Surat Kembang Kemuning:
SUATU HARI DI SINGAPURA [1] Untuk memperpanjang visa tinggal, setelah "overstay" sebulan,karena kelalaian pihak sponsor, bulan itu aku terpaksa dan harus keluar dari Indonesia. Tadinya aku ingin ke Kuching, Sarawak, dengan naik bus seperti yang pernah kulakukan, untuk sekaligus melihat kembali dua buah museum terbesar tentang Dayak di kota tersebut. Tapi teman-teman yang bekerja di Kantor Imigrasi Propinsi Palangka Raya,Kalimantan Tengah, menganjurkan agar aku mencari visa itu di Singapura. Mereka bukan hanya menganjurkan, tapi juga menjelaskan secara rinci langkah-langkah yang harus kulakukan di samping memberikan alamat dan nomor telpon Kedutaan Besar Indonesia di Singapura. Dengan pertimbangan bahwa teman-teman di Kantor Imigrasi lebih tahu karena memang menangani masalah visa, anjuran ini kuterima. Yenny, seorang teman lama yang tinggal di Singapura dan bekerja di harian terkemuka negara pulau ini, segera kuberitahu akan hari tanggal kedatangan dan nama maskapai penerbangan yang kutumpang beserta nomor penerbangannya sekaligus. Di pesawat, baru kuketahui bahwa di antara penumpang, terdapat serombongan Tenaga Kerja Indonesia [TKI]. Sebelum mendarat di bandara Singapura, tadinya mereka kukira akan menuju Timur Tengah. Sambil menunggu jemputan Yenny, aku memperhatikan kesibukan mereka. Penuh hingar-bingar. Tapi juga kusaksikan tekad membela nasib. Sejenak kenanganku melayang ke Kuching, Sarawak, di mana di kedai-kedai dan hotel serta dari koran-koran setempat kudengar dan kubaca tentang ditangkapnya "pendatang haram" dari Indonesia yang mereka sebut dengan Indo. Berita penangkapan "pendatang haram Indo" agaknya menarik perhatian orang-orang jalanan. Kenanganku juga melayang ke Pontianak,Kalimantan kepada sebuah hotel di mana aku dan Claude Huret, teman Prancisku yang seorang fotograf menginap di tingkat empat. Mula-mula menginjakkan kaki ke Hotel yang sudah dipesankan oleh seorang teman untuk kami sebelum datang, Claude dan aku saling pandang. Sama-sama heran karena sejak di lobbi hotel, kami disambut oleh lirikan sejumlah perempuan yang duduk di kursi lobbi dengan pandang menggoda. "Mereka melirikmu,Claude, karena kau bul�", ujarku pada Claude dalam bahasa Prancis. "Mungkin juga melirikmu, mengira kau orang kaya karena tinggal di Hotel".Claude menjawabku dengan tidak melihat siapapun agar tidak nampak kami sedang membicarakan lingkungan yang sedang kami hadapi. "Di Hotel tanpa bintang begini, mana pula orang kaya Indonesia mau menginap". Ketika kami menuju kamar di tingkat empat, kami dikerubungi oleh sejumlah perempuan. Untuk melepaskan diri dari kerubungan ini, aku minta maaf kepada mereka karena kami perlu meletakkan barang-barang dan mandi serta istirahat sebentar. "Sesudah itu kita bisa ketemu", ujarku. Claude menggerutu. "Sempat-sempatnya membuat janji dengan orang tak dikenal. Tak jelas apa-siapa". "Lha, kalau tidak bagaimana kita bisa melepaskan diri dengan sopan?". "Sudahlah, sana kau temui mereka sendiri. Aku mau mandi dan tidur". Sesudah kami berdua selesai mandi, tak lama telpon kamar berdering. Dari ujung lain terdengar suara seorang perempuan: "Sudah mandi, Pak!".Aku melirik Claude yang sambil tersenyum menutup kepalanya dengan bantal. "Dari teman-teman itu", ujarku. Claude tertawa sendiri. "Sana, kau pergilah sendiri". "Selamat istirahat Tuan Besar Claude", ujarku yang dijawab oleh Claude dengan lemparan kotak korekapi. Aku pun keluar. Di lorong hotel tingkat empat tiga orang perempuan telah menunggu dan mengajakku ke kamar. Rata-rata mereka berusia sekitar 30an tahun. Aku menyediakan waktu menemui mereka terutama untuk mengetahui apa-siapa mereka dan mengapa mereka berada di hotel. Dari gelegat yang kulihat sejak di lobbi, aku sudah menduga bahwa mereka adalah perempuan-perempuan pekerja seks. Aku juga pasti bahwa mereka bukanlah orang-orang Pontianak sendiri. Kuketahui dari logat mereka bicara. Yang aku ingin tahu, dari mana mereka datang, mengapa mereka berada di Pontianak, bagaimana lika-liku perjalan mereka. Rasa ingin tahu ini muncul dalam diriku karena dari teman-teman penggiat Ornop Perempuan di Jakarta, sering dikatakan bahwa di perbatasan Kalbar-Sarawak ada tempat satu pemusatan penjualan perempuan Indonesia yang kemudian dijadikan pekerja seks di negeri-negeri jiran. Untuk bisa memasuki tempat pemusatan ini guna mendapatkan data, tanpa menghiraukan segala risiko, penggiat-penggiat Ornop Perempuan itu terpaksa menyamar sebagai mereka juga. Mereka hanya bisa keluar dari tempat pemusatan ini dengan susah-payah. Rasa ingin tahuku pun bertambah ketika dari koran-koran dan cerita, bahwa pemburuan terhadap gadis-gadis muda juga telah berlangsung hingga di pedalaman Kalteng dengan iming-iming mendapatkan pekerjaan dan gaji yang tinggi. Dengan latarbelakang begini, maka sederet pertanyaan muncul di benakku tanpa jawab. Claude belum kuceritakan latar ini karena itu ia tidak menjadi ingin tahu. Misi kami berdua waktu datang ke Pontianak setelah mendaki gunung-gunung Papua dan berjalan kaki berhari-hari, tempat-tempat di pedalaman Jawa, adalah mengambil foto-foto untuk dokumentasi bagi proyek pemberdayaan masyarakat yang disokong oleh Prancis. Puluhan ribu foto sudah kami ambil. Melalui percakapan inilah kemudian kuketahui bahwa perempuan-perempuan muda ini, yang nampak lebih tua dari usia mereka, umumnya mereka berasal dari pedalaman Pualu Jawa. Mereka agaknya termasuk orang-orang yang pernah berada di pusat penjualan di perbatasan. Dari sini mereka dikirim ke Batam, sebagian lagi ke Singapura atau Malaysia Barat. Di negeri-negeri jiran ini mereka bekerja di tempat-tempat pelacuran. Setelah secara fisik kurang bisa memenuhi tuntutan pasar, mereka kembali ke Batam dan ke Pontianak bekerja di hotel-hotel.Orang-orang inilah yang kutemui dan berbincang denganku peri kehidupan mereka yang getir. Aku tidak tahu apakah masuknya HIV bersangkutan dengan kehidupan mereka. Yang jelas bahwa hampir di semua kota pelabuhan penyakit yang tak tersembuhkan sampai sekarang menyusupi kota-kota berbagai pulau. Yang terbayang padaku, lagi dan lagi-lagi keterpurukan tanahair. Mereka yang kutemui di hotel ini barangkali tidak lain dari lambang keterpurukan yang menagih pemecahan.Terbayang juga betapa banyak sesungguhnya pekerjaan menunggu singsingan baju. Kalimat Victor Hugo, penyair romantik Prancis mengiang di telingaku: "janganlah menghina perempuan karena mereka dilemahkan dan jadi pelacur". Mereka adalah orang-orang yang tidak menyerah dan penuh hasrat hidup.Kalimat Susan Haysward dalam salah sebuah filemnya: "Aku ingin hidup!" tiba-tiba menggaung nyaring di ruang kenangan bersama kata-kata temanku, seorang penulis perempuan Singapura yang mengatakan kepadaku bahwa: "Sesungguhnya dalam tatanan masyarakat seperti sekarang, kita dikuasai oleh sistem pelacuran". Tajam memang kata-kata ini, lebih tajam dari mata pisah baru diasah.Putih mengkilap warna kepolosan dan kejujuran. Tapi ia adalah pendapat yang menyentuh hakekat serta penuh gugatan. "Hei, mengapa diam saja dari tadi?" tanya Yenny dari balik setir mobilnya. "Kau ingin aku mengantuk?", tanyanya lagi. "Aku mau hidup!", ujarku mengulangi secara tidak sadar ucapan Susan Hayward. "Aku tidak ingin kita mati di jalan-jalan Singapura karena tabrakan". "Kalau begitu kau ceritalah.Aku tahu kau laut cerita tak pernah kering. Surat-suratmu pun tidak pernah pendek dan perlu berulangkali dibaca". Aku pun mulai bercerita tentang perjalananku mendaki gunung-gunung Papua dengan perut lapar dan haus selama beberapa hari.Dan aku terus saja berjalan dan berjalan. Lumpur selutut membuat celana dan sepatuku berobah bentuk. Bagaimana polisi mencoba memerasku melalui pasporku, bagai�a,a kehidupan orang di Papua di pegunungan. Juga kuceritakan tentang pusat penjualan perempuan di perbatasan dan pengalamanku di Pontianak. "Khoq diam saja? Apa kau anggap aku angin?" ujarku mengganggu Yenny dengan kenangan masih berada di Papua dan Pontianak serta kampung kelahiranku. Yenny mencubit keras lenganku, jengkel oleh tuduhan. "Aku sedang mendengarmu, Bodoh! Jangan salah kira. Aku sedang mendengar ceramah dari nara sumber yang langka kudapati". "Kita minum sebentar di caf� agar aku bisa mendengar ceritamu dengan penuh perhatian". Yenny memarkir mobilnya dan kami turun, memasuki sebuah caf�. [Bersambung....] [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar. Now with Pop-Up Blocker. Get it for free! http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

