra-pembebasan# eksperimen cerita berantai (39) KD no 40 40 Memang hobbyku merenung; merenung berdasarkan kenyataan hidup di bumi ini. Tadi ketika kulihat berbagai profesi di pasar: ada tukang show ular, jualan sepeda motor (agak jauh sedikit dari pasar sayuran), tukang ramal dengan burung glatik, dll. Terbayang guru-guruku (yang kini banyak sudah wafat, yang masih hidup tetap naik sepeda, paling banter naik motor), hansip temanku yang suka menggoda cewek cakep lewat, jendral kawanku yang suka bicara soal dwifungsi ABRI, paranormal yang sungguhan dan dukun palsu yang suka menipu kliennya; ya sampai WTS yang PKS, termasuk teman-temanku yang semuanya...manusia. Memang aku gemar bergaul dengan s e m u a manusia yang bersedia menjadi sahabatku, dengan profesi apapun juga! Semuanya sama pentingnya! Kuterawang dan tumbuh pertanyaan dalam diriku sendiri:"apa sebenarnya fungsi manusia di bumi ini?" Aku melayang ( namun bukan fly karena drugs!) dan "melihat" info dari "dunia sana" yang sulit untuk kurumuskan. Namun tiba-tiba teringat aku adanya sistim di India yang salah kaprah penafsirannya, Yang kumaksud ini: Kasta yang biasanya disebut: 1. Brahmana 2. Ksatria 3. Waisa dan 4. Sudra. Yang dimaksud dengan Brahmana adalah mereka yang mengajar ( di India hanya golongan guru agama saja) : para guru (besar), guru agama (uztadz/uztadza, pastor, pendeta, bhiku/bhikuni, wartawan, sastrawan, ahli filsafat Kesemuanya mengajar agar manusia jadi baik 2. Ksatria : tentara, polisi, hansip, security di mall, di bank. hakim,jaksa Kesemuanya berkewajiban menciptakan rasa aman dari kejahatan, membela bangsa dan negara serta rakyatnya. 3. Waisa: pegawai swasta dan pemerintah, pedagang, industriawan, kepala negara/perdana menteri, politikus Kesemuanya berfungsi sebagai mereka yang mengurus kelancaran tata administrasi (dalam arti yang luas) dan melancarkan roda perekonomian, sehingga rakyat dapat hidup berkecukupan dan nyaman. 4. Sudra: mereka yang dalam pekerjaannya lebih banyak mempergunakan otot daripada otak: buruh, karyawan/karyawati seperti PRT, tukang pasang bata, kuli, tukang ojek/beca/montir Kasta ini penting sekali, karena tanpa mereka, kasta lainnya tidak dapat melaksanakan fungsinya dengan baik. Nah, s e m u a kasta tsb. sama derajadnya dan pentingnya. Tidak ada yang lebih tinggi. Kukatakan tafsir di India salah kaprah, karena di India kasta berdasarkan keturunan fisik, sehingga tidak cocok dengan kenyataan, seperti anak keluarga Ksatria, bisa jadi masuk Kasta Brahmana ketika dia memilih jadi guru. Malahan begitu hebatnya, sehingga anak kasta Sudra tidak boleh dinikahkan dengan kasta lainnya. Ini tidak adil! Wah, dari lihat pasar, aku "terbang-terbang" ke wilayah kasta. Apa ada hubungannya??? Ada! Penderitaan rakyat yang kurasakan, dapat dilihat dari sudut kasta itu! Coba saja lihat kenyataan kasta Ksatria yang seharusnya menjaga ketentraman, malahan berdagang. Kasta Brahmana yang mestinya mengajar, malahan memberi contoh: mencari kekuasaan politik dengan menghalalkan segala cara. Kasta Waisa yang seyogyanya melancarkan administrasi dan dunia perekonomian, malahan mempersulit rakyat dengan korupsi, minta imbalan yang bukan haknya. Yang tersisa dan tersulit hidupnya kasta Sudra, yang ahkirnya juga melanggar fungsinya unruk membantu membangun fisik, menjadi: penjahat. Walah, waaalllllaaaah, dunia jadi begini?! Namun, aku "dibisikki hati nuraniku"; "memang manusia tidak pernah belajar sekalipun berjuta-juta tahun, Tuhan telah mengirim Utusannya dan para Wali untuk selalu mengingatkan kembali ajaran-ajaran yang baik; toh manusia sampai sekarang: masih sama juga! Jadi kau jangan pesimis; tetaplah optimis! Lalu nyambung-rasa: apa kaitannya renungan tsb. di atas dengan profesi seniman, termasuk sastrawan, penari, penyanyi, seni pentas dan lainnya? Aku kembali terhanyut dalam alam serba terang. Mungkin sekali hanya para seniman yang murni/asli melaksanakan fungsinya, yaitu mencetuskan kreasi yang isinya baik untuk diteladani. Namun berbarengan dengan itu, timbul tandatanya besar: apakah semua seniman demikian??? Nanti jawabannya. Mungkin kawan-kawanku dapat menjawabnya. Aku sendiri masih mengamati perkembangan jaman, yang a.l. menghasilkan banyak "produksi" sastrawan dramawan, penyanyi, penari yang seperti Garin Nugroho, Gola Gong, Heri Latief, Venayaksa, Dewi Lestari, Saut Situmorang, Sitompul, Indah, Medy, Guruh, Inul dan masih banyak dari generasi yang lebih muda, wanita dan pria. Malahan di berbagai milis di internet, terlihat dan "terasa" adanya bakat banyak penulis; hanya soal waktu untuk menonjol, jika "nasibnya" baik. Ah, renungan tidak banyak berbeda sikonnya dengan melamun ketika sedang berproses. Aku takut keblabasan merenung; kuhentikan untuk menyamankan mulutku dengan sebatang rokok kretek. ----- Original Message ----- From: "Sarabunis Mubarok" <[EMAIL PROTECTED]> To: <[EMAIL PROTECTED]> Sent: Thursday, July 22, 2004 1:31 PM Subject: Re: #sastra-pembebasan# eksperimen cerita berantai (39)
===================================================== Eksperimen Prosa Berantai #sastra-pembebasan# (Silakan kawan-kawan meneruskan cerita berantai ini, menuliskan lebih 2-3 kali tak apa, sebaiknya dikasih nomor, agar tahu sudah berapa kawan ikutan) No. urut 01-30 sudah dicantumkan di website #SP#: http://www.sastra-pembebasan.cjb.net/ ===================================================== JUDUL: (masih kosong?) 31. Aku terkesima dan tanpa sadar tiba-tiba tubuhku lunglai. aku terjatuh. dengan kesadaran yang aneh. semua yang ada di sekelilingku seperti membesar ukurannya. tiba-tiba tubuhku serasa melayang-layang dan suara hatiku bergema di semua arah. Dari sudut ruangan muncul seorang kakek berjanggut putih, berpeci dan berpakaian putih-putih. Di belakangnya ada bermacam bayangan mengelilingi kakek tersebut. Ia berjalan mendekatiku. "Wijil, ketahuilah, anak yang akan lahir dari istrimu itu kelak akan menjadi seseorang yang sangat hebat. tapi apakah kau tahu, anak siapa yang dikandung istrimu itu?" Aku kaget bukan main mendengar pernyataan dan pertanyaan yang tiba- tiba itu. 32. Upss! Seluruh tubuhku basah. Ibu dan bapak mertuaku sudah berada di sampingku. Tangan kekar bapak cukup terasa menampar pelan pipiku. "Nak...nak Wijil. Sadar, Nak." Kupandangi kedua wajah penuh kasih itu. Berangsur-angsur pulih kesadaranku. Bajuku yang basah membuatku kedinginan. Hal inilah membuatku jadi tersadar. "Maafkan, Bapak. Bapak telah menyirammu dengan air, agar kamu segera sadar. Bila tidak ini akan membahayakan dirimu. Kamu telah berteriak- teriak menyebut nama seseorang yang telah lama tidak ada lagi. Menurut kepercayaan di kampung ini, ini pertanda keburukan." "Keburukan?", aku bertanya-tanya dalam hati dan teringat akan pertanyaan orang tua mengenai anak siapa yang dikandung oleh isteriku. "Ikem...Ikem. Dimana Ikem, isteriku, Pak...Ibu?", sontak aku teringat isteriku yang terkakhir kuingat mengalami pendarahan, sambil kupandangi kedua wajah mertuaku. "Nak Wijil, jangan kuatir akan isterimu. Syukur dia bersama janinnya dalam keadaan sehat. Untung tetanggamu, bi Saripah, cepat datang menolong.", kata ibu mertuaku dengan lembut. "Kamu sekarang, istirahat dengan tenang. Jangan terlalu dipikirkan mengenai pekerjaan. Berdoalah. Dan yang penting rajin berusaha. Pasti Tuhan akan memberikan rejeki dan jalan. Bila kamu tidak malu, untuk sementara ini bisa membantu di perternakan ayam Bapak." Nasihat ini sangat menyejukkan hatiku. Tetapi siapakah orang tua berambut putih itu?. Aku jadi ingat pesta penyair yang kuadakan bersama teman-teman penyair di rumahku itu. Tepatnya hampir dua bulan lalu. Ah, tidak. 33. "Nak!, nak Wijil...! koq jadi melamun terus...?, tanya Ibu mertuaku. "Sudahlah Nak!, jangan terus menerus dipikirkan, semua sudah berlalu dan istrimu tak apa-apa koq". "Mulai besok Nak Wijil bekerja di peternakan Bapak ya...!. "Bekerjalah yang baik, tinggalkan kegiatan kumpul-kumpulmu dengan teman-teman penyair yang tak berduit itu!" tegurnya. Tersentak aku mendengar teguran itu. "Jangan menggantungkan hidupmu hanya pada puisi-puisimu, lihat apa yang selama ini dihasilkan oleh puisi- puisimu?, adakah semua itu mencukupkan kebutuhan keluargamu?" Aku telan semua nasehat Ibu mertuaku, aku tak bisa berkata apa-apa selain tertunduk dengan perasaan tak menentu. 34. Aku membatin "memang puisi bukan buat cari makan, tapi jadi penyalur rasa yang terdalam. Rasa yang terdalam sebagai reaksi dan keinginan untuk kemanusiaan". Namun sebagaimana aku diajari adat orangtuaku, aku hanya diam saja tanpa suara dari mulutku, sekalipun ingin membantahnya. Memang aku kadang-kadang "terganggu" keadaan ekonomiku, jelasnya periuk nasi untuk keluarga sekalipun hanya masih berdua; apalagi nanti kami akan menjadi tiga. Terkuak jawaban (lagi-lagi) dari hatiku sendiri sebagai jawab "apa makna hidup di planit ini bagiku???" Makan sehari 3 kali, mataku masih bisa melihat kebaikan dan keburukan dunia, kakiku masih bisa berjalan kesana kemari, suaraku masih jernih (satu waktu aku ingin jadi penyanyi!); tubuhku sekalipun kurus, namun masih tetap tegar untuk....menulis dan membaca puisi! Terngiang keras, bahwa manusia sudah berjuta-juta tahun, masih tetap saja sama: mau menang sendiri, serakah, membunuh untuk kepentingan kekuasaan, untuk kepentingan uang. untuk kepentingan kelompok; tak ada lagi rasa kemanusiaan yang universal. Bahkan fanatisme keyakinanpun jadi guram, tidak lagi bening sebening aslinya! Peradaban manusia selalu hingga kini, dihancurluluhkan oleh manusia sendiri. Takdir? Bukan! Tuhan tidak pernah mentakdirkan musibah kepada ummat manusia! Manusia sendirilah yang bertanggungjawab. Masih banyak sisi-sisi manusia yang kini telah mendekati puncak peradaban rakusnya! Sejarah akan terulang lagi! Terkuak juga sisi lain manusia dewasa ini. Kutimbang-timbang dan kutimang-timang masalah manusia, ternyata keadaam "bahwa Tuhan hanya Tunggal" malah membawa bencana manusia. Tuhan yang mengajarkan kebaikan dalam semua agama, menjadi pemicu kesengsaraan manusia. Pernah kudengar :"Man has given many names and forms to God; but God is only ONE"!, Rupanya dalam praktek kehidupan manusia ini, agama menjadi penyebab banyaknya korban manusia; padahal "Tuhan adalah Tunggal belaka!" Memang kupikir, Tuhan dalam agama apapun sepertinya jadi bukan Tuhan lagi bagi banyak manusia dewasa ini. Ah, aku melantur terlalu jauh dari masalah puisi samapai soal agama dan Tuhan. Timbul "teguran dalam diriku sendiri": bukankah puisi juga bisa jadi jembatan universal antara ummat manusia dengan Tuhan yang Tunggal itu?" Jawabanku bermuara kepada: "Memang demikian, dengan wujud puisi yang membela kesengsaraan ummat manusia dimana saja, kapan saja, tanpa berbatas dengan bangsa!" Biarlah malam yang ranum menemaniku mencari "wujud puisi yang mengabdi kepada kemanusiaan yang Tuhannya toh sama dimana saja di planit bumi ini." (KD) 35. Dan siapa pula nama orang yang telah lama tidak ada yang kupanggil- panggil itu? Bukan tambah sadar, lamunanku malah tambah dalam. Sebenarnya apa yang terjadi? Siapa yang kupanggil? Ibuku? Tapi dia masih idup. Bapakku? Aku tidak pernah tahu siapa bapakku. Siapa? Aku bangun, pergi ke belakang rumah mencari bapak mertuaku lantas kutanyakan siapa yang kupanggil-panggil tadi. Dia mengajakku duduk di bawah pohon, menarik nafas panjang, dan sambil menghisap lisong berkata "Tapi jangan terlalu mbebani pikiranmu nak, ndak usah terlalu dipikirin...". Dia tampak sudah siap menceritakan apa yang terjadi. Dan aku siap mendengarkan. (-c) 36. "Pak...! Pak..! Anakmu Pak..., anakmu...! Nak Wijil... ! Nak Wijil..!" Tiba-tiba dari pintu belakang rumah ibu mertuaku berteriak, memanggil-manggil kami sambil tergopoh-gopoh. Mendengar istrinya yang memanggil cemas Bapak mertuaku yang tadinya sudah siap bercerita, langsung bangkit dan bertanya, "Ada apa Bu? Kenapa dengan Marsikem?" "Anu Pak.... anu...! anakmu...anakmu....! "Tenanglah, ada apa?" "Anakmu membakar sesuatu sambil nangis-nangis di kamarnya.... pintunya dikunci dari dalam, Bagaimana ini pak, Nak Wijil, bagaimana ini... asapnya..asapnya..." Kami segara memburu rumah dengan cemas dan kaget, terlihat kepulan asap menyelusup lewat sela-sela pintu dan jendela kamar marsikem. 37. "Brakkk!!!!!" Pintu kudobrak sekuat tenaga. Dan kudengar teriakan istriku, "Maas! Ada apa?" Wajahnya pucat menandakan keterkejutan yang luar biasa. "Kebakaran!Kebakaran! Eh.. Mana apinya?" Baru kusadari ternyata tak ada apa-apa. Hanya istriku terbengong-bengong bertanya, " Kebakaran apa? Lha wong aku tertidur pulas dari tadi kok". Lhah. Pertanda apa ini? Tadi jelas-jelas kulihat asap putih pekat keluar dari celah dinding kamar. Dan, sekarang ke mana larinya? Aku tersentak. Kupeluk erat perut istriku. "Anakku!Anakku!" Aku menangis sejadi-jadinya. Tanda-tanda itu sangat nyata. Sangat nyata. 38. Minggu yang pucat, aku berangkat ke pasar sendirian. Ada beberapa titipan istriku, namun semua terlupakan. Aku terkurung dalam kerumunan orang dan di tengah kerumunan itu ada seorang berpidato berbuih-buih. Kepalanya diikat kain merah, celana dan bajunya serba hitam. Di kotak samping kanan ada ular piton sebesar kepala bayi. Kerumunan makin berlapis-lapis, setelah orang yang bicara itu mengeluarkan mantra. Mungkin mantra bahasa Kawi atau bahasa rekaan sendiri, sebab tak seorangpun yang mengerti artinya. Selembar kertas koran dibakar dan ditaruh diatas piring putih dari keramik. Kertas hangus jadi abu hitam kelam dan abu itu digosok dengan jari-jarinya di atas piring. Muncul nomor empat angka. Orang-orang berebut ingin mencatat nomor itu. Buru-buru penjual nomor itu menghapus dan digantikan dengan kertas kecil yang sudah digulung ala arisan. "Yang minta nomor maju ke sini, dan taruh uang seiklasnya." Aku maju dan nekad siapa tahu bisa merubah nasib, dengan memasang nomor kasino minggu depan. "Ini uangmu semua, ah bohong kamu?" gerutu tukang jual nomor berkumis panjang, "yang di saku baju itu berikan aku." "Ya, Pak." "Cuma kertas dan tulisan berbaris-baris menurun, baru belajar menulis, ya?" "Itu puisi hari Minggu, Pak." "Memangnya hari Senin juga ada Puisinya?" "Tiap hari aku menulis puisi." "Baca, baca, maju, maju, ambil mikropon itu," teriak orang-orang di situ yang mendengarkan pembicaraan sejak tadi. Tak berapa lama mikropon sudah perpindah ke tanganku. Dan dengan hati gemetar aku buka lembaran kertas yang terlipat tiga itu. 39. Ibarat ekstra hiburan yang dinantikan, semua penonton yang mengerumuni tukang jual nomor maju berdesakkan ke depan. Aku membaca sebuah puisi dengan sedikit kikuk, karena ini pengalaman pertama baca puisi di tengah tengah masyarakat pasar. Aku baca sebuah puisi yang cukup sesuai dengan suasana, sedikit di tambah-tambahi biar menyentuh, semua hadirin mendadak serius mendengarkan. bait demi bait kubaca dengan ekspresi yang bercampur ketegangan, akhirnya sampai juga pada bait terakhir. .......... di pasar orang-orang menggadai cinta jadi rupiah kita ternak-ternak agar berbiak menjadi kehormatan yang kocak serempak penonton bertepuk tangan, tukang jual nomor juga tak ketinggalan meski ia bertepuk sambil geleng2 kepala, entah kenapa. 40. __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70 http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

