http://www.sinarharapan.co.id/berita/0407/23/sh02.html
Ketika Tidak Bangga Lagi Menjadi Anak Indonesia JAKARTA - "Saya tidak bangga menjadi anak Indonesia, karena saya tidak bisa sekolah," kata Eka, anak jalanan yang biasa beroperasi sebagai pengamen di kawasan Klender, Jakarta Timur. Hal senada dikatakan Dewi, pelajar SMP Bakti Mulya, Jakarta. Menurutnya, dia bangga Indonesia memiliki banyak suku dan beraneka ragam budayanya, namun malu karena Indonesia terkenal sebagai negara korupsi. Sementara itu Amanda, pelajar SMP Muhammadiyah Jakarta mengatakan tidak bangga menjadi anak Indonesia karena para pemimpinnya sering kali menghasilkan kebijakan yang mubazir. Dia mencontohkan pembangunan jalur busway yang hanya menghabiskan banyak biaya dan justru membuat para pejabat tidak merakyat. "Busway malah bikin macet. Para pejabatnya sih nggak peduli sebab dia menggunakan pengawal. Lagi pula mereka nggak pernah naik busway, naik mobil pribadi. Tidak merakyat," katanya, menilai. Menurut dia alangkah baiknya jika anggaran yang digunakan membangun busway yang jumlahnya milyaran rupiah digunakan untuk membantu biaya pendidikan bagi anak-anak terlantar dan anak-anak jalanan. Pendapat-pendapat anak-anak yang cukup kritis ini terungkap dalam Diskusi Panel Meja Bundar Anak yang berlangsung di Departemen Pendidikan Nasional pada Rabu (21/7) lalu. Tentulah tidak semua pandangan mereka dapat diterima sebagai kebenaran, namun pendapat para anak jalanan jelas menolak tema Peringatan Hari Anak Nasional "Aku Bangga Menjadi Anak Indonesia, Tangguh Dan Berakhlak Mulia". Pengalaman hidup mereka tidak mendukung untuk bisa berbangga menjadi anak Indonesia. Daerah Konflik Pandangan yang kurang lebih senada juga dikemukakan anak-anak yang hidup di pengungsian. Nona Opier, salah seorang anak pengungsi asal Kecamatan Banda, Kabupaten Maluku Tengah. "Saya tidak bangga menjadi anak Indonesia di Maluku," kata Nona Opier, ini karena tidak ada lagi kedamaian dan kenyamanan di sana. "Saya pernah bangga dengan Taman Laut Banda yang terkenal, tapi itu sirna karena konflik ini," tuturnya. Komentar miring juga datang dari Andi, anak yang juga tinggal di pengungsian THR Waihaong, Kecamatan Nusaniwe, Kota Ambon."Saya tahu Ambon lagi kacau dan saya berjanji tidak mau menjadi preman yang suka bikin Ambon kacau," katanya polos. Di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD, banyak pula anak yang tidak beruntung akibat konflik. Syamsulrizal (8), dipaksa orang tuanya mengemis di Simpang Lima Banda Aceh. Setiap hari sejak pagi hingga sore hari, dia sudah menadahkan tangan ke para pengemudi yang berhenti di lampu lalu lintas. "Saya disuruh orang tua cari duit untuk makan," kata Syamsulrizal. Lain lagi penuturan Fadhil (13) pengemis cilik asal Lhokseumawe, Aceh Utara. Fadhil terpaksa pindah mengemis di Banda Aceh karena lebih aman."Orangtua yang suruh bekerja di Banda Aceh," katanya. Menurut Wakil Kepala Dinas Sosial NAD, Asmadi, konflik menyebabkan 51.000 anak-anak di seluruh Aceh terlantar, umumnya anak-anak terlantar itu berasal dari pesisir timur Aceh yang menjadi daerah yang paling parah terimbas konflik, terbanyak berasal dari Aceh Utara dan Pidie, mereka kini ditampung di 176 panti. Gambaran Suram Deputi Bidang Kesejahteraan dan Perlindungan Anak dari Kantor Kementerian Pemberdayaan Perempuan, Rachmat Sentika, mengakui pemerintah kesulitan mendorong wajib belajar sembilan tahun, sebab dunia pendidikan di Indonesia pada kenyataannya belum mampu menyentuh seluruh anak Indonesia usia sekolah. Kondisi ini diperparah dengan besarnya jumlah anak putus sekolah. Data dari Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Departemen Pendidikan Nasional dan sensus nasional tahun 2002 menyebutkan anak Indonesia yang putus sekolah di tingkat SD sebesar 1,46 persen, putus sekolah di tingkat SMP/MTs sebesar 2,27 persen dan di tingkat SMA sebesar 2,48 persen. Selain itu masih ada sekitar 283.990 anak yang buta aksara. Salah satu penyebab anak putus sekolah itu adalah gizi buruk. " Dari 23,725 juta anak Indonesia, 1,25 juta mengalami gizi buruk. Hal ini salah satu penyebab mereka tidak dapat menamatkan pendidikan di tingkat SD," katanya, pada konferensi pers peringatan Hari Anak Nasional, di Jakarta, beberapa waktu yang lalu. Selain masalah pendidikan, mereka yang kurang beruntung akhirnya harus bernasib menjadi anak jalanan, anak yang diperdagangkan, anak korban eksploitasi, anak yang berkonflik dengan hukum, anak yang mengidap HIV/AIDS dan anak korban narkoba. Sebagai gambaran, di 12 kota di Indonesia terdapat 472.000 anak jalanan, dari jumlah tersebut 40 persen mengaku tidak punya orang tua. Tetapi banyak juga yang mengaku dieksploitasi oleh orang tua mereka untuk mencari uang di jalanan. Rachmat juga menjelaskan, anak Indonesia yang menderita HIV/AIDS ada 154 orang. Belum lagi anak-anak yang berkonflik dengan hukum. Saat ini ada 3.860 anak yang berada dalam tahanan. Bahwa ada kecenderungan anak semakin dieksploitasi oleh orang tua atau terpaksa mencari nafkah, diungkapan Peneliti dari Lembaga Demografi Universitas Indonesia, Donovan Bustami, yang mengutip data dari Depnakertrans menyebutkan jumlah pekerja anak di Indonesia pada tahun 1995 sebesar 1,6 juta, kemudian meningkat menjadi 1,7 juta di tahun 1996 dan meningkat kembali menjadi 1,8 juta pada tahun 1997. Tahun 1998 mencapai 2,1 juta anak. Data itu tidak menggambarkan situasi yang sesungguhnya, bahwa jumlah pekerja anak jauh lebih besar dari data BPS atau Depnakertrans. Karena laporan Depdiknas menunjukkan bahwa antara tahun 1995-1999 tercatat 11,7 juta anak usia sekolah yang terpaksa putus sekolah dengan alasan bekerja. Mungkin hanya anak-anak yang beruntung boleh bergembira memperingati Peringatan Hari Anak Nasional dengan tema "Aku Bangga Menjadi Anak Indonesia, Tangguh Dan Berakhlak Mulia". Sementara mereka yang kurang beruntung tetap harus berjuang untuk sekadar bertahan hidup, dieksploitasi dan jauh dari menikmati kebahagiaan masa kanak-kanak, karena kemiskinan. Meski kemiskinan merupakan faktor kondusif yang memaksa anak-anak bekerja, putus sekolah, atau menjadi anak jalanan, namun bukan berarti bila kemiskinan dapat diatasi, maka masalah ini terselesaikan. Maka Pemerintah tetap harus memprioritaskan upaya peningkatan SDM anak melalui jalur pendidikan, dan mengatasi masalah kemiskinan yang dihadapi rumah tangga bersangkutan. (SH/stevani elizabeth/murizal hamzah/izaac tutalessy) ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70 http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

