Selengkapnya:

BILL LIDDLE TENTANG POLITIK PASKA PEMILU (3/6) 

Hubungan pembangunan dan demokrasi, "Saya masih tetap
berpendapat bahwa jaminan yang paling ampuh untuk
demokratisasi di masa depan adalah pembangunan
berkelanjutan. Demokratisasi itu akan lebih mungkin
kalau ekonomi berkembang dulu." Lalu Pak Bill mengutip
yang dikatakan Barrington Moore, "No bourgeoisie, no
democracy!" Tentang dominasi ABRI dalam politik?  
"Memang Suharto berkuasa sebagai orang, tetapi ABRI
berkuasa sebagai lembaga. Sesudah 
Suharto tidak ada lagi, menurut pendapat saya ABRI
masih tetap berkuasa." Kemungkinan kekerasan? "Tidak
ada alat lain yang sedang dikembangkan. ABRI 
makin yakin bahwa mereka harus menggunakan kekerasan."


POLITIK EKONOMI 
T: Keadaan ekonomi ternyata stabil, pertumbuhan
ekonomi tidak goyang, dan FEER tanggal 5 Juli bilang
bahwa "steady trade surplus and low inflation show 
Indonesian economy above political storm" Andalan
utama tetap pengurasan sumber daya alam: minyak, gas,
hutan, tanah dan air serta memeras tenaga 
buruh murah. Seperti juga dinyatakan oleh Business
Week tanggal 16 Juni bahwa modal asing datang ke
Indonesia "to staff factories with cheap labor,
exploit some of the richest natural resources on earth
and enjoy generous tax incentive." Apa pendapat Pak
Bill mengenai lancarnya ekonomi yang bisa sejalan
dengan resahnya politik? 
J: Saya kan sudah lama berpendapat bahwa prestasi
paling besar yang dicapai oleh Orde Baru dan Presiden
Suharto sendiri adalah pembangunan. Saya dicemooh 
di mana-mana karena pendapat ini. Tapi pendapat saya
kira-kira sama dengan pendapat para ekonom seperti Hal
Hill atau Anne Booth atau Peter McColly sebelumnya,
atau Peter Timmer juga di Harvard, orang-orang yang
menjadi penasehat pemerintah di bidang ekonomi, atau
penasehatnya Widjojo dulu. Saya belum pernah menjadi
penasehat di Indonesia, tapi pendapat saya kira-kira 
sama. Dan saya masih tetap berpendapat bahwa jaminan
yang paling ampuh untuk demokratisasi di masa depan
adalah pembangunan berkelanjutan. Jadi kalau 
ekonomi Indonesia terus tumbuh dengan laju 8%, atau
katakanlah antara 6 sampai 9% begitu, masih bisa
berkembang seperti itu, bagi saya itulah jaminan 
yang paling bagus bagi demokratisasi. 
Itu tidak berarti bahwa demokrasi akan datang dengan
sendirinya. Masih harus diperjuangkan! Tapi akan ada
dasar masyarakat yang modern, masyarakat dengan 
ekonomi yang modern -- pengusaha menengah, pengusaha
besar, buruh, organisasiburuh, dsb -- yang akan
menjadi infrastruktur masyarakat sipil yang bisa 
menuntut demokratisasi. Nah demokratisasi itu akan
lebih mungkin kalau ekonomi berkembang dulu, seperti
yang dikatakan Barrington Moore, "No bourgeoisie, no
democracy!" Saya bukan orang kiri ya, dan Barrington
Moore memang orang kiri, tapi pendapat saya tidak
banyak berbeda dengan itu. Harus ada dasar dalam
ekonomi untuk demokrasi itu. Saya masih memegang 
sungguh-sungguh pada pendapat itu. 
Tapi saya pun juga bisa melihat umpamanya apa yang
terjadi di Busang. Kasus itu mencerminkan kerakusan
yang luar biasa pada tingkat elite yang paling 
tinggi. Saya juga bisa melihat salah satu alasan
kenapa terjadi begitu banyak keributan di daerah
adalah bahwa tanah, hutan, emas, minyak, dsb, itu
dikuras dari berbagai daerah itu. Apa yang Anda
katakan dalam pertanyaan Anda bagi saya agak
tendensius karena menekankan hal-hal yang buruk pada
kebijaksaan ekonomi dan bukan hal-hal yang baik. Tapi
sayapun setuju bahwa hal-hal yang buruk itu ada dan
makin lama makin menonjol. 

POLITIK SEJARAH 
T: Upaya membangun kemuliaan dan mengabadikan Suharto
terlihat jelas sekali. Misalnya di Yogya dibangun dua
monumen, ada Museum Purna Bhakti, dsb. Tapi 
usaha untuk mengarang sejarah ini terus dirongrong
oleh munculnya data-data tentang pembunuhan massal 65
dan tentang pengambil alihan kekuasaan tahun 66. 
Misalnya seminar Nawaksara yang terpaksa dibatalkan.
Apakah usaha pembentukan sejarah versi Suharto ini
akan berhasil? 
J: Apakah mereka akan bisa memaksakan kehendak mereka
atau versi mereka sesudah mereka tidak ada, ya jelas
tidak. Tapi apa atau siapa yang akan menentukan atau
membentuk atau mempengaruhi versi yang baru, itu sulit

diramalkan sebab itu merupakan proses politik. Tekanan
yang diberikan kepada beberapa segi dari sejarah,
misalnya apakah Serangan Umum itu penting sekali 
atau tidak sama sekali atau di antara itu? Itu kan
sulit sekali disimpulkan secara obyektif, umpamanya.
Tetapi saya melihat usaha untuk mengagungkan atau 
membesarkan peranan Suharto dalam sejarah revolusi.
Dan pasti sesudah dia tidak ada lagi semua akan basi. 
T: Mungkin mirip juga dengan jaman akhir Bung Karno
dengan pengagung-agungan Bung Karno dengan gelar-gelar
seperti Presiden Seumur Hidup, Pemimpin Besar 
Revolusi, dan segala macam itu. 
J: Ya, betul. Itu contoh yang baik. Tapi kan selalu
ada sejarawan, seperti Sartono misalnya, yang selalu
melawan penciptaan sejarah oleh penguasa. 
T: Ini sedikit menyimpang. Kami baru saja mengunjungi
Monumen Roosevelt di Washington yang baru dibuka tahun
ini. Bagaimana bangsa Amerika kemudian memutuskan
untuk bikin monumen Roosevelt? Setelah lebih dari 200
tahun, lebih dari 30 presiden, cuma empat presiden
yang dibuatkan monumennya di ibu kota. 
Proses apa yang mereka alami sehingga mereka bilang
bahwa inilah presiden yang pantes kita bikin
monumennya, setelah Washington, Jefferson dan Lincoln.

J: Monumen empat presiden Amerika itu dibikin oleh
panitia tersendiri yang bersifat netral. 
T: Bagaimana kalau dibandingkan dengan pembangunan
monumen semacam itu di Indonesia, seperti monumen
serangan Fajar yang dibikin di Yogya, misalnya. 
J: Saya sendiri sudah bosan sebelum mengunjunginya.
Monas-pun baru sekali, itu pun hanya di bawah saja.
Setiap negara atau bangsa yang berdaulat harus 
punya monumen atau simbol-simbol untuk mengingat masa
lalunya. Saya memang setuju kalau yang membuat monumen
itu bukan yang membuat sejarah. Karena yang 
membuat sejarah itu tentunya mempunyai pikiran
tersendiri yang belum tentu sesuai dengan kehendak
masyarakat pada umumnya. 
Tapi sayapun harus mengakui di Amerika pun terjadi
kejadian semacam itu. Contohnya di negara bagian saya
sendir. Ada sebuah patung dari salah seorang 
gubernur di depan Gubernuran yang dibuat oleh
teman-temannya waktu orangnya masih hidup. Saya
sendiri merasa itu sangat norak. Tapi ya, dilakukan
juga. 
Saat itu orang-orang keberatan karena kami berpendapat
lebih baik dibuat nanti setelah orangnya tidak ada.
Sehingga dapat diperdebatkan secara terbuka 
tentang layak tidaknya patung tersebut dibuat. 
T: Pendapat masyarakat di tempat Pak Bill masih
diperhatikan. 
J: Ya, itu betul. 

JAMAN PRESIDEN KETIGA 
T: Dalam wawancara tahun lalu Pak Bill pernah bilang
bahwa, "Orang-orang sedang bersiap menyongsong jaman
Indonesia di bawah presiden ketiga." Setelah 
melihat dan mengamati jalannya pemilu 97 ini, apakah
jaman itu semakin dekat atau semakin dikejar semain
menjauh? 
J: Terkatung-katung! Tergantung pada satu orang. Dan
Tuhan yang menentukan, bukan kita! 
T: Ha ....ha... ha! Bagaimana dengan prospek
"Suharto-isme," seperti massa  mengambang,
mono-loyalitas, bersih lingkungan, Dwifungsi ABRI,
dsb. 
J: Seperti saya katakan tadi ABRI masih berkuasa.
Memang Suharto berkuasa sebagai orang, tetapi ABRI
berkuasa sebagai lembaga. Sesudah Suharto tidak 
ada lagi, menurut pendapat saya ABRI masih tetap
berkuasa, meskipun saya katakan tadi juga melihat
tanda-tanda bahwa perlawanan didalam masyarakat 
sudah mulai meluas, dan ini menarik sekali untuk
diamati terus. Tetapi dalam jangka pendek ABRI akan
berkuasa. Dengan alat-alat apa, dengan taktik dan 
strategi apa mereka akan berkuasa di masa depan? Tentu
saja presiden ketiga nanti akan memilih taktik dan
strateginya sendiri. 
Tapi saya belum melihat alasan untuk menggantikan
sistim yang ada sekarang ini. Artinya Golkar, massa
mengambang, dsb. Kalau Anda tanya pada orang ABRI 
sendiri mereka masih percaya betul pada peranan Dwi
Fungsi. Apalagi sesudah satu tahun kerusuhan ini,
mereka lebih percaya lagi bahwa masyarakat 
Indonesia tidak bisa diberi kebebasan. Jadi yang akan
kita lihat dalam jangka depan yang pendek adalah itu,
kelanjutan dari sistim yang berkuasa sekarang. 
T: Berdasarkan pengamatan selama masa kampanye lalu,
menurut Pak Bill, apakah jalan menuju ke jaman
presiden ketiga itu akan berjalan damai ataukah akan 
banyak korban? 
J: Dari tanda-tanda dan isyarat yang belakangan ini
kecenderungannya lebih banyak bentrokan daripada
damai. Dan itu yang sulit dikontrol oleh ABRI sebab 
terlalu banyak peristiwa yang terjadi bersamaan di
banyak tempat. 
T: Kenapa di kalangan partai yang dominan, Golkar dan
ABRI sendiri, tidak memikirkan untuk membuat
lembaga-lembaga yang menjadi pilar-pilar perjalanan 
negara ini. Termasuk misalnya dalam pergantian
kekuasaan. Seperti misalnya di India. Walaupun
politisinya berganti tiap tiga atau enam bulan, 
pilar-pilar demokrasinya masih kuat di sana. 
J: Sebab Presiden Suharto masih berkuasa dan tidak mau
ditandingi. Mungkin jawaban yang lebih memuaskan
adalah bahwa Golkar tidak eksis sebagai partai 
yang mandiri dalam masyarakat. Kalau anda bandingkan
dengan Partai Kongres di India, partai itu didirikan
pada tahun 1880-an, dan menjadi organisasi 
perjuangan, organisasi yang melawan kekuasaan Inggris
sampai kira-kira tahun 1935. Sejak itu pemimpin partai
Kongres mulai diberi tempat dalam badan-badan
legislatif. Jadi mereka mendapat banyak pengalaman
sebagai organisasi politik selama puluhan tahun
sebelum India menjadi merdeka pada tahun 1947. 
Nah, di Indonesia kan yang terjadi banyak partai.
Banyak partai itu ditakutkan oleh Sukarno yang
kemudian bikin Dekrit pada tahun 1959 dengan 
dukungan dari ABRI. Dan ketika Sukarno tidak berkuasa
lagi, yang berkuasa adalah ABRI di bawah Jendral
Suharto. Tidak ada partai di situ, kecuali PKI 
yang hancur pada tahun 65-66. Jadi yang berkuasa bukan
partai yang kita lihat sebagai perkembangan sejarah
politik seperti di India. Tetapi perkembangan 
ABRI. Dan ABRI itu adalah organisasi hirarkis, bukan
organisasi politik yang demokratis seperti Partai
Kongres. 
T: Dalam wawancara tahun lalu Pak Bill menduga bahwa
akan ada seorang jendral muda yang akan naik dan
berkuasa secara penuh. Lalu Pak Bill kuatir bahwa 
jendral muda ini pada awal kekuasaannya akan
menggunakan kekerasan. Sebab dia ingin menunjukkan
kepada siapa saja bahwa perlawanan masyarakat akan
dihadapi dengan kekerasan. Setelah pemilu 97 itu
apakah dugaan dan kekuatiran Pak Bill tahun lalu itu
semakin pudar atau justru semakin meyakinkan? 
J: Itu "Skenario Kwang Yu" Itulah yang dilakukan Chun
Doo Hwan ketika dia berkuasa diawal tahun 80-an. Dia
dihadapi dengan perlawanan dari mahasiswa dan
masyarakat di kota Kwang Yu di Korea Selatan, dan dia
membalas perlawanan itu dengan kekerasan. Menurut
pendapat saya itu jadi makin lebih mungkin. 
Sebab yang kita lihat dari mayarakat adalah
kecenderungan perlawanan. 
Sedangkan dari ABRI sendiri tidak ada reaksi lain,
kekerasan itu harus diatasi dengan kekerasan. Mereka
menggunakan istilah kebrutalan, ya. 
Kebrutalan kan tidak pernah dari pemerintah. Yang
brutal dalam bahasa penguasa Indonesia selalu
masyarakat saja. Kebrutalan yang berasal dari 
masyarakat selalu dijawab dengan kekerasan oleh
pemerintah. Tidak ada alat lain yang sedang
dikembangkan. ABRI makin yakin bahwa mereka harus 
menggunakan kekerasan. Di bawah presiden ketiga, kalau
ada usaha dari para oposan atau pro-demokrasi, saya
kira lebih mungkin dilawan dengan kekerasan 
(bersambung-4/6). 

http://www.library.ohiou.edu/indopubs/1997/08/27/0014.html


                
__________________________________
Do you Yahoo!?
New and Improved Yahoo! Mail - Send 10MB messages!
http://promotions.yahoo.com/new_mail 


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70
http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke