BILL LIDDLE TENTANG POLITIK PASKA PEMILU (1/6) 

Tentang kemenangan Golkar, "Ada sebuah struktur yang
sangat besar dan sangat 
menyeluruh yang sampai pada akar masyarakat. Struktur
itu yang menekan 
masyarakat untuk memilih Golkar." Kecurangan itu
memang masalah, tapi bukan 
masalah pokok. Yang lebih penting, "Kalau saya
mengatakan bahwa pemilu di 
Indonesia tidak demokratis, kita harus mulai dengan
sistim kepartaian yang 
dipaksakan." Tentang meluasnya perlawanan masyarakat,
"Bukan cuma Presiden 
Suharto tapi juga ABRI yang tidak bisa menguasai
secara penuh keadaan seperti 
ini. Karena itu memang mereka harus mulai takut." 
PEMILU-97 
T: hasil akhir pemilu 97: Golkar 74%, PPP 23% dan PDI
3%. Menurut Pak Bill, 
apa artinya angka-angka ini? Apakah memang ini
menunjukkan kemauan rakyat? 
J: Saya jawab spontan saja, tanpa banyak persiapan.
Saya kira, suatu angka di 
mana Golkar mencapai 74% itu tidak bisa mencerminkan
kemauan rakyat secara 
sempurna. Saya kira kita harus kembali ke tahun 1971
dan semua hal yang 
dilakukan oleh pemerintah -- dan ABRI dibelakang
pemerintah pada waktu itu -- 
dan pada setiap pemilu sesudah itu. Pertama, adalah
bahwa banyak manipulasi, 
banyak rekayasa yang terjadi setiap pemilu, dan itulah
yang menghasilkan 74% 
untuk Golkar tahun ini. Itu pertama. Tapi kalau kita
lihat suara yang 
diberikan kepada PPP dan PDI, saya kira memang ada
sesuatu yang menarik tahun 
ini. Dan itu adalah dampak Megawati. Saya kira kita
bisa lihat itu pada 
kenaikan suara pada PPP dan penurunan suara pada PDI. 
POLITIK BIROKRASI 
T: Ini pertanyaan susulan, pak. Artikelnya baru saja
kita dapat. Asian Wall 
Street Journal Weekly 2 Juni lalu bilang bahwa,
"political analyst point out 
that using parlementary vote as a referendum on the
popularity of Mr Soeharto 
and his governtment has several major flaw." Lalu
disebutkan sebabnya adalah 
karena "Golkar itu partainya birokrasi, jadi semua
pegawai negeri dan 
keluarganya harus memilih Golkar." Analisa ini sangat
menekankan faktor 
birokrasi ini. Apa Pak Bill setuju? 
J: Saya kira terlalu sempit mengatakan itu. Pada
setiap pemilu bukan saja 
para pegawai negeri itu diharuskan memilih Golkar.
Tapi mereka juga 
diharuskan untuk membujuk masyarakat di desa-desa dan
di kampung-kampung 
untuk memilih Golkar juga. Jadi ada sebuah struktur
yang sangat besar dan 
sangat menyeluruh yang sampai pada akar masyarakat.
Struktur itu yang menekan 
masyarakat untuk memilih Golkar. 
T: Setelah protes di Madura, pencoblosan diulangi
lagi. Jadi kecurangan itu 
memang ada, diprotes, terbukti dan harus diakui.
Bagaimana tanggapan Pak Bill 
tentang kecurangan-kecurangan selama pemilu? 
J: Mungkin saya terlalu jauh dari tempat untuk punya
komentar yang berbobot. 
Kalau saya menilai pemilu-pemilu sejak tahun 1971,
memang ada kecurangan, 
selalu. Pemilu Orba pertama saya lihat sendiri dari
desa di Kulonprogo pada 
tahun 1971. Dari dekat saya melihat memang ada
masalah. Tetapi pada setiap 
pemilu sesudahnya, sejauh bisa saya amati, tidak
banyak kecurangan. Tentu 
saja setiap pemilu ada tekanan yang sangat kuat, yang
sangat keras dari atas 
pada pegawai-pegawai di bawah. Kalau pegawai-pegawai
di bawah itu tidak 
memenuhi jatahnya, akibatnya itu memang berat bagi
mereka. Jadi pasti ada 
kecurangan. Tapi saya tidak melihat kecurangan sebagai
suatu masalah yang 
besar. Tidak di situ. Tentu saja saya berpendapat
bahwa pemilu Orde Baru 
bukan pemilu yang demokratis. Tapi saya kira masalah
yang pokok bukan di 
situ. 
POLITIK KEPARTAIAN 
T: Apa masalah pokoknya? 
J: Kalau saya mengatakan bahwa pemilu di Indonesia
tidak demokratis, kita 
harus mulai dengan sistim kepartaian yang dipaksakan.
Dua partai, PDI dan 
PPP, adalah partai yang dibentuk atas kehendak
pemerintah, bukan atas 
kehendak anggota mereka, atau kehendak
organisasi-organisasi yang disatukan. 
Jadi sebaiknya kita mulai dari sana. Sesudah itu
setiap kali ada kongres 
partai, ya pemerintah yang menentukan siapa yang
menjadi pengurus partai. 
Jadi ini bukan sistim kepartaian yang demokratis. 
T: Akar masalahnya adalah sistim kepartaian Orba itu? 
J: Bukan pemilunya sendiri yang bermasalah. Tetapi
seluruh sistim yang 
mengharuskan para pemilih memilih di antara tiga
partai itu, tentu saja 
dengan jauh lebih banyak fasilitas yang diberikan
kepada Golkar dari pada dua 
partai lainnya. Nah, misalnya dengan konsep "massa
mengambang" itu Golkar 
selalu mendapatkan fasilitas sampai ke desa-desa, tapi
dua partai tidak. 
MELUASNYA PERLAWANAN 
T: Korban yang meninggal sampai hari ini sekitar 250,
jauh lebih besar 
dibandingkan pemilu-92 yang korbannya 13 orang. Apa
artinya ini buat Pak 
Bill? 
J: Ini juga sangat sulit untuk memberikan jawaban yang
dapat diandalkan. Saya 
memang melihat gejala pada pemilu ini, yang tidak ada
pada pemilu-pemilu 
sebelumnya, yaitu semacam intensitas orang yang
bersedia melawan pemerintah 
atau berbuat sesuka hati mereka. Jadi meskipun
arak-arakan itu dilarang, 
umpamanya, para pemuda yang bergabung dengan dua
partai itu, khususnya dengan 
PPP, mereka masih mau, masih bersedia turun ke jalan.
Meskipun mereka harus 
melawan polisi dan ABRI. Dan itu kan merupakan gejala
yang agak baru dan 
sulit sekali dimengerti. 
T: Gejala agak baru, artinya? 
J: Kalau dulu korban itu sebagian besar disebabkan
oleh intensitas kampanye 
itu seperti arak-arakan, pemuda yang naik sepeda motor
tanpa disiplin. Atau 
pertikaian antara Golkar dan PPP. Hal-hal seperti itu
diantara kontestan, dan 
dari ABRI atau polisi dengan kontestan meningkat dalam
pemilu ini. Dan saya 
kira alasannya adalah lebih banyak rakyat yang
bersedia melawan pemerintah. 
T: Mengapa? 
J: Nah, itu yang sulit bagi saya untuk menjawab. Ada
orang yang mengatakan 
bahwa khususnya pada awalnya kejadian itu banyak
disebabkan oleh para pemuda 
yang sebenarnya tidak begitu berpolitik. Ya mereka
cuma ingin berhura-hura, 
tapi sesudah itu menjadi lebih politis sifatnya. Saya
tidak ada di sana, jadi 
sulit sekali menilai bagaimana konflik antara polisi
dengan pemuda partai, 
atau antara para pengikut PPP dan pengikut Golkar.
Maaf ya, ini memang bukan 
jawaban yang baik. 
T: Apakah bukan karena ketakutan itu sudah hilang? 
J: Ya, memang ada juga yang mengatakan bahwa ketakutan
hilang. Dan memang 
kesan saya juga ketakutan itu hilang. Meskipun
pemerintah dan ABRI mencoba 
menakut-nakuti masyarakat lebih daripada sebelumnya.
Seakan-akan ada spiral 
kekerasan, yang lebih tinggi suhunya dibandingkan
dengan 5 tahun lalu, atau 
kalau dibandingkan dengan pemilu-pemilu sebelumnya. 
T: Ini pandangan yang agak lain. Sistim politik Orde
Baru itu kan dibangun 
atas ketakutan, atas pembunuhan massal yang ratusan
ribu orang itu. 
J: Ya. 
T: Orang tidak berani melawan rejim selama 30 tahun
karena mereka takut 
betul-betul. Tapi sekarang dua pertiga penduduk
Indonesia sudah tidak tahu 
apa yang terjadi tahun 65. Mereka lahir setelah
pembunuhan massal itu. Kalau 
ketakutan hilang, bukankah sistim politiknya juga
harus berubah? 
J: Itu ide yang baru. Saya harus pikir dulu bagaimana
pendapat saya mengenai 
hal ini. Kalau kita kembali ke pemilu-71, yang saya
lihat di desa saya di 
Kulon Progo adalah bahwa orang takut pada pemerintah
dan ABRI sebab masih 
dekat waktunya dengan pembunuhan tahun 66. Tapi kita
bisa mengatakan juga 
bahwa tahun 92 atau 87 atau 82 itu perasaan takut
sudah jauh berkurang 
ketimbang tahun 71. Pendapat saya, seakan-akan
perasaan ketakutan itu, yang 
ada hubungan dengan G30S, sudah lama hilang. Bukan
sesuatu yang baru pada 
pemilu tahun ini. 
T: Jadi sebelum pemilu ini ketakutannya pada siapa
kalau bukan terhadap 
pembunuhan itu dan kekerasan ABRI sesudahnya? 
J: Maksud saya tadi banyak anggota masyarakat yang
takut pada pemerintah dan 
ABRI oleh karena mereka masih ingat apa yang terjadi
pada tahun 66-67. 
Sesudah itu perasaan takut itu sudah berkurang pada
pemilu berikutnya. Waktu 
pemilu-77, sudah berkurang, seingat saya. Jadi agak
sulit membuat analisa 
tentang pemilu 97 yang mengatakan seakan-akan baru
sekarang masyarakat tidak 
takut lagi pada pemerintah. Itu yang saya maksudkan. 
T: Tapi intensitas perlawanannya lebih besar dan lebih
meluas sekarang? Itu 
yang kita lihat selama kampanye lalu. Gimana
memahaminya? 
J: Ya memang saya akui sejauh yang bisa saya amati
dari sini. Memang 
seakan-akan kesediaan masyarakat untuk melawan
pemerintah hari ini, 
dibandingkan dengan sebelumnya, itu jauh lebih besar.
Mungkin salah satu 
faktor adalah kejadian 27 Juli tahun lalu. Bukan cuma
PRD, tapi anggota PDI 
atau anggota PNI dari sayap Megawati yang merasa
sangat kecewa, sangat marah 
kepada pemerintah sesudah kejadian 27 Juli itu. Sangat
sulit bagi saya untuk 
menganalisa ini, tapi mungkin kita bisa mengatakan
bahwa perlawanan 
masyarakat mulai dari situ. Pertama kekerasan
dilakukan oleh pemerintah. Lalu 
dilawan oleh anggota partai yang menjadi marah, dan
sesudah itu mereka tidak 
takut lagi kepada pemerintah. 
T: Peristiwa 27 Juli itu cuma di Jakarta. Tapi
perlawanan sekarang itu sampai 
ke desa-desa. Dan bukan cuma di Jawa tetapi juga di
Sumatra dan Kalimantan. 
Apakah karena kemarahan sudah sampai pada suatu titik
yang tidak bisa takut 
lagi atau bagaimana? 
J: Saya mengatakan bahwa suasana ketakutan yang ada
hubungannya dengan G30S 
sudah lama tidak ada lagi. Jadi jangan dikaitkan
dengan itu. Analisa saya 
tentang pemilu 71 adalah bahwa masih banyak penekanan,
banyak kekerasan, yang 
langsung dari pegawai -- dan dibelakangnya ABRI --
terhadap masyarakat. 
Masyarakat pada tahun 71 itu tidak tahu apa yang
diharapkan, diinginkan dari 
mereka, dan juga mereka masih merasakan suasana G30S
itu. Tapi sesudah itu 
kesan saya masyarakat sudah mulai mengerti bahwa
mereka harus memilih Golkar. 
Mereka diharuskan oleh pemerintah untuk memilih
Golkar. 
Jadi hubungan antara kekerasan dan pilihan itu sudah
menjadi sangat longgar 
mulai 77. Ini bukan lagi masalah ketakutan, ini sudah
menjadi "kebiasaan" 
didalam Orde Baru. Dan itu yang dilanjutkan sampai
sekarang ini. Termasuk 
pemilu sekarang ini dengan 74% itu kan? Itu masih
berarti bahwa banyak orang 
-- bukan cuma semua pegawai negeri itu, tetapi juga
banyak rakyat biasa -- 
yang memilih Golkar. Dan saya kira mereka memilih
Golkar sebagian besar bukan 
karena takut, dalam pengertian langsung takut. Tetapi
sebab mereka merasa, ya 
begitulah kuajiban mereka di dalam Orde Baru. Memang
"kuajiban" itu bukan 
kata yang bagus, ya. Tapi itu yang diharapkan dari
mereka. 
T: The Economist tanggal 7 Juni antara lain
menyimpulkan bahwa meluasnya 
perlawanan dalam pemilu 97 ini "should serve as a
warning to President 
Soeharto that he is no longer fully in control of
events." Setuju? 
J: Ya, begitu juga kesan saya. Dan kita harus lihat
dalam konteks yang lebih 
luas dari pemilu. Kita kembali lagi ke Peristiwa 27
Juli dan sesudah itu ada 
Situbondo, Tasikmalaya dan Pontianak. Yang terjadi di
tempat-tempat itu 
adalah hal-hal yang tidak pernah terjadi sebelumnya.
Apalagi terjadinya 
hampir bersamaan. Di seluruh Indonesia, termasuk di
Aceh, di Timtim, di 
Irian, hampir sekaligus terjadi perlawanan terhadap
pemerintah. Saya kira itu 
berarti bahwa bukan cuma Presiden Suharto tapi juga
ABRI yang tidak bisa 
menguasai secara penuh keadaan seperti ini. Karena itu
memang mereka harus 
mulai takut. 
Dan ada buktinya dengan adanya pembentukan posko-posko
itu sebelum pemilu. 
Saya melihat pembentukan posko pada waktu itu ada
hubungan dengan gejala ini. 
Sebab saya kan selama ini mempunyai analisa bahwa Orde
Baru itu jauh lebih 
kuat daripada lawannya. Kita lihat siapa lawannya
dalam masyarakat Indonesia? 
Hampir tidak ada! Tetapi kalau ada perlawanan yang
tidak berencana seperti 
ini, seperti yang terjadi di Situbondo, dan itu
terjadi sekaligus di banyak 
tempat, ABRI tidak bisa mengatasi percikan-percikan
api sebanyak itu 
(bersambung-2/6). 

http://www.library.ohiou.edu/indopubs/1997/08/25/0042.html


        
                
__________________________________
Do you Yahoo!?
New and Improved Yahoo! Mail - 100MB free storage!
http://promotions.yahoo.com/new_mail 


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke