William Liddle:
*"Dalam tiga tahun terakhir, Presiden Megawati
gagal.."
*"Meski demikian, harus diakui, siapa pun yang
dilantik sebagai presiden pada 20 Oktober kelak akan
menghadapi pola fragmentasi lebih parah ketimbang
pendahulunya. Ia akan terpaksa mencari dukungan banyak
partai selain partainya sendiri. Kenyataan itu akan
mengurangi kemampuannya merumuskan dan melaksanakan
programnya sendiri. Boleh jadi para pemilih pada
pemilu berikut akan kecewa pula dengan kinerja
pemerintah yang berkuasa tahun 2004-2009."

Selengkapnya:

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0404/21/opini/983208.htm
Kompas, 21 April 2004

Fragmentasi Partai dan Demokrasi 
Oleh R William Liddle

MENDENGARKAN keluhan beberapa orang di Ibu Kota
baru-baru ini, kita gampang menyimpulkan, demokrasi di
Indonesia telah gagal. Suara paling nyaring terdengar
dari pemimpin partai-partai kecil yang merasa kecewa
dengan jumlah suara yang diperoleh. Tanpa malu-malu,
mereka mencoba meyakinkan bahwa mereka dicurangi oleh
para pelaksana pemilu dan entah siapa lagi yang
membuat konspirasi di belakang layar. Padahal, kesan
pertama saya, jumlah kecurangan pada pemilu ini
mungkin lebih sedikit ketimbang lima tahun lalu.

Keluhan lebih berbobot berasal dari pengamat yang
merasa prihatin dengan pola fragmentasi atau
perpecahan pada peta kepartaian yang kian parah dalam
sejarah politik Indonesia. Pada tahun 1955, empat
partai-PNI, Masyumi, NU, dan PKI-menang dalam pemilu
demokratis yang pertama. Partai paling besar saat itu,
PNI, hanya meraih 22,3 persen suara. Tak ada partai
yang cukup kuat untuk memerintah sendiri. Lebih gawat
lagi, saat itu pemimpin partai tak berhasil
menciptakan koalisi antarpartai yang bisa meletakkan
sebuah fondasi kukuh bagi pemerintahan yang stabil dan
berwibawa. Akibatnya, Soekarno dan sejumlah perwira
tinggi TNI dengan mudah memusnahkan eksperimen bangsa
Indonesia yang pertama dengan demokrasi.

Pemilu 1999 menambah sedikit jumlah partai yang
memainkan peran signifikan di DPR. Namun, dari segi
lain, Pemilu 1999 mengurangi pola fragmentasi yang
diciptakan pemilu pertama. PDI-P meraih 34 persen,
jauh melebihi pendahulunya, PNI, atau partai lain pada
Pemilu 1955 atau 1999. Sayang, Megawati tidak
memanfaatkan kemenangannya untuk membuat koalisi baru.
Sebaliknya, untuk sementara ia dikalahkan koalisi
Poros Tengah pimpinan Amien Rais yang mengangkat
Abdurrahman Wahid sebagai presiden ke-4 RI. Dua tahun
kemudian, saat Abdurrahman dipecat (dinilai gagal
mempertahankan koalisi Poros Tengah), Megawati diberi
kesempatan kedua. Kali ini, dia lebih berhasil,
setidaknya dalam pengertian mampu membentuk
pemerintahan yang bisa bertahan hingga kini.

Dalam Pemilu 2004, pola fragmentasi lebih buruk lagi.
Keunggulan Presiden Megawati lenyap dengan anjloknya
dukungan yang diberikan kepada partainya. Kini tak ada
partai yang bisa dijuluki partai pemenang pemilu,
termasuk Golkar, yang hanya mempertahankan posisi dari
1999 di mata pemilih. Jumlah partai yang harus
dianggap pemain utama bertambah dengan suksesnya
Partai Demokrat (PD), yang meraih sekitar 7,5 persen,
dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS), yang memperoleh
7,0 persen.

DARI satu segi, kekalahan PDI-P serta kemenangan PD
dan PKS harus dianggap sebagai prestasi besar bagi
eksperimen kedua bangsa Indonesia dengan demokrasi.
Dengan amat gamblang, para pemilih telah mencanangkan
loud and clear kejengkelan mereka terhadap
tingkah-laku pemerintahan Megawati selama ini.
Kesimpulan ini diperkuat pengalaman pribadi saya di
beberapa daerah di Jawa dan Sumatera menjelang pemilu
serta oleh hasil sejumlah survei nasional yang
terandalkan, seperti International Foundation for
Election Systems (IFES) dan Lembaga Survei Indonesia
(LSI).

Meski demikian, harus diakui, siapa pun yang dilantik
sebagai presiden pada 20 Oktober kelak akan menghadapi
pola fragmentasi lebih parah ketimbang pendahulunya.
Ia akan terpaksa mencari dukungan banyak partai selain
partainya sendiri. Kenyataan itu akan mengurangi
kemampuannya merumuskan dan melaksanakan programnya
sendiri. Boleh jadi para pemilih pada pemilu berikut
akan kecewa pula dengan kinerja pemerintah yang
berkuasa tahun 2004-2009.

Dalam keadaan itu, apakah ada saran atau nasihat yang
bisa diberikan kepada presiden terpilih agar terbantu
untuk mengatasi atau setidaknya mengurangi dampak pola
fragmentasi yang akan dihadapinya? Rasanya ada tiga
political resources (sumber daya politik) yang kalau
dimobilisasi oleh presiden baru akan meringankan
bebannya sebagai pemimpin negara yang ingin berjasa
bagi bangsa.

Pertama, poin ini tidak terlalu baru, keengganan
politisi Indonesia untuk ada di luar lingkaran
kekuasaan. Kenyataan ini bisa digunakan presiden
terpilih untuk menarik dukungan dari partai-partai
lain di DPR pada awal masa kekuasaannya. Namun, ia
harus berusaha sedini dan sejauh mungkin menghindari
terbentuknya kabinet pelangi yang terlalu luas
jangkauannya. Dengan kata lain, presiden baru
dianjurkan tidak mengulangi kesalahan yang dibuat dua
pendahulunya. Ia harus mencari keseimbangan baru yang
memungkinkannya tetap bisa menguasai pemerintahannya
sendiri.

Kedua, presiden baru harus menyadari bahwa cukup
banyak pemilih merindukan reformasi yang belum kunjung
datang. Yang dimaksud reformasi antara lain, dan
mungkin terutama, adalah usaha sungguh-sungguh
mengurangi KKN dan menegakkan negara hukum. Kenyataan
ini jelas sekali dari hasil beberapa survei nasional
yang dilakukan IFES dan LSI. Secara tidak ilmiah, saya
mengalami fenomena ini saat melanglang Indonesia
menjelang dan sesudah hari pencoblosan. Desakan umum
yang kasatmata ini bisa dipakai presiden baru untuk
mendorong anggota DPR agar mereka mulai meninggalkan
praktik-praktik lama.

Ketiga, presiden baru harus maklum, dirinya adalah
satu-satunya pejabat pemerintah yang dipilih langsung
oleh seluruh masyarakat Indonesia. Di AS, yang juga
menganut sistem presidensial, kenyataan ini sudah lama
menjadi senjata pamungkas di medan laga politik.
Misalnya, Presiden George Bush sulit sekali dilawan
ketika memutuskan menyerang Irak. Meski banyak
politisi dari partai oposisi sulit menerima kebijakan
itu, mereka tak mewakili seluruh bangsa, suatu
perbedaan yang amat mereka sadari.

KEBERHASILAN demokrasi, di Indonesia maupun di AS,
banyak bergantung pada political skill, keterampilan
politik yang dimiliki atau yang bisa dikembangkan
presiden dan politisi. Dalam tiga tahun terakhir,
Presiden Megawati gagal, setidaknya bila kita memakai
pemilu legislatif yang baru sebagai ukuran.
Mudah-mudahan semua politisi pada pascapemilu,
termasuk Megawati, memetik pelajaran berharga untuk
masa depan dari keputusan bersama masyarakat.
Setidaknya sebagai isyarat, tiap lima tahun mereka
akan dituntut rakyat Indonesia, yang kian sadar dan
dewasa, untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

R William Liddle Profesor Ilmu Politik, The Ohio State
University, Columbus, Ohio, AS




        
                
__________________________________
Do you Yahoo!?
New and Improved Yahoo! Mail - 100MB free storage!
http://promotions.yahoo.com/new_mail 


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70
http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke