TERNYATA, DISKRIMINASI ITU ADA DI MANA-MANA. Serpihan kisah-kisah buruh migran Indonesia di Hongkong
By : Suraiya Kamaruzzaman 13 Juli 2004. Ani menemui seorang teller di counter HSBC, Hongkong. Buruh migran Indonesia (BMI) yang bekerja di Hongkong itu bermaksud membuka sebuah joint account. "Are you domestic helper?" tanya pegawai itu, yang dijawab dengan anggukan kepala Ani. Kalimat berikutnya sungguh mengejutkan. "Pembantu rumah tangga tidak bisa membuka rekening di HSBC," tutur pegawai bank itu. Tidak ingin menyerah, Ani menjelaskan bahwa rekening itu akan dibuka bersama rekannya yang bukan pembantu rumah tangga. Tapi, persoalan belum selesai dan si petugas meminta Ani menunggu, sampai saya hadir bersama seorang rekan dari negara lain. Setelah mendapat beberapa penjelasan, ia mengatakan kami bisa mebuka rekening dimaksud. Ia melayani dengan ramah, cepat tanpa lupa memberikan advis yang menyenangkan. Pelayanannya membuat teman saya memutuskan untuk membuka satu rekening bank pribadi di HSBC. Sesaat kemudian, ia beranjak untuk berbicara dengan managernya. "Kalian warga negara mana?" tanyanya kepada kami sebelum ia melangkah. Tak lama kemudian ia kembali. "Maaf, menurut peraturan bank ini, semua warga negara Indonesia tidak bisa membuka rekening di HSBC," katanya. Pernyataan itu tentu saja membuat kami heran. Kenapa? Karena kami warga Indonesia, katanya! "Ini diskriminasi!" saya berdiri dan menyergah dengan nada tinggi. Tapi, si pegawai memang hanya menjalankan kebijakan bank. "I am sorry, this is our bank policy" katanya Menurutnya, peraturan tersebut berlaku sejak dua atau tiga tahun lalu. Dia tidak ingat pasti. Padahal, sejak mulai kuliah di Hongkong 1,5 tahun lalu, saya mempunyai rekening di HSBC. Juga Ani. Tapi, si pegawai tidak bereaksi apapun ketika kami menunjukkan buku rekening kami di depan hidungnya. Hari itu juga saya mengirim surat pembaca ke South China Morning Post dengan tembusan ke Jakarta Post. 20 Juli 1004. Saya menemani seorang BMI ke kantor Marriage Register. Konon, di kantor itu berlaku juga perlakuan diskriminatif dan melecehkan. Kalau ada BMI yang menikah dengan penduduk lokal, pasangan itu sering ditanyai hal sangat pribadi dalam ruang yang saling terpisah. Misalnya, warna celana dalam favorit pasangan, berapa kali having sex dalam seminggu, dimana calon pengantin diwawancarai dalam ruangan berbeda. Ini bullshit. Bagaimana mereka merasa mempunyai hak untuk mengorek-ngorek persoalan sangat personal? Melanggar hak asasi manusia, juga melanggar nilai-nilai kepercayaan yang dianut oleh masyarakat tertentu, tidak boleh melakukan kontak seksual sebelum menikah. Katanya pemerintah Hongkong khawatir, buruh migran menikah dengan warga lokal hanya sebagai cara untuk mendapat permanent resident. Bukan karena cinta. So what? Sejak kapan pula pemerintah Hongkong disibukkan mengurus cinta rakyatnya? Atau ini diskriminasi karena Indonesia dan Hongkong mempunyai situasi ekonomi berbeda? Begitu kami menghadap, petugas pendaftaran menyapa, "'Tell me, which one domestic helper?". Saya kaget dengan pertanyaan itu. Apa bedanya? Toh peraturan tertulis tentang perkawinan di kantor ini, sama bagi semua orang. Bisa dipahami, jika pertanyaan itu diajukan di kantor imigrasi. Karena mereka mengurus status berbeda, misalnya perpanjang visa turis, perpanjangan kontrak domestic helper, untuk ngurus permanent residen, dan lainnya, dimana semuanya mempunyai persyaratan dan formulir berbeda. Masih ada cerita lain dari seorang teman BMI dari Yogya. Beberapa tahun lalu, tuturnya, setiap makan malam, Dia di suruh pindah oleh majikannya (warga lokal). "Kamu pergi dari depan meja, kami tidak sanggup menelan makanan karena kulitmu hitam sekali". Ini betul-betul penghinaan. Padahal yang dimakannya masakan si 'Hitam" tadi, yang sebenarnya berkulit sawo matang dan berparas cantik. Perlakuan diskriminatif dan tidak menyenangkan terhadap warga Indonesia di Hong Kong, khususnya yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga, samasekali bukan hal baru. Apalagi langka. Dan lebih dari itu, besarnya jumlah WNI yang bekerja sebagai domestic helper di Hongkong juga menghidupkan "kebiasaan" membentak atau merendahkah siapapun, asalkan dia berkulit dan berwajah Indonesia. Pengalaman saya berikut mungkin bisa jadi contoh. Pulang dari kantor imigrasi, di Lamma Island akhir tahun lalu, saya berjalan sambil setengah melamun ketika di depan saya ada seorang bocah 3,5 tahun yang naik sepeda kecil. Rupanya tanpa disengaja, setang sepeda mengenai tangan seorang ibu-ibu sekitar 60-an tahun. Tidak ada luka, bahkan mungkin tekanan sepeda kecil itu tidak terasa. Tapi si bocah turun dari sepedanya. "I am so sorry, Madam" katanya dengan santun. Pemandangan itu sungguh membuat saya terkesan dan menghentikan langkah. Tanpa saya duga, tiba-tiba si ibu berambut pirang dan berkulit putih itu melotot ke arah saya dan membentak "Lain kali hati-hati kalau bekerja!. Sepersekian detik saya tertegun, sebelum saya sadar bahwa ada tak kurang 83.000 perempuan Indonesia, rekan saya yang mencari sesuap nasi di negeri ini. Jadi pembantu rumah tangga, menjadi pengasuh anak. Saya pandangi si Ibu dengan dingin, tanpa berkata sepatahpun. Dari sorot matanya, saya tahu dia menyadarikekeliruannya. Tapi, tidak ada permintaan maaf sedikitpun keluar dari mulutnya. Ia mundur selangkah, membalikkan badan, dan pergi. Anggapan sebagai pembantu tidak membuat saya kecewa, tetapi memperlakukan orang berbeda karena jenis pekerjaannya yang membuat saya terluka. Minggu lalu, seorang teman BMI dari Jawa Timur bercerita, Dia pernah diberhentikan majikan semena-mena. Empat bulan bekerja, tak pernah sepatahpun mendapat protes. Baik dari segi kebersihan rumah, kepintaran masak ataupun kemampuannya berbahasa Kanton. Suatu malam, tiba-tiba Majikan mengatakan "Kamu saya berhentikan, orang Indonesia itu, hitam, kotor, dan bau". Badannya gemetar menahan marah. "Kalau aku dibilangnya kotor, kerja tidak beres, bisa kuterima. Tapi Dia menyebutnya orang Indonesia hitam dan bau, untuk sebuah kesalahan yang tak kumengerti," suara serak Tak jarang di mall atau supermaket, saya perhatikan rekan senegara dibentak-bentak majikan di depan umum, "Dasar Kamu orang Indonesia, bodoh! Tolol semuanya!" Makian semacam itu bertaburan, untuk seluruh orang Indonesia, hanya untuk hal sederhana, misalnya anak asuhan merajuk. Orang-orang lalu lalang melirik sejenak, dan meneruskan aktifitasnya masing-masing. Saya marah, maju selangkah dan ingin menegur si majikan, agar hati-hati kalau bicara. Tapi pandangan memelas dan mata berkaca dari rekan yang saya tidak tahu nama, dan datang dari Indonesia belahan mana, membuat langkah saya surut. Mungkin ia khawatir protes saya hanya akan membuatnya kehilangan pekerjaan. Sejak di Hongkong, beberapa kali saya menelpon KBRI tanpa menyebut identitas pribadi; menanyakan perpanjangan paspor atau bertanya tentang pemilu. Walaupun informasinya tidak cukup lengkap, nada suara cukup ramah dan bersahabat. Pernah juga disarankan untuk datang kekedutaan langsung. Ketika datang untuk bertanya hasil pemilu 5 Mei, saya mendapat pelayanan sangat baik, juga informasi lengkap. Padahal saya melihat di ruang pojok kiri lantai dasar gedung Kedubes, seorang BMI kena bentak gara-gara belum melampirkan surat izin orang tua untuk kepentingan pernikahannya Dua hari lalu, saya menelpon Bebagian Konsuler di KBRI untuk menanyakan peraturan kontrak baru bagi BMI tanpa bantuan agen. Mungkin karena saya bertanya soal kontrak, nada suara di ujung sana menjadi tak ramah, "Kamu datang saja ke Kedutaan!". Sepotong informasipun tidak saya dapat, kecuali berkamu-kamu dengan kesan tertangkap secara gamblang. Bahkan nama penerima telepon saya saja tidak saya dapat "Kamu datang saja kebagian konsuler!" katanya sambil menutup telpon. Dari suaranya, saya tahu ia perempuan. Lima hari sebelumnya, seorang teman BMI lebih memilih pulang ke Indonesia dari pada membuka jilbab untuk mendapatkan majikan. Padahal, sudah beberapa tahun, ia tidak pernah menemui masalah jilbabnya, bahkan ketika ia tengah bekerja di rumah majikannya sekalipun! Tetapi baru-baru ini nenek yang diasuhnya meninggal, sehingga kontraknya tidak diperpanjang. Tidak ada lagi tugas yang harus dilaksanakan. Tidak ada permintaan/paksaan dari agen untuk membuka jilbab (kecuali bagi yang baru datang dan kontrak pertama sekali). Tapi berhari-hari menunggu, tidak ada satu majikanpun yang ditawarkan agen padanya. Pernah Ia mencoba mencari sendiri, tapi majikan keberatan dengan shalat yang 5 kali sehari itu. "Kamu mau kerja apa mau sembahyang" katanya ketus. Fragmen di atas hanyalah sebagian dari kisah mengenaskan perempuan Indonesia di Hongkong, atau mungkin juga di negara-negara lain. Mereka mengalami diskriminasi berlapis dari berbagai pihak. Karena kebangsaannya, warna kulit, pilihan agama, sampai kepada jenis pekerjaannya. Bukan hanya dari majikan, tapi juga dari agen, petugas bank, atau pegawai kantor lainnya, dari warga negara asing lainnya yang berada di Hongkong, sampai ke KJRI sendiri. Saya tidak tahu bagaimana mereka bisa merasa "lebih manusia" daripada yang lain. Saya juga tidak tahu apakah mereka faham bahwa perbedaan warna kulit, kebangsaan, bahasa, penampilan fisik, agama dan keyakinan atau apapun lainnya tidak pernah menjadikan seseorang "lebih manusia" daripada yang lain. Kowloon Tong, 22 Juli 04 [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70 http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

