BILL LIDDLE TENTANG POLITIK PASKA PEMILU (2/6) 

Tentang menguatnya PPP, "Sama sekali diluar dugaan
saya bahwa akan terjadi 
kompetisi yang begitu sengit, yang begitu serem,
antara PPP dan Golkar 
sekarang ini." Tentang NU, "Mereka menjadi kelompok
kepentingan, bukan partai 
politik." Tentang Gus Dur, "Saya sendiri cenderung
melihatnya sebagai seorang 
demokrat sejati." Soal siapa yang mengontrol bedil,
"Akhirnya yang punya bedil itu cuman Suharto." 

POLITIK PPP 
T: Sistim politik yang dibangun selama Orde Baru
mengandalkan dua parpol dan 
Golkar. Setelah pemilu 97, sistim itu rontok karena
yang kemudian muncul 
adalah PPP dan Golkar tanpa kehadiran PDI sebagai
alternatif bagi oposisi. 
Dampaknya antara lain, terutama di Jatim, adalah
radikalisasi PPP. Apakah 
Pak Bill setuju dengan pendapat adanya radikalisasi
PPP ini? 
J: Maaf ya. Soal ini saya tidak bisa memberikan
jawaban yang memuaskan. 
Pertama, menurut pendapat saya PPP itu bukan partai
yang radikal, apalagi 
dibawah Buya. Juga, PPP itu sampai pemilu 87 masih
bisa dianggap mewakili 
kekuatan Islam di dalam masyarakat, meskipun NU
menarik diri pada tahun 84 
itu. Tetapi dengan adanya ICMI yang dibentuk pada
tahun 90, seakan-akan suara 
Islam, khususnya Islam modernis, sudah diambil oleh
Golkar sendiri. Dan itu 
yang kita lihat di pengurus Golkar misalnya. Disitu
Habibie, Harmoko, Emil 
Salim dan tokoh-tokoh ICMI lainnya semua memainkan
peranan penting. Jadi sama 
sekali diluar dugaan saya bahwa akan terjadi kompetisi
yang begitu sengit, 
yang begitu serem, antara PPP dan Golkar sekarang ini.
Sebab sebetulnya suara 
Islam sudah banyak di kalangan Golkar. 
T: Kalau begitu apakah ini radikalisasi massa? 
J: Ya. Tapi ini masih kabur sekali artinya bagi saya.
Kita kembali ke 
pemuda-pemuda selama kampanye di lapangan, misalnya.
Kan ada pemuda yang 
punya tiga baju, umpamanya. Atau pemuda yang belum
cukup umur untuk ikut 
dalam pemilu, dan mereka cuma masuk ke dalam
arak-arakan atau kegiatan 
seperti itu. Ya mereka ada maknanya dalam politik.
Tetapi saya agak sulit 
memahami apa maknanya, apa artinya? 
T: Ini ada analisa dari The Economist 7 Juni tentang
dua hal yang Pak Bill 
sebutkan sebelumnya, Mega dan PPP. Kita bacakan ya,
nanti kita minta komentar 
Pak Bill, "But the result in the collapse in the PDI
vote is that the tightly 
controlled political order created by Mr. Suharto in
the 1970s is no longer 
functioning in the way how it was suppossed to
function. Instead of one 
dominant government group and two acquiscent minority
parties, Indonesia now 
is lumbered with a corrupt and complacent ruling party
that finds itself 
facing at increasingly angry Islamic opposition
party." 
J: Saya tidak pernah menganggap bahwa PDI dan PPP
begitu penting dalam 
struktur kekuasaan Orde Baru. Kutipan dari The
Economist itu seakan-akan 
mengatakan bahwa struktur itu memang mewakili sesuatu.
Menurut pendapat saya, 
pemerintah membiarkan PPP dan PDI hidup supaya ada
kesan didalam negeri, dan 
yang lebih penting diluar negeri, bahwa Orde Baru itu
bersifat demokratis. 
Padahal kita semua tahu bahwa setiap kali pemilu lebih
banyak fasilitas 
diberikan kepada Golkar, massa mengambang, dsb. PPP
dan PDI tidak pernah ada 
harapan bisa menang. Jadi saya tidak melihat pemilu
ini banyak berbeda dengan 
pemilu sebelumnya dilihat dari segi itu. 
Memang PDI lebih kecil, tapi itu kan dampak langsung
dari masalah Megawati, 
dan PDI Megawati masih hidup, seperti saya katakan
tadi. Juga ada kesan, dari 
kutipan itu, seakan-akan ada radikalisasi Islam. Nah,
saya tanyakan apa 
artinya PPP yang radikal? Sebab saya sama sekali tidak
melihat adanya unsur 
radikalisasi agama di dalam kampanye PPP itu. Saya
tahu atau saya baca bahwa 
ada poster PPP yang mengutip ayat-ayat Al Qur'an dsb.
Tapi itu juga dilakukan 
oleh Golkar. Dan sekali lagi dibawah Buya sebagai
pemimpin, PPP itu bukan 
partai Islam yang radikal. Dan juga dibawah Mudrick
yang di Solo itu, 
kampanye dia kan bukan kampanye fundamentalis. Kesan
dari The Economist itu 
kan seakan-akan muncul fundamentalisme Islam. Saya
tidak melihat unsur itu 
sama sekali. 
T: Selama kampanye pemilu kemarin dan juga sesudah
pencoblosan ada suasana 
gelisah yang sukar dikontrol. Apakah akan muncul
krisis sosial yang lebih 
parah lagi? 
J: Sesudah peristiwa 27 Juli tahun lalu saya
meramalkan bahwa pemilu akan 
aman saja, bahwa Pemilu sudah selesai pada hari itu.
Sebab satu-satunya hal 
yang penting atau menarik adalah Megawati. Ternyata
sesudah itu, banyak 
sekali terjadi hal yang tidak terduga oleh banyak
orang, termasuk saya. Sebab 
yang kita lihat adalah kerusuhan terus, mulai dari
Situbondo dan Tasikmalaya 
sampai Sampang yang terakhir. Saya tidak tahu atas
dasar apa saya bisa 
meramalkan apa yang akan terjadi sekarang. Tetapi
tentu saja kalau kita 
melihat trend setelah bulan Juli tahun lalu, ya
seakan-akan makin rusuh. Jadi 
kemungkinan lebih besar adalah itu. 

POLITIK NU 
T: Apakah jalan-jalannya Gus Dur dengan menggandeng
Tutut berpengaruh besar? 
Sebagian pengamat mengatakan tidak karena di lapangan,
kiai-kiai itu sangat 
independent dari Gus Dur. 
J: Saya kira pendapat anda benar bahwa kiai di daerah,
kiai lokal, mempunyai 
pengaruh yang cukup besar di kalangan masyarakat
mereka sendiri. Asal mereka 
betul mewakili kepentingan masyarakat dan tidak
menjadi bawahan dari pegawai. 
Ada satu faktor yang penting di sini, yaitu bahwa
ketika Gus Dur menarik NU 
dari PPP, dia menegaskan kepada warga NU dan kepada
pemerintah juga, bahwa 
orang NU bebas dalam pemilu. Mereka boleh pilih
Golkar, PPP atau PDI. Dan 
saya kira dalam pemilu sebelumnya, dia menegaskan
bahwa dia sendiri pernah 
menjadi anggota MPR mewakili Golkar, tapi massa NU
lainnya tidak diharuskan 
masuk Golkar. Jadi Gus Dur sendiri sudah menciptakan
kebijakan ini di mana 
para kiai di daerah berpengaruh dan independent. 
T: Bagaimana pengaruhnya terhadap NU sendiri? 
J: Setahu saya NU tetap utuh. Cuma bedanya adalah
bahwa NU sekarang oleh 
sebagian besar pemimpinnya tidak lagi dilihat sebagai
organisasi politik 
dalam pengertian partisan. Tapi mereka akan mencari
kesempatan pada setiap 
pemilu untuk mendukung partai mana yang lebih banyak
memberikan janji kepada 
mereka. Mereka menjadi kelompok kepentingan, bukan
partai politik. 
T: Setelah pencoblosan ada ketegangan di Jatim.
Tanggal 9 Juni di Surabaya 
Gus Dur meminta warga NU untuk jangan cepat terbakar,
katanya "Tenang saja". 
Dia juga memperingatkan masyarakat supaya hati-hati
karena, "Ketidak puasan 
kini disalurkan melalui etnik dan agama untuk memicu
kerusuhan." Bagaimana 
Pak Bill melihat atau memahami tindakan Gus Dur
setelah pemilu ini? 
J: Saya kira pada waktu Megawati menjadi pemimpin PDI
pada akhir 93 Gus Dur 
berharap Megawati bisa membentuk koalisi yang cukup
besar untuk berpengaruh 
dalam pemilu tahun ini dan dalam Sidang Umum MPR tahun
depan. Paling tidak 
bisa mempengaruhi siapa yang akan menjadi Wakil
Presiden, kalau bukan 
Presiden. Usaha itu gagal dan usaha bikin koalisi
dengan PDI itu gagal. 
Megawati ditendang keluar partai. Kedudukan Gus Dur di
NU sendiri juga 
diancam. Karena usaha untuk membentuk koalisi ini
sudah gagal, dia harus 
menunggu kesempatan yang lebih baik sebelum dia mulai
bertindak lagi. Dan 
sementara itu, sebaiknya dia bergabung dengan kekuatan
yang berkuasa. Jadi 
kita harus lihat apa yang dibuat Gus Dur sekarang
masih dalam "masa 
sementara" itu. 
T: Ada analisa lain yang mengatakan kita selalu harus
memahami Gus Dur dari 
dua sisi. Sisi pertama, dia harus memperhitungkan
selamatnya NU sebagai 
organisasi. Sisi kedua, dia mau membuka jalan untuk
gerakan demokrasi. 
Bagaimana? 
J: Itu memang menarik sebagai analisa. Tetapi saya
meragukan apakah NU 
sebagai organisasi memang bisa diancam? Sebab NU itu
sangat berakar dalam 
masyarakat dan para kiai itu sangat didukung oleh para
anggotanya. Jadi kalau 
kita bicarakan kedudukan Gus Dur sebagai pemimpin NU
memang itu yang harus 
dipikirkan oleh Gus Dur. Tetapi NU sebagai organisasi
saya kira lebih solid 
dari itu. 
Menurut pendapat saya ada dua macam analisa tentang
Gus Dur. Yang satu 
melihat Gus Dur sebagai seorang pemimpin demokratis,
dia harus memilih 
strategi dan taktik yang sesuai dengan keadaan. Tapi
ada juga analisa lain 
mengenai Gus Dur yang mengatakan bahwa sebagai
pemimpin NU dia cuma menjadi 
oportunis sebab NU memang tidak punya prinsip yang
sejati, yang abadi, selain 
mempertahankan organisasinya. 
Orang yang mempunyai pendapat itu akan mengingatkan
kita bahwa pada jaman 
kolonial NU sudah mengeluarkan fatwa yang mengatakan
bahwa pemerintah 
kolonial itu sah. Dan mereka juga akan mengingatkan
kita akan Idham Chalid, 
seorang pemimpin NU untuk dua jaman atau bahkan tiga
jaman, yang tidak 
melawan siapa saja yang berkuasa. Gus Dur bisa dilihat
dengan lensa itu. 
Tetapi saya sendiri cenderung melihatnya sebagai
seorang demokrat sejati. 

POLITIK KELUARGA 
T: Pemilu 97 ini anak-anak Suharto keluar sendiri dan
menyebarkan duit besar-besaran. Di satu sisi,
perolehan suara Golkar 74% ini bisa dibilang 
Tutut jadi bintang, terbukti peranan dia dalam
kemengangan Golkar ini menentukan. Di sisi lain
tampilnya anak-anak Cendana ini justru membuat 
masyarakat merasa semakin muak, apalagi mereka
ikut-ikutan ngomong anti korupsi, anti kolusi, segala.
Dalam wawancara di CNN, Amien Rais bicara 
kritis tentang anak-anak Cendana ini. Menurut Pak Bill
apa artinya kemunculan anak-anak Suharto ini? 
J: Saya tidak melihat munculnya anak-anak Suharto
sebagai suatu yang luar 
biasa. Sebab selama kira-kira 10 tahun terakhir ini
memang kita lihat mereka 
memainkan peranan yang lebih penting dalam ekonomi dan
sedikit juga dalam 
politik. Jadi bahwa mereka memainkan peranan pada
pemilu ini lebih besar 
sebelumnya, ya itu sesuai sekali dengan apa yang
mereka lakukan selama ini. 
Jadi bukan merupakan sesuatu yang istimewa sebenarnya.

Kalau Mbak Tutut, ya memang seakan-akan diberi
kedudukan yang penting dan 
memang dia memainkan peranan besar. Seakan-akan Mbak
Tutut -- khususnya Mbak 
Tutut ya, yang berbeda dengan Bambang, Tommy, dsb --
memang dipersiapkan 
untuk menjadi sesuatu. Apakah untuk menjadi menteri
atau wakil presiden atau 
ketua Golkar atau apa, saya tidak tahu. Tapi
seakan-akan dialah yang menjadi 
pemimpin keluarga untuk memainkan peranan politik di
masa depan. Nah, di 
satu segi, itu yang kelihatan lebih jelas dalam
pemilu-97 ini. 
Tapi satu hal juga yang kelihatan sangat menarik,
adalah bahwa sesudah pemilu 
itu selesai dan Golkar mendapatkan 74%, saya tidak
membaca pendapat dari 
pejabat termasuk dari presiden sendiri yang memuji
peranan Mbak Tutut. Nah 
begitu juga tentang Harmoko. Harmoko sebetulnya
memainkan peranan yang 
paling penting sebagai pemimpin Golkar dengan kampanye
sebelum masa kampanye 
itu, tapi dia bukannya dipuji, tapi justeru
diberhentikan sebagai menteri. 
Ini aneh sekali menurut saya. Tapi bukan cuma Harmoko,
Mbak Tutut juga, saya 
belum membaca bahwa dia dipuji sebagai pemimpin Golkar
dan oleh karena 
peranan dia itu Golkar berhasil mendapat 74%, dsb. 
T: Memang secara kuantitatif Golkar meningkat
suaranya. Tetapi kalau dilihat 
di lapangan tidak berarti Golkar lebih dicintai.
Mungkin itu sebabnya. 
J: Tapi presiden sendiri tidak membicarakan itu, ya?
Dia mengatakan bahwa 
dia puas dengan hasil itu. Pendapat Anda memang
menarik. 
T: Angka 74% itu tidak menunjukkan mereka lebih
dicintai. Karena keadaan di 
lapangan menunjukkan bahwa mereka malahan menjadi
lebih dibenci. 
J: Ya, saya setuju dengan pendapat itu. 
T: Usaha bisnis anak-anak Suharto coba menguras dana
dari masyarakat itu 
mendapat perlawanan yang cukup luas dari kelas
menengah, misalnya dana untuk 
SEA Games yang dikelola oleh Bambang yang coba
mengambil uang dari masyarakat 
lewat Pemda-pemda yang menjual stickers, ternyata
masyarakat tidak mau beli. 
 Atau usaha mobil nasional Tommy yang ternyata tidak
laku, lalu dipaksa 
pemda-pemda untuk beli walaupun pajak dsb. sudah
dikurangi 50%, padahal Tommy 
sudah import 12.000 unit dari Korea, tapi nggak banyak
yang laku sehingga 
keluar keputusan tanggal 4 Juli yang mengatakan kantor
pemerintah diharuskan 
membeli mobil Timor. Apakah Pak Bill juga mengamati
perlawanan yang meluas 
terhadap keluarga Cendana ini dalam sektor ekonomi? 
J: Memang saya mengamati apa yang terjadi dengan mobil
Timor itu, tapi saya 
tidak melihatnya sebagai perlawanan dari masyarakat.
Saya kira analisa itu 
terlalu jauh mencari-cari. Menurut pendapat saya mobil
Timor itu meskipun 
harganya jauh lebih murah daripada saingannya,
nampaknya dari segi ekonomi 
masih dianggap tidak aman oleh pembeli sebab mereka
tidak tahu apakah mereka 
bisa dapat spare-parts dsb. Dari analisa yang saya
baca dan saya percayai, 
alasannya lebih ekonomi daripada politis. Kalau
sticker yang dijual oleh 
Bambang saya tidak tahu, saya belum baca tentang itu. 
T: Prabowo pernah dianggap calon putra mahkota oleh
Wall Street Journal 27 
Mei. Kami kira dia memang calon yang khusus karena dia
punya bedil dan duit 
sekaligus. Dia bukan hanya termasuk keluarga Cendana
saja tapi keluarganya 
sendiri adalah keluarga yang kaya. Adiknya sendiri,
Hasyim Djojohadikoesoemo 
adalah konglomerat raksasa. Bagaimana Pak Bill
memahami Prabowo? 
J: Saya meragukan apakah dia sekuat itu. Ya, kalau
kaya cukup jelas. Tapi 
banyak orang kaya di Indonesia, belum tentu bisa
berkuasa. Malahan belum 
tentu aman di tempat tidur sendiri. Kalau pendapat
saya tentang bedil itu, 
akhirnya yang punya bedil itu cuman Suharto. Kalau
saya mengatakan bahwa ABRI 
tetap berkuasa di Indonesia, yang saya maksudkan
adalah ABRI di bawah Pak 
Harto sebagai Pangab-nya secara informal. Dan sejak
awal Orde Baru saya belum 
melihat seorang perwira yang bisa menandingi Pak
Harto. Termasuk iparnya 
Wismoyo atau ajudannya Try Sutrisno, atau menantunya
Prabowo. 
Satu-satunya yang bisa menjadi pemimpin ABRI yang
sedikit mandiri adalah 
Benny Murdani. Saya kira sesudah 87 Pak Harto sudah
bersikeras bahwa dia 
tidak akan memperbolehkan seorang perwira ABRI bisa
kuat secara independen 
lagi. Dan itulah yang kita lihat sesudah itu. Faisal
Tanjung, Hartono, 
Prabowo, Wiranto, Subagyo, dll itu kan bersaing.
Mereka tidak dari satu 
kelompok. Tidak ada yang sekuat Benny. Tidak ada yang
berpengaruh seperti 
Benny. Jadi saya kira taktik Suharto adalah, ya
seperti taktik Belanda dulu, 
kata orang nasionalis, devide et impera
(bersambung-3/6).  


http://www.library.ohiou.edu/indopubs/1997/08/26/0029.html




                
__________________________________
Do you Yahoo!?
Y! Messenger - Communicate in real time. Download now. 
http://messenger.yahoo.com


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke