William Liddle: "Saya kan percaya bahwa pada akhirnya kapitalisme itu baik, meskipun banyak masalahnya. PRD percaya bahwa kapitalisme itu jelek."
Selengkapnya: BILL LIDDLE TENTANG POLITIK PASKA PEMILU (4/6) Yang Pak Bill harapkan, "Suatu kapitalisme di mana banyak kelompok di masyarakat mendapat sumber daya ekonomi yang bisa mereka gunakan untuk berpolitik." Dia lihat contoh nyatanya, "Yang kita lihat di Korea dan Taiwan adalah dasar ekonomi kapitalis yang kuat." Bagaimana jalan menuju ke sana, "Sebaiknya aktivis pro-demokrasi mulai memikirkan bagaimana supaya mereka bisa membentuk koalisi yang besar." Tentang politik kiri, "Saya sendiri percaya bahwa di masa depan, kalau Indonesia mau menjadi negara maju, harus ada juga sayap kiri. Tapi sayap kiri yang bagaimana?" Kritiknya untuk PRD, "Mereka menggunakan simbol-simbol yang menurut saya sudah usang." Penghargaannya, "Mereka adalah anak muda yang mempunyai moralitas tinggi." POLITIK PERUBAHAN T: Di Cina ada 900 ribu desa tempat tinggal tiga perempat penduduk Cina. Sejak tahun 88, lebih dari 80% dari desa itu memilih kepala desa dan pengurus desanya dengan demokratis. Tahun ini 95% kepala desa dan pengurus desa dipilih dengan demokratis juga. Berita ini ditulis dalam The Economist 22 Nov 1996. Dikatakan bahwa "village democratization has flowed from the economic reform." Pertanyaan kami, mengapa gejala keterkaitan antara perkembangan ekonomi dan demokratisasi ini tidak terlihat dalam 30 tahun perkembangan rejim Orba? Atau memang setelah 30 tahun ekonomi tumbuh diatas 6%, tapi politiknya tidak makin demokratis? Di Jakarta ada guyonan yang bilang bahwa, "Kalau soal ekonomi kita sudah masuk mall, tapi politiknya masih di Jurassik Park." J: Bagus juga, dan saya kira ada benarnya. Saya juga tidak tahu jawabnya. Pertanyaan itu sangat sulit. Mungkin salah satu alasannya karena banyaknya suku bangsa di Indonesia. Pemerintah pusat takut sekali pada gerakan separatis di daerah sehingga mereka merasa harus tetap berkuasa secara penuh ditingkat lokal. T: Tapi Cina juga sangat plural masyarakatnya. India juga begitu. Yang menarik di Cina itu demokrasinya mulai dari bawah, dari masyarakat di pedesaan. J: Ya, memang. Demokrasi di India memang dibangun atas dasar kepercayaan lokal, kegiatan politik lokal. I don't know. Anda memang benar. Dan juga di Taiwan jangan lupa pada tahun 70-an dan 80-an, ketika pemerintah pusat di Taipei masih keras di tingkat lokal, ada partai lain yang boleh ikut bersaing. Menurut pendapat saya itu merupakan dasar yang sangat kokoh untuk demokratisasi yang sekarang berlaku di situ. Sebab ada latihan untuk demokrasi. T: Singapura masyarakatnya lebih homogen, tetapi demokrasi tidak ada. J: Singapura sulit untuk dipakai sebagai contoh. Itu kan cuma kota yang dikuasai oleh seorang pemimpin yang berdisiplin. T: Kalau kembali ke pemikiran Pak Bill 10 tahun lalu bahwa demokratisasi politik hanya bisa lewat liberalisasi ekonomi, apakah bisa dipertahankan pemikiran itu. J: Saya kira bukan itu pendapat saya, meskipun saya barusan bilang "No bourgeoisie, no democracy." Di India sebetulnya mereka punya borjuasi juga, dan asli lagi. Tidak ada "masalah Cina" di India. Saya kira di Gatra pernah dikatakan bahwa saya berpendapat cuma dengan pembangunan ekonomi bisa menjadi demokratis. Sebetulnya bukan itu pendapat saya. Pendapat saya adalah bahwa itu merupakan suatu model, suatu contoh yang kita lihat, yang memang jalan dengan baik di Asia Timur. Yang kita lihat di Korea dan Taiwan adalah dasar ekonomi kapitalis yang kuat. Yang saya maksudkan tentu saja bukan hirarki di mana beberapa pengusaha konglomerat di atas menguasai semua. Tetapi suatu kapitalisme di mana banyak kelompok di masyarakat mendapat sumber daya ekonomi yang bisa mereka gunakan untuk berpolitik. Seperti di Muangthai misalnya pada tahun 70-an yang berakhir dengan demokratisasi pada tahun 80-an. Itu saja yang saya lihat. Itu salah satu jalan menuju demokratisasi yang sudah berhasil di beberapa negara di Asia Timur. Jadi saya melihat itu sebagai suatu kemungkinan di Indonesia. Tapi saya bersedia menerima kemungkinan lain. T: Selama mengamati masa kampanye yang lalu mereka yang menginginkan perubahan semakin sadar bahwa agenda pembaharuan dalam bidang politik, ekonomi, militer, hukum, maupun gerakan masyarakat dalam lapisan akar rumput, itu harus dijalankan berbarengan. Tidak mungkin bisa jalan sendiri-sendiri. Menurut Pak Bill sendiri, apa agenda perubahan yang paling utama dan yang harus menjadi prioritas aktifis pro-demokrasi? J: Ketika membaca pertanyaan ini saya berpikir-pikir dan saya tidak tahu bagaimana harus menjawabnya. Seandainya kalau ada kesempatan untuk membentuk partai lagi di Indonesia dalam suasana yang agak bebas, saya kuatir bahwa partai-partai yang terbentuk itu akan bersifat banyak, seperti tahun-tahun 50-an. Umpamanya kelompok politik Islam, saya tidak melihat mereka bisa bersatu. Mereka paling sedikit akan membentuk dua partai, ya partai seperti Masyumi dan NU dulu. Dan mungkin akan ada beberapa usaha dari tokoh-tokoh umpamanya tokoh ICMI dsb. untuk membentuk partai sendiri. Bisa juga PRD menjadi dasar dari sebuah partai kiri yang baru. Jadi saya melihat, seakan-akan setelah 40 tahun belum banyak perubahan dalam masyarakat Indonesia. Kalau itu yang terjadi, banyak sekali partai politik dan tidak ada yang bakal mendapat dukungan lebih dari 20 persen, bagi saya itu adalah resep untuk instabilitas. Jadi saya kira saya setuju dengan pendapat bahwa sebaiknya aktifis pro-demokrasi mulai memikirkan bagaimana supaya mereka bisa membentuk koalisi yang besar. Umpamanya dengan melihat model di India tadi. Partai Kongres itu mencakup banyak kepentingan di dalam masyarakat. Apakah kita bisa lihat umpamanya kerja sama antara Megawati dengan Gus Dur dan sesudah itu Mega-Bintang sebagai suatu tanda menuju kepada kerjasama yang lebih dalam di masa depan? Saya kira hal seperti ini yang sangat diperlukan. T: Kalau anak-anak muda PRD itu bilang bahwa yang paling penting diperjuangkan adalah mencabut Dwifungsi ABRI dan 5 Undang-undang politik. Karena menurut mereka dua hal itu yang membuat sistim politik jadi bobrok. J: Terlalu pagi untuk membicarakan pencabutan Dwifungsi. Memang pada akhirnya di dalam sebuah negara modern, tentara harus berfungsi sebagai tentara. Tapi Indonesia masih cukup jauh dari tahap itu. Tentara masih akan bersikeras bahwa mereka harus memainkan peran Dwi Fungsi, dan mereka tidak bisa dilawan. T: Jadi menurut Pak Bill merintis koalisi itu sangat diperlukan dalam perjuangan demokrasi sekarang ini? J: Mungkin kita lebih baik berbicara mengenai Gus Dur dan Megawati. Itu kan rencana mereka dulu. Saya pernah bicara dengan orang PDI khusus mengenai masalah itu, dan memang mereka punya rencana untuk membuat koalisi yang cukup besar, dengan unsur kiri juga, bukan cuma PDI-Megawati. Mereka mau membuat koalisi besar yang mungkin bisa menjadi benih dari, katakanlah "Partai Rakyat Progresif" ya, saya pernah memberi nama itu kepada partai kedua. Nah, bagaimana kalau yang lain-lain, yang lebih konservatif itu, bergabung dengan Golkar sebagai intinya, menjadi "Partai Pro-Pasar Bebas" misalnya. Lalu koalisi Mega dan Gus Dur sebagai partai yang meragukan kebijakan yang terlampau berfihak kepada pasar. Itu kan salah satu kemungkinan. T: Tapi kan sudah terbukti digebug sama tentara 27 Juli tahun lalu? J: Ya...ya...yach! T: Jadinya mesti kembali lagi ke analisa PRD yang bilang bahwa masalahnya adalah Dwifungsi ABRI dan 5-Undang-undang Politik. J: Tapi menurut saya itu jalan buntu. Mereka kan juga kena undang-undang subersiv. Perlawanan seperti itu tidak akan membawa hasil juga. Apalagi -- sebenarnya ini masalah lain yang bisa didiskusikan pada kesempatan lain -- karena simbol-simbol yang dipakai oleh PRD itu menurut saya terlalu dekat kepada PKI. Saya bukannya mencap mereka PKI, ya. Tapi mereka menggunakan simbol-simbol yang menurut saya sudah usang. Di seluruh dunia simbol-simbol itu tidak bermanfaat lagi. Seperti "class consciousness" dsb yang saya baca dalam program awal mereka. Penggunaan simbol seperti itu kan menciptakan perlawanan bukan cuma dari ABRI, tapi juga dari kelas menengah di seluruh Indonesia yang takut terhadap bangkitnya kembali komunisme di Indonesia. Saya sendiri percaya bahwa di masa depan, kalau Indonesia mau menjadi negara maju, harus ada juga sayap kiri. Tapi sayap kiri yang bagaimana? Kalau sekarang ini kan tidak ada sayap kiri. T: Simbol mana yang menurut Pak Bill dekat dengan simbol PKI? J: Sekarang tidak ada di depan saya. Tapi dalam manifestonya tahun lalu mereka mengundang Pram dan mereka menyatakan bahwa mereka berdiri sebagai partai. Saya membaca manifesto mereka dan saya sangat teringat kepada PKI, kepada kata-kata dan gaya politik PKI. Jangan lupa saya datang ke Indonesia pada tahun 62 sampai 64 dan lalu tinggal di Pematang Siantar di mana PKI, SOBSI, BTI itu aktif sekali. Komunisme di mana-mana di dunia atau Marxisme yang memobilisir rakyat untuk melawan kapitalisme, itu kan sudah kedaluwarsa di mana-mana! Tapi itu tidak berarti bahwa rakyat miskin di desa atau buruh di Jabotabek yang mendapat gaji 2 dolar per hari tidak harus dibela atau tidak harus diberi hak untuk membuat organisasi politik yang memperjuangkan kepentingan mereka. Organisasi seperti itu di manapun juga di negara modern harus ada. Tapi dengan cara bagaimana? Itu yang menjadi masalah. Dan cara PRD itu bagaimana juga akan mengalami jalan buntu seperti yang kita lihat sekarang. Sebagian orang ABRI itu mengatakan mereka menggunakan simbol simbol PKI untuk menghantam PDI. Itu juga jelas. Tapi saya yakin bahwa ada sementara orang ABRI juga percaya bahwa ini kebangkitan PKI. T: Paling tidak Syarwan Hamid lah yang percaya itu. J: Ha ....ha ....ha! Saya tidak tahu kalau Syarwan Hamid. Ya, tapi ini kan soal taktik saja bagaimana kita membela rakyat. T: Kalau soal ngundang Pram itu kan karena mereka lagi pesta, pak? Kalau mau bikin pesta Kedutaan Amerika juga ngundang Pak Pram.Yang saya tahu, kalau anak-anak muda itu ditanya, tidak ada yang percaya bahwa PRD itu komunis. J: O, saya juga tidak percaya bahwa PRD itu komunis. T: Ini kan propaganda pemerintah untuk menakut-nakuti rakyat? J: Ya ...ya! Tapi nanti kita jadinya memperdebatkan kata-kata yang dipergunakan oleh PRD sendiri. T: Bahwa mereka nggak kreatif dengan simbol itu saya setuju! Bahwa mereka harus belajar ramah itu saya kira banyak juga yang setuju. Karena mereka ngomongnya galak banget. Mereka nggak pinter membujuk. Mungkin ini cowok-cowok yang belum punya cewek. Untuk bisa menarik hati masyarakat itu mereka mesti lebih ramah. J: Nah, itu satu dimensi, galak dan ramah. Tapi ada juga dimensi teori. Mereka menggunakan teori Marx. T: Ya, tapi Sukarno juga. J: Betul, dan Sukarno juga salah. Saya kan percaya bahwa pada akhirnya kapitalisme itu baik, meskipun banyak masalahnya. PRD percaya bahwa kapitalisme itu jelek. T: Wah, diskusi ini bisa nggak kelar satu semester, pak! J: Dan memang saya tidak mau mempersulit mereka. Sebab mereka adalah anak muda yang mempunyai moralitas tinggi. T: Hukuman yang dijatuhkan kepada mereka itu kan biadab? J: Ya. Memang biadab sekali (bersambung-5/6). http://www.library.ohiou.edu/indopubs/1997/08/28/0033.html __________________________________ Do you Yahoo!? New and Improved Yahoo! Mail - Send 10MB messages! http://promotions.yahoo.com/new_mail ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar. Now with Pop-Up Blocker. Get it for free! http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

