rekan selalian yang peduli pendidikan tinggi,
berikut tulisan saya di LISI terkait dengan
SBY yang secara salah diberitakan sudah
melakukan ujian komprehensif.... mudah-mudahan
ada manfaatnya:
-----------------------------------------------
Ah, lucu dan rame jadinya.
Ketika seorang capres yang kebetulan maju
ke putaran 2 dan menyandang berbagai predikat
(banyakan negatipnya kalau di mata kaum inte-
lektual yang sedang berpesta... hehehe, atau
nggak diundang pesta?) kebetulan lagi jadi
(terdaftar sebagai mahasiswa S3 di PT-BHMN
yang juga sedang hangat ditimpa masalah....
wis-kumplit, sudah keramaian khalayak.

Berbagai istilah bermunculan berkenaan dengan
ujian S3. Berbagai anggapan miring mengalir.
Sampai-sampai ada istilah "Ujian Sidang" weleh.
Tapi ya sudahlah, wong yang salah kadang-kadang
bukan pihak awam, tetapi juga dari media.
Hanya tak baik berprasangka buruk kepada sese-
orang hanya karena tak cocok dengan angan-angan
sendiri....

Nah sekedar memberi kejelasan tentang SBY ini
tak kutip posting orang IPB ke alumni-ipb...,
lho, orang IPB pun juga nggak mudheng, je....
hehehe. Alumni IPB-pun terpengaruh juga dengan
kasak-kusuk intelektual berpestanya Pak Eddy....
ihik..... seperti Pak W ini. (Bayangkan kalau
jadi alumni PT yang lain.....;p)
--------------------------------------------------
Kaitan dengan ujian SBY

Pak W nyerat:

> Pakde, pejabat IPB sedang sibuk melobi untuk jadi menteri..
> Kalau berhasil membangun proyek mercusuar di Baranangsiang, plus
> pemasukan yang besar, peluang jadi pejabat tinggi kan besar...
> Dari awal pemilihan saya yakin, penguasa IPB sekarang memang
> politikus...

Pak W dan netters Yth.,

Penjajagan Pak SBY menjadi mahasiswa IPB sudah terjadi
akhir 2001 dan secara resmi menjadi mahasiswa IPB Maret 2002
(pada masa kepemimpinan Pak Aman).
Jumlah peserta pada kelas Pak SBY awalnya 22 orang yang
kemudian dalam perjalanannya berkurang menjadi tinggal
16 orang. Pada saat ujian prelim kemarin, pesertanya
berjumlah 25 orang karena ada tambahan 9 mahasiswa
program reguler. Ujian memang bertepatan dengan saat-
saat pemilu. Namun ujian itu murni proses akademik karena
pimpinan IPB tidak terlibat dalam proses itu. Pejabat
tertinggi yang memang berwenang untuk terselenggaranya
proses ujian adalah Dekan Sekolah Pasca Sarjana. Nuhun

Wassalam,

D
-------------------------------------------
--> sebagai orang IPB saya pernah menyatakan
sambil guyon.... "kalau SBY lulus karena dia
jadi presiden (misalnya saja menang nanti),
berarti memang gombal semua. Ya SBY-nya ya
IPB-nya.

--mbahsoel--

--- In [EMAIL PROTECTED], "tletug" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Bung Sandy dan Bung Zamhasari ybk.,
> terimakasih atas tanggapan Bung berdua. Fenomen "mencari gelar" 
yang 
> telah saya tuliskan pertama-tama adalah sebuah ungkapan 
keprihatinan 
> terhadap dunia pendidikan kita yang telah lama ditundukkan pada 
> kekuasaan politik. 
> 
> Memang dalam alam bebas demokrasi yang sedang kita rintis ini, 
> sekolah-sekolah pun menikmati kebebasan itu, yang disebut 
> sebagai "otonomi kampus". Namun demikian, gejala-gejala aneh yang 
> tidak "wajar" (jangan-jangan apa yang wajar itu sudah dianggap 
tidak 
> wajar, dan sebaliknya ya) seperti pencarian gelar di kalangan 
pejabat 
> pemerintah itu kurang banyak dikritisi. Kebanyakan para pejabat 
> pemerintah "mencari gelar" sekedar untuk bisa naik pangkatnya. 
Oleh 
> karena itu, segala macam cara pun ditempuh, termasuk bila harus 
> dengan jalan pintas. Lalu, hal demikian dimaklumi oleh karene 
> kesibukannya sebagai pejabat pemerintah. 
> 
> Yang sulit bisa dibayangkan adalah seorang pejabat pemerintah 
> setingkat menteri kok masih sempat-sempatnya sekolah (bila benar-
> benar mengikuti prosedur yang biasa). Dari perhitungan alokasi 
waktu 
> saja hampir sulit dipenuhi, kalau bukan seorang "ajaib". Seorang 
> pejabat setingkat camat saja setengah mati untuk bisa mengikuti 
> kuliah tambahan kok ini ada pejabat setingkat menteri, yang 
kemudian 
> calon presiden bisa mulus ber-kuliah. Apa ini tidak hebat bin 
ajaib?
> 
> Kalau masalahnya ingin menunjukkan kepandaiannya kepada publik, 
> bukankah pameran "ujian komprehensif" di masa pencalonannya itu 
> justru semakin memperkuat kecurigaan publik? Lebih parah lagi, 
kalau 
> memang begitulah cara seorang calon presiden memandang dunia 
> pendidikan kita. Kepandaian dan pengetahuan yang luas memanglah 
> dibutuhkan bagi seorang pemimpin. Tetapi menunjukkan kepada publik 
> seakan-akan "seorang terdidik" demi pencalonan dirinya sebagai 
> pemimpin bangsa? Benarkah memang itu caranya? 
> 
> Salam saya untuk Bung berdua,
> Tangkisan Letug
> 
> 
> --- In [EMAIL PROTECTED], "Zamhasari Jamil" <[EMAIL PROTECTED]> 
> wrote:
> > Salam,
> > 
> > Bang Letug dan bang Sandy Yth.
> > 
> > Saya juga cukup tercengang kagum ketika mendengar salah seorang 
> > diplomat kalau ia baru saja menyaksikan berita ttg adanya salah 
> > seorang capres yang menerima gelar doktor dari IPB. Dalam 
bayangan 
> > saya, rasanya tak semudah itu mendapatkan gelar doktor wabil 
khusus 
> > bila kita melihat sistem pendidikan yang berlaku di Indonesia. 
Ini 
> > dapat juga kita lihat dari minimnya pemberitaan mengenai 
seseorang 
> > yang kemudian dianugerahi gelar doktor dari univ-univ di 
Indonesia.
> > 
> > Saya melihat bahwa dibalik diterimanya gelar doktor oleh capres 
> yang 
> > bersangkutan, disana menurut saya juga ada kampenye terselubung, 
> > sehingga dengan dalih 'memilih pemimpin yang berpendidikan', 
maka 
> > alamat bahtera Indonesia akan selamat dari segala macama mara 
> bahaya. 
> > Padahal bila yang muncul benaran itu adalah su-uzhzhan saya saat 
> ini, 
> > maka itu akan lebih berbahaya lagi. Tapi saya tetap berusaha 
untuk 
> > berhusnuzhzhan semoga penganugerahan gelar doktor tersebut murni 
> > karena jerih payah dan usaha yang dilakukan oleh pak capres yang 
> > terkait. Bukan karena dibeli, atau apalagi rekayasa semata. 
> > 
> > Bila IPB nekad untuk berpura dan merekayasa dengan menjual gelar 
> > doktornya kepada capres tertentu guna meraih kepentingan sesaat, 
> maka 
> > ini benar-benar bencana besar dalam sistem pendidikan kita. []
> > 
> > Wassalam,
> > 
> > IzaM -
> > Pelajar awam di New Delhi,
> > India.
> > 
> > 
> > --- In [EMAIL PROTECTED], Sandy Dwiyono <[EMAIL PROTECTED]> 
> wrote:
> > > Manakah yang lebih baik dari calon pemimpin yang
> > > mempersiapkan diri dengan menimba ilmu agar
> > > kepemimpinannya dapat membawa kesejahteraan bagi
> > > rakyatnya, dibandingkan dengan yang mengatakan, "Saya
> > > memang bodoh tapi saya bisa memilih orang-orang pintar
> > > sebagai menteri saya?".
> > > 
> > > Wah gimana nggak dikibuli Tuan presiden kalau begini
> > > caranya? Bagaimana aset-aset negara tidak di
> > > jual-jualin sama anak buahnya karena ketidaktahuan
> > > Tuan presiden.  Salah seorang anak buahnya ketika lagi
> > > ramai-ramai jual-jualan BPPN pernah berkata
> > > (kira-kira),
> > > "Saya jual sebagian saham PT. (anu) kepada investor
> > > asing supaya KESANNYA modal asing sudah masuk ke
> > > Indonesia".
> > > 
> > > Gimana nggak bangkrut negara ini kalau cara
> > > berfikirnya seperti itu. Masa aset-aset negara diobral
> > > murah sama SATU negara, negara yang selama ini
> > > senantiasa memberikan SUAKA POLITIK kepada
> > > koruptor-koruptor kita. Bisa-bisa negara kita
> > > dikuasai/dikendalikan Sang Pemberi Suaka Politik.
> > > 
> > > Lain dengan Bapak Presiden SBY, beliau sudah jauh-jauh
> > > hari mempersiapkan diri untuk memimpin negeri ini
> > > dengan menimba ilmu sebanyak-banyaknya, supaya
> > > kepemimpinannya bisa
> > > Sejahterakan Bangsa Yang besar ini. Supaya beliau
> > > tidak dikendalikan anak buahnya. Akan repot suatu
> > > bangsa kalau presidennya dikendalikan anak buahnya. 
> > > 
> > > Sejahteralah Bangsa Yang besar ini. 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > --- Tangkisan Letug <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> > > > CALON PRESIDEN DAN KEAJAIBAN PENDIDIKAN KITA
> > > > 
> > > > Oleh Tangkisan Letug
> > > > 
> > > > Fenomen seorang calon presiden yang mengikuti ujian
> > > > komprehensif sebuah sekolah tinggi menghenyakkan
> > > > kesadaran penulis. Sejak kapan di negeri ini seorang
> > > > pejabat dapat mengikuti pelajaran di sebuah sekolah
> > > > tinggi? Memangnya para pejabat negara kita itu
> > > > orang-orang pengangguran yang tidak punya pekerjaan?
> > > > Begitu mudahkah seorang pejabat mencari gelar? 
> > > > 
> > > > Kalau benar seorang capres yang mengikuti ujian
> > > > komprehensif itu telah mulai kuliahnya sejak tahun
> > > > 2002 ketika ia masih menjadi pejabat publik. Kalau
> > > > penulis sendiri mempunyai jabatan publik, apalagi
> > > > jabatan menteri di negara besar Indonesia ini, sulit
> > > > dibayangkan bisa mengikuti kuliah atau bahkan
> > > > mengikuti ujian. Tetapi memang dasar negeri ajaib,
> > > > eh
> > > > atau seorang yang ajaib?- ujian komprehensif pun
> > > > seakan menjadi pentas gratis pembentukan citra diri.
> > > > 
> > > > Kesadaran penulis terhenyak bukan karena sosok calon
> > > > presidennya, tetapi karena kenyataan bahwa sekolah
> > > > kita tidak lebih daripada tempat pameran pencarian
> > > > nama. Fakta seorang calon presiden ikut ujian
> > > > komprehensif bagi penulis tampak mempertegas
> > > > kenyataan
> > > > begitu rendahnya sistem pendidikan kita sehingga
> > > > seorang pejabat yang super sibuk pun masih
> > > > diperbolehkan ikut ujian. Tentu pembelaan bisa
> > > > dikatakan demikin: Toh tidak ada hukum yang melarang
> > > > seorang pejabat sekolah!
> > > > 
> > > > Penulis sendiri mengenal sendiri beberapa pejabat
> > > > yang
> > > > berhasil mengambil gelar Master dan doktoral ketika
> > > > mereka masih menjabat. Dan pada umumnya memang
> > > > mereka
> > > > cerdas dan cerdik dalam mengejar gelar-gelar itu.
> > > > Cukup untuk sekedar menaikkan pangkat, meraup
> > > > kenaikan
> > > > gaji. Tetapi jangan lupa, selain itu, juga untuk
> > > > menambah menterengnya nama di meja kantornya: Doktor
> > > > ini, Master ini, menjadi tambahan namanya. Kalau
> > > > ditanya cara bisa menyelesaikan sekolahnya? Jawaban
> > > > klasiknya: Kami mengikuti prosedur resmi kok. Tetapi
> > > > ada banyak hal yang tidak dikatakan untuk bisa
> > > > meraih
> > > > gelar master dan doktor. 
> > > > 
> > > > Jadi, seorang pejabat yang bisa mengejar gelar
> > > > memang
> > > > tergolong manusia ajaib di negeri ini. Karena begitu
> > > > banyaknya, maka, yang ajaib tidak hanya pejabat yang
> > > > bersangkutan, tetapi juga sekolah-sekolah yang
> > > > menerima para pejabat sebagai
> > > > mahasiswa-mahasiswinya.
> > > > Begitulah, pendidikan kita lalu tidak lebih daripada
> > > > pendidikan orang-orang ajaib.
> > > > 
> > > > Tetapi keajaiban tukang sulap adalah sebuah
> > > > penipuan.
> > > > Lalu, keajaiban para pejabat kita jangan-jangan tak
> > > > lebih daripada keajaiban tukang sulap juga. 
> > > > 
> > > > Pendidikan yang hanya menghasilkan tukang sulap
> > > > hanya
> > > > akan melahirkan para pemimpin penipu rakyat. Lalu,
> > > > dengan gampang rakyat disandera untuk meraih kuasa.
> > > > 
> > > > Oh, pendidikan Indoensia, kemana kami sedang kau
> > > > bawa!?
> > > > 
> > > > 27 Juli 2004



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke