Dari Notes Belajar Seorang Awam:



CERITA-CERITA KECIL UNTUK AGUK IRAWAN [16].

Penelitian & Pembaruan [3--Selesai]



Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh teman-teman yang bertugas di daerah Jepara, 
diketahui misalnya peranan etnik Tionghoa dalam mengembangkan seni ukir yang tersohor 
di daerah ini. Dari komposisi asal etnik, terutama di daerah-daerah yang tadinya jadi 
pusat perkebunan atau pusat peristirahatan yang sejuk seperti di ketinggian 
Merapi-Merbabu, di sini didapatkan   adanya warga desa yang berkulit putih dan mata 
sedikit biru. Sedangkan di daerah lain didapatkan juga adanya etnik-etnik asal Arab 
dan India. 

Tentang keragaman asal turun penduduk kita sebenarnya bukanlah sesuatu hal asing dari 
pengetahuan penduduk, demikian juga sumbangan masing-masing etnik itu bagi 
pengembangan kesenian setempat. Apa yang ditemukan oleh para seniman Lekra dalam 
gerakan penelitian kesenian mereka tidak lebih dari sekdar suatu garisbawah atas 
kenyataan. Sekalipun demikian, ketika Lekra Jateng  mencoba menyiarkan hasil 
penelitian, mereka memperoleh hambatan dari penguasa -- terutama yang berseragam 
hijau. Setelah Tragedi Nasional September 1965 seiring dengan penghancuran dan 
pelarangan karya-karya, buku serta dokumen Lekra  dan para anggotanya, pengejaran dan 
likwidasi fisik terhadap mereka, aku tak tahu lagi tentang nasib hasil-hasil 
penelitian tersebut. Yang masih bisa didapatkan diluar negeri adalah hasil penelitan 
tentang kaum tani yang direkam oleh karya antropolog Ina Slamet. 

Hasil sampingan  positif lain dari gerakan penelitian kesenian ini yaitu membuat para 
anggota Lekra terutama yang melakukan penelitian menjadi lebih mengenal dari dekat 
keadaan masyarakat. Melalui gerakan penelitian yang umumnya dilakukan dengan metode 
"tiga sama" [sama makan, sama tidur, sama kerja -- terakhir di Yogya dikembangkan 
dengan "sama diskusi"], para anggota Lekra mengobah atau menggeser sikap mental mereka 
lebih dekat kepada rakyat. Kedekatan mereka pada rakyat lebih ditingkatkan dan lebih 
dikhayati.

Belakangan juga kuketahui dari seorang antropolog Madagaskar, yang sehari-hari 
kupanggil dengan nama Tor, tentang adanya hubungan sejarah antara seni dan kemampuan 
mengobah besi di Jawa dengan yang di daerah etnik Dayak. Agar tidak kusebut 
"ngedobos", pada waktu itu Tor memperlihatkan halaman buku pinjaman dari perpustakaan 
Paris, yang ia jadikan sumber. Aku menyesal dalam  pertemuan di sebuah caf� itu, telah 
lupa mencatat judul buku tua di tangan Tor. Pernyataan Tor dari Madagaskar ini 
ditunjang oleh antropolog Indonesia, Jaan Ave yang di tahun 1960an melakukan 
penelitian di kalangan orang Dayak Kalimantan Tengah. Jaan Ave, seperti halnya alm. 
E.Utrecht, termasuk orang-orang yang harus meninggalkan Indonesia menyusul Tragedi 
Nasional September 1965. Setelah pensiun, Jaan Ave melalukan haritua di Perancis 
Selatan.

Sadar akan keragaman ini sebagai suatu kekayaan dan sumber kreasi tak  berhingga, di 
kalangan teman-teman Lekra Kota Yogya pada masa angkatanku mempertanyakan: Bagaimana 
secara kongkret mengejawantahkan kekayaan ini dalam karya yang aspiratif dan tanggap 
zaman? 

Seperti kutuliskan di atas melalui diskusi panjang, kami sampai pada kesepakatan untuk 
menangkap saripati ide dan ciri khas karya-karya lokal dan etnik,  menjadikannya 
sebagai materi untuk meramu karya baru. Inilah misalnya yang dicoba oleh Johny Trisno 
dalam lagunya "Hulupis Kuntulbaris". Mendengar karya Johny ini, siapapun tidak ragu 
bahwa lagu ini adalah lagu dari Jawa Tengah, sekalipun terasa juga nafas 
Soranbosi[lagu nelayan Jepang yang pernah ditafsirkan dalam bentuk sandra-nyanyi oleh 
grup Shin Sheiza Kuza ketika berkunjung ke Yogya].  

Gejala ini pun terdapat pada karya-karya Udin dari Ansambel Maju Tak Gentar, Medan, 
Sumatera Utara,ansambel kebanggaan Bung Karno. Terhadap karya-karya Udin, pernah ada 
teman yang mengkritiknya sebagai berbau lagu-lagu Tiongkok. Pendapat ini dibenarkan 
oleh teman-teman lain sambil menambahkan: "Apakah karena itu kau menolak karya Udin 
sebagai karya Indonesia?". Menurutku,lanjut teman ini: "Justru karena adanya pengaruh 
irama Tionghoa, karya Udin menjadi sangat Indonesia. Udin yang memang dari etnik 
Tionghoa tanpa mengingkar diri dan wajar jika ada warna Tionghoa pada karyanya. 
Mengapa karya Johny tidak kau sebut berbau Jawa, tapi kau katakan lagu Indonesia. 
Indonesia bukan hanya Jawa". 

Pengangkatan lagu nelayan rakyat Madura, "Tanduk Majeng" oleh Ansambel Gentasuri dari 
Surabaya dan lagu nelayan etnik Dayak "Laisomena" oleh Sutrisno,  koreograf Lembaga 
Seni Tari Yogya, ke dalam bentuk balet Barat dengan memperhatikan unsur-unsur gerak 
lokal, atau aransemen keroncong dan lagu-lagu Jawa oleh Mas Saptoprio, termasuk 
bentuk-bentuk usaha percobaan kami mencari bentuk pengungkapan paling aspiratif dan 
tanggap zaman seusai melakukan gerakan penelitian kesenian se Jateng. 

Kemampuan menyerap saripati bentuk dan ide karya berbagai asal sebenarnya bukan hal 
baru bagi rakyat berbagai etnik negeri kita. Barangkali rasa nasionalisme yang 
meluap-luap atau kurang pengenalan yang kadang membuat kita terjerat oleh sektarisme. 
Mengenal diri sendiri untuk menjadi diri sendiri, barangkali masih merupakan nasehat 
tetua yang tetap relevan. Penelitian dimaksudkan untuk mengenal diri sendiri 
semaksimal mungkin, sedangkan menjadi diri sendiri adalah kemampuan menyerap segala 
unsur yang melingkungi diri dan di mana diri berada. Sebagai seniman adalah berkarya. 

Setelah memahami adanya tujuh bentuk kesenian yang paling hidup di kalangan masyarakat 
Jateng, seperti yang sudah kukatakan di atas, Lekra Jateng, termasuk Yogya dihadapkan 
pada pertanyaan: Bagaimana menumbuhkembangkan bentuk-bentuk kesenian tersebut, 
bagaimana karya-karya baru yang mengakar, tanggap zaman dan aspiratif diciptakan? 
Perobahan politik yang drastis menyusul Tragedi Nasional September 1965 menangguhkan 
usaha menjawab pertanyaan ini lebih jauh. 

Adakah yang menduga bahwa pertanyaan dan permasalahan yang menggelitik pikiran  kami 
begini termasuk petunjuk intervensi pihak luar pada Lekra? Ah, aku sudah tidak 
perduli, tapi pertanyaan itu kutinggalkan kepadamu sebagai salah satu tanda kami 
pernah ada dan tidak sempat menjawabnya. Kami sudah lakukan apa yang kami bisa dalam 
ruang yang tersedia dan sekarang yang masih hidup tetap mencoba mencari mendapatkan 
ruang bagi mimpi. Terkadang aku tercengang sendiri bahwa di negeri kelahiran untuk 
mimpi dan mengungkapkan mimpipun tidak gampang bahkan sering terlarang. Mencintai 
tanahair menagih kesanggupan kehilangan kepala. Udara di isi oleh rupa-rupa tuba. 
Penyair, di negeri ini kau ditunggu! Apakah benar demikian maknanya, Guk?  

Paris, Agustus 2004
-------------------
JJ. Kusni




[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke