Kolom IBRAHIM ISA
27 Juli 2004.
WASPADAI ucapan Mayjen TNI SUNARSO
< Pangdam Divisi Diponegoro>
========================================
Menjelang pemilihan presiden dan wakil presiden
putaran kedua, 20
September,2004, mendatang, tiba-tiba muncul suara
sumbang lagu lama rezim Orba,
dari seorang militer. Suara itu ternyata dari Mayjen
TNI Sunarso, Pangdam
IV/Diponegoro. S.k. "Suara Merdeka" yang menyiarkan
pernyataan sang jendral
memberikan judul: "WASPADAI POLITIK AS". Orang bisa
salah tafsir, mengira bahwa
sang Jendral adalah salah seorang elite TNI yang anti
AS.
Entah dalam kapasitas apa pernyataan itu dikeluarkan.
Apakah dalam kedudukan
sebagai seorang militer, sebagai seorang panglima dari
Divisi IV Diponegoro? Ada
urusan apa seorang jendral, dengan menyandang nama
panglima divisi, lalu membuat
pernyataan politik nasional dan internasional. Sejak
menggeloranya gerakan
Reformasi yang tegas-tegas menentang supremasi militer
atas sipil, menentang TNI
mendominasi pemerintahan seperti yang berlangsung 32
tahun di bawah Orbanya
Jendral Suharto; Reformasi yang menuntut dihapuskannya
dengan tuntas praktek
"Dwifungsi Abri", -- bukankah tidak sekali dua kali
elite TNI menyatakan di muka
umum, bahwa TNI tidak akan ikut-ikut lagi dalam urusan
politik? Pernyataan
Mayjen Sunarso, adalah suatu bukti keras lagi, bahwa
apa yang diomongkan elite
militer masih jauh dari perbuatannya, bahkan,
omongannya itu bertentangan
samasekali dengan apa yang difikirkannya.
Supaya tidak menimbulkan kesalah-fahaman, atau salah
tafsir mengenai apa yang
diucapkan sang jendral, maka kiranya sebaiknyalah
dikutip saja selengkapnya
berita yang disiarkan oleh "Suara Merdeka", 26 Juli
2004 tsb, seperti di bawah
ini:
"Penggunaan istilah yang dijadikan cover media massa
dengan tulisan 'Awas Bahaya
Laten Militerisme', misalnya, sama dengan istilah
bahaya laten dalam G30S/PKI.
Itu upaya memutarbalikkan fakta sejarah, dengan
mengambinghitamkan pihak lain
sebagai pelaku kejahatan terhadap negara," katanya
dalam makalah yang dibacakan
Aster Kasdam IV/Diponegoro Kol Sumardi, tanpa menyebut
nama media itu.
Dalam acara "Dialog Antarumat Beragama Provinsi
Jateng" di Hotel Inna Dibya
Puri, akhir pekan kemarin, Sunarso menilai, masyarakat
seharusnya waspada
terhadap kebijakan politik Amerika (AS). Salah satu
upayanya, menurut dia, AS
akan memanfaatkan kelompok separatis dan binaannya di
sini sebagai agen-agen
mereka.
Di sisi lain, andil komunisme di negeri ini tidak bisa
serta-merta dilalaikan.
Menurutnya, gerakan komunisme sekarang telah berhasil
menyusup ke seluruh elemen
masyarakat, baik parpol peserta pemilu, LSM, ormas,
TNI, maupun Polri. "Secara
kuantitas dan kualitas, aktivitas mereka saat ini
sangat terasa di berbagai
daerah, terutama yang dulu menjadi basis PKI,"
tandasnya.
Bentuk konsolidasi mereka (eks PKI) adalah
meningkatkan aktivitas melalui
paguyuban, seperti Pakorba. Itu sebabnya dia
menyesalkan pencabutan Pasal 60 Bab
VII Ayat G pada UU No 12 Tahun 2003 tentang Larangan
Eks Anggota PKI Menjadi
Calon Legislatif. Padahal, hal itu justru akan
memberikan peluang peningkatan
gangguan keamanan di daerah dan mengancam pilpres.
Sementara itu, Kombes Pol Mutamin Sunoto, Kepala Biro
Binamitra Polda Jateng,
mengatakan, siap memantapkan kamtibmas swakarsa dengan
masyarakat dan tokoh
agama. Pihaknya saat ini waspada terhadap provokasi
dan ancaman bom untuk
menggoyang pemerintah".Selesai kutipan.
Logislah bila dipertanyakan, bukankah apa yang
dinyatakan oleh Mayjen Sunaryo
itu sebuah pernyataan politik, "pure and simple"?. Apa
yang dinyatakannya tidak
tanggung-tanggung jangkauannya. Jendral "kita" itu
mengecam keputusan DPR
mengenai pemulihan hak-dipilih bagi eks anggota PKI.
Lebih jaun lagi, beliau
juga mengecam negara Amerika Serikat.
Aku harus berterus-terang, ada benarnya apa yang
dikatakan oleh Mayjen Sunarso
bahwa , "masyarakat seharusnya waspada terhadap
kebijakan politik Amerika (AS).
Salah satu upayanya, menurut dia, AS akan memanfaatkan
kelompok separatis dan
binaannya di sini sebagai agen-agen mereka". Namun,
tidak seluruhnya benar.
Masih ada sesuatu yang dilakukan CIA-AS terhadap
Indonesia, yang tidak diungkap
oleh Mayjen Sunarso. Bukankah, dalam periode
pemerintahan Presiden Sukarno, AS
dengan bukti-bukti jelas telah ambil bagian dalam
menggerowoti, membalkanisasi
Republik Indonesia, dengan memberikan bantuan
finansil, senjata dan manusia
(Pilot CIA Alan Pope) pada pemberontakan separatis
PRRI/Permesta (1957). Jadi,
AS bukan
a k a n, tetapi s u d a h lama memanfaatkan
separatisme untuk menghancurkan
pemerintahan Presiden Sukarno dan Republik Indonesia.
Karena tidak berhasil
subversi AS itu, maka selanjutnya CIA aktif ambil
bagian dalam pembantaian
massal terhadap rakyat Indonesia yang tidak bersalah,
yang dituduh terlibat
dalam Gerakan 30 September 1965. Bahkan tidak sedikit
pakar luarnegeri yang
melihat tangan CIA dan intel Inggris sebagai dalang
utama di belakang G30S itu
sendiri.
Sejak beberapa waktu belakangan ini, banyak
dibicarakan siapa sesungguhnya yang
ada di belakang atau yang mendukung gerakan separatis
di Maluku, Papua dan Aceh.
Berkali-kali disinyalir bahwa sementara kalangan di
Amerika, Inggris dan
Belanda, terlibat dengan dukungan di belakang layar
yang mereka berika terhadap
separatisme di Indonesia. Yang "netral" saja, seperti
Stockholm, dengan bermacam
alasan memberikan tempat kepada GAM untuk melakukan
kegiatan separatisnya dari
luarngeri.
Yang bikin gawat apa yang dinyatakan oleh Mayjen
Sunarso, adalah bahwa ia
mengidentikkan, dengan satu tarikan nafas, ---
canang-canang yang tercetus di
dalam masyarakat mengenai "bahaya militerisme" di
Indonesia, dengan subversi
CIA-AS. Ia sekaligus menuduh bahwa adalah para eks-PKI
yang berdiri di belakang
canang tsb, tanpa memberikan bukti-bukti apapun. Dalam
bahasa sehari-hari ini
namanya fitnah. Sama halnya seperti fitnah yang
dilakukan oleh Jendral Suharto
dan fihak militer yang mendukungnya dalam menciptakan
opini publik secara
besar-besaran tentang "kekejaman" perempuan-perempuan
anggota Gerwani di Lubang
Buaya, yang katanya dengan biadab menyiksa dan
membunuh para jendaral korban
G30S pada tahun 1965. Kemudian terbukti bahwa fitnahan
keji terhadap
anggota-anggota Gerwani itu adalah palsu dan rekayasa
belaka. Tujuan kampanye
fitnah militer itu yang pokok adalah satu, yaitu,
untuk melakukan persekusi dan
pembantaian masal terhadap ratusan ribu orang-orang
tak bersalah,
anggota-anggota PKI, yang dituduh PKI,
pengikut-pengikut dan pendukung Presiden
Sukarno, golongan Kiri, dan semua yang dituduh
terlibat dengan G30S.
Tentang bahaya militerisme, bagi rakyat Indonesia, hal
itu bukan barang baru
lagi. Bangsa dan negeri ini telah cukup menderita
puluhan tahun dibawah rezim
Orba, yang tidak lain daripada suatu rezim militer
yang telah mencampakkan semua
sendi-sendi demokrasi, menegakkan suatu kekuasaan
otoriter, merampas hak-hak
sipil dan kewarganegaraan, telah membunuh ratusan ribu
orang tak bersalah,
memenjarakan puluhan ribu orang lainnya yang tak
bersalah tanpa proses hukum
apapun, memperpersekusi dan memarginalisasi
warganegaranya sendiri. Di atas
punggung rakyat yang miskin dan menderita itu, elite
rezim Orba tsb dengan
seleluasa-leluasanya melakukan
Korupsi-Kolusi-Nepotisme (KKN), merampok kekayaan
negeri, menguras kas negara, untuk memperkaya mereka
sendiri. Sampai sekarang,
sampai menit ini, sisa-sisa militerisme masih
tercantum pada banyak
peraturan-peraturan/ketentuan, u.u., kebijaksanaan
yang mendiskriminasi
warganegara keturunan etnis-Tionghoa, yang
memarginalisasikan dan
mendiskriminasi para eks-tapol dan keluarganya, masih
tetap berlaku. Sampai saat
ini budaya KKN yang diwarisi oleh rezim Orba yang
diciptakan dan dikuasai
militer masih terus merajalela.
Nyatanya bangsa ini sekarang dihadapkan pada salah
seorang calon presiden yang
mantan elite militer, yang adalah seorang jendral,
yang di waktu yang lalu ikut
menopang dan mendukung Jendral Suharto dan Orbanya.
Dalam situasi demikian,
adanya canang "awas bahaya militerisme", sepenuhnya
bisa difahami. Hal itu
merupakan canang yang diperlukan bangsa ini!
Satu pertanda lagi bahwa fihak militer jelas-jelas
masih ingin memaksakan
supremasinya atas pemerintah bahkan atas Presiden RI,
tercermin dalam Pasal 19
RUU TNI, yang menyatakan, sbb:
(1)Dalam keadaan mendesak, di mana kedaulatan negara,
keutuhan wilayah, dan
keselamatan segenap bangsa terancam, Panglima TNI
dapat menggunakan kekuatan TNI
sebagai langkah awal guna mencegah kerugian negara
yang lebih besar.
(2)Penggunaan kekuatan TNI sebagaimana dimaksud pada
Ayat (1) harus dilaporkan
kepada Presiden paling lama dalam waktu 1 x 24 jam.
Pasal-pasal dari RUU TNI itu dengan kekuatan uu hendak
memberikan hak kepada
fihak militer untuk menafsirkan sendiri "keadaan
mendesak" atau "darurat" .
Dengan demikian mencegah supremasi sipil atas militer.
Karena, menurut Pasal 19
RUU tsb, pihak sipil yaitu, Presiden atau DPR sekadar
diberi "laporan" saja,
setelah "keadaan mendesak" diberlakukan oleh militer.
Gejala-gejala ini
mendapat sorotan tajam dari masyarakat. Maka, untuk
mngalihkan perhatian
masyarakat dari canang bahaya militerisme, Mayjen
Sunarso, seperti kebiasaan
Orba, mencari kambing hitam yang dikiranya masih
ampuh. Sang jendral menabuh
gendang dan memukul kentung tentang adanya "bahaya
komunisme". Pelbagai
organisasi kemasyarakatan, LSM-LSM dan seluruh elemen
masyrakat, dituduhnya
telah disusupi oleh komunis. Nyatanya pandangan
politik yang "Kiri" memang
selalu terdapat di dalam masyarakat kita. Pandangan
"Kiri" adalah suatu aliran
fikiran yang tradisionil dalam bangsa kita, suatu
aliran fikiran yang maju dan
populis, yang selalu memperjuangkan demokrasi dan
keadilan sosial. Makanya
aliran "Kiri" ini akan selalu ada. Ia tidak bisa
diberantas, meskipun
berkali-kali dilarang dan ditidas. Selama tidak ada
demokrasi, tidak ada
keadilan sosial, maka aliran "Kiri" akan tumbuh dan
berkembanga. Ini bisa
dilihat dari kenyataan tidak sedikitnya generasi muda
kita dewasa ini, yang
punya pandangan politik yang "Kiri".
Sedangkan mengenai PKI, semua orang tahu bahwa PKI
sudah lama dilarang,
organisasinya sudah bubar dan cerai-berai,
pemimpin-pemimpin dan kader-kadernya
sudah habis dibantai, yang masih survive sudah pada
"manula" (manusia usia
lanjut). Dunia internasional, Komunisme oleh AS
dinyatakan sudah kalah.
Kapitalisme sudah mencapai kemenangan, seperti
dinyatakan oleh mantan presiden
Reagan dari AS. Negara-negara yang masih menyatakan
diri sosialis dan dipimpin
oleh Partai Komunis, sudah mempraktekkan ekonomi
pasar, suatu fondamen dari
kapitalisme. Partai Komunis Tiongkok, malah sudah
membuka pintunya bagi
orang-orang kapitalis. Lalu, bahaya macam apa lagi
yang dinamakan "bahaya
Komunisme" itu.
Bagi dunia sekarang ini, bahaya utama, seperti
dinyatakan oleh banyak tokoh
negarawan, adalah teror negara yang dilakukan Israel
terhadap rakyat Palestina,
pendudukan negeri Palestina oleh Istael, adalah
politik pemerintah Bush dari AS
yang dengan dalih "Sadam Hussein merupakan bahaya
terhadap AS, Inggris dan
dunia", karena "memiliki dan akan menggunakan senjata
pemusnah masal" , lalu
melakukan invasi militer dan menduduki Irak. Itu semua
dilakukan dengan
mengabaikan pendapat umum dunia, dengan
mengenyampingkan sekutu-sekutunya
sendiri di dalam Uni Eropah. Lebih jauh lagi melakukan
agresi terhadap sesuatu
negeri anggota PBB yang berdaulat, dalam hal ini Irak,
dengan menganggap sepi
Dewan Keamanan PBB. Politik luar negeri yang bertolak
dari konsep
"Unilateralisme" (bertindak sepihak) yang
meninjak-injak totokromo hubungan
internasional dan hukum internasional, -- serta
doktrin militer "pre-emtive
stike" (melakukan serangn lebih dahulu) terhadap suatu
negeri yang berdaulat
yang dianggapnya "membahayakan" kepentingan
nasionalnya, adalah bahaya amat
besar bagi kestabilan dan keamanan internasional.
Tetapi jendral "kita" mencanangkan "bahaya komunis".
Jelas sekali, bahwa canang sang jendral tsb adalah
manuver belaka untuk
mengalihkan perhatian masyarakat terhada "bahaya" yang
sesungguhnya. ***
__________________________________
Do you Yahoo!?
New and Improved Yahoo! Mail - Send 10MB messages!
http://promotions.yahoo.com/new_mail
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/