Dari Notes Belajar Seorang Awam:



CERITA-CERITA KECIL UNTUK AGUK IRAWAN [16].

Penelitian & Pembaruan [1]



Guk,
Dari bagaimana ranting Lekra di Pacinan Yogya dibangun dan bagaimana Ansambel 
Tari-Nyanyi "Lembah Merapi" didirikan, barangkali kau memperoleh sedikit gambaran 
garis besar tentang bagaimana Lekra meluaskan organisasi dan siapa yang meluaskannya. 
Contoh ini pun kelak akan kutambahkan dengan bagaimana kami membangun Lekra di 
Banjarmasin, Kalimantan Selatan dan di Palangka Raya, Kalimantan Tengah yang pada 
waktu itu baru dibangun. Jalan-jalan sedang dibangun oleh insinyur-insinyur dari Uni 
Soviet dan belum beraspal seperti sekarang.

Sekarang aku masih ingin mencatat dan menuturkan cerita-cerita kecil dari pengalaman 
kecil sederhana yang kualami selama berada di Jawa Tengah, daerah pengasuh remajaku. 

Asrama Palangka Raya yang sekarang masih berdiri tegak di jalan Pakuningratan,Yogya 
Utara, kalau kuingat-ingat di masa itu, bagiku  tak obah bagaikan sebuah tenda 
perkemahan guna menjulurkan kaki sejenak menawar kelelahan perjalanan. Sedangkan 
tempat yang sering kudiami adalah pedesaan yang luas, jalan-jalan kota hingga 
puncak-puncak Merapi dan Merbabu yang membayangi kota siang-malam,di mana kembali aku 
bisa menikmati kebebasan anak alam masa bocahku di sungai Katingan. Lebih-lebih sejak 
1963 Lekra Jateng, termasuk Daerah Isimewa dan Kota Yogyakarta,  mengorganisasi suatu 
penelitian tentang bentuk kesenian yang paling hidup di Jawa Tengah [Jateng]. 
Penelitian ini dilakukan serentak di seluruh kabupaten-kabupaten Jateng dan berakhir 
pada tahun 1964. Aku mendapatkan kabupaten Klaten sebagai daerah pengamatan sehingga 
daerah ini mempunyai makna tersendiri bagiku. Penelitian tentang bentuk-bentuk 
kesenian rakyat ini dilakukan untuk mengenal keadaan kehidupan kesenian di Jateng, 
bentuk-bentuk kesenian apa yang paling hidup, apa yang hampir hilang dan atas dasar 
keadaan ini kemudian menetapkan apa yang harus dilakukan. Penelitian serentak ini juga 
berharap bahwa atas dasar pengenalan keadaan, seniman-seniman Lekra bisa menciptakan 
karya-karya baru yang mengakar, tanggap zaman dan aspiratif.

Apa yang dimaksudkan dengan  karya-karya baru yang mengakar, tanggap zaman dan 
aspiratif?

Pertanyaan ini menyangkut masalah pembaharuan dalam sastra-seni dan juga masalah 
keragaman atau kebhinnekaan kita sebagai bangsa. Apa itu pembaharuan dan mengapa perlu 
pembaharuan? Apakah masalah ini memang mendesak? Mendesak tidaknya, tepat tidak 
penilaian kami pada waktu itu ,tapi masalah-masalah demikian sudah menjadi isi debat 
berbagai grup kami di Yogya. Di grup ketoprak Krido Mardi misalnya di sekitar tahun 
1963 sudah diperdebatkan bagaimana menggusur feodalisme dari panggung. Masalah ini pun 
muncul di kalangan Ludruk Marhaen Jawa Timur. Terus-terang kukatakan bahwa perdebatan 
ini ada pengaruh dari perdebatan yang sedang berlangsung di kalangan seniman Tiongkok 
terhadap Opera Beijing -- pada awal-awal Revolusi Besar Kebudayaan Proletar [RBKP] 
yang disulut oleh Chiang Ching dan teman-teman, dan juga pengaruh dari kedatangan 
rombongan kabuki Zhen Shin Za serta ansambel-tari nyanyi Shin Sheiza Kuza cari Jepang. 

Debat di kalangan Krido Mardi yang selalu dihadiri oleh Drs. Sunardi -- sebagai orang 
pertama  Lekra Daerah Istimewa Yogyakarta -- sesungguhnya lebih berkisar pada masalah 
tekhnis praktis dan bukan pada soal perobahan atau pembaruan itu sendiri. 
Dikhawatirkan bahwa jika Krido Mardi mementaskan karya-karya baru, maka pemasukan 
secara finansil akan berkurang sehingga berdampak langsung pada kehidupan grup yang 
memang hidup dari berkesenian. Untuk menjawab masalah ini maka diskusi memutuskan 
untuk melakukan pertunjukan uji-coba dengan mementaskan karya "Gadis Berambut Putih" 
[maaf aku lupa penulisnya], sebuah karya drama terkemuka dari Tiongkok yang berhasil 
meraih hadiah internasional. Di Republik Rakyat Tiongkok [RRT] sendiri, "Gadis 
Berambut Putih" selain dipentaskan dalam bentuk teater, ia juga digelarkan dalam 
bentuk balet. Krido Mardi mementaskan "Gadis Berambut Putih" di Alun-alun Utara dengan 
tekhnik panggung yang diwariskan oleh Shin Sheiza Kuza.

Uji coba kedua dilakukan oleh Krido Mardi dengan menggelarkan lakon Sam Pek Eng Tay. 
Sedangkan grup Ludruk Marhaen ketika berkunjung ke Yogya menggelarkan lakon "Sadumuk 
Batuk Senyari Bumi" yang melukiskan perjuangan kaum tani dalam Gerakan Aksi Sepihak di 
Klaten.

Dari pertunjukan uji coba ini Krido Mardi agaknya bisa membuang kekhawatiran mereka 
walaupun dalam pergelaran-pergelaran mereka tetap memadukan karya-karya baru dan karya 
lama. Masalah lain yang dihadapi terdapat pada jumlah naskah-naskah drama baru. 
Masalah yang juga dihadapi oleh Lembaga Seni Musik dalam pertunjukan-pertunjukan 
mereka. Kekurangan naskah dan lagu-lagu baru menyebabkan Drs. Sunardi menuduh Lekra 
Kota sebagai "puas diri" yang menyulut perdebatan terbuka di koran-koran[Coba Guk, kau 
lihat juga "Prahara Budaya", kompilasi Taufiq Ismail & D.S.Muljanto]. 

Dengan adanya debat ini, nampak bahwa di kalangan Lekra tidak berlaku komandoisme dan 
monolitisme. [lihat juga: Antologi Puisi "Laut Pasang", sikap terhadap Chairil Anwar 
menyusul ceramah Bakri Siregar di Fakultas Sastra Gadjah Mada tahun 1963an]. 

Perdebatan lebih seru berlangsung di dalam Lembaga Seni Tari Lekra Yogya, terutama 
mengenai penggunaan bentuk balet. Ada yang menganggap balet sebagai bentuk kesenian 
Barat  tidak layak digunakan seperti yang dilakukan oleh koreograf Sutrisno atas lagu 
nelayan Dayak Kalimantan Tengah: "Laisomena" dan "Tanduk Majeng"[lagu nelayan Madura] 
oleh grup Gentasuri Surabaya. Debat ini pun diselesaikan dengan uji coba pertunjukan. 

Melihat pertunjukan balet ini, yang masih membekas sampai sekarang bahwa koreograf 
berhasil mengangkat semangat para nelayan kedua pulau menarung maut dilambangkan oleh 
laut. Semangat ini mengapa tidak bisa ditafsirkan sebagai semangat dasar rakyat negeri 
dan bangsa kita. Hal lain yang kupungut dari pertunjukan ini bahwa aku menyaksikan 
betapa kebhinnekaan bangsa merupakan sumber kreasi yang kaya raya. Dalam keragaman 
bentuk itu, kusaksikan benar adanya kesamaan heroisme untuk mengalahkan ajal dan 
memenangkan kemanusiaan.

Masalah pembaharuan ini juga muncul di kalangan Lekra Yogya karena ada pandangan bahwa 
seni wayang sudah mencapai bentuk tertingginya. Yang tertinggi tidak punya puncak baru 
lagi. Biarkan ia di tempat tinggi itu lalu dari unsur-unsur yang tertinggi itu patut 
diambil sari ciri-cirinya untuk menciptakan sesuatu yang baru. Demikian juga terhadap 
lagu-lagu Jawa. Jika masih ingin mempunyai ruang hidup di masa kini, lagu-lagu Jawa 
seperti mocopat, dandanggula dan sebagainya, patut diperbaharui dengan jalan mengambil 
saripati ciri-cirinya untuk menciptakan lagu-lagu baru. Berdasarkan sikap dan 
pandangan inilah, Johni Trisno, seniman serba bisa, menciptakan lagu-lagu seperti 
Holopis Kuntulbaris, dan lain-lain...  Sedangkan Saptoprio membuat aransemen baru atas 
keroncong di mana solis dan paduan suara digabungkan serta diiringi oleh orkes 
lengkap. Ketika percobaan ini dipertunjukan di Stadion Senayan Jakarta, pementasan 
Lekra Yogya mampu menggelorakan semangat patriotik penonton yang memenuhi Senayan. 

Sayang usaha begini terpenggal oleh terjadinya Tragedi Nasional September 1965. 
Pekerjaan belum selesai, Guk, belum apa-apa.. tapi apa yang sudah kami coba, 
memperlihatkan bahwa pontensi bangsa dan negeri ini sungguh sangat luarbiasa, bahwa 
keragaman, benar adalah suatu kekayaan, bahwa rakyat negeri ini rakyat yang besar. 
Sekali kelak ia bangkit dan mampu mengembangkan potensinya, kau akan lihat perkasanya 
hempasan ekor naga rakyat ini. 

Sebelum melakukan pembaharuan, Lekra Jateng melakukan penelitian serentak selama 
setahun. Penelitian dilakukan untuk mengenal keadaan dan dari keadaan ini menetapkan 
apa kemudian yang harus dilakukan sehingga yang dilakukan tidak atas rekaan tanpa 
dasar.

Apa bagaimana hasil penelitian setahun itu? 



Paris, Agustus 2004
-------------------
JJ. Kusni

[Bersambung]


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke