Dari Notes Belajar Seorang Awam:



CERITA-CERITA KECIL UNTUK AGUK IRAWAN [17].

Bahasa Daerah Dan Bahasa Indonesia [3-- selesai]



Sekarang kita kembali ke masalah hubungan bahasa daerah dan bahasa Indonesia sebagai 
bahasa nasional. Bagaimana pendapat seminar Lembaga Sastra Indonesia Cabang Yogya 
mengenai masalah ini? 

Seminar melihat bahwa antara kedua jenis bahasa ini bersifat "saling mendekat". 
Artinya kedua jenis bahasa ini, dalam kehidupan dan perkembangannya sudah dan akan 
saling mengisi atau saling melengkapi, terutama dalam kosakata. Seminar juga 
berpendapat bahwa dalam memperkaya kosakata bahasa nasional sebaiknya, pertama-tama 
kita mencarikan kosakata yang tidak terdapat dalam bahasa nasional pada bahasa-bahasa 
daerah sebelum kita mencarikan atau meminjam kosakata bahasa-bahasa asing.Ini adalah 
salah satu contoh bahwa  kehinnekaan itu kekayaan kita.  Jika kita terpaksa 
menggunakan kosakata asing, sebaiknya kosakata itu ditulis berdasarkan ucapannya.  
Untuk meresmikan masuknya kosakata baru ke dalam bahasa nasional, disarankan agar 
secara periodik dilakukan pembaharuan Kamus Resmi di mana kosakata-kosakata baru itu 
ditambahkan.

Sebaliknya bahasa daerah memperkaya diri dengan memasukkan kosakata-kosakata bahasa 
nasional untuk mengungkapkan hal-hal yang tidak terdapat dalam bahasa daerah.Keadaan 
beginilah yang disebut oleh seminar sebagai "hubungan saling mendekat". 

Mengingat peranan penting bahasa-bahasa daerah sebagai alat komunikasi di 
daerah-daerah, maka seminar menganjurkan pengembangan bahasa daerah dan penggunaannya 
sebagai bahasa pengantar di sekolah-sekolah sampai pada tingkat tertentu dan 
dimasukkan dalam kurikulum di samping pelajaran bahasa nasional. Berkembangnya sastra 
daerah dipandang oleh seminar sebagai bagian dari usaha mengembangkan sastra 
Indonesia. Sejajar dengan saran ini maka seminar melihat penting adanya ruang-ruang 
berbahasa daerah di koran dan majalah, jika belum mempunyai syarat untuk menerbitkan 
majalah koran berbahasa daerah. Sehubungan dengan saran ini maka seminar juga melihat 
pentingnya agar etnik-etnik mengembangkan bahasa lisan mereka masing-masing, terutama 
bagi etnik-etnik yang belum mempunyai aksara mereka sendiri dan sastra berkembang 
secara lisan. Saran-saran ini diajukan oleh seminar dengan pertimbangan bahwa sastra 
nasional dikembangkan di atas akar budaya lokal sehingga membuat taman sastra nasional 
kian marak warna  sesuai konsep Indonesia yang "bhinneka tunggal ika". Artinya seminar 
tidak melihat bahwa pengembangan bahasa dan sastra etnik bertentangan dengan kesatuan 
bangsa dan negeri, atau mengembangkan semangat perpecahan [separatisme] tapi justru 
demi keutuhannya sesuai dengan kesepakatan menjadi sebangsa dan senegeri ketika 
membangun Republik Indonesia sebagai betang [rumah panjang] bersama. Ini adalah salah 
satu cara dari segi bahasa dan sastra untuk menciptakan rasa kelegaan bagi berbagai 
etnik di rumah panjang [betang] Indonesia sehingga masing-masing merasa bahwa 
Indonesia tidak lain adalah rumah mereka sendiri. Karena itu aku sangat menyokong 
konsep "sastra kepulauan" yang ditawarkan dan dicoba kembangtumbuhkan oleh budayawan 
Solo, Halim HD dan kawan-kawan [yang ditanggap sinis oleh sementara yang menyebut diri 
budayawan di Jakarta]. 

Kebijakan demikian disarankan oleh seminar supaya dikokohkan oleh kementerian terkait 
dalam bentuk politik bahasa dan sastra.

Entah kebetulan atau tidak, beberapa tahun kemudian, setelah seminar di Shin Shen Sheh 
Yogya ini berlangsung, aku menyaksikan kian marak terbitnya koran-koran berbahasa 
daerah. Di Jawa Tengah misalnya ada koran berbahasa Jawa, "Suara Persatuan"; di 
Kalimantan Barat yang penduduknya banyak dari etnik Tionghoa diterbitkan koran 
berbahasa Tionghoa, di Tapanuli terbit majalah berbahasa Batak [aku sudah lupa 
namanya, dan sebagai orang yang mendapat marga Batak, aku diminta jadi pembantu 
majalah ini untuk Jawa Tengah].

Dari segi pengembangan gerakan kesenian rakyat, aku kira, Guk, mendorong perkembangan 
sastra-seni dan bahasa daerah akan sangat penting. Bahasa daerah alat pengungkap diri 
yang paling dekat dengan warga daerah  dan paling dikahayati oleh  para warga daerah 
dibandingkan dengan bahasa nasional. Dengan kesadaran seperti di atas, maka 
teman-temanku di Harian Dayak Pos, Palangka Raya, sampai hari ini membuka ruangan 
khusus berbahasa Ngaju [bahasa yang disebut juga sebagai bahasa Kahayan atau Kapuas]. 
Melalui ruangan ini disiarkan karya-karya baru dan cerita-cerita lisan agar angkatan 
baru mengenal budaya mereka sendiri. Harian Dayak Pos, Palangka Raya merupakan 
satu-satunya yang paling mencerminkan keadaan daerah Kalimantan Tengah [Kalteng]. 
Sekalipun bernama Harian Dayak Pos, tapi para wartawannya terdiri dari macam-macam 
etnik: Jawa, Banjar, Kawanua, dan lain-lain... Bung Victor asal Manado justru menjadi 
orang kedua Harian ini. Ketika bertemu di Palangka Raya setahun lalu, Victor 
mengatakan bahwa ia menolak tawaran dengan gaji besar oleh sementara koran penting di 
Jawa, karena bagi Victor mengembangkan koran kecil seperti Dayak Pos jauh lebih 
membanggakan daripada bekerja di harian yang sudah jadi. "Sekarang Kalteng adalah 
kampung saya. Saya ingin memberikan yang terbaik dari diri saya untuk kampung saya", 
ujar Victor, putra Kawanua itu. Perasaan Victor dan juga seorang dokter asal Bugis 
yang tinggal di Kasongan, ibukota kabupaten Katingan, yang seperasaan dengan Victor, 
bagiku merupakan rasa keindonesiaan sejati. Rasa keindonesiaan yang tumbuh secara 
alami. Perasaan Vitor dan dokter Bugis itu, pada masa pemerintahan Soekarno lebih 
merata lagi dalam kehidupan kita berbangsa dan bernegeri. Juga perasaan dari ponakan 
Batakku. Kusebut ponakan karena ia kawin dengan anak kakak perempuanku. Mereka sangat 
fasih berbahasa lokal. Dari contoh-contoh di atas, contoh yang bisa kuderet lebih 
panjang lagi, kusaksikan bahwa Indonesia dan keindonesiaan itu masih ada. Pengembangan 
sastra dan bahasa lokal tidak berlawanan dengan keindonesiaan.

Jika perasaan begini [perasaan yang dahulu lebih kental terdapat dibandingkan dengan 
sekarang] dihubungkan dengan seminar Lembaga Sastra Indonesia Cabang Yogya, barangkali 
kita bisa mendapatkan salah satu contoh bagaimana Lembaga Sastra Indonesia sebagai 
salah satu lembaga kejuruan Lekra, hanya menyimpulkan "kenyataan hidup" dalam 
masyarakat dan mengembalikannya kepada masyarakat. Ketika menerima kembali 
penyimpulan-penyimpulan ini, mereka menyambutnya dengan gairah dan menyatakan diri 
sebagai Lekra atau berprakarsa membangun cabang atau ranting Lekra. Perbuatan inilah 
kemudian yang tidak sedikit membuat mereka dilikwidasi secara fisik, dikejar, 
dikucilkan, dikirim ke penjara dan pulau pembuangan menyusul Tragedi Nasional 
September 1965. 

Pemalsuan sejarahkah ini? Percaya dan tidak, seakan suatu soal yang tidak bisa 
diperdebatkan apalagi pada saat mata nurani dan pikir kita rabun. Aku bercerita karena 
secara tertulis, kau memintaku berkali-kali bercerita. Dan sekarang aku bercerita 
tanpa menagih kepercayaan sehitam kukupun. Percaya adalah hakmu dan aku tidak 
menggugat hak siapapun sekalipun sampai sekarang,aku dan tidak sedikit kawan-kawanku 
serta anak negeri dan bangsa  lain yang dilanggar dan terus dilanggar hak-hak 
dasarnya. Keadaan beginilah yang kusebut sebagai tragedi bangsa dan negeri.Lebih 
tragis lagi, yang menjadi korban terus dituding dan dituding. Dalam situasi begini,kau 
bayangkan saja aku sedang menatap lurus ke mata nurani mereka: Apakah mereka benar 
manusia, anak bangsa dan negeri?  


Paris, Agustus 2004
-------------------
JJ. Kusni

[Selesai]


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke