Dengan rendah hati saya mengajak agar Orang-Orang Kaya
dari Bangsa Indonesia menyisihkan sebagian hartanya
untuk membantu dunia pendidikan kita. Bantu
sekolah-sekolah yang kekurangan, bangun sekolah
banyak-banyak, membuat rekening dana abadi untuk
pendidikan, dll. 

Daripada uang Nge-Trilyunan untuk bayar bunga rekap,
coba kalau 10-20 Trilyunnya dialokasikan untuk
anggaran pendidikan, akan besar sekali nilainya. 


--- Mario Gagho <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Kamis, 12 Agt 2004,
> Uang Bukan Solusi Masalah Pendidikan
>
http://www.jawapos.com/index.php?act=detail_c&id=123950
> 
> Totok Amin Soefijanto *
> "Oppressors believe that to be, is to have; money is
> the measure of all things, and profit is the primary
> goal" (Freire, Pedagogy of the Oppressed, 1970).
> 
> Uang tidak bisa membeli kebahagiaan. Tetapi, uang
> bisa
> menutup kesempatan banyak anak miskin dari
> kesempatan
> belajar. Sebab, banyak universitas yang menaikkan
> uang
> kuliah dan uang pangkal. Tak heran, mahasiswa
> memprotes hal itu seperti yang terakhir terjadi di
> kampus Universitas Indonesia. 
> 
> Benarkah uang bisa memecahkan masalah pendidikan
> kita
> yang dikritik karena membuat murid tidak kreatif,
> tidak berwawasan luas, dan tak berakhlak mulia?
> Kalau
> benar, berapa besar uang yang dibutuhkan untuk
> mengatasi semua masalah tersebut? Pengamatan jeli
> Prof
> Sofian Effendi menerjemahkan upaya meningkatkan
> kualitas pendidikan ke dalam kalkulasi ekonomi
> seperti
> berikut:
> 
> "�dasar satuan biaya yang diperkirakan Ditjen
> Dikdasmen dan Ditjen Dikti sebesar Rp 157 triliun-Rp
> 173,2 triliun per tahun. Padahal, tahun 2004,
> pemerintah hanya mampu menyediakan anggaran Rp 21
> triliun atau sekitar 1/6 jumlah yang diperlukan guna
> mewujudkan program pendidikan dengan standar mutu
> nasional. Jika standar mutu yang hendak dicapai
> adalah
> standar mutu pendidikan di Malaysia atau Singapura,
> diperlukan anggaran Rp 500 triliun-Rp 520 triliun
> atau
> empat kali standar biaya nasional." (Janji Kosong
> atau
> Tawaran Solusi?, Kompas, 26 Juli 2004).
> 
> Bukan main. Uang triliunan menjadi standar untuk
> mengukur mutu pendidikan. Tiba-tiba, bayangan Romo
> Y.B. Mangunwijaya melintas di benak saya. Almarhum
> yang susah payah mengajar anak-anak pinggiran Kali
> Code di Jogjakarta dengan biaya seadanya itu toh
> bisa
> dikatakan berhasil memberikan kesempatan kepada
> anak-anak dari keluarga miskin untuk "makan
> sekolahan". Almarhum yang kecewa terhadap sistem
> pendidikan nasional yang katanya menghasilkan robot
> tersebut meluncurkan ide untuk menempatkan
> pendidikan
> di jalur yang menurutnya benar, yaitu di jalur
> "membangun manusia merdeka yang tidak hanya
> mengutamakan hasil, tetapi juga proses".
> 
> Romo Mangun tentu tak sendirian. Sebab, banyak kiai
> yang membangun pesantren yang santrinya kebanyakan
> berasal dari keluarga miskin di tanah air. Mereka
> sering tidak memungut iuran, apalagi mematok tarif
> uang pangkal jutaan rupiah. 
> 
> Kepedulian para tokoh tersebut mengingatkan kita
> pada
> karya klasik Paulo Freire yang prinsipnya memandang
> bahwa anak didik adalah manusia berotak, bukan
> tabung
> kosong yang menampung gelontoran pidato gurunya
> saja.
> Anak didik harus belajar bertanggung jawab atas
> tindakannya dan bangga menjadi dirinya sendiri. 
> 
> Sebenarnya, apa sih yang dibutuhkan untuk mendidik
> anak itu? Yang paling utama sebenarnya adalah
> keteladanan dari orang dewasa di sekitarnya. Buku,
> kurikulum, guru, dan lingkungan, termasuk keluarga
> dan
> masyarakat, merupakan unsur-unsur pendidikan yang
> amat
> penting bagi perkembangan kemajuan daya nalar serta
> moral si anak didik. 
> 
> Materi pelajaran tidak harus berbentuk kertas segi
> empat yang di dalamnya ada tulisan atau gambar. Alam
> di sekitar si anak seperti batu karang, air sungai,
> pasir laut, atau daun pisang yang relatif murah
> serta
> terjangkau bisa menjadi materi pelajaran. Dana
> triliunan memang dibutuhkan untuk memecahkan masalah
> pendidikan kita, tetapi bukan segalanya. Anggaran
> yang
> memadai memang dibutuhkan untuk menggaji guru supaya
> mereka hidup layak serta manusiawi. Uang negara
> memang
> diperlukan untuk memperbaiki dan merawat
> gedung-gedung
> sekolah serta isinya. 
> 
> Tetapi, kalau semua masalah pendidikan digebyah uyah
> sebagai masalah uang, kita akan terjebak pada
> materialisasi dunia pendidikan. Semuanya nanti
> diukur
> dengan uang. 
> 
> Misalnya, ukuran sukses sebuah lembaga pendidikan
> adalah sosok fisiknya, gedung yang megah di jalan
> utama, kelengkapan peralatan, dan ketebalan uang
> kasnya, bukan keberhasilan sivitas akademikanya
> dalam
> mengembangkan ilmu pengetahuan.
> 
> Kalau ingin mengatasi masalah pendidikan, ada jalan
> yang lebih baik daripada hanya memfokuskan diri pada
> uang. Kita harus mendapatkan informasi yang benar
> mengenai kekurangan sistem pendidikan nasional dan
> lokal. Pernahkah kita melakukan survei terhadap
> guru,
> murid, serta orang tua secara lokal atau nasional,
> dan
> kalau perlu secara longitudinal dari waktu ke waktu
> untuk menyerap aspirasi mereka secara akurat? Lebih
> luas lagi, pernahkah kita melakukan jajak pendapat
> terhadap masyarakat luas tentang model pendidikan
> yang
> diinginkan masyarakat yang majemuk seperti kita?
> 
> Informasi kekurangan dan keinginan para pengguna
> jasa
> pendidikan nasional itulah yang bisa digunakan
> membuat
> daftar belanja kalau uangnya sudah tersedia. Kalau
> belum tersedia, kita bisa melihat daftar tersebut
> untuk mencari kekurangan yang bisa diatasi dengan
> kemampuan berdikari alias memanfaatkan potensi alam
> sekitar. Kalau memang bisa belajar di bawah pohon,
> lumbung padi, tempat lelang ikan, balai desa, atau
> fasilitas publik lain yang menganggur serta masih
> bisa
> dipakai, ya manfaatkanlah. 
> 
> Ivan Illich pernah mengingatkan, pendidikan adalah
> tanggung jawab dan hak masyarakat secara luas, bukan
> hanya tanggung jawab serta hak pemerintah yang
> kebetulan berkuasa menyalurkan uang pajak. Karena
> itu,
> dalam soal anggaran pendidikan dan penyalurannya,
> masyarakat harus jeli memantau kerja pemerintah yang
> mengemban amanat rakyat. Kalau dianggap sudah tidak
> kredibel serta tidak kompeten, kewenangannya bisa
> dicabut dan diganti oleh mereka yang lebih mumpuni.
> 
> Satu hal yang patut diperhatikan bersama, tekad
> memajukan pendidikan dengan tulus dan jujur.
> Kejujuran
> menjadi kata kunci keberhasilan pembangunan
> pendidikan
> kita saat ini. Yang paling berbahaya dari usul
> penambahan anggaran pendidikan tersebut adalah kalau
> kita menutup mata terhadap praktik korupsi, kolusi,
> dan nepotisme yang masih merajalela dalam dunia
> pendidikan saat ini. 
> 
> Tanpa praktik pemerintahan yang bersih dan tanpa
> niat
> tulus dari para penguasa yang menyalurkan dana
> negara
> tersebut, sia-sialah kampanye menambah anggaran
> pendidikan tersebut untuk mengatasi masalah secara
> tuntas. Kalau tidak, seperti sinyalemen Freire,
> pendidikan yang berorientasi laba akan menghasilkan
> penindas-penindas baru.
> * Totok Amin Soefijanto, kandidat doktor bidang
> pendidikan di Boston University, Massachusetts, AS
> 
> 
> 
> 
> =====
> Mario Gagho
> Political Science,
> Agra University, India
> 
> 
>               
> __________________________________
> Do you Yahoo!?
> New and Improved Yahoo! Mail - Send 10MB messages!
> http://promotions.yahoo.com/new_mail 
> 



                
__________________________________
Do you Yahoo!?
New and Improved Yahoo! Mail - Send 10MB messages!
http://promotions.yahoo.com/new_mail 


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70
http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke