Dari Notes Belajar Seorang Awam:
CERITA-CERITA KECIL UNTUK AGUK IRAWAN [17]. Bahasa Daerah Dan Bahasa Indonesia [2] Selain mencoba menyatukan pandangan terhadap hubungan antara bahasa daerah dan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional untuk dijadikan sumbangsaran kepada isntansi terkait dalam menetapkan pilihan politik bahasa, seminar sehari ini pun kukira bisa dilihat sebagai tanda keacuhan Lembaga Sastra Indonesia Cabang Yogya terhadap pemasalahan masyarakat. Berangkat dari keacuhan ini, sebagai sebuah lembaga kebudayaan, ia mencoba terus rajin membaca keadaan dan memahami keadaan ini kemudian menjawab permasalahan-permasalahan yang dimunculkan keadaan. Ingin kusebutkan bahwa keacuhan, terus rajin membaca keadaan secermat mungkin, memahami keadaan dan menjawab permasalahan-permasalahan yang dimunculkannya, merupakan pengejawantahan dari tanggungjawab budaya anak bangsa dan negeri, terutama sastrawan-seniman. Kalau pengamatanku benar, maka sastrawan-seniman Lekra [lepas mereka diakui atau tidak sebagai sastrawan-seniman -- karena banyak kritikus dan penulis tidak mengakui sastrawan-seniman Lekra sebagai seniman!] dalam menggarap tema apa pun senantiasa mentautkannya dengan tanggungjawab. Diakui atau tidak mereka sebagai seniman tidak menjadi perhatian utama mereka dibandingkan dengan melaksanakan tanggungjawab melalui kesenian. Lekra dan lembaga-lembaga kejuruannya tidak lain dari nama gerakan rakyat berkesenian. Untuk terus-menerus memperbesar gerakan rakyat berkesenian ini, maka Lekra mencoba memahami bentuk-bentuk kesenian apa yang paling hidup di dalam masyarakat dan mendorongnya maju berkembang. Karena itu maka Lekra mengorganisasi gerakan riset kesenian di Jawa Tengah. Sadar akan tingkat-tingkat mutu sebagai karya di dalam gerakan maka Lekra merumuskan kebijakannya melalui yang dinamakan "tinggi mutu artistik dan mutu ideologi", "meluas dan meninggi", "pemaduan kreativitas massa dan perorangan" [melalui praktek dikembangkan menjadi "tiga pemaduan:massa,individu dan organisasi]. Melaksanakan tanggungjawab kesenian seperti di atas, mendesak orang berpikir dan berani berpikir, terkadang berani menentang arus. Karena itu sangatlah tidak sesuai kenyataan jika ada yang menduga bahwa di kalangan Lekra tidak terdapat perdebatan sengit. Andaikan kau mengetahui sanggar-sanggar Lekra di Yogya pada waktu itu, yang dijadikan juga sebagai pusat diskusi dengan berbagai kalangan, terutama Sanggar Bumi Tarung di Gampingan, kau akan bisa membayangkan betapa sengitnya debat itu dan usaha mencari serta menjawab pertanyaan yang mengarus di kalangan kami serta orang-orang yang diundang untuk mengantar diskusi. Sanggar Bumi Tarung yang terletak hadap-hadapan dengan rumah Amri Yahya, sendiri lahir dari hasil diskusi panjang dan "alot" di warung-warung. Amrus Natalsya yang memimpin Sanggar Bumi Tarung, sekarang masih hidup di Jakarta bisa kau tanyakan. Jokok Pekik --yang oleh sementara orang yang mengaku diri "kiri" dipandang sebagai tidak tegar membela prinsip, tapi tanya menyertakan bukti -- masih hidup di Gampingan. Isa Hassanda si putra Sumba itu, juga masih hidup di Bali bisa kau keduk kesaksian mereka supaya memperoleh data-data seadanya. Juga Kuslan Budiman yang sekarang tinggal di Negeri Belanda. Tanggungjawab, debat ide dan mencari, kukira tiga hal yang mempunyai salinghubungan untuk memiliki tanggungjawab sadar kesenimanan. Jika di kalangan anggota-anggota Lekra Yogya dihangati oleh semangat ini, apakah mereka bisa disebut sebagai "docile tool" [alat jinak] dari kekuatan luar, khususnya PKI seperti yang diduga oleh banyak kalangan sebagai hasil indoktrinasi kekuasaan politik, yaitu Orba, dengan maksud tertentu? Seminar sehari tentang bahasa ini pun tidak lepas dari pilihan politik budaya di atas dan mencoba melaksanakan tanggungjawab kesenimanan -- bukan demi memburu nama seperti yang banyak kusaksikan dewasa ini di antara para seniman dan yang ingin jadi seniman dari kalangan angkatan baru. Umumnya, masalah nama tidak menduduki perhatian utama di kalangan kami dibandingkan dengan usaha melaksanakan tangungjawab kesenimanan. Kau percaya atau tidak, adalah urusanmu. Aku hanya menjelaskan dan bercerita. Hanya yang kuminta jangan menjadikan apa yang kalian pikirkan dan duga dipadankan dengan sebagai apa yang kami lakukan. Ini adalah sikap agresif otorian yang bukan "mencari kebenaran kebenaran dan kenyataan". Sikap ini aku ambil karena aku tidak ingin senantiasa bersikap defensif. Kalau kau paham sedikit ilmu militer maka kau akan tahu maksudku. Berdasarkan pengalaman kecilku, aku akan selalu berkata "tidaklah hina dan nista dan apalagi dosa menjadi anggota Lekra". Yang hina,nista dan dosa justru yang telah menghancurkan gerakan kebudayaan rakyat. Sekarang aku tanyakan pada angkatanmu, Aguk tersayang, seberapa jauh tanggungjawab kesenimanan angkatanmu pada kehidupan, kemanusiaan, masyarakat, bangsa dan negeri dibandingkan dengan usaha kalian memburu ketenaran individual? [Dalam hal ini aku tidak masuk rinciannya!]. Sementara sampai sekarang, ketika mendengar nama Lekra dan penulis asal anggota Lekra, terkadang tidak sedikit yang segera "keder" ,"mengkerut" , "mengambil jarak", terjerat oleh pernilaian subyektif? Berdasarkan tuturanmu dan tulisan-tulisan di pers tulis serta milis-milis, aku melihat bahwa tidak sedikit dari seniman-seniman kita sekarang yang belum mengkhayati tanggungjawab kesenimanannya sebagai warga "Republik Berdaulat Sastra-Seni". Dalam hal ini aku sangat berterimakasih kepadamu yang telah memberikan nama-nama kongkret dari orang-orang begini yang belum membebaskan diri dari pola pikir dan mentalitas otoritarian tinggalan Orba yang mengasuh angkatanmu sambil tanpa malu menyebut diri sebagai "demokrat", "kiri" atau "reformator" serta "pejuang anti militerisme dan diktatur" sedangkan pada zaman itu ia "tiarap" ketika militerisme menterapkan pendekatan "keamanan dan stabilitas nasional" sementara mayat bergelimpangan di depan mereka, tanahair digenangi darah dan airmata. Aku tidak menghujat, Guk. Aku diasuh sejak bocah oleh keluarga dan keadaan yang menuntutku agar selalu keras pada diri sendiri.Kau bayangkan, waktu bocah kalau aku kalah berkelahi dan pulang menangis, aku disuruh keluar rumah dan mencari "lawan" untuk diajak kembali berkelahi. Luka-luka dan berdarah lebih terhormat dan bermartabat bagi keluargaku daripada menangis. Kalah melawan lebih terhormat dari kalah menangis bagi keluargaku. Karena itu kalaupun aku kalah berkelahi, aku diam-diam tanpa segukan tangis, membasuh luka-luka kekalahan. Kekalahan adalah kesalahan diri sendiri.Ini adalah semangat "Dayak Panarung", Guk. Sekarang aku pun masih orang kalah dan terpukul.Aku juga tidak juga menangis dan apalagi minta dikasihani. Kukira untuk kebaikan berbangsa dan bernegeri serta bernegara, termasuk agar kita bisa melaksanakan tanggungjawab kesenimanan, kukira kita perlu keras pada diri sendiri, sanggup jujur pada diri sendiri. O, tiba-tiba aku menyimpang jauh dari subyek.Tapi aku masih dimungkinkan karena ini adalah "cerita" yang memberikan ruang luas pada sekian aneka ilustrasi. Karena itu tulisan ini kujuduli "Cerita-Cerita Kecil Untuk Aguk Irawan Mn" yang memang berkali-kali memintaku bercerita. Denys Lombard alm[Indonesianis terkemuka Perancis], Ariel Heryanto [budayawan Indonesia], Fran�oise Blanchard [politokolog Perancis di CNRS, semacam LIPI] pernah menyatakan kesediaan untuk menuliskan ceritaku, tapi aku menolak permintaan mereka karena merasa diriku terlalu kecil untuk layak diceritakan oleh orang lain , apalagi pakar-pakar sekaliber mereka. Aku lebih menyukai sikap kawan dekatku Jacques Leclerc dan Christine Leclerc [ahli sastra Latin Perancis, sekarang guru di Universitas Toulouse, Perancis Selatan] yang berkata: "Tulis, dan tulis semuanya sebelum ingatanmu kusam oleh usia dan gerogotan waktu". Dengan menggunakan metode "Cerita", aku tidak terlalu terikat oleh disiplin tertentu dalam bertutur seperti halnya kakekku almarhum leluasa bertutur seingatnya di kala subuh dengan jalan mengitar tempat di mana aku berbaring pada masa kanak di atas sebuah "tikar lampit" [tikar anyaman bermotif lukisan Dayak Katingan] bikinan ibu. Paris, Agustus 2004 ------------------- JJ. Kusni [Bersambung] [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70 http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

