Uang memang bukan solusi, tapi demi peningkatan mutu dan standar (lha buat gaji para guru, karyawan, dll) ini semua dibutuhkan uang. keterlaluan-nya para "orang atas" saja yang membuat beaya pendidikan semakin menggelembung.
Saya lebih melihat pada efek setelah mereka lulus dari pendidikan itu dan mendapatkan pekerjaan. akan ada "dendam berantai" yang mengakibatkan tumbuhnya masyarakat-masyarakat hedonis! ----- Original Message ----- From: "Mario Gagho" <[EMAIL PROTECTED]> To: <[EMAIL PROTECTED]> Sent: Thursday, August 12, 2004 9:59 AM Subject: [ppiindia] Uang Bukan Solusi Masalah Pendidikan > Kamis, 12 Agt 2004, > Uang Bukan Solusi Masalah Pendidikan > http://www.jawapos.com/index.php?act=detail_c&id=123950 > > Totok Amin Soefijanto * > "Oppressors believe that to be, is to have; money is > the measure of all things, and profit is the primary > goal" (Freire, Pedagogy of the Oppressed, 1970). > > Uang tidak bisa membeli kebahagiaan. Tetapi, uang bisa > menutup kesempatan banyak anak miskin dari kesempatan > belajar. Sebab, banyak universitas yang menaikkan uang > kuliah dan uang pangkal. Tak heran, mahasiswa > memprotes hal itu seperti yang terakhir terjadi di > kampus Universitas Indonesia. > > Benarkah uang bisa memecahkan masalah pendidikan kita > yang dikritik karena membuat murid tidak kreatif, > tidak berwawasan luas, dan tak berakhlak mulia? Kalau > benar, berapa besar uang yang dibutuhkan untuk > mengatasi semua masalah tersebut? Pengamatan jeli Prof > Sofian Effendi menerjemahkan upaya meningkatkan > kualitas pendidikan ke dalam kalkulasi ekonomi seperti > berikut: > > "…dasar satuan biaya yang diperkirakan Ditjen > Dikdasmen dan Ditjen Dikti sebesar Rp 157 triliun-Rp > 173,2 triliun per tahun. Padahal, tahun 2004, > pemerintah hanya mampu menyediakan anggaran Rp 21 > triliun atau sekitar 1/6 jumlah yang diperlukan guna > mewujudkan program pendidikan dengan standar mutu > nasional. Jika standar mutu yang hendak dicapai adalah > standar mutu pendidikan di Malaysia atau Singapura, > diperlukan anggaran Rp 500 triliun-Rp 520 triliun atau > empat kali standar biaya nasional." (Janji Kosong atau > Tawaran Solusi?, Kompas, 26 Juli 2004). > > Bukan main. Uang triliunan menjadi standar untuk > mengukur mutu pendidikan. Tiba-tiba, bayangan Romo > Y.B. Mangunwijaya melintas di benak saya. Almarhum > yang susah payah mengajar anak-anak pinggiran Kali > Code di Jogjakarta dengan biaya seadanya itu toh bisa > dikatakan berhasil memberikan kesempatan kepada > anak-anak dari keluarga miskin untuk "makan > sekolahan". Almarhum yang kecewa terhadap sistem > pendidikan nasional yang katanya menghasilkan robot > tersebut meluncurkan ide untuk menempatkan pendidikan > di jalur yang menurutnya benar, yaitu di jalur > "membangun manusia merdeka yang tidak hanya > mengutamakan hasil, tetapi juga proses". > > Romo Mangun tentu tak sendirian. Sebab, banyak kiai > yang membangun pesantren yang santrinya kebanyakan > berasal dari keluarga miskin di tanah air. Mereka > sering tidak memungut iuran, apalagi mematok tarif > uang pangkal jutaan rupiah. > > Kepedulian para tokoh tersebut mengingatkan kita pada > karya klasik Paulo Freire yang prinsipnya memandang > bahwa anak didik adalah manusia berotak, bukan tabung > kosong yang menampung gelontoran pidato gurunya saja. > Anak didik harus belajar bertanggung jawab atas > tindakannya dan bangga menjadi dirinya sendiri. > > Sebenarnya, apa sih yang dibutuhkan untuk mendidik > anak itu? Yang paling utama sebenarnya adalah > keteladanan dari orang dewasa di sekitarnya. Buku, > kurikulum, guru, dan lingkungan, termasuk keluarga dan > masyarakat, merupakan unsur-unsur pendidikan yang amat > penting bagi perkembangan kemajuan daya nalar serta > moral si anak didik. > > Materi pelajaran tidak harus berbentuk kertas segi > empat yang di dalamnya ada tulisan atau gambar. Alam > di sekitar si anak seperti batu karang, air sungai, > pasir laut, atau daun pisang yang relatif murah serta > terjangkau bisa menjadi materi pelajaran. Dana > triliunan memang dibutuhkan untuk memecahkan masalah > pendidikan kita, tetapi bukan segalanya. Anggaran yang > memadai memang dibutuhkan untuk menggaji guru supaya > mereka hidup layak serta manusiawi. Uang negara memang > diperlukan untuk memperbaiki dan merawat gedung-gedung > sekolah serta isinya. > > Tetapi, kalau semua masalah pendidikan digebyah uyah > sebagai masalah uang, kita akan terjebak pada > materialisasi dunia pendidikan. Semuanya nanti diukur > dengan uang. > > Misalnya, ukuran sukses sebuah lembaga pendidikan > adalah sosok fisiknya, gedung yang megah di jalan > utama, kelengkapan peralatan, dan ketebalan uang > kasnya, bukan keberhasilan sivitas akademikanya dalam > mengembangkan ilmu pengetahuan. > > Kalau ingin mengatasi masalah pendidikan, ada jalan > yang lebih baik daripada hanya memfokuskan diri pada > uang. Kita harus mendapatkan informasi yang benar > mengenai kekurangan sistem pendidikan nasional dan > lokal. Pernahkah kita melakukan survei terhadap guru, > murid, serta orang tua secara lokal atau nasional, dan > kalau perlu secara longitudinal dari waktu ke waktu > untuk menyerap aspirasi mereka secara akurat? Lebih > luas lagi, pernahkah kita melakukan jajak pendapat > terhadap masyarakat luas tentang model pendidikan yang > diinginkan masyarakat yang majemuk seperti kita? > > Informasi kekurangan dan keinginan para pengguna jasa > pendidikan nasional itulah yang bisa digunakan membuat > daftar belanja kalau uangnya sudah tersedia. Kalau > belum tersedia, kita bisa melihat daftar tersebut > untuk mencari kekurangan yang bisa diatasi dengan > kemampuan berdikari alias memanfaatkan potensi alam > sekitar. Kalau memang bisa belajar di bawah pohon, > lumbung padi, tempat lelang ikan, balai desa, atau > fasilitas publik lain yang menganggur serta masih bisa > dipakai, ya manfaatkanlah. > > Ivan Illich pernah mengingatkan, pendidikan adalah > tanggung jawab dan hak masyarakat secara luas, bukan > hanya tanggung jawab serta hak pemerintah yang > kebetulan berkuasa menyalurkan uang pajak. Karena itu, > dalam soal anggaran pendidikan dan penyalurannya, > masyarakat harus jeli memantau kerja pemerintah yang > mengemban amanat rakyat. Kalau dianggap sudah tidak > kredibel serta tidak kompeten, kewenangannya bisa > dicabut dan diganti oleh mereka yang lebih mumpuni. > > Satu hal yang patut diperhatikan bersama, tekad > memajukan pendidikan dengan tulus dan jujur. Kejujuran > menjadi kata kunci keberhasilan pembangunan pendidikan > kita saat ini. Yang paling berbahaya dari usul > penambahan anggaran pendidikan tersebut adalah kalau > kita menutup mata terhadap praktik korupsi, kolusi, > dan nepotisme yang masih merajalela dalam dunia > pendidikan saat ini. > > Tanpa praktik pemerintahan yang bersih dan tanpa niat > tulus dari para penguasa yang menyalurkan dana negara > tersebut, sia-sialah kampanye menambah anggaran > pendidikan tersebut untuk mengatasi masalah secara > tuntas. Kalau tidak, seperti sinyalemen Freire, > pendidikan yang berorientasi laba akan menghasilkan > penindas-penindas baru. > * Totok Amin Soefijanto, kandidat doktor bidang > pendidikan di Boston University, Massachusetts, AS > > > > > ===== > Mario Gagho > Political Science, > Agra University, India > > > > __________________________________ > Do you Yahoo!? > New and Improved Yahoo! Mail - Send 10MB messages! > http://promotions.yahoo.com/new_mail > > > > *************************************************************************** > Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com > *************************************************************************** > __________________________________________________________________________ > Mohon Perhatian: > > 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) > 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. > 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; > 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] > 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] > 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] > 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] > > Yahoo! Groups Links > > > > > > ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70 http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

