Dari Notes Belajar Seorang Awam:



CERITA-CERITA KECIL UNTUK AGUK IRAWAN [17].

Bahasa Daerah Dan Bahasa Indonesia [1]


Bagaimana hubungan antara bahasa daerah dan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, 
merupakan tema yang diseminarkan oleh Lembaga Sastra Indonesia Lekra Cabang Yogya pada 
tahun 1960an di hadiri oleh Juliarso, dari Lembaga Sastra Indonesia Pusat Jakarta. 

Juliarso almarhum  [kalau informasi yang aku dengar benar, dan dalam hal ini aku 
mengharapkan dengan rasa terimakasih yang besar atas koreksi dari siapa saja yang 
mengetahuinya jika apa yang kukatakan ini salah!] dalam perjuangan membela Republik 
Indonesia yang pada waktu itu masih beribukotakan Yogyakarta, adalah seorang penerbang 
AURI. Dengan pesawat capung sederhana Juliarso dengan keberanian dan patriotisme yang 
membara, telah membom Semarang, pusat kolonialis Belanda di Jawa Tengah. Ia berhasil 
menunaikan misinya dan berhasil kembali ke pangkalan. Jika informasi yang kuperoleh 
ini benar, aku kembali melihat betapa faktor manusia sangat menentukan dalam segala 
usaha. Banyak keajaiban dan ketidakterdugaan bisa dilahirkan oleh manusia sadar. Tentu 
saja yang diinginkan bukanlah kesadaran seorang fanatik yang sektaris tapi kesadaran 
yang manusiawi. Membom Semarang dengan menggunakan pesawat capung, tak obah seperti 
menyerbu musuh dengan bambu runcing.

Dalam seminar sehari ini, Juliarso alm. menjadi salah seorang pembicara utama.

Mengapa seminar sehari dengan tema di atas diselenggarakan? Apa arti penting kehadiran 
Juliarso dari Lembaga Sastra Pusat dalam seminar ini?

Bahasa daerah [dalam pengertian jamak] dan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, 
dalam kehidupan sehari-hari merupakan dua kenyataan yang hidup berdampingan dan 
menjadi alat komunikasi aktif di kalangan penduduk berbagai pulau. Di Jawa terutama, 
bahkan terdapat beberapa majalah yang terbit menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa 
pengantar. Majalah-majalah itu antara lain: Jajabaja di Jawa Timur, Mekar Sari dan 
Waspada di Yogyakarta.  Melalui majalah-majalah ini sastra Jawa kekinian didorong 
perkembangannya sehingga muncul nama beberapa penulis sastra Jawa yang cukup tenar dan 
berpengaruh di kalangan masyarakat, terutama di lapisan bawah yang merupakan lapisan 
mayoritas penduduk negeri atau pulau [baca: Jawa]. Di Jawa Barat, sastra Sunda pun 
aktif dan sadar dikembangkan. Untuk mencapai lapisan mayoritas penduduk dan warga 
negara Republik, bahasa daerah mempunyai peranan yang tidak bisa diabaikan dan lebih 
komunikatif. Acara Pak Besut melalui Radio Republik Indonesia [RRI] Yogya -- sudah 
dibukukan -- diikuti dengan cermat oleh lapisan mayoritas penduduk negeri yang 
berbahasa Jawa. Seperti halnya guna mengikuti siaran wayang kulit melalui RRI Yogya, 
aku selalu menyaksikan rakyat kecil tidur di emper-emper rumah yang punya radio -- 
karena tivi pada waktu itu tidak ada -- untuk mengikuti cerita Pak Besut. 

"Hidup tidak hanya untuk roti" dengan jelas ditunjukkan oleh kenyataan ini, sama 
jelasnya dengan makna gejala betapa penduduk dari desa-desa di Klaten datang 
berduyun-duyun melintasi hamparan sawah, kebun tembakau dan tebu untuk menghadiri 
pertunjukan ketoprak yang sedang dilangsungkan. Kuketahui hal ini karena aku sendiri 
sering melakukannya bersama mereka. Sastra dan bahasa lokal, termasuk dengan tema-tema 
aktual nampak menjadi keperluan sehari-hari warga masyarakat. 

Di pihak lain, bahasa Indonesia, sebagai bahasa muda dari sebuah bangsa  muda, menjadi 
alat komunikasi sangat tanggap dan aspiratif dalam hubungan antar etnik. Hal ini 
lebih-lebih nampak di Yogya yang merupakan "Indonesia Mini" di mana hampir segala 
etnik di sini ditemukan. Sebagai bahasa muda, ia penuh kekurangan dan menunjukkan elan 
dan haridepan cerah oleh keterbukaannya. Haridepan cerah begini akan lebih terbantu 
lagi pengejawantahannya jika disertai oleh adanya pilihan politik bahasa yang tanggap 
dan aspiratif. 

Sebagai lembaga kebudayaan rakyat yang nasionalistis, Lembaga Sastra Indonesia, 
membaca kenyataan ini dan berusaha memberikan sumbangan pikirannya kepada bangsa dan 
tanahair melalui bidang yang digelutinya yaitu sastra dan bahasa.Seminar diadakan 
untuk merumuskan usulan-usulan Lembaga Sastra Indonesia kepada instansi resmi terkait 
sekaligus menjadi pegangan kegiatan sendiri.

[Guk,
Sebagai ilustrasi aku ingin melakukan sedikit penyimpangan dari tema pembicaraan. Aku 
ingin memberi sedikit penjelasan tentang rakyat menambah pandanganku yang terdahulu. 
Rakyat bagiku tidak lain, pertama-tama adalah strata mayoritas masyarakat ditambah 
dengan lapisan-lapisan yang bisa dipersatukan sesuai tingkat kontradiksi pokok pada 
suatu tahap tertentu dalam usaha memanusiawikan manusia, kehidupan dan masyarakat. 
Dari sinilah aku memahami pengertian "kiri" dan "kanan", "progesif" dan tidak. Agar 
tidak terjerumus ke dalam sektarisme dan kecupetan, kukira nasionalisme pun tidak bisa 
dipisahkan dari pengertian rakyat yang demikian. Kecupetan dan sektarisme hanya 
menimbulkan perseteruan yang bodoh dan merusak. Lembaga Sastra Indonesia, sejauh 
pengamatanku, dalam kenyataan, tidak lain dari sebuah lembaga kebudayaan rakyat dan 
nasionalistik. Dalam hal ini, aku tidak mengambil acuan pakar-pakar asing, yang 
memperoleh bahan-bahan atau data dari kita-kita juga, lalu kemudian menggiring kita 
melalui penafsiran mereka. Dari mana mereka dapat data-data dan membuat penafsiran 
kalau tidak dari kita-kita? Lalu mengapa mereka "didewakan"? Maka kumpulkan sendiri 
data-data, tulis dan pahami hakekatnya sehingga kita bisa menciptakan teori sendiri, 
dan keluar dari lingkup pengaguman atas "sang guru" atau "sang dewa"! Kalau kita tidak 
awas, "pendewaan" dan memuja guru membuat kita jadi budak dan dijajah secara pikiran. 
Sekali kita dijajah secara pikiran maka negeri pun terjual dan terjajah secara halus. 
Ben Anderson, Herb.Feith apalagi Liddle dan lain-lain, bagiku bukan "dewa" yang luput 
dari kekeliruan. Mendewakan seseorang sudah bukan sikap ilmiah! Mendewakan seseorang 
membuat diri kita selalu jadi embel-embel. Di sinilah barangkali, dari segi ilmu 
sosial, seruan Chairil Anwar dalam sanjaknya "Kepada Kawan",punya relevansi:

"Pilih kuda yang paling liar,pacu laju
Jangan tambatkan pada siang dan malam"

Seperti yang dikatakan oleh penyair besar Asia asal Tiongkok:

"kitalah penanggungjawab timbul-tenggelamnya negeri kita"

"Pendewaan" kukira, sama dengan "menambatkan kuda pada siang dan malam", menghentikan 
perkembangan dan tidak dialektis sama sekali, bertentangan dengan proses lahirnya ilmu 
pengetahuan yang tepat. Bertentangan dengan semangat dan jiwa warga "Republik 
Berdaulat Sastra-seni" dan kemerdekaan serta hakekat anak manusia itu sendiri. Aku 
juga khawatir bahwa mentalitas "pendewaan"  merupakan ujud kelanjutan dan buah  dari 
proyek "development" Presiden Amerika Serikat Henry Truman, pada masa Perang Dingin].  


Di atas kukatakan bahwa kehadiran Juliarso, dari Lembaga Sastra Indonesia Pusat 
mempunyai arti penting karena kukira seminar sehari ini boleh dibilang sebagai 
perujudan dari metode kerja uji-coba [pilot project] dalam mengembangkan kegiatan. 
Dari kegiatan uji-coba kita bisa melihat apa yang kurang dan apa yang merupakan 
keunggulan sebelum menjadikannya gerakan nasional. Dan perlu kukatakan bahwa ide 
seminar dan tema di atas, murni berasal dari Lembaga Sastra Indonesia Yogya setelah 
membaca keadaan di "Indonesia Mini" yaitu Kota Yogyakarta, sesuai prinsip tiga 
pemaduan: kreativitas individu, dan pimpinan [baca: organisasi!].Juliarso hadir atas 
undangan Lembaga Sastra Indonesia Yogya dan seluruh beaya perjalanan ia tanggung 
sendiri. Di Yogya ia tinggal di rumah keluarganya, tidak di hotel dan untuk berbicara 
ia pun tidak mendapat imbalan sepeserpun. Dari mana Lembaga Sastra Indonesia Yogya 
memperoleh uang, jika ruangan gedung Shin Shen She di jalan Dagen itu kami peroleh 
melalui lobbie agar gratis dan paling tidak mendapatkan sewa paling murah atas nama 
tujuan seminar? Kelemahan Lekra dari segi finansil dicerminkan antara lain oleh canda 
alm. sobatku Arifin C.Noer yang menunjukkan bahwa bus butut sebagai perujudan lukisan 
Lekra.

Ucapan sejenis inipun, Guk, pernah kudengar dari seorang teman dari Indonesia ketika 
melihat Majalah budaya "Kreasi" yang terbit di Eropa Barat secarai difoto kopie. 
"Majalahku di Jakarta lebih bagus daripada Majalah Kreasi. Berwarna dan luks", ujar 
telan dari Jakarta itu. Pengasuh "Kreasi" menjawabnya: "Tapi uangmu kan kau peroleh 
dari mengemis dengan menjual nama rakyat. Sedangkan "Majalah Kreasi" kami terbitkan 
dari kocek sendiri dan banting tulang. Mana lebih mulia mengemis dan banting tulang?" 
Ini adalah dua prinsip bertolak belakang. Bangga jadi pengemis atau melakukan sesuatu 
secara mandiri.

Berdasarkan pengalaman kecilku yang terbatas, kulihat bahwa yang adil dan benar, jika 
diyakini orang akan mendapat dukungan.Secara filsafat barangkali inilah yang disebut 
bahwa "ide telah menjelma jadi kekuatan material".  Jadi tidak usah sedikit-sedikit, 
dan semua kegiatan Lekra dan lembaga-lembaga kejuruannya, kau sangkut-pautkan dengan 
jaringan PKI -- metode pikiran penuh prasangka dan sangat subyektif. Benar, menuduh 
kami PKI adalah hakmu, tapi adalah hakku juga untuk mengatakan bahwa dengan metode 
berpikir demikian, kau menterapkan metode berpikir gampang-gampangan yaitu 
subyektitivisme dan jalan pintas sederhana. Tanda dari kemalasan berpikir yang tidak 
asing di negeri ini. Biasanya kemalasan berpikir diiringi oleh sikap yang sangat 
agresif, brutal, suka mencaci, menuduh, tidak bisa diskusi atau debat, jika debat lari 
sana lari sini, varian dari pola pikir dan mentalitas otoritarian yang mau menang 
sendiri yang  kukira bukan perangai warga "Republik Berdaulat Sastra-Seni". Ketika 
mengucapkan suatu pendapat tapi pada galibnya si pengucap bukan ingin melakjukan debat 
ide tapi ingin memaksa orang yang diajak berbicara untuk membenarkan ucapannya dan 
menjadikan jawaban lawan bicaranya sebagai bukti. Jika tidak, ia katakan 
kalimat-kalimat lawan bicaranya sebagai "ndakik-ndakik yang tidak bisa dipahami" 
sekalipun dituturkan dalam bahasa Indonesia yang sangat sederhana. Barangkali gejala 
kemalasan berpikir ini merupakan salah satu tinggalan Orde Baru Soeharto yang belum 
pupus,  di mana orang lebih banyak berkata "ya" daripada kesanggupan mengucapkan kata 
berisiko tinggi "tidak".

Lalu apa kesimpulan seminar sehari tentang hubungan bahasa daerah [dalam pengertian 
jamak] dan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional?



Paris, Agustus 2004
-------------------
JJ. Kusni

[Bersambung]


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke