SURAT KEMBANG KEMUNING:


"BELAJAR SAMPAI KE NEGERI CINA" [5-Selesai].

[Menyambut Rencana Pengajaran Bahasa Mandarin di SLTA Indonesia]


Mengambil Tiongkok sebagai pembanding, segera saja terlintas di benak saya pertanyaan: 
Apakah Indonesia mempunyai politik etnik yang jelas? Kalau ada bagaimana kongkretnya 
politik etnik itu?

Saya kira ada. Dan hal ini ditunjukkan oleh kata "Bhinneka Tunggal Ika" yang tertera 
di bawah lambang Garuda yang menjadi lambang Republik Indonesia [R.I.]. Berangkat dari 
kesadaran akan perlunya persatuan, terutama dalam perjuangan memerdekakan negeri, 
sesuai perkembangan dan tuntutan zaman, maka  Sumpah Pemuda 1928, menegaskan ke-ika-an 
ini. 

Barangkali keputusan para pendiri  R.I. ketika menetapkan bahwa R.I merupakan Negara 
Kesatuan Republik Indonesia [NKRI juga berangkat dari keperluan mendesak pada waktu 
itu demi eksistensi Republik. Tapi tidak pernah ada ketetapan bahwa NKRI bermakna RI 
yang sentralistik. Bentuk Republik termasuk masalah "hal-hal lain akan diselesaikan 
dalam waktu sesingkat-singkatnya". Sehingga menafsirkan NKRI sama dengan sistem yang 
sentralistik adalah tidak berdasar. Hal ini tercermin dari kata-kata Proklamasi bahwa 
"hal-hal lain akan diselesaikan dalam waktu seingkat-singkatnya" dan kata-kata 
Presiden Soekarno tidak lain dari sebuah "jembatan emas" menuju ke kehidupan yang 
manusiawi, adil dan beradab.

Sadar akan keragaman bangsa dan negeri maka Soekarno seperti halnya Sumpah Pemuda 
berjuang keras untuk mempersatukan negeri dan bangsa, mempertahankan eksistensi 
Republik yang sampai akhir khayatnya, selalu dirongrong oleh kekuatan dalam dan luar 
negeri yang tidak menyukai Republik, tanpa mengabaikan unsur keragaman. 

Barangkali, ketika Soekarno berusaha sebisa mungkin menjadikankan "putera daerah" 
sebagai orang pertama daerah pada waktu, bisa juga dijadikan petunjuk betapa Soekarno 
ingin agar daerah-daerah merasa bahwa Republik adalah rumah bersama. Apabila sebuah 
daerah, ambil contoh propinsi Kalimantan Tengah [Kalteng] pada 1957, belum tersedia 
syarat [terutama syarat politik, karena politik banyak mengandung unsur kompromis] 
untuk dipimpin oleh putera daerah sebagai orang pertama daerah, dan terpaksa 
mengangkat sementara untuk periode transisi seorang gubernur dari Jawa, seperti 
Milono, misalnya, tapi sebagai waktilnya tetap tidak lain dari putera daerah. Saya 
melihat kebijakan ini sebagai isyarat politik bermakna bagaimana Soekarno sebagai 
orang pertama negeri sangat memperhatikan kelegaan daerah dalam rumah bersama Republik 
Indonesia. Bahkan istilah "putera daerah" itu sendiri memperlihatkan kesadaran akan 
keragaman bangsa dan negeri serta suatu usaha bagaimana mengelola keragaman ini dalam 
konteks ke-ika-an bangsa. Jadi saya kira, anggapan yang melihat bahwa "putera daerah" 
bertentangan dengan NKRI sama dengan pandangan a-historis dan keindonesiaan. 

Bertolak dari pemahaman begini, maka ketika bekerja di Kalteng, tanpa menghiraukan 
segala risiko, saya pernah secara terbuka menjawab pernyataan Saut Lubis, panglima 
Korem Kalteng yang menuduh bahwa tuntutan orang Dayak agar gubernur Kalteng harus 
putera daerah, sebagai anti Indonesia, anti Republik, anti kemanusiaan,dan anti 
Pancasila. Dalam sanggahan terbuka kepada Saut Lubis, saya katakan antara lain, bahwa 
siapapun yang ingin jadi gubernur, kembalilah ke daerah asal masing-masing.Biarkan 
masyarakat Kalteng menyelesaikan urusan mereka sendiri. Jabatan dan bedil bukan ukuran 
kebenaran. Saut Lubis boleh segera pulang kampung jika ingin jadi gubernur, tapi tidak 
di Kalteng. TNI dan polisi pun boleh ditarik dari Kalteng. Dalam sejarahnya Dayak 
Kalteng mampu mengatur masyarakat mereka sendiri dengan sistem mereka sendiri. Yang 
anti keindonesiaan, anti Indonesia, anti  RI, anti kemanusiaan dan anti Pancsila, 
bukan orang Dayak tapi Saut Lubis sendiri. Dengan pendapat seperti di atas  justru 
memperlihatkan siapa sesungguhnya yang menolak keragaman. Menyusul sanggahan ini, 
akhirnya Saut Lubis dihujani kritik terbuka di koran lokal secara  bertubi-tubi sampai 
akhirnya ia meninggalkan Kalteng.

Ketika pada tahun 1956 rakyat Dayak Kalteng melancarkan pemberontakan bersenjata untuk 
mendirikan Kalteng sebagai propinsi tersendiri, Tjilik Riwut dipanggil dipanggil oleh 
Soekarno ke Istana. Soekarno menghardik Tjilik Riwut:

"Apa kalian mau memisahkan diri dari Republik?", ujar Soekarno sambil melempar ke meja 
seberkas dokumen. Tjilik Riwut memandang tajam mata Soekarno sambil berdiri, menjawab 
tegas:

"Hati-hati dengan kata-katamu,Bung.[Sesuai dengan budaya Dayak, Tjilik Riwut tidak 
menyebut Soekarno dengan Bapak, tapi "kau" Dan "kau" mempunyai kata ganti empunya 
"mu". Keterangan ini saya dapatkan dari Tiyel Djelau, teman seperjuangan dan keluarga 
Tjilik Riwut].

"Bung mempercayai laporan itu atau percaya saya? Kalau Bung tidak mempercayai saya, 
pecat saya sekarang juga.Umumkan segera!", tegas Tjilik Riwut dan membuat Soekarno 
tersentak. 

Seperti diketahui bahwa pemberontakan bersenjata rakyat Dayak untuk meminta Kalteng 
sebagai propinsi sendiri, dilancarkan setelah jalan damai selalu mengalami kegagalan. 
Pemberontakan bersenjata ini dipimpin oleh organisasi yang bernama Gerakan Mandau 
Talawang Pancasila. Sampai sekarang beberapa tokohnya masih hidup di Palangka Raya. 
Tuntutan pemberontakan sangat jelas: "Kalteng propinsi sekarang juga!" Bukan 
memisahkan diri dari R.I. Dasarnya pemberontakan adalah Pancasila. Melekatnya kata 
Pancasila mengingatkan kita bahwa rakyat Dayak Kalteng belum ada keinginan melepaskan 
diri dari R.I. yang mereka sendiri ikut mendirikannya di Kalteng. Pencantuman kata itu 
lebih bersifat menggarisbawahi agar semua ingat akan ide apa pada tahun 1945 yang 
mempersatukan kita sebagai bangsa.


Pada masa maraknya ide memisahkan diri dari R.I., setelah Soeharto dipaksa turun dari 
panggung kepresidenan, walaupun di Kalteng, ada yang menyemai pikiran "Borneo 
Merdeka", tapi ide ini segera tersisih karena rakyat Kalteng sampai sekarang, paling 
jauh menginginkan bentuk federasi untuk mengelola keragaman. [Saya membatasi diri 
dengan contoh-contoh kongkret].

Munculnya masalah daerah, memperlihatkan bahwa jika menggunakan kata-kata Shakespeare, 
"ada sesuatu yang busuk dalam Negara Denmark" ["there is something rotten in the State 
of Denmark]. Jika kata Denmark digantikan dengan Indonesia, maka "there is something 
rotten in the State of Indonesia"  yang NKRI."Something rotten" itu adalah pengelolaan 
yang sentralistik yang menjadi Indonesia dijajah oleh orang Indonesia sendiri dan 
daerah-daerah dijadikan daerah jajahan. Konflik etnik seperti Tragedi Sampit dan 
Kereng Pangi misalnya lebih memperlihatkan adanya pembusukan ini. Dari praktek yang 
diterapkan di Kalteng, saya melihat benar praktek penjajahan Pusat terhadap daerah. 
Ketika Orba berkuasa, yang dijadikan standar untuk memegang kekuasaan kunci adalah 
Jawa dan Islam. Padahal Kalteng bukan daerah berpenduduk yang Islam dan Jawa. Praktek 
ini berlangsung selama lebih dari tiga dasarwarsa, termasuk pada periode Habibie 
dengan "lobbie ICMI"-nya ["lobbie ICMI" adalah istilah orang di Kalteng]. Tentu saja 
pilihan dan praktek politik begini akan menjadi kendaraan yang mengangkut perlawanan. 

Siapa yang menetapkan pilihan politik dan mengendalikan penterapan politik daerah dan 
etnik di atas?? Siapa lagi kalau bukan Jakarta! Karena itu pusat kericuhan 
sesungguhnya nterdapat di Jakarta, bukan di daerah. Untuk menyelamatkan Indonesia dan 
Republik, selain bertarung di Jakarta tapi lebih-lebih lagi dilakukan dari daerah. 
Jakarta tidak akan ada tanpa daerah. Kalau OPM dan GAM sampai sekarang masih 
eksis,artinya jalan militer tidak bisa memecahkan masalah kecuali memelihara dendam 
tujuhturunan. Dari segi strategi dan taktik militer, TNI pun bukan kekuatan yang tidak 
terkalahkan,jika kita tahu bagaimana menghadapinya. Buktinya di Timor Lorosae 
mengalami kekalahan berat dan harus membiarkan negeri itu merdeka. 

Militerisme dalam segala bentuk dan varian hanya mengantar Indonesia ke jurang 
kemerosotan kemudian ke kehancuran. Militerisme bukan haridepan negeri ini.

Kesimpulan saya adalah bahwa pilihan politik dan yang dipraktekkan selama ini 
memperlihatkan bahwa politik etnik dan daerah yang digariskan oleh pendiri Republik 
dan secara singkat dirumuskan dalam kata-kata "Bhinneka Tunggal Ika" telah dikhianati 
oleh Orba dan penerus-penerus Orba. Orba dan penerus-penerus Orba lah yang melarang 
penggunaan bahasa Tionghoa, menutup sekolah-sekolah Tionghoa, mendorong orang dari 
etnik Tionghoa mengubah nama, menyebut etnik Tionghoa sebagai "warga negara 
keturunan". Orba dan penerus-penerusnya jugalah  yang menjadikan daerah-daerah sebagai 
daerah jajahannya melalui politik "jawanisasi" dan "islamisasi" [dalam pengertian 
fanatisme atau sektarisme] serta "agama pembangunan".  

Apabila sekarang ada rencana pengajaran Bahasa Mandarin di SLTA,  selain memang 
merupakan kebijakan budaya yang  tanggap  perkembangan politik dan ekonomi 
internasional serta posisi RRT di peta politik dunia sekarang dan di masa datang, saya 
kira kebijakan budaya ini pun ada baiknya jika juga dikaitkan dengan politik etnik 
"bhinneka tunggal ika" dan ditopang dengan pilihan bentuk negara NKRI yang tidak lagi 
sentralistik, kebijakan yang menyadari keragaman bangsa sebagai suatu kekayaan budaya 
serta sumber karya. Sejarah bangsa dan negeri kita menunjukan bahwa menafsirkan dan 
mentrapkan NKRI bermakna tunggal sebagai padanan dari sentralisme hanya akan 
menghancurkan negeri dan bangsa serta RI sebagai "rumah bersama", sebagai "betang" 
[rumah panjang] Indonesia jika menggunakan istilah orang Dayak Kalteng. Nasib 
Indonesia banyak tergantung pada kemampuan mengejawantahkan politik "bhinneka tunggal 
ika". 

Secara khusus, saya ingin menggaris bawahi kenyataan bahwa Indonesia bukan hanya Jawa 
dan  bukan hanya Islam. Monolitisme dan militerisme dengan segala variannya tidak lain 
dari jalan petaka.Jika militerisme membawa kematian, mengapa  sebagai putra Dayak 
Indonesia atau putera daerah harus ikut bunuh diri dengan jalan maut ini? "Mengapa 
kami harus turut karam di perahu bocor dan dibarkan bocor?" ujar seorang kawan Papua.  
Tapi  saya masih meyakini ketepatan, keagungan dan keindahan Indonesia sebagai konsep, 
karena itu  saya ingin mengusulkan: "Kembalikan Indonesia kepada rakyat Indonesia. 
Indonesia yang majemuk!".

Paris, Agustus 2004.
-------------------
JJ. KUSNI

[Selesai]


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke